
...Hallo Guys?...
...Happy Reading. Semoga Suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Rintik Dan Bintang?...
Rintik memasuki kelasnya dan memulai pelajaran Bu Zura lagi. Namun kali ibu Bu Zura tampak lesuh.
"Oke, anak-anak kita langsung saja mulai pelajarannya," ucap Bu Zura membuat semua murid XII IPA 3 melonggo.
Biasanya akan ada sedikit omelan-omelan kehidupan dari Bu Zura dan juga Bu Zura melupakan permainan truth or dare kemarin.
"Bu, kita gak lanjutin truth or dare yang kemarin?" tanya Rio memberanikan dirinya.
"Enggak. Kita pelajaran aja," ucap Bu Zura terkesan dingin dan melupakan kejadian kemarin.
"Rin, Bu Zura kenapa tuh?" tanya Embun.
"Gak tau. Mungkin aja lagi badmood," ucap Rintik acuh.
"Kayaknya Bu Zura lagi ada masalah deh!" ucap Embun.
"Jangan-jangan gara-gara yang kemarin Bu Zura dimarahin lagi!" ucap Mentari.
"Bisa jadi sih. Soalnya gak bisanya Bu Zura kek gini!" ucap Embun.
"Udahlah mau apapun itu kita jangan ikut campur urusan Bu Zura," ucap Rintik.
"Tapi kasian loh Rin," ucap Mentari.
"Iya sih kasihan tapi mau gimana lagi? Kita juga gak bisa berbuat apa-apa," ucap Rintik.
"Iya sih."
Mereka pun akhirnya mencoba tak kepikiran lagi dengan masalah Bu Zura dan fokus kepada materi yang sedang dipelajari.
Kasian Bu Zura. Apa nanti aku coba ngomong sama Opa Ya? batin Rintik.
...***...
Bel pulang sekolah berdering dengan keras membuat para siswa-siswi berhamburan keluar dari kelasnya.
"Hari ini pulang sama siapa Rin?" tanya Embun seraya memasukkan novelnya kedalam tas.
"Sama Bintang. Dia juga udah tungguin di depan kelas tuh," ucap Rintik membuat para sahabatnya menoleh terkejut.
"Bintang? Kok Bintang?" tanya Embun.
"Langit ada rapat hari ini jadi Mama Raya minta Bintang buat temenin aku cek gedung," ucap Rintik.
"Gimana sih tuh cowok?! Dia yang mau tunangan malah Bintang yang temenin lo cek gedung!" kesal Embun.
"Iya kan! Malah suruh orang lain sih! Sepenting-pentingnya rapat itu harusnya dia mau temenin kamu cek gedung lah!" ucap Mentari.
"Emangnya ada rapat apa sih Tar?" tanya Rintik.
"Rapat calon osis berikutnya," ucap Mentari.
"Ya elah cuma rapat gitu aja gak mau temenin Ritnik cek gedung!" ucap Embun.
"Walaupun terdengar simpel tapi semua anggota osis diharuskan ikut rapat itu!" ucap Mentari.
"Gitu bet sih!" ucap Embun.
"Ya emang gitu Mbun!" ucap Mentari.
"Untung aja dulu aku gak jadi daftar osis! Kalau gak pulangnya pasti sore mulu!" ucap Rintik.
"Gapapa pulangnya sore tapi kan bisa bolos pelajaran!" ucap Mentari.
"Kebanyakan bolos pelajaran bisa bodoh Tar!" ucap Rintik.
"Itu kalau dia memang bodoh! Kalau dia memang pintar pasti gak akan bodoh!" ucap Mentari.
__ADS_1
"Iya sih, tapi tetep aja gak enak jadi osis!" ucap Rintik.
"Ada kalanya gak enak tapi bukan berarti gak enak jadi osis Rin," ucap Mentari.
"Ah, terserah Tari aja deh! Aku mau pulang dulu. Kasian Bintang udah tungguin," ucap Embun.
"Hati-hati Rin, awas jatuh cinta sama Bintang!" peringat Embun.
"Gak akan Mbun! Cintanya Rintik hanya untung Langit!" ucap Rintik lalu berjalan keluar kelas.
"Ye itukan sekarang nanti kan kita gak ada yang tau!" ucap Embun.
"Udah Mbun udah! Aku juga mau rapat dulu. Dadah," ucap Mentari.
"Ye gue ditinggal nih!" protes Embun.
"Kan ada Pella Mbun," ucap Mentari sebelum meninggalkan kelas.
Embun menatap Capella yang hanya diam dari tadi. "Kenapa lo diem aja?"
"Bintang siapa?" tanya Capella.
"Anak kelas sebelah dia pernah deket juga sama Rintik tapi gak sempet jadian," ucap Embun.
"Lo ngapain tanya soal dia?" tanya Embun.
"Gapapa. Cuma mau tanya aja," ucap Capella lalu mendahului keluar kelas.
"Aneh deh!" guman Embun lalu mengikuti Capella keluar kelas.
Kini Rintik dan Bintang sedang berjalan beriringan di koridor sekolah yang membuat para siswa-siswi berbisik-bisik tentangnya.
"Oh, sekarang deketnya sama Bintang ya? Setelah ditolak sama Langit!"
"Kemarin Langit sekarang Bintang! Besok siapa lagi?!"
"Jangan-jangan nanti pacar gue lagi! Yang direbut sama tuh cewek!"
"Bisa jadi tuh! Dia kan gak punya pendirian!"
Beberapa bisik-bisik dari siswi yang dilewatinya.
"Iya. Lagian omongan mereka gak ada gunanya buat aku!" ucap Rintik.
Rintik dan Bintang pun bersiap meninggalkan SMA Pancasila. Bintang melajukan motornya dengan pelan saat melewati Langit.
Langit menatap Bintang dan Rintik. Sialan! batinnya.
Entah mengapa firasat Langit menjadi tak enak. Namun, sebuah panggilan membuatnya lupa akan firasatnya itu.
"Kok Rintik pulangnya sama Bintang sih Langit?" tanya Luna.
Langit tak menggubris perkataan Luna dan memilih berjalan meninggalkan Luna.
Luna pun mengikuti Langit. "Kamu udah lihat isi flashdisk itu?"
"Belum."
Pantes aja dia biasa-biasa aja selama ini! Aku harus buat Langit lihat isi flashdisk itu! batinnya.
"Kamu harus lihat ya soalnya itu ada pesan buat kamu dari dia," ucap Luna.
Langit tersentak kaget. "Lo serius?"
Luna mengangguk. "Pokoknya kamu harus lihat ya!"
Luna yang merasa rencananya sudah berhasil pun memutuskan untuk pergi terlebih dahulu.
"Sialan! Flashdisk itu hilang lagi!" monolog Langit.
Waktu itu setelah dia menerima flashdisk dari Luna di restoran. Langit lupa menaruhnya dimana. Dan saat dicari lagi flashdisk itu tak dia temukan.
"Gue harus cari itu sampai ketemu!" ucap Langit penuh tekad.
"Apa yang harus ketemu?" tanya Lembayung dari arah samping Langit.
"Flashdisk merah," ucap Langit.
"Oh."
__ADS_1
"Lo lihat?" tanya Langit.
"Lihat. Di toko kemarin," ucap Lembayung.
"Ck. Bukan di toko maksud gue! Tapi di ruang osis!" ucap Langit.
"Enggak."
***
Saat ini Rintik dan Bintang sudah sampai di gedung untuk acara pertunangan Rintik dan Langit nanti.
"Bagus gedungnya," guman Rintik terkagum dengan gedung di depannya.
"Yuk, udah ditungguin," ucap Bintang.
"Oke." Rintik dan Bintang pun memasuki gedung itu.
Dari luar aja udah bagus gitu! Ternyata dalem nya lebih bagus lagi! batin Rintik.
"Selamat datang Mas, Mbak."
"Pasti ini Mas Langit dan Mbak Rintik ya?" tanya Manager gedung itu.
"Saya bukan Langit Mbak. Saya Bintang," ucap Bintang.
"Oh, iya saya lupa. Maaf ya Mas Bintang."
"Mari silakan masuk."
Rintik dan Bintang pun mulai memasuki aula pertunangan dan mereka mengecek kesemua penjuru.
Setelah sekiranya aman dan baik-baik saja Rintik dan Bintang pun pamit pulang.
"Lo mau kemana lagi gitu?" tanya Bintang.
"Langsung pulang aja. Udah sore juga," ucap Rintik.
"Oke."
Bintang pun melanjutkan motornya menuju rumah Rintik. Namun ditengah jalan Bintang mengentikan motornya di tukang martabak.
"Lo mau martabak rasa apa?" tanya Bintang membuat Rintik terkejut.
"Gue beliin," ucap Bintang.
"Rasa coklat kacang," ucap Rintik. Bintang pun memesan martabak coklat kacang.
Setelah pesanannya jadi Bintang melajukan lagi motornya menuju rumah Rintik.
"Makasih ya. Padahal aku gak minta buat beli martabak," ucap Rintik setelah turun dari motor Bintang.
"Sama-sama, gue yang harusnya makasih karena bisa temenin lo cek gedung," ucap Bintang.
"Kalau gitu aku masuk dulu ya. Hati-hati dijalan," ucap Rintik lalu memasuki rumahnya.
"Udah pulang Rin?" tanya sang Mama.
"Udah Ma."
"Gimana gedungnya?" tanya Rindu.
"Aman."
Rindu menghampiri Rintik yang duduk dengan muka lesuh.
"Ada apa kok lesuh gitu?" tanya Rindu.
"Gak ada apa-apa kok Ma. Rintik cuma capek aja," ucap Rintik.
"Mama tau kamu capek tapi jangan sampai lupa minum vitaminnya ya? Mama gak mau kamu sakit lagi," ucap Rindu.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....
__ADS_1