
...Hallo Guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Tak Mau Mengakuinya?!...
Yang satu polos-polos nyebelin! Yang satu kang lawak gagal! Yang satu seperti kulkas berjalan!
"Kok bisa dulu gue mau sahabatan sama lo pada ya?!" tanyanya.
"Tau tuh, Rintik juga binggung sampai sekarang kenapa mau gitu sama kalian," ucap Rintik.
"Takdir dari sananya," ucap Capella.
Mentari mengangguk membenarkan ucapan Capella. "Kalau bukan karena takdir kita gak akan kaya gini!"
"Bener itu!" ucap Rintik.
"Lo mah bener-bener mulu Rin!" protes Embun.
"Terus harus jawab salah-salah gitu?!" tanya Rintik.
"Ya gak juga! Maksud gue tuh jawab yang lain kan bisa!" ucap Embun.
"Ya udah nanti aku jawab yang lain," ucap Rintik.
"Tapi yang lain itu apa ya?" tanya Rintik.
"Gak tau! Jangan tanya gue!" ucap Embun.
"Ayo lah Langit kasih tau gue!"
Terdengar suara Ucup yang sedang memohon kepada Langit.
"Eh, itu Ucup masih aja mohon-mohon sama Langit!" ucap Embun.
"Paling bentar lagi si Langit bakal marah Mbun," ucap Mentari.
"Paling tuh," ucap Embun.
BRAK!
Dan benar saja ucapan Mentari, kini Langit mengebrak meja marah.
"Mau lo apa sih setelah tau berita itu bener atau gak?! Sepenting itu lo semua tau masalah pribadi gue hah?!" tanya Langit tepat di depan muka Ucup yang ketakutan.
"Lang, sabar Lang!" ucap Haekal.
"Kurang sabar apa gue?! Dari kemarin nih orang tanya itu mulu kek gue!" ucap Langit benar-benar marah.
"S-sorry Lan, g-gue cuma mau selesein truth or dare," ucap Ucup.
"Lo dengerin ini baik-baik! Lo semua juga!" ucap Langit membuat siswa-siswi menoleh ke arahnya.
"GUE SAMA DIA..." ucap Langit menunjuk Ritnik yang sedang makan mie pedas nya.
"GAK ADA HUBUNGAN APA-APA!" tegas Langit membuat Rintik yang sedang makan menghentikan aktivitasnya.
Sahabat-sahabat Rintik dan Langit yang sudah tau jika mereka akan bertunangan syok ketika mendengar ucapan Langit itu.
"Rin?! Apa-apaan nih?!" tanya Embun.
Rintik terdiam enggan menjawab pertanyaan dari sahabatnya itu.
__ADS_1
"DAN SOAL BERITA ITU! ITU BERITA PALSU! YANG SENGAJA DIBUAT SAMA ORANG YANG MAU JATUHIN REPUTASI GUE!" ucap Langit lantang.
"KALAU SAMPAI ADA YANG TANYA-TANYA LAGI SOAL KEBENARAN BERITA ITU! HABIS LO SAMA GUE!" ucap Langit lalu pergi meninggalkan kantin dan para sahabatnya yang sedang mencerna setiap ucapan Langit.
Tak lama mereka pun ikut meninggalkan kantin dan mengejar Langit.
"Rin, kenapa lo diem aja sih?! Biasanya lo bakal bantah itu semua! Kenapa sekarang diem aja?!" tanya Embun.
"Biarin Mbun. Suka-suka Langit aja," ucap Rintik acuh lalu memakan mie pedas nya lagi.
"Sumpah ini bukan lo Rin! Lo gak kek gini dulu!" ucap Embun.
"Emang dulu aku gimana Mbun?" tanya Rintik.
"Aku yang dulu ataupun sekarang memang beda Mbun jadi jangan dibanding-bandingin ya?!" pinta Rintik.
"Tapi Rin...?"
"Itu permintaan Langit dan aku gak bisa cegah itu. Lagi pula aku juga gak mau publik hubungan itu Mbun," ucap Rintik.
"Kenapa?" tanya Embun.
"Gak pengen aja," ucap Rintik.
"Ya udah deh kalau itu mau lo," ucap Embun.
"Tapi tumben loh, kamu kaya gitu. Biasanya aku deket-deket sama Langit aja udah marah-marah kamu," ucap Rintik.
"Y-ya itu kan dulu. Sekarang gue sadar kalau gue gak bisa cegah perasaan cinta lo ke Langit!" ucap Embun.
"Berarti sekarang udah setuju nih aku sama Langit?!" tanya Rintik.
"Ya mau gimana lagi? Kalau semester setuju gue sih setuju aja," ucap Embun.
"Wih, sekarang gak ada yang larang-larang lagi tuh Rin," ucap Mentari.
"Iya Tar!" ucap Rintik.
"Ih, Embun gak boleh gitu tau!" peringat Rintik.
"Biarin!" ucap Embun lalu memakan segulung mie pedas nya.
"Huh hah, pedes!" ucap Embun lalu meminum hingga tandas es nya.
"Lagian langsung segitu makannya sih!" ucap Mentari.
Rintik tertawa ngakak melihat ekspresi kepedasan Embun.
"Ketawa lagi nih anak!" kesal Embun.
"Dari pada Pella diem aja!" ucap Rintik.
"Dia diem karena gak paham alur pembahasan kita!" ucap Embun.
"Emang iya Pell?" tanya Rintik.
"Iya," jawab Capella.
"Ya udah aku ceritain ya. Jadi..." Rintik pun mulai menceritakan dari awal rencana perjodohan itu hingga masalah tadi.
"Nah, sekarang udah paham?" tanya Rintik.
Belum sempat Capella menjawab sudah keduluan bel masuk kelas.
"Rin, Rin, cerita lo kepanjangan sampai udah bel aja!" ucap Embun lalu berdiri.
"Salahin jam istirahatnya singkat dan padat kaya omongan Langit!" ucap Rintik.
"Kan yang punya Kakeknya Rin, makanya singkat dan padat!" ucap Mentari.
__ADS_1
"Iya sih."
"Btw, kapan undangannya disebar Rin?" tanya Embun.
"Gak tau sih. Nanti coba aku tanya sama Mama," ucap Rintik.
"Inget ya kita harus diundang pokoknya!" ucap Embun.
"Iya bawel!" ucap Rintik.
"Nanti kita dapet baju bridesmaid gak Rin?" tanya Mentari.
"Dia tuh cuma tunangan Tar! Mana ada bridesmaid! Lo kira Rintik mau nikah apa!?" ucap Embun.
"Ya kan siapa tau ada gitu kek baju couple buat kita gitu!" ucap Mentari.
"Coba nanti aku tanya Mama Raya deh, siapa tau kalian dapet baju couple," ucap Rintik.
"Emaknya si Langit-langit neraka apa?" tanya Embun.
"Iya."
"Oh. Pasti baik ya? Gak kek anaknya!" ucap Embun.
"Iya baik," ucap Rintik.
"Kita mau ngobrol terus apa masuk ke kelas nih?" tanya Mentari.
"Masuk dong! Kalau gak bisa kena marah kita!" ucap Rintik lalu memasuki kelasnya.
Disisi lainnya, Langit pergi ke ruang osis untuk menyendiri. Namun sepertinya keinginan itu tak bisa ia penuhi karena para sahabatnya malah mengikutinya ke ruang osis.
"Mau apa lo semua kesini?" tanya Langit.
"Ikut lo bolos pelajaran lah! Enak aja lo bolos pelajaran kita kagak!" ucap Cakrawala.
"Gue gak bolos! Nanti juga balik!" ucap Langit.
"Mending lo semua balik sana! Gue mau disini sendiri!" ucap Langit.
"Gak bisa gitu dong! Kita kesini juga ada tujuan lain!" ucap Cakrawala.
"Bener tuh! Kita mau tanya ngapain lo ngomong gitu tadi?!" tanya Alam.
"Lo gak pikirin perasaan Rintik apa?" tanya Alam.
"Ngapain gue harus pikirkan perasaan dia?! Gue bebas lakuin apapun yang gue mau karena dia udah tanda tangan surat perjanjian pertunangan kita!" ucap Langit.
"Lo gila ya?! Ngapain buat surat perjanjian pertunangan segala?!" tanya Alam.
"Biar gue gak lupa diri!" ucap Langit dengan entengnya.
"Bener-bener gila lo!" ucap Alam emosi.
"Sabar-sabar jangan emosi. Gue tau lo gak suka gini Lam. Mending pergi aja yuk!" ucap Cakrawala lalu mengajak Alam dan Haekal pergi.
"Lihat aja nanti lo bakal nyesel Lang!" ucap Alam sebelum pergi.
"Ya,ya. Lihat aja nanti gue gak akan nyesel!" ucap Langit dengan sombongnya.
"Jangan sombong-sombong lo! Nanti beneran nyesel tau rasa lo!" ucap Lembayung.
"Gak bakal!" ucap Langit.
"Ya lihat nanti! Gue jamin lo bakal nyesel!" ucap Lembayung lalu pergi meninggalkan Langit sendiri.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
__ADS_1
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....