
...Hallo Guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Nekat Bertemu Langit?!...
"Mama kenapa gak bangunin Rain sih?" tanya Rintik seraya menuruni anak tangga dengan mengikat asal rambutnya.
"Udah Mama bangunin dari tadi ya! Kamunya aja yang susah bangun!" ucap Rindu yang tengah memasak.
"Ih, Mama harusnya tuh bangunin Rain sampai bangun!" protes Rintik.
"Capek Mama Rain, bangunin kamu tuh lama! Udah pake segala cara tapi gak mempan!" ucap Rindu.
"Ah, Mama gitu deh! Nanti kalau Rain telat terus gimana dong?" tanya Rintik yang kini duduk untuk sarapan.
"Ya makanya kamu berubah! Mulai semuanya dari diri kamu dulu!" ucap Rindu.
"Iya Ma nanti kalau gak males bangun pagi lagi," ucap Rintik kini memakan sepotong roti yang sudah disiapkan sang Mama.
Meskipun ia sudah hampir telat tetapi sarapan tidak bisa ia tinggalkan.
"Buruan sarapannya nanti ditinggal sama Bang Adit kamu!" ucap Rindu.
"Iya Ma." Ritnik menenguk habis susu buatan sang Mama lalu menyalami sang Mama.
"Oh, iya Ma. Papa udah berangkat?" tanya Rintik
"Udah tadi pagi," jawab Rindu.
"Terus kapan pulangnya Ma?" tanya Rintik.
"Mungkin lusa," jawab Rindu.
"Dia juga ikut pulang?" tanya Rintik.
"Mama kurang tau kalau itu. Bisa aja sih iya," ucap Rindu.
"Berarti tugas Rintik udah selesai ya Ma?" tanya Rintik.
"Enggak dong! Tugas kamu gak akan selesai dan gak akan tergantikan!" ucap Rindu.
"Tapi kan Rain bukan...."
"Kamu tetap kamu Rain! Kamu calon tunangannya Langit bukan dia!" ucap Rindu.
"Dia sendiri yang gak mau kan? Jadi ini bukan salah kamu! Kamu hanya mengantikan dia yang gak mau sama Langit!" sambung Rindu.
"Tapi kan Ma kalau dia minta Langit gimana?" tanya Rintik.
"Gak bakal! Mama jamin itu! Kalau sampai dia minta Langit nanti Mama ngomong sama dia!" ucap Rindu.
"Udah kamu gak usah pikirin itu! Fokus acara pertunangan kamu aja!" ucap Rindu.
"Iya Ma."
"Nanti jangan lupa ajak temen-temen kamu ke butik ya," ucap Rindu.
"Iya Ma."
"Oh, ya Pella boleh ikut juga kan Ma?" tanya Rintik.
"Pella siapa?" tanya Rindu.
"Capella Ma. Masa Mama gak inget sih sama dia?!" ucap Rintik.
"Oh, Capella. Boleh aja. Emangnya dia ada disini?" tanya Rindu.
"Ada Ma. Dia kan baru pindah kemarin," ucap Rintik.
"Oh, Mama baru tau," ucap Rindu.
"Ya udah ya Ma, Rain berangkat dulu," pamitnya lagi.
__ADS_1
"Hati-hati ya," pesan Rindu.
"Siap Ma!"
...***...
Hari ini beruntung Rintik tak lagi telat. Tadi sewaktu Rintik memasuki gerbang pas sekali bel berbunyi dan ia langsung berlari memasuki kelas. Saat ini Rintik sedang berada di kantin bersama ketiga sahabatnya.
"Eh, Rin jadi gimana tuh?" tanya Embun.
"Apanya yang gimana Mbun?" tanya Rintik.
"Ck. Itu loh kita ada baju bridesmaid gak?" tanya Embun.
"Ada. Nanti kalian ikut ke butik buat fitting," ucap Rintik.
"Habis pulang sekolah?" tanya Embun.
"Iya lah Mbun! Masa kita mau bolos sih?!" ucap Rintik.
"Hehehe, siapa tau kita bolos gitu loh!" ucap Embun.
"Pikiran kamu bolos terus Mbun! Mbun!" ucap Mentari.
"Iya kan Tar!" ucap Rintik.
"Ya kan emang pikiran gue cuma itu sama makan!" ucap Embun.
"Percuma lo sekolah selama ini! Ujung-ujungnya gak ada yang masuk juga ke otak!" ucap Capella setelah sekian lama berdiam diri menyimak pembicaraan ketiga sahabatnya.
"Sebenernya sih masuk sih tapi otak gue kapasitasnya cuma dikit!" ucap Embun.
"Ditambahin aja Mbun kapasitasnya!" ucap Rintik.
"Kalau bisa sih gue pengen tapi kayaknya mending gak usah deh takut saingi Tari sama Pella," ucap Embun.
"Dih, bilang aja emang gak mau tuh!" ucap Rintik.
"Lah itu lo tau!" ucap Embun tertawa puas.
Suasananya menjadi tak kondusif kala Langit dkk memasuki kantin dan duduk di tempat biasanya.
