
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Rencana Embun?...
Ruang komputer, itulah hal yang dituju Embun. Entah untuk apa dia pergi kesana. Daritadi jari Embun sibuk menari-nari di atas keyboard. Entah dia sendang mengetik apa.
"Embun kamu lagi ngapain sih?!" tanya Rintik penasaran.
"Udah diem aja! Nanti juga tau!" ucap Embun melanjutkan mengetik di komputer itu.
"Udah belum Mbun?!" tanya Rintik yang kini mulai jengah menunggu Embun.
"Nah selesai! Terus kirim deh!" monolog Embun lalu mengirim suatu pesan yang sudah ia ketik kepada seseorang.
"Kamu ngapain sih Mbun?" tanya Rintik.
"Lihat deh!" pinta Embun.
Rintik dan Mentari pun melihat ke arah komputer dan betapa terkejutnya mereka setelah membaca pesan yang dikirim Embun kepada seseorang itu.
"Mbun?! Kamu apa-apaan sih?!" kesal Rintik.
"Udah lo tenang aja! Bintang gak akan tau kalau ini gue!" ucap Embun.
"Iya sih Bintang gak akan tau! Tapi kalau Langit tau kamu yang bocorin itu semua gimana?!" tanya Rintik.
"Iya loh Mbun. Nanti kalau Langit tau bisa mati kamu Mbun!" ucap Mentari.
"Kalian tenang aja Langit gak bakalan tau itu!" ucap Embun tenang.
"Gimana caranya Mbun?" tanya Mentari.
"Kita hapus rekaman cctv saat kita masuk ruang komputer ini dan juga kita hapus data-data ini semua," ucap Embun.
"Gimana caranya? Kamu bisa apa?" tanya Rintik.
"Gue bisa hapus data ini tapi kalau soal cctv kita harus minta izin sama Pak Roberto!" ucap Embun.
"Bener juga kamu Mbun! Ya udah sekarang kamu hapus dulu itu jangan sampai meninggalkan jejak! Habis itu kita ketemu sama Pak Roberto," ucap Rintik.
"Siap!" ucap Embun lalu menghapus semua data itu setelahnya mereka pergi mencari Pak Roberto.
Ruang cctv, disana lah mereka sekarang. Mereka sedang memantau keadaan sekitar sebelum memasuki ruang cctv itu.
"Jangan sampai ada yang lihat kita kesini!" ucap Embun.
"Emangnya kenapa kalau ada yang lihat kita Mbun?" tanya Rintik.
"Ya bisa dicurigai kita!" ucap Embun.
"Tapikan Allah lihat kita Mbun," ucap Mentari.
__ADS_1
"Iya sih. Tapikan maksud gue tuh manusia lain selain kita gitu loh," ucap Embun.
"Udah aman. Yuk kita masuk," ajak Embun lalu mereka memasuki ruang cctv yang Kebetulan tak dikunci.
Sebelumnya mereka sudah mengirim pesan kepada Pak Roberto jika mau ke ruang cctv jadi pintu ruang cctv sengaja tak dikunci oleh Pak Roberto.
"Hallo Pak," sapa Rintik.
"Hallo, Rin," jawab Pak Roberto yang sibuk pada layar komputernya.
"Lagi ngapain sih Pak? Sibuk bener kelihatannya," ucap Embun.
"Iya dong. Emangnya kalian sibuk ke ruang cctv mulu!" sindir Pak Roberto.
"Ke ruang cctv juga suatu kesibukan loh Pak!" ucap Embun.
"Kesibukan apa?" tanya Pak Roberto.
"Gangguin Bapak yang lagi sibuk pacaran sama Bu Iza," ucap Embun membuat Pak Roberto memutar kursinya.
"Enak aja kamu! Saya gak pacaran sama Bu Iza ya!" ucap Pak Roberto.
Pak Roberto memang masih jomblo padahal usianya sudah menginjak kepala tiga. Entah apa alasan Pak Roberto masih jomblo sampai sekarang.
"Berarti pacarnya sama Bu Zura dong!" ucap Rintik.
"Ini lagi makin ngaco ngomongnya!" kesal Pak Roberto.
"Ya lagian semuanya aja dibilang enggak! Jangan-jangan Pak Roberto suka sama salah satu siswi disini ya?" tebak Embun.
"Ya enggak lah! Masa sama muridnya sendiri suka sih Mbun!" ucap Pak Roberto.
"Kalau gak ada yang disuka jangan bilang Bapak homo ya?" tanya Mentari.
"Saya masih waras! Masih suka sama lawan jenis Mentari!" tegas Pak Roberto.
"Kalau masih waras dan suka lawan jenis kenapa gak nikah-nikah coba sampai sekarang ?" tanya Rintik.
"Nikah itu bukan perkara mudah! Saya harus mapan dulu, punya gaji yang besar, punya rumah sendiri, punya mobil, dan lain sebagainya lagi. Dan yang terpenting saya harus siap mental dulu Rin," ucap Pak Roberto.
"Hmm... tapikan usia Bapak udah cukup buat nikah," ucap Mentari.
"Usia gak menjamin rumah tangga menjadi tentram. Ada sebagian orang yang usianya sudah cukup untuk berumah tangga namun waktu berumah tangga malah berantakan rumah tangga nya," ucap Pak Roberto.
"Iya juga sih Pak. Tapi kan kita juga mau gitu loh di undang waktu Bapak nikah. Mumpung masih di SMA juga kan masih bisa ketemu Pak," ucap Embun.
"Iya tuh Pak. Kalau kita udah pada kuliah kan jarang ketemu sama Bapak. Jadi kita gak bisa tau calon Bapak yang mana antara Bu Iza atau Bu Zura nantinya," ucap Rintik.
"Sudah-sudah kenapa jadi bahas kehidupan pribadi saya sih?!" ucap Pak Roberto.
"Hehehe...maaf Pak lagian kisah cinta Bapak tuh rumit!" ucap Rintik.
Pak Roberto memutar bola matanya jengah. "Jadi kalian kesini mau ngapain nih?"
"Jadi gini Pak kita kesini mau minta izin buat lihat cctv di ruang komputer," ucap Embun.
"Loh, bukannya tadi mau —" dengan cepat Embun membekap mulut Rintik agar tak keceplosan niat awal mereka.
"Jangan bilang! Yang ada Pak Roberto gak izinin!" bisik Embun.
__ADS_1
"Oke-oke!"
Embun pun melepaskan bekapannya. "Tangan Embun mau terasi!" jujur Rintik.
Dengan spontan Embun mengendus tangannya yang tak berbau apapun. "Enak aja wangi gini dibilang bau terasi!"
"Hehehe."
"Jadi gimana Pak bisa gak?" tanya Embun.
"Kebetulan cctv di ruang komputer hari ini lagi di perbaiki jadi gak ada rekaman apapun hari ini," ucap Pak Roberto.
Huh, syukurlah! batin Embun.
"Oh, ya udah kalau gitu kita gak jadi lihat Pak. Makasih," ucap Embun.
"Memangnya mau lihat apa toh?" tanya Pak Roberto.
"Ada deh! Bapak gak perlu tau!" ucap Embun.
"Hmm...ya sudah lah."
"Kita pamit dulu Pak. Makasih ya Pak," ucap Embun lalu mengajak kedua sahabatnya keluar dari ruang cctv.
"Nah soal cctv kan udah aman! Ya udah yuk kita ke kantin! Laper gue!" ucap Embun.
"Ya udah yuk. Aku juga udah laper banget nih!" ucap Rintik. Mereka pun ke kantin seraya bercerita-cerita sepanjang perjalanan.
Terlihat meja-meja sudah penuh dan hanya tersisa di meja paling pojok sendiri yang tak jauh dari meja Langit dkk.
"Kira-kira apa yang bakal terjadi ya?" tanya Embun.
"Gak tau sih. Tapi kayaknya Langit bakal marah deh Mbun!" ucap Rintik.
"Ya biarin aja! Biar dia rasain akibatnya tinggalin lo dijalan sendirian!" ucap Embun.
Tak lama Langit dkk datang dan mereka terlihat mengobrol sebentar dan Alam serta Cakrawala pergi memesan makanan.
Beberapa detik kemudian Haekal mengebrak meja. Samar-samar Rintik dkk mendengar jika Haekal menyebut Rintik dan Langit akan bertunangan.
"Kayaknya rencana kita berhasil deh buat kasih pelajaran ke Langit!" ucap Embun.
"Iya sih Mbun. Tapi kayaknya lagi marah banget tuh! Dia kan gak mau temen-temen pada tau," ucap Rintik.
"Udah gak usah kasihan sama dia! Dia aja gak kasihan waktu tinggalin lo dijalan tadi!" ucap Embun.
"Gimana kalau nanti Langit tau itu Bintang dan mereka berantem gimana dong?" tanya Mentari.
"Iya loh Mbun! Emangnya kamu mau tanggung jawab apa?!" tanya Rintik.
"Bodo amat! Gue gak peduli!" ucap Embun lalu memakan makanannya.
Tak sengaja Rintik melakukan kontak mata dengan Langit. Terlihat Langit menatapnya tajam.
Kayaknya Langit curiga deh sama aku! batinnya.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
__ADS_1
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....