Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 06. Mengantar Pulang Dan Sebuah Rahasia


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Mengantar Pulang Dan Sebuah Rahasia...


Kini Langit dan Rintik sudah berada di depan rumah Rintik. Setelah sesi tanya jawab tadi akhirnya Rintik memberitahu juga alamat rumahnya kepada Langit.


Flashback!


"Yes! Asik pulang bareng ketos es batu!" guman Rintik lalu menaiki motor Langit. Dan Langit pun melajukan motornya ke rumah Rintik.


Setelah berkendara keluar dari area SMA Pancasila. Kini Langit tak tau mau berkendara kemana lagi. Sebab Rintik belum memberitahu alamatnya.


"Woy? Hujan rintik-rintik!" ucap Langit sedikit kencang.


"Mana gak hujan tuh," ucap Rintik menatap langit yang masih cerah di jam segini.


"Ck. B*go banget nih bocah!" guman Langit.


"Langit ngomong apa sih? Rintik gak denger!" ucap Rintik.


"Rumah lo?" tanya Langit.


"Gak dibawa lah! Kan berat, Langit " jawab Rintik.


"Bukan itu b*go!" sentak Langit emosi. Kalau saja ini bukan dijalan dan Rintik bukan cowok sudah pasti Langit ajak duel di motor.


"Lah, terus?" tanya Rintik.


"Alamat rumah lo?!" ucap Langit.


"Oh, alamat rumah toh! Makanya ngomong tuh jangan setengah-setengah Langit!" ucap Rintik akhirnya paham.


"Hmm."


"Alamat rumah ku, perum Persada 2 rumah nomor 15C," ucap Rintik.


"Hmm."


"Penganan! Gue mau ngebut!" titah Langit.


Rintik pun melingkarkan tangannya memelukku Langit. "Oke, udah!"


"Pegangan sama motor gue! Bukan gue nya!" ucap Langit.


"Loh, kok gitu sih!?" tanya Rintik.


"Buruan pegangan! Kalau lo gak mau jatuh!" ucap Langit.


"Iya-iya!" ucap Rintik lalu berpegang kepada motor Langit.


Setelah perjalanan cukup memegang dengan si ketos dingin akhirnya Rintik pun sampai dirumahnya.


"Makasih, Langit," ucapnya seraya mengembalikan helm Langit.


"Hmm," cueknya.


"Cuek banget sih," protes Rintik.


"Bodo amat!"


"Gak mau mampir dulu?" tanya Rintik basa-basi.

__ADS_1


"Gak!" jawabannya dingin.


"Yakin gak mau mampir? Nanti kehujanan loh," ucap Rintik.


Saat ini memang langit mulai mendung mungkin sebentar lagi akan turun hujan.


"Biarin!" ucap Langit cuek lalu menjalankan motornya pergi meninggalkan rumah Rintik.


"Dih, ditawari baik-baik malah jawabnya gitu!" kesal Rintik memasuki rumahnya.


"Assalamualaikum?" salam Rintik memasuki rumahnya yang sudah ramai akan ibu-ibu arisan.


"Waalaikumsalam," jawab mereka.


"Eh, Rintik udah pulang ya?" tanya Tante Nila, salah satu teman Mamanya.


"Belum, Tante. Ini cuma arwahnya yang pulang," jawab Rintik.


"Kamu ini bisa aja deh Rin!" ucap Tante Nila, tertawa. Sudah biasa bagi mereka semua jika Rintik begitu. Mereka juga tak mempermasalahkan hal ini.


Hanya saja mereka akan mempermasalahkan jika Rintik atau gadis komplek lainnya secara terang-terangan membawa laki-laki ke rumahnya saat sepi saja.


"Dianter sama siapa tadi?" tanya Tante Nila lagi.


"Oh, yang tadi itu calonnya Rintik Tan," jawab Rintik.


"Oh, calon tunangan kamu itu?" tanya Tante Nila.


"Iya Tante. Ganteng gak Tan?" tanya Rintik.


"Gak tau Tante Rin. Kan gak lihat mukanya," ucap Tante Nila.


"Ya udah kapan-kapan Rintik kenalin ke Tante-tante semua," ucap Rintik.


"Kalau gitu Rintik masuk dulu ya Tante-tante, semoga beruntung arisannya," ucap Rintik lalu melenggang masuk kedalam rumah.


"Pasti Mama yang buat nih!" guman Rintik lalu menghampiri Mamanya di dapur.


"Assalamualaikum Ma?" salam Rintik.


"Waalaikumsalam, tumben pulangnya telat Rin?" tanya Rindu.


"Iya Ma, soalnya gak ada angkot sama udah sore juga," jawab Rintik.


"Loh, terus ini kok bisa pulang? Emangnya naik apa?" tanya Rindu.


"Dianterin sama Langit," jawab Rintik.


"Kok, gak disuruh mampir dulu?" tanya Rindu.


"Katanya keburu sore Ma," jawab Rintik.


"Oh, ya sudah sana bersih-bersih dulu. Baru boleh makan kue ini," ucap Rindu lalu melenggang ke depan.


"Yes asik!" ucapnya lalu berlari ke kamarnya yang terletak di lantai 2.


"Jangan lari-lari Rintik," peringat sang Mama.


"Iya Ma," jawab Rintik tak jadi berlari-larian.


Hari sudah mulai malam, sedangkan Rintik masih sibuk dengan sesuatu yang ia buat untuk seseorang yang sangat penting di dapur.


"Rintik?" panggil Mamanya.


"Iya, Ma ada apa?" tanya Rintik yang pandangan masih pada sesuatu yang ia buat.


"Kamu buat apa Nak?" tanya sang Mama.


"Ada deh. Nanti Mama juga tau," jawab Rintik tak mau Mamanya tau dengan hal yang ia buat.

__ADS_1


"Makan malam dulu yuk, Papa udah nunggu tuh. Sekalian ada yang mau Mama sama Papa bicarakan sama kamu," ucap Rindu.


"Oke, Ma. Nanti Rintik nyusul. Mau beresin ini dulu," ucap Rintik.


"Iya. Mama tunggu jangan lama-lama," ucap Rindu lalu kembali ke ruang makan.


"Mama, mau bicara apa ya? Kayaknya serius banget deh! Apa soal pertunangan itu?" guman Rintik lalu dengan secepat kilat membersihkan alat-alat yang ia pakai untuk membuat sesuatu itu.


Setelah selesai membersihkan alat-alat yang Rintik pakai dia pun bergegas ke ruang makan dan mereka pun menyantap makan malam mereka.


"Rain, Papa sama Mama mau bicara," ucap Samudra.


"Bicara apa Pa?" tanya Rintik baru menyadari jika Papa nya memanggil nya dengan panggilan Rain.


"Benar dugaan Papa selama ini kan!" ucap Samudra dengan tatapan tajam.


"Rain, kenapa kamu lakuin ini?" tanya Rindu menatapnya sendu.


"Maaf, Ma, Pa," ucap Rintik merunduk.


"Rain, tau ini salah tapi ini demi dia Ma. Dia gak mau dijodohin sama Langit karena masalah itu. Jadi Rain sebagai adik yang baik bantuin dia," ucap Rintik.


"Tapi Rain, dia udah perlakuan kamu kaya gitu selama ini," ucap Rindu tak kuasa menahan tangisannya.


"Bukan kamu yang harus menanggung semua ini," ucap Rindu menangis.


"Ma...Mama jangan nangis. Rain sanggup kok buat tanggung semua ini," ucap Rintik.


"Tapi Mama yang gak sanggup lihat kamu kaya gini Rain," ucap Rindu menangis di pelukan sang suami.


"Bawa dia pulang Rain! Dan kamu kembali kesana!" ucap Samudra.


"Maaf Pa Rain gak bisa," ucap Rintik.


"Rain, Papa mohon bawa dia pulang!" ucap Samudra penuh permohonan.


"Pa, biarin Rain aja yang jalani ini semua. Biarin Rain yang melangsungkan perjodohan ini. Papa tau kan kalau Rain suka sama Langit?" ucap Rintik.


"Papa tau kamu suka Langit. Tapi ini gak semudah yang kamu pikir Rain," ucap Samudra.


"Bagaimana kalau nantinya Langit tau kenyataan itu Rain? Langit akan semakin membenci kamu," ucap Samudra.


"Gapapa kalau nantinya Langit benci sama aku Pa yang terpenting perusahaan Papa baik-baik aja dan juga dia akan bahagia Pa," ucap Rintik.


"Rain...hati kamu ini terbuat dari apa sih Nak? Kenapa mau melakukan ini semua?" tanya Rindu semakin menangis.


"Hati Rain kan terbentuk karena ketegasan dan kebijakan Mama dan Papa selama ini," ucap Rintik lalu memeluk kedua orang tuanya.


Sedangkan itu disisi lain, Langit bertemu seseorang yang sangat penting di suatu restoran.


"To the point!" ucap Langit dingin kepada gadis didepannya ini.


"Santai aja dong Langit. Aku kan ajak kamu kesini karena mau ngasih ini," ucap gadis itu memberikan sebuah flashdisk berwarna merah kepada Langit.


"Ya udah ya kalau gitu aku pergi dulu," ucap gadis itu lalu melenggang pergi.


"Rasain kamu Rin! Aku gak akan pernah buat kamu bahagia sama cowok manapun itu!" guman gadis itu memandang Langit dari jendela restoran.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Kenapa orang tua Rintik memanggil Rain? Apakah panggilan sayang mereka? Tapi kenapa baru sekarang? Dan dia siap ya yang di maksud orang tua Rintik?...


...Siapa gadis yang memberikan flashdisk berwarna merah itu? Dan apa isinya?...


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...


...See you di next chapter....

__ADS_1


__ADS_2