Para sahabatnya yang melihat Rintik menusuk-nusuk bekalnya pun menjadi binggung dan mengikuti arah pandang Rintik.
"Kenapa sih lo lihatin Langit sambil tusuk-tusuk bekal lo?!" tanya Embun.
"Iya sih sampai segitunya Rin! Apa jangan-jangan Langit selingkuh ya?" tanya Embun.
"Enak aja! Langit gak gitu ya!" ucap Rintik lalu kembali melihat Langit.
"Terus kenapa dong Rin?" tanya Embun.
"Jadi tuh aku sama Langit dilarang ketemu dulu sampai hari pertunangan itu tiba!" ucap Rintik.
"Oh. Ya bagus dong! Lo jadi bisa jalan sama cowok mana aja selama menjauhi Langit!" ucap Embun.
"Aku gak gitu ya! Emangnya kamu apa?!" ucap Rintik.
"Dih, dikasih saran bagus gak mau lo!" kesal Embun.
"Saran kamu bagusnya buat kamu sendiri tuh! Cari pacar sana! Biar gak gangguin hubungan orang!" ucap Rintik.
"Gue gak gangguin hubungan lo ya! Tapi membuat hubungan lo supaya lebih indah!" ucap Embun.
"Indah enggak! Rusak iya!" ucap Capella membuat Rintik dan Mentari tertawa.
"Gini nih! Sekalinya ngomong langsung kena!" ucap Mentari.
"Iya dan kenanya bikin Embun kena mental!" ucap Rintik tertawa puas.
Embun tersenyum kesal. "Gue gak kena mental ya! Cuma sedikit keguncangan aja nih mentalnya!"
Rintik dan Mentari semakin tertawa puas kala melihat ekspresi Embun.
"Eh, Rin. Langit kenapa tuh?" tanya Mentari membuat Rintik langsung melihat Langit yang sedang memarahi satu orang siswa berkacamata.
"Langit marah kenapa tuh ya?" tanya Rintik.
"Gak tau. Coba samperin aja sana!" ucap Mentari.
__ADS_1
"Tapi kan aku sama Langit gak boleh ketemu dulu!" ucap Rintik.
"Terobos aja lah! Biasanya juga gitu kan lo?!" ucap Embun.
"Embun! Jangan gitu lah!" ucap Mentari.
"Ya emang kenapa? Biasanya juga gitu kan si Rintik?!" ucap Embun.
"Iya sih tapi kan..."
"Telat! Rintik udah pergi kesana tuh!" ucap Capella.
"Rintik!" panggil Mentari namun Rintik mengabaikannya dan terus berjalan menghampiri Langit.
"Percuma Tar! Gak akan mempan!" ucap Embun.
Rintik menghampiri Langit yang kini sudah tenang.
Langit yang melihat Rintik datang pun mendengus kesal. "Ck. Mau ngapain lo?!"
"Sama calonnya jangan galak-galak napa!" peringat Cakrawala.
"Diem lo!" ucap Langit membuat Cakrawala diam seketika ia tak mau nasibnya menjadi seperti orang tadi.
"Ya mau ketemu sama Langit lah," ucap Rintik.
"Pergi! Gue gak mau ketemu sama lo!" ucap Langit.
"Tapi Rintik mau!" ucap Rintik.
"Bodo amat! Gue gak mau ya kena masalah lagi cuma gara-gara lo!" ucap Langit.
"Gak bakal kok! Opa Chan kan gak ada disini jadi gak bakal kena masalah kita!" ucap Rintik.
"Ck. Iya Opa gak ada tapi ada mata-matanya!" ucap Langit.
"Mana?" tanya Rintik memperhatikan sekitar dan tak ada yang mencurigakan. "Gak ada tuh!"
"Bintang!" ucap Langit.
"Oh, Bintang. Emangnya Bintang mata-mata ya?" tanya Rintik.
"Hmm."
"Lo pada kenapa sih? Kenapa gak boleh ketemu? Kan lo berdua bakalan tunangan nantinya!" ucap Alam.
"Jadi kita tuh—"
"Di pingit!" ucap Langit cepat sebelum Rintik berucap yang tidak-tidak.
"Emang iya? Bukannya gak boleh ketemu sampai acara pertunangan ya?" tanya Rintik.
"Sama aja itu!" ucap Langit.
"Oh, gitu!" Rintik ber-oh ria.
"Lah lo berdua kan cuma mau tunangan bukan mau nikah! Kenapa harus di pingit segala?!" ucap Alam.
"Iya dah! Zaman sekarang masih aja ada pingit-pingitan!" ucap Cakrawala.
"Melestarikan budaya jawa tuh! Biar gak punah dimakan zaman!" ucap Haekal.
"Bener tuh!" ucap Alam.
"Buruan pergi sana!" usir Langit.
"Iya-iya. Mau ketemu sebentar aja gak boleh!" dengus Rintik lalu melenggang pergi.
Rintik berbalik. "Dadah Langit!"
"Dadah juga ayang Rintik! Gitu loh Lang!" ucap Cakrawala mewakili Langit yang langsung dihadiahi tatapan tajam oleh Langit.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....
__ADS_1