
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Salah Paham?...
Brak!
"Uhukk! Uhukk!" Dengan cepat Rintik menengguk habis es teh miliknya.
"Ah, lega!" ucapnya.
"Kalian apa-apa sih?! Bikin kaget tau!! Gimana kalau nanti aku meninggoy gara-gara keselek mie coba?!" marah Rintik kepada sahabatnya yang datang-datang mengebrak meja.
"Hehehe...sorry!" ucap mereka.
"Lagian siapa sih yang gak shock lihat seorang Riany Rintik Aldhitana, Queen of telat berangkat sepagi ini?!" ucap Embun menggebu-gebu.
"Iya loh Rin! Ini tuh prestasi terbaik yang pernah kamu cetak selama sekolah disini! Harus di abadikan nih!" ucap Mentari lalu mengeluarkan ponselnya dan foto bersama Rintik.
"Gue ikut!" ucap Embun lalu mereka bertiga foto bareng.
"Lagi-lagi!" ucap Rintik berganti pose.
"Udah-udah! Nanti memo aku penuh lagi!" ucap Mentari membuat Rintik yang sudah pose pun kecewa.
"Yah, padahal kan mau foto-foto lagi Tar," ucapnya kecewa.
"Pake ponsel kamu dong!" ucap Mentari.
"Gak ah nanti penuh," ucap Rintik.
"Ye, sama aja lo berdua!" ucap Embun.
"Ya udah pake ponsel kamu aja Mbun," saran Mentari.
"Jangan dong nanti penuh juga!" ucap Embun.
"Ye, sama aja kamu Mbun!" ucap Mentari dan Rintik berbarengan.
Mereka bertiga di sana sampai para siswa-siswi berbondong-bondong ke kantin untuk membeli jajanan sebelum masuk kelas.
"Udah rame aja nih," guman Rintik saat melihat para siswa-siswi mengantri di berbagai warung.
"Iya, kan udah siang ini," ucap Mentari.
"Eh, Rin btw, lo berangkat sepagi ini kesambet setan apa?" tanya Embun.
"Setan bucin," jawab Rintik asal.
"Ck. Mana ada setan bucin! Yang bucin lo kali! Sama si Langit-langit neraka itu!" ucap Embun.
"Nama dia tuh Langit Marka Harendra! Bukan Langit-langit neraka!" koreksi Rintik.
"Sama aja itu! Ada Langit nya!" ucap Embun.
"Beda Mbun!" ucap Rintik.
__ADS_1
"Udah-udah gak usah berantem! Sayang sama tenaga yang baru kumpul!" ucap Mentari.
"Iya, Ibu bendahara yang cantik. Bismillah gak bayar kas minggu ini," ucap Rintik.
"Enak aja! Gak bisa gitu dong Rin! Kamu harus bayar kas! Udah nunggak dua minggu nih!" ucap Mentari.
"Kalau gue boleh kan Tar, gak bayar kas minggu besok? Soalnya gue mau beli novel nih," ucap Embun.
Embun ini pengoleksi novel. Sampai-sampai rumahnya seperti toko buku saja. Eits jangan salah walaupun embun pengoleksi novel dia tidak suka membaca. Dia hanya suka melihat endingnya saja.
"Gak bisa! Gak bisa! Kamu ini udah gak kas satu bulan Mbun! Pokonya minggu ini harus bayar kas!" ucap Mentari.
"Yah, Tar...boleh ya? Gue udah lama loh incer novel ini!" mohon Embun.
"Jangan dibolehin Tar! Embun suka beli novel aja tuh! Tapi gak pernah di baca! Cuma dibaca endingnya terus udah tuh!" ucap Rintik.
"Kan fungsi gue beli novel karena pengen lihat ending aja! Kalau sad ya gak jadi baca dari awal. Tapi kalau happy ya bisa dibicarakan lah," ucap Embun.
"Suka-suka kamu lah Mbun!" ucap Rintik dan Mentari pasrah.
"Jadi lo berangkat pagi karena setan bucin nih, bucin nya ngapain?" tanya Embun.
"Bucin nya kasih cupcake buatan aku semalem buat Langit," jawab Rintik.
"Cupcake? Emangnya lo bisa buatnya?" tanya Embun.
"Bisa dong. Bahkan Mama puji cupcake buatan aku," ucap Rintik.
"Mau dong Rin. Buatin ya?" pinta Mentari.
"Oke deh. Tapi besok ya?" ucap Rintik.
"Asik. Makasih," ucap Embun senang.
Brak!
"Langit?" ucap Rintik berdiri.
"Maksud lo apa, hah?!" tanya Langit dengan raut wajah tak bersahabat.
"Maksud apa? Rintik gak paham deh," ucap Rintik.
"Gak usah sok polos lo!!" ucap Langit berhasil membuat amarah Embun memuncak.
"Maksud lo apa hah? Dateng-dateng main marah-marah aja lo!!" marah Embun.
"Gara-gara cewek ini...!!" ucap Langit menunjuk Rintik.
"Luna masuk rumah sakit!!" sambung Langit membuat seisi kantin langsung syok begitupun dengan Rintik dan sahabatnya.
"Maksud kamu?" tanya Rintik masih tak paham dengan apa yang terjadi.
"Gak usah pura-pura gak tau lo! Lo kan yang kasih cupcake ini di meja gue?!" tanya Langit.
"Iya. Itu buat kamu," ucap Rintik.
"Cih, untung aja gue gak makan cupcake beracun ini!" guman Langit.
"Cupcake aku gak beracun kok. Buktinya Mama makan itu baik-baik aja," ucap Rintik.
"Itu kan kata lo! Tapi kenyataannya? Cupcake lo ini mengandung racun!!" ucap Langit.
"Tapi aku sama sekali gak kasih apa-apa ke cupcake itu!" ucap Rintik.
__ADS_1
"Udah deh gak usah banyak omong lo! Sekarang lo ikut gue ke rumah sakit! Minta maaf sama Luna!" ucap Langit mencengkram erat tangan Rintik.
"Gak bisa gitu dong!!" cegah Embun.
"Lo gak bisa asal nuduh gitu! Emangnya udah lo cek lab, hah?" tanya Embun nyolot.
"Udah. Dan hasilnya cupcake ini mengandung racun!" ucap Langit.
"Ikut gue sekarang!" Langit menarik Rintik mengikutinya ke rumah sakit.
"Sakit Langit!" ringis Rintik karena Langit menambah kekuatan cengkramannya.
Langit mengabaikan ringisan Rintik Dan terus berjalan menuju mobilnya. Membuat Embun dan Mentari langsung mengejar mereka.
"Buruan!" ucap Langit memaksa Rintik untuk masuk ke mobilnya.
Setelah Rintik masuk Langit dengan cekatan mengemudikan mobilnya menuju rumah sakit Husada.
"Lo berdua lihat Langit?" tanya Alam dengan napas memburu karena dia berlarian mengejar Langit.
"Heh, temen lo itu bawa sahabat gue ke rumah sakit gara-gara si nenek lampir itu!" ucap Embun.
"Yang bener lo?!" tanya Alam tak percaya.
"Beneran lah! Sekarang lo kasih tau kita si nenek lampir itu di rawat dimana sekarang!" ucap Embun.
"Ya udah lo berdua ikut gue sekarang! Sebelum semuanya terlambat!" ucap Alam namun baru saja melangkah suara berat Pak Roberto memanggil mereka.
"Mau kemana kalian, hah?! Mau bolos ya?!" tanya Pak Roberto.
Roberto Suhartono, seorang guru bk yang terkenal sangat tegas dan kejam ketika menghukum siswa-siswi nya. Namun, aslinya baik dan enak di ajak curhat. Tak hanya itu Pak Roberto adalah guru yang sangat akrab dengan Rintik karena terlalu sering keluar-masuk bk.
"Eh, Bapak...kita gak mau bolos kok, kita cuma mau ke—" belum selesai Alam berucap Pak Roberto langsung menyela ucapannya.
"Gak usah banyak alasan kalian! Sekarang kembali ke kelas kalian masing-masing!" perintah Pak Roberto.
"Tapi Pak—" ucap Embun terpotong juga.
"Gak ada tapi-tapian! MASUK SEKARANG!" ucap Pak Roberto lantang.
"Pak dengerin alasan kita dulu Pak! Kalau gak nanti Bapak nyesel karena kehilangan anak didik Bapak yang selalu masuk bk!" ucap Embun.
"Ada apa dengan Rintik?" tanya Pak Roberto.
"Bapak jangan tanya sekarang ya? Nanti kita jelasin di jalan aja Pak!" ucap Mentari.
"Jalan? Mau kemana?" tanya Pak Roberto.
"Udah Bapak ikut aja biar percaya!" ucap Alam menyeret Pak Roberto.
"Pelan-pelan Alam! Nanti saya bisa jatuh!" protes Pak Roberto.
"Gak bisa Pak! Urgent nih urgent!" ucap Alam.
Mereka pun mengejar mobil Langit dan Rintik ke rumah sakit dengan Pak Roberto sekalian.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Kira-kira apa yang akan terjadi selanjutnya ya?...
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
__ADS_1
...See you di next chapter....