Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 17. Sebuah Perjanjian?!


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Sebuah Perjanjian?!...


Raya yang melihat Langit akan pergi meninggalkan ruang ini pun memanggilnya. "Langit?"


"Sini deh. Mama mau ngomong sama kamu sebentar," ucap Raya membuat Langit menghampirinya.


"Ada apa?" tanya Langit dingin.


"Duduk dulu dong! Masa mau ngomong sama Mamanya sendiri berdiri sih," ucap Raya.


Langit menghela napas panjang lalu duduk di samping Raya.


"Jadi gini, Rintik kan belum nemu gaun yang cocok buat pertunangan kalian jadi besok kamu temenin Rintik ke butiknya Tante Lia ya?" ucap Raya.


"Dia kan bisa pergi sendiri Ma," ucap Langit.


"Eits, gak boleh gitu! Kan yang mau tunggang kalian berdua bukan salah satunya aja! Jadi kamu harus mau temenin Rintik besok!" ucap Raya.


"Tapi Ma, besok Langit ada rapat osis," ucap Langit.


"Rapatnya kan bisa ditunda besok! Kalau ini gak bisa ditunda lagi! Ingat pertunangan kamu sebentar lagi loh!" ucap Raya.


Ck. Ribet amat sih mau tunangan aja! Nih cewek juga tambahin beban aja! Pake segala disuruh temenin lagi! batin Langit kesal


"Kamu mau kan?" tanya Raya kepada Langit.


"Kalau Nak Langit gak mau gapapa, nanti biar Rain pergi sendiri aja," ucap Rindu.


"Gak, gak, gak! Pokoknya Langit harus yang temenin Rintik! Gak boleh orang lain ataupun sendirian!" tegas Raya.


"Iya, Langit masa kamu membiarkan calon tunangan kamu pergi sendiri sih? Apa kata kolega-kolega Papa nanti," ucap Samudra datang menghampiri mereka.


"Bener tuh kata Papa kamu! Jadi kamu mau kan?" tanya Raya.


"Hmm." Langit mau tak mau menyetujui ucapan sang Mama.


"Ya udah gih sana kalian ngobrol berdua dulu. Supaya besok gak bingung tentuin temannya," ucap Raya.


"T-tapi Ma?"


"Oke, Ma." Rintik mengajak Langit pergi keluar untuk mencari udara segar. Rooftops, adalah hal yang dituju Rintik.


"Lepasin!" ucap Langit membuat Rintik semakin mengeratkan genggamannya.


"Gue bilang lepasin ya lepasin!" ucap Langit dengan nada tinggi.


"Ih, sama calon tunangannya sendiri aja gak mau digandeng!" protes Rintik.


"Denger ya! Gue mau tunangan sama lo tuh karena warisan! Jadi jangan semena-mena lo!" tegas Langit melepaskan genggaman tangan Rintik dengan paksa.


"Ish, sakit!" ucap Rintik memegangi tangannya.


"Gak usah lebay lo!" sinis Langit lalu mengeluarkan selembar kertas yang bertuliskan sesuatu dan meyerahkan nya kepada Rintik.


Rintik menerimanya dengan tatapan binggung. "Kertas apa Langit?" tanyanya.


"Baca! Terus tanda tangan!" titah Langit.

__ADS_1


Rintik pun membacanya dengan teliti dan tiba di suatu kata membuatnya protes kepada Langit. "Loh, kok gak boleh panggil sayang sih? Berarti boleh dong panggil beb?"


"Gak!"


"Tapi kan disini gak tertulis gak boleh manggil beb," ucap Rintik.


Langit pun menambahkan jika Rintik tak boleh menyebutnya 'beb' juga. "Tuh, udah gue tambahin!"


"Berarti kalau ayang boleh ya?" tanya Rintik dengan mata berbinar.


Langit pun menambah kata ayang juga. "Segala jenis panggilan mesra gak boleh!" tegas Langit.


Rintik tak kehabisan ide. Dia memikirkan nama panggilan yang tak mesra untuk Langit.


"Kalau Angit boleh gak?" tanya Rintik.


"Itu kan gak mesra jadi harus boleh dong!" ucap Rintik.


"Gak!"


"Harus boleh! Kalau gak aku panggil ayang aja nih?" ancam Rintik.


"Ck. Ya udah boleh!" final Langit.


"Aaa... makasih Langit," ucap Rintik senang sampai memeluk Langit membuat Langit tertegun namun sesaat kemudian dia mendorong tubuh Rintik menjauhinya beruntung ada cowok baik yang menopang tubuh Rintik.


"Ck. Apa-apaan sih lo?!" ucap Langit membersihkan jasnya seperti ada debu yang menempel saja.


"Santai dong bro! Jangan kasar-kasar sama calon tunangannya sendiri!" ucap cowok itu.


"Bintang?" ucap Rintik tak percaya.


"Iya gue. Kenapa? Kaget ya?" tanya Bintang.


Bintang Bimasakti Nikolyons, namanya. Cowok blasteran ini merupakan teman Rintik dan salah satu musuh bebuyutan Langit. Dari dulu tak pernah ada kata akur ataupun damai diantara mereka. Semua itu bermula karena salah satu cewek yang mereka perebutkan.


Rintik berdiri normal dan menatap tak percaya.


"Gue ada urusan sama orang yang dengan teganya dorong calon tunangannya sendiri!" ucap Bintang berjalan mendekati Langit.


"Kamu tau dari mana kita mau tunangan?" tanya Rintik.


"Tau darimana itu gak penting! Yang penting nih cowok harus dikasih pelajaran supaya gak kasarin lo lagi Rin!" ucap Bintang menatap Langit tajam begitupun sebaliknya.


"Gak usah ikut campur urusan orang! Urus urusan lo sendiri!" ucap Langit dengan wajah datarnya.


Bintang menyeringai tajam. "Urusan Rintik juga urusan gue!"


Haduh, aku harus gimana nih?! Kalau mereka di biarin aja bisa-bisa mereka berantem disini! batin Rintik.


"STOP!" ucap Rintik membuat mereka memandang Rintik.


"Jangan berantem! Nanti diusir dari sini loh!" ucap Rintik.


"Lo yang gue usir!" ucap Langit lalu menarik tangan Rintik pergi dari sana.


Bintang menatap kepergian mereka dengan senyuman misteriusnya.


...***...


Private room, disana Langit membawa Rintik sekarang. Langit menghempaskan Rintik duduk di sofa.


"Tanda tangan!" ucap Langit meletakkan dokumen perjanjian tadi dan sebuah bolpoin di meja lalu membelakanginya Rintik.


Rintik mengangkat dokumen itu dan membacanya sekilas. "Tanda tangan di mananya?"


"Ck. Di atas nama lo!" ucap Langit dingin.

__ADS_1


"Diatasnya nih gak dibawahnya?" tanya Rintik.


Langit mengeram marah. "Terserah lo!"


"Ya udah terserah Rintik nih ya? Kalau salah Angit yang Rintik salahin!" ucap Rintik.


Langit yang mendengar dirinya di panggil Angit pun merasakannya hal yang aneh di dalam dadanya.


Gue kenapa nih? batinnya.


"Nah udah nih," ucap Rintik menutup kembali berkas itu.


Langit menengok kebelakang dan mengambil satu lembar dokumen lagi.


"Yang ini juga!" ucap Langit.


"Ish, gak bilang dari tadi deh!" kesal Rintik lalu menandatangani surat perjanjian itu dengan asal.


"Disimpen!" ucap Langit mengambil dokumen satunya lagi.


Rintik mengangkat selembar kertas yang berisi perjanjian itu. "Kalau hilang gimana?" tanya Rintik asal.


"Buat ulang 10 rangkap!" ucap Langit.


"Demi apa? Banyak banget!" ucap Rintik.


"Makanya jangan sampai hilang! Apalagi kotor!" ucap Langit.


"Iya, iya. Galak banget sih," ucap Rintik.


"Sana pergi!" usir Langit.


"Pergi kemana?" tanya Rintik dengan wajah polosnya.


"Surga!" jawab Langit dengan muka datarnya.


"Ihs, kok ke surga sih?! Nanti kalau Rintik ke surga Angit sendirian disini," ucap Rintik.


"Lebih baik sendirian daripada sama lo!" ucap Langit.


"Ya udah Rintik pergi surga nih ya?" ucap Rintik bersiap pergi.


"Lebih cepat lebih baik!" ucap Langit dingin dan tak ingin menatap Rintik.


"Ya udah Rintik pergi ke surga dulu. Dadah Angit," ucap Rintik lalu melenggang keluar dengan senyum bahagianya.


Langit gak perlu suruh Rintik pergi ke surga! Karena nantinya Rintik juga akan pergi kesana! Tapi gak sekarang juga! batin Rintik memandang Langit lekat pintu privet room.


"Ck. Gue ngomong apaan sih tadi?! Kenapa bisa-bisanya izinin tuh anak sebut gue pake nama itu lagi sih?!!" monolog Langit.


"Panggilan itu hanya boleh Oma yang pakai!" sambungnya.


Dulu sang Oma sering memanggilnya dengan sebutan Angit sebagai penggilan kesayangannya.


Namun sekarang Oma telah pergi lebih dahulu ke surga sana. Tempat abadi yang akan dihuni semua manusia di semesta ini.


Sekarang giliran Rintik yang memanggilnya dengan sebutan Angit. Sudah lama sekali Langit tak di panggil dengan sebutan itu.


Maka sebabnya dia merasakan hal yang aneh di dalam dadanya.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...


...See you di next chapter....

__ADS_1



...[Bintang Bimasakti Nikolyons]...


__ADS_2