Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 27. Murid Baru?


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Murid Baru?...


Setelah membayar angkot Capella dan Rintik berjalan memasuki SMA Pancasila yang membuat Rintik semakin binggung kenapa sang sahabatnya ini masuk SMA Pancasila juga?


"Gue pindah ke sini," ucap Capella yang mengerti kebingungan Rintik itu.


"Loh, kenapa Pella pindah kesini?" tanya Rintik.


"Mereka udah gak bersama lagi dan gue milih ikut Mama," ucap Capella.


Mereka yang dimaksud Capella adalah orang tua angkatnya. Saat ini orang tua angkatnya sudah berpisah dan Capella lebih memilih ikut Mamanya daripada sang Papa yang sudah memiliki hidup baru saat ini.


"Oh, terus kamu sekarang tinggal dimana sama Mama kamu?" tanya Rintik.


"Kontrakan deket perumahan lo," ucap Capella.


"Oh, terus kenapa kamu pindah kesini? Emangnya ditempat yang dulu kenapa?" tanya Rintik.


"Gue gak sanggup bayar spp nya," ucap Capella dengan santainya.


"Loh, emangnya bukan Mama kamu yang bayarin sekolah kamu?" tanya Rintik.


"Enggak," ucap Capella.


Rintik ingin bertanya-tanya lagi namun bel masuk akan segera berbunyi dan dirinya belum mengerjakan pr sejarah nya.


"Kamu kelas apa Pell?" tanya Rintik.


"Ipa tiga," jawab Capella.


"Wah, kita sekelas dong!" ucap Rintik dengan mata berbinar.


"Iya kah?" tanya Capella.


"Iya! Ada Embun sama Mentari juga di ipa tiga," ucap Rintik.


"Oh. Baka rame tuh," ucap Capella.


"Iya dong!"


TIN! TIN! TIN!


Suara klakson motor membuat Rintik dan Capella terkejut dan segera menghindar motor yang datang.


"Siapa sih itu?! Jalan masih lebar juga ngapain klakson-klakson gitu?! Kurang ajar banget!!" marah Capella.


"Sabar Pell, pasti Alam gak sengaja tuh," ucap Rintik.


"Oh, jadi nama dia Alam?! Oke, gue samperin tuh bocah?!" ucap Capella berjalan menghampiri Alam.


"Eh, Pella?!"


"Aduh, mau apa sih Pella kesana segala?!" monolog Rintik lalu mengejar Capella.


"WOY!" panggil Capella membuat Alam yang sedang menaruh helmnya menengok kebelakang.


"Apa?" tanyanya dengan wajah datar dan tak berdosa sama sekali.


"Masih tanya lo setelah buat jantung gue hampir copot karena klakson motor lo?!" ucap Capella.


Alam mengerutkan keningnya. "Masih hidup tuh!"


"Lo sumpahi gue m*ti, hah?!" tanya Capella.

__ADS_1


"Kata lo jantung lo mau copot kan? Tapi buktinya gak copot kan jadi lo masih hidup," ucap Alam.


"Lo!!" geram Capella.


"Tanggung jawab lo!!" ucap Capella.


"Tanggung jawab kenapa? Lo hamil anak gue gitu?" tanya Alam membuat Capella melotot terkejut.


"Dih, amit-amit gue hamil anak lo!!" ucap Capella.


Alam mengerutkan keningnya lagi. "Kalau gak buat apa gue tanggung jawab?!"


"Pokoknya lo tanggung jawab! Karena lo jantung gue mau copot!" ucap Capella.


"Belum juga copot kalau udah copot baru gue tanggung jawab!" ucap Alam.


"Lo!!" Capella semakin geram dengan cowok dihadapannya ini beruntung Rintik segara menenangkan Capella.


"Maaf ya Alam, Pella emang suka gitu orangnya. Jangan dimasukin hati nanti jadi suka malah," ucap Rintik.


"Iya Rin santai aja. Lagian gak minat suka sama cewek kek dia," ucap Alam lalu melenggang pergi.


"Heh, apa lo bilang?! Awas aja ya kalau lo suka sama gue!! Gue gak bakalan mau disukai sama cowok kek lo!" teriak Capella membuat siswa-siswi yang sedang lewat meliriknya.


"Pella udah ih, malu dilihatin temen-temen," ucap Rintik.


Capella pun tersadar dan bersikap normal.


"Ya udah yuk ke kelas. Bisa emosi terus kalau disini gue!" ucap Capella lalu mendahului Rintik berjalan.


"Pella tunggu! Emangnya kamu tau apa kelasnya dimana?" tanya Rintik.


"Ya enggak sih, tapi gue punya insting kalau kelas kita dilantai dua kalau gak tiga," ucap Capella saat melewati kelas sepuluh.


"Ya iya lah, orang lantai satu ini kelas sepuluh semua," ucap Rintik.


Mereka pun berjalan menuju kelas XII IPA 3.


Kehadiran Capella di SMA Pancasila ini langsung diketahui seluruh siswa-siswi. Terlebih lagi soal beritanya jika dia adalah sahabat Rintik.


Seketika semua media sosial SMA Pancasila berisi Capella saja dan sedikit melupakan tentang berita Langit dan Rintik.


"Gila! Semuanya lagi pada bahas lo Pell!" ucap Embun yang sedang asik melihat sosmed seraya berjalan ke kantin.


"Iya loh Pell, kayaknya sebentar lagi kamu bakal terkenal deh," ucap Mentari.


"Nanti kalau Pella udah terkenal bagi duit ya?" ucap Rintik.


"Hmm," deham Capella yang saat ini tengah asik mendengar musik dari headphone miliknya.


Saat mereka sampai di kantin semua mata tertuju pada mereka berempat. Bahkan mereka dengan terang-terangan membahas Capella.


"Langsung deh pada heboh!" ucap Embun memutar bola matanya jengah.


"Namanya juga murid baru Mbun," ucap Mentari.


"Iya sih. Pasti semua beritanya dicari sampai ke akar-akarnya!" ucap Embun.


"Pella kan bukan pohon Mbun jadi gak punya akar dong," ucap Rintik.


"Maksud gue tuh bukan itu Rin! Maksud gue jari dirinya dicari sampai kakek Nenek sekalian!" ucap Embun.


"Emangnya mereka tau kakek neneknya Pella? Kita aja gak tau tuh," ucap Rintik.


"Netizen indo apa sih yang gak tau?! Mungkin aja mereka juga tau size baju Capella," ucap Embun.


"Iya kah Mbun?" tanya Rintik tak percaya.


"Ya mungkin aja gak sih?!" tanya balik Embun.


"Udah gak usah bahas itu mending pesen makanan aja deh udah laper nih," ucap Mentari.


"Mau pesen apa?" tanya Embun.

__ADS_1


"Seperti biasa. Kalau kamu Pell?" tanya Rintik.


"Sama," jawab Capella singkat dan jelas.


"Oke. Gue pesen dulu," ucap Embun. Tak lama Embun kembali membawa nampan berisi empat porsi mie pedas dan empat es teh.


"Kamu harus coba deh Pell! Dijamin ketagihan kamu!" ucap Rintik.


"Oke." Capella pun memakan mie pedas yang katanya bikin ketagihan.


"Gimana? Enak kan?" tanya Rintik.


"Enak juga ternyata," ucap Capella.


"Kan enak! Ini tuh mie pedas favorit anak-anak Pancasila!" ucap Rintik.


"Oh, gitu."


Sedang asyik-asyiknya menikmati mie pedas pesanannya Capella dikagetkan dengan teriakan heboh dari ciwi-ciwi SMA Pancasila.


Mereka berteriak heboh karena Langit dkk memasuki area kantin dan duduk di tempat kebesaran mereka.


"Jangan heran kalau denger teriak kek gitu Pell," ucap Embun.


"Kenapa mereka heboh gitu?" tanya Capella.


"Biasalah cowok-cowok kebanggan ciwi-ciwi sini kecuali gue!" ucap Embun.


"Oh." Capella pun kembali memakan mie pedas pesanannya.


"Disana juga ada cowok yang tadi loh Pell," ucap Rintik membuat Capella tersedak.


"Cowok siapa Rin?" tanya Embun dan Mentari penasaran.


"Itu si Alam," ucap Rintik.


"Kenapa si Alam?" tanya Embun.


"Tapi pagi ribut sama Pella karena klakson motornya," ucap Rintik.


"Hahaha... ada-ada aja lo Pell! Klakson motor lo ributin!" ucap Embun.


"Salah siapa klaksonnya bikin orang hampir copot aja jantungnya!" ucap Capella.


"Namanya juga klakson Pell, kalau gak bikin kaget namanya bukan klakson!" ucap Mentari.


"Terus apa?"


"Ya gak tau lah," ucap Mentari.


"Ye kirain mau ngelawak lo Tar!" ucap Embun kecewa.


"Enggak lah aku kan bukan pelawak Mbun," ucap Mentari.


"Bisa-bisanya punya sahabat kek lo Tar, Tar!" ucap Embun memijat pelipisnya pusing mempunyai sahabat seperti ketiga orang didepannya ini.


Yang satu polos-polos nyebelin! Yang satu kang lawak gagal! Yang satu seperti kulkas berjalan!


"Kok bisa dulu gue mau sahabatan sama lo pada ya?!" tanyanya.


"Tau tuh, Rintik juga binggung sampai sekarang kenapa mau gitu sama kalian," ucap Rintik.


"Takdir dari sananya," ucap Capella.


Mentari mengangguk membenarkan ucapan Capella. "Kalau bukan karena takdir kita gak akan kaya gini!"


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...


...See you di next chapter....

__ADS_1


__ADS_2