Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 22. Memilih Diam


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Memilih Diam...


Hening dan menegangkan itulah suasana di ruang kepala sekolah saat ini. Mereka semua terdiam kala merasakan suasana yang begitu mencekam.


"Langit, Bintang," panggil Opa Chandra membuat keduanya mendongak menatap sang Kakek.


"Iya Opa," jawab mereka berdua membuat Rintik terkejut.


Kenapa Bintang panggil Opa Chan, Opa juga ya? Apa jangan-jangan Bintang juga cucunya Opa Chan? batin Rintik.


"Kalian ini sama-sama cucu Opa walaupun Bintang bukan cucu kandung Opa kalian tetaplah saudara," ucap Opa Chandra membuat Rintik tak lagi penasaran.


Jadi bener Bintang cucunya Opa Chan dan ternyata Bintang bukan cucu kandung Opa Chan toh pantes aja aku gak pernah tau, batin Rintik.


"Kalau kalian ada masalah apapun itu selesaikan secara baik-baik dahulu. Tidak seperti ini!" nasehat Opa Chandra.


"Iya Opa." jawab mereka tak berani melawan ucapan sang Kakek.


"Ini semua salah lo!" lirih Bintang.


"Salah lo! Lo yang duluan cari masalah sama gue!" balas Langit.


"Lo yang tonjok gue duluan!" ucap Bintang.


"Salah lo sendiri!" ucap Langit.


Rintik yang melihat perdebatan kecil itu pun tertawa kecil. Ternyata mereka kaya Tom and Jerry pikir Rintik.


"Sudah-sudah jangan ribut!" ucap Opa Chandra.


"Ini semua bukan salah Bintang, Langit," ucap Opa Chandra membuat Langit mengerutkan keningnya.


"Maksud Opa?" tanya Langit.


"Opa yang suruh Bintang buat publik acara pertunangan kamu sama Rintik," ucap Opa Chandra.


"Kenapa Opa lakuin itu?! Dari awal Langit udah bilang Langit gak setuju acara ini di ketahui semua orang! Opa tau itu kan?!" ucap Langit.


"Mau sampai kapan kamu sembunyikan pertunangan kamu sama Rintik? Ujung-ujungnya juga semua orang akan tau kan?" ucap Opa Chandra.


"Iya Langit tau Opa. Tapi biarkan mereka tau dengan sendirinya bukan dengan cara seperti ini," ucap Langit.


"Mau dengan cara apapun mereka tau akan sama aja," ucap Bintang.


"Lo diem! Gue gak ngomong sama lo!" ucap Langit penuh tekanan.


"Gue kan cuma ngomongin kenyataannya. Lagian berita itu harusnya lo publik sendiri bukan dengan bantuan gue," ucap Bintang.


"Diem lo! Gue gak butuh bantuan dari orang luar kaya lo!" ucap Langit.


"Kalau bukan karena Opa gue juga gak akan sudi bantuin lo!" ucap Bintang.


"Lo!" Langit mencengkram kerah baju Bintang membuat Bintang sedikit tercekik.


"Langit cukup!" tegas Opa Chandra.


"Kalian harus Opa hukum biar jera!" ucap Opa Chandra.

__ADS_1


"T-tapi Opa..."


"Gak ada tapi-tapian! Sekarang kalian ikuti Pak Roberto!" ucap Opa Chandra membuat mereka mau tak mau mengikuti Pak Roberto.


"Bayu, kamu bisa kembali ke kelas kamu sekarang. Terima kasih sudah memberitahu Opa tadi," ucap Opa Chandra.


Lembayung mengangguk lalu melenggang pergi.


"Rintik, sini. Opa mau bicara sama kamu," ucap Opa Chandra membuat Rintik berpindah tempat duduk menjadi di depan Opa Chandra.


"Iya Opa ada apa?" tanya Rintik.


"Maafin Opa ya Rin udah sebarin acara pertunangan kalian tanpa izin," ucap Opa Chandra.


"Enggak, Opa gak salah kok. Rintik juga gak keberatan. Tapi Langit..."


Opa Chandra menghela napas panjang. "Langit memang seperti itu Rin. Nanti biar Opa yang bicara lagi sama dia."


"Emm...Opa? Soal berita itu Rintik harus jawab apa kalau temen-temen pada tanya lagi?" tanya Rintik.


"Kamu cukup diam saja dahulu. Opa masih perlu izin dari Langit buat kasih tau itu semua Rin," ucap Opa Chandra.


"Oke, Opa."


"Oh, ya Opa dengar-dengar hari ini kalian mau pergi ke butik buat fitting ya?" tanya Opa Chandra.


"Iya Opa," jawab Rintik dengan mata berbinar-binar


Opa Chandra lantas tersenyum. "Semoga lancar ya fitting baju nya."


"Amin."


"Emm...Opa? Rintik udah boleh balik ke kelas gak ya?" tanya Rintik hati-hati.


"Boleh dong. Belajar yang rajin. Jangan sampai buat guru-guru marah lagi sama kamu," nasehat Opa Chandra.


Opa Chandra tersenyum. "Gadis yang ceria."


...***...


Setelah kejadian tadi Rintik dan juga Langit memilih diam ketika ada yang bertanya apakah berita itu benar atau tidak kepada mereka. Tak hanya mereka tetapi semua sahabat-sahabatnya juga.


"Inget ya jangan ada yang jawab kalau pada tanya soal berita itu!" peringat Rintik.


Saat ini Rintik sudah ada di dalam kelasnya dan akan memulai pelajaran terakhir nya yaitu matematika. Ilmu yang sangat menyenangkan jika mengerti rumus-rumus nya jika tidak ya sudah tawakal saja.


"Iya Rin."


"Tapi emangnya kenapa dah?" tanya Embun.


"Langit masih belum setuju kalau pertunangan kita di publik sama Opa Chandra," ucap Rintik.


"Oh, gitu. Tapi kalau tunggu Langit setuju bakalan lama!" ucap Embun.


"Iya loh Rin," ucap Mentari.


"Ya mau gimana lagi Langit nya kan belum mau," ucap Rintik.


"Terus nanti kalau ada guru yang tanya kita diem aja nih?" tanya Embun.


"Ya mau gak mau kita diem aja, kalau gak ngelak aja," ucap Rintik.


"Tapi kayaknya bakalan susah kalau sama Bu Zura deh!" ucap Embun.


"Iya tuh, secara kan Bu Zura Miss kepo. Pasti Bu Zura bakal lakuin apapun biar kita mau kasih tau," ucap Mentari.


"SIANG ANAK-ANAK?!" sapa Bu Zura.

__ADS_1


"Baru juga di omongin eh udah dateng aja orangnya," guman Embun.


"Iya kan. Kayaknya Bu Zura tau kalau kita lagi ngomongin dia makanya dateng," balas Rintik.


"SIANG BUUU..." jawab mereka serempak.


"Gimana nih udah pada siap pelajaran matematika?" tanya Bu Zura.


"BELUM BU." jawab mereka.


"Bu kalau boleh saran nih ya sekali-kali game kek atau apa gitu. Biar kita gak bosen dan cepet paham sama materinya," saran Tyo.


"Emm...ide bagus Tyo. Kebetulan juga hari ini ibu lagi gak mau kasih materi ke kalian sih," ucap Bu Zura membuat semua murid bersorak senang begitupun dengan Rintik.


"Terus kita mau ngapain Bu?" tanya Naufal.


"Hari ini kita akan main truth or dare. Gimana?" tanya Bu Zura.


"Wah ide bagus tuh Bu! Siap-siap ke bongkar semua aib kalian!" ucap Ucup tertawa puas selanjutnya.


"Nah Ucup kan lagi seneng tuh, jadi Ucup aja gimana yang jadi awalannya?" tanya Bu Zura.


"SETUJU BU!!" seru mereka membuat Ucup berhenti tertawa seketika.


"Awas lo semua ye! Gue bales nanti!" ancam Ucup.


"Kamu mau pilih apa Cup? Truth or dare?" tanya Bu Zura.


"Itu artinya apa dah Bu? Saya gak bisa bahasa inggris Bu," ucap Ucup.


Bu Zura menepuk jidat pusing. "Kejujuran atau tantangan."


"Oh, ya udah saya pilih tantangan. Saya kan laki-laki sejati jadi harus pilih tantangan!" ucap Ucup bangga.


"Ucup pilih tantangan nih. Mau di kasih tantangan apa nih?" tanya Bu Zura kepada murid-muridnya.


"Itu aja Bu suruh Ucup tanya ke Rintik soal berita itu," saran Tyo.


"Iya Bu, kalau belum di jawab jangan boleh pulang plus dapet nilai nol di ulangan matematika," saran Rio.


"Heh, kurang ajar lo ye!" marah Ucup.


Rintik yang mendengar itu pun menjadi ketar-ketir sendiri.


"Haduh harus gimana nih?" tanya Rintik kepada kedua sahabatnya.


"Udahlah jujur aja," saran Embun.


"Jangan Rin, nanti Langit marah lagi loh ke kamu," ucap Mentari.


"Tapi kan kasihan Ucup Tar," ucap Embun.


"Kalau Langit marah kan Rintik yang kasihan Mbun," ucap Mentari.


"Iya sih. Terus gimana dong?" tanya Embun.


"Aku punya ide," ucap Rintik.


"Ide apa?" tanya kedua sahabatnya.


"Nanti juga tau kok," ucap Rintik.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...

__ADS_1


...See you di next chapter....


__ADS_2