Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 15. Ruang Osis Dan Kemarahan


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - 13. Ruang Osis Dan Kemarahan...


Rintik membersihkan semua sudut ruang osis namun entah mengapa daritadi tak selesai-selesai juga.


"Huh, masih banyak yang harus diberesin!" ucap Rintik yang kini tengah jongkok karena lelah berdiri.


Tiba-tiba ada orang yang akan membuka pintu. Buru-buru Rintik menyapu kembali sebelum Langit memarahinya karena istirahat.


"Eh, ternyata ada lo," ucap Luna yang ternyata memasuki ruang osis.


Luna menutup kembali pintunya dan berjalan menghampiri Rintik yang tengah menatapnya jengah.


"Ngapain kamu kesini?" tanya Rintik.


"Harusnya gue yang tanya. Ngapain lo disini? Dihukum lagi ya?" tanya Luna mendekati Rintik.


"Bukan urusan kamu!" ucap Rintik lalu mengambil pel untuk mengepel lantai yang sangat kotor ini.


"Aduh kasian banget ya? Calon tunangannya ketua osis tapi selalu dihukum," ucap Luna membuat Rintik yang akan mengambil pel pun tak jadi.


"Kenapa? Kaget lo ya? Kenapa gue bisa tau rencana pertunangan lo sama Langit?" ucap Luna tersenyum miring.


"Bagus deh kalau kamu udah tau. Jadi gak perlu aku kasih tau lagi," ucap Rintik lalu mengepel lantai.


"Cih, lo lihat aja nanti pasti Langit bakal hancurin pertunangan itu!" ucap Luna.


"Ya lihat aja nanti," ucap Rintik tak perduli dan melanjutkan mengepel lantai.


"Kita lihat aja nanti. Gue akan buat pertunangan lo sama Langit batal!" ucap Luna penuh tekad.


"Ya-ya-ya, bodo amat!"


Nih anak bikin gue naik darah aja! batin Luna lalu teringat ide yang sangat bagus.


Bruk!


Suatu yang disengaja pun terjadi. Luna pura-pura terpeleset dan tepat sekali Langit memasuki ruang osis.


"Luna?" Langit kaget dan langsung membantu Luna duduk di kursi.


Yes, berhasil! batin Luna senang.


"Lo kalau ngepel yang bener! Jangan sampai orang lain jadi korban!" ucap Langit.


"Dia yang salah kenapa aku yang disalahin?!" tanya Rintik binggung pasalnya dirinya sudah benar mengepel lantainya.


"Udah salah masih aja ngelak!" ucap Langit.


"Sekarang lo minta maaf sama Luna!" perintah Langit.


"Gak mau. Aku kan gak salah! Dia kan yang gak hati-hati kenapa aku harus minta maaf?!" ucap Rintik.


Langit mencekam tangan Rintik dengan erat saat Rintik akan meninggalkan ruang osis.


"Minta maaf sekarang!" tegas Langit.


Luna yang melihat Langit emosi pun merasa sangat senang.


Rasain lo Rin! batin Luna memandang remeh Rintik.


"S-sakit Langit..." ringis Rintik kesakitan.

__ADS_1


"Buruan minta maaf!" ucap Langit masih mencengkram erat tangan Rintik.


"Gak mau!" kekeh Rintik masih pada pendiriannya.


"Gue bilang minta maaf sekarang!" bentak Langit tepat di depan muka Rintik.


"Langit...udah gak usah paksa Rintik buat minta maaf. Lagian emang aku kok yang salah," ucap Luna sedih.


"Gak. Lo gak salah yang salah Rintik!" tegas Langit.


"Buruan minta maaf!" bentak Langit lagi.


"Gak!" tegas Rintik membuat Langit mengepalkan tangan marah.


"Lo!! Bener-bener harus dikasih pelajaran emang!" ucap Langit lalu menyeret Rintik menghadap Luna dan mendorong Rintik sampai terjatuh tepat di kaki Luna.


"Minta maaf sekarang!" perintah Langit.


Rintik diam tak bergerak. Dia masih mencerna apa yang terjadi saat ini. Langit calon tunangannya sendiri membentaknya dan mendorongnya hanya karena Luna, si gadis ular.


Rintik menepis air matanya yang akan jatuh dengan kasar lalu mengadah menatap Luna dan Langit secara bergantian.


"Sampai kapan pun aku gak akan pernah minta maaf!" tegas Rintik lagi lalu berdiri dengan sisa kekuatannya menatap Langit nyalang.


"Lo!! Bener-bener ya!!" kesal Langit sampai wajahnya memerah menahan marah.


"Rintik gak salah," ucap Lembayung yang keluar dari ruangan khusus untuk ketua dan wakil ketua osis.


Dari tadi Lembayung sudah ada disana. Bahkan Lembayung juga mengetahui jika Langit dan Rintik akan bertunangan. Lembayung tau semuanya!


"Lembayung?" ucap mereka kaget.


"Maksud lo apa? Jelas-jelas Luna jatuh karena ulah Rintik yang ngepel nya gak bener!" ucap Langit.


"Coba cek cctv kalau lo gak percaya!" ucap Lembayung dengan santainya.


"Cctv?" guman Langit. Ah, iya dirinya baru mengingat jika diruang ini ada cctv nya.


Luna juga sudah mengetahui rencana pertunangan itu. Bahkan Luna bilang akan menghancurkan pertunangan itu.


Langit mengeram marah. Bahkan ponsel mahalnya dia banting sampai membuat Luna dan Rintik terlonjak kaget.


"Mau lo apa sih Lun?! Kemarin lo bohong soal hasil tes lab! Sekarang lo bohong lagi soal ini?!" ucap Langit tak habis pikir dengan Luna.


"Langit aku bisa jelasin! Aku bener-bener kepeleset tadi!" ucap Luna.


"Disini jelas-jelas lo pelesetin diri lo sendiri!" ucap Langit bingung.


"Ya itu kan kamu lihatnya dari sudut belakang! Aku kepeleset karena mau keluar!" ucap Luna.


"Udah selesai beres-beres?" tanya Lembayung pada Rintik.


"Udah."


"Ya udah sana keluar aja. Biar mereka urus urusan mereka sendiri," ucap Lembayung.


Rintik pun keluar dan segera menuju toilet. Di toilet Rintik membasuh wajahnya lalu melihat pantulan wajahnya di cermin.


"Kamu bener-bener kuat Rin! Aku bangga sama kamu!" ucap Rintik pada pantulan wajahnya di cermin.


Ponselnya berdering, terlihat nama Embun yang meneleponnya. Buru-buru Rintik mengangkat panggilan itu.


"RINTIK!" ucap Embun kelewat keras membuat Rintik menjauhkan ponselnya dari kupingnya. Bisa-bisa dirinya budeg kalau begini terus!


"Apa sih Mbun? Gak usah keras-keras juga napa! Telinga aku masih bisa denger!" protes Rintik.


"Hehehe...maaf. Lagian lo sih! Dari tadi gue teleponin gak diangkat-angkat!" ucap Embun.


"Maaf tadi lagi cuci muka," ucap Rintik.


"Lo lagi di toilet?" tanya Embun.

__ADS_1


"Iya."


"Ya udah tunggu disitu! Gue sama Tari otw kesana!" ucap Embun langsung mematikan panggilannya.


"Dih, langsung dimatiin aja!" ucap Rintik lalu keluar dari toilet.


Terlihat kedua sahabatnya berlari kearahnya seraya membawa tas berwarna merah muda miliknya.


"Huh, nih tas lo!" ucap Embun menyerah tas Rintik.


"Makasih," ucap Rintik menggendong tasnya.


"Emangnya udah pulang ya?" tanya Rintik pasalnya daritadi dia tak mendengar suara bel.


"Udahlah! Kalau belum mana mungkin udah sepi nih sekolah!" ucap Embun.


"Oh."


"Kamu tadi dia apain aja sama Langit?" tanya Mentari.


"Disuruh beres-beres ruang osis," jawab Rintik lalu berjalan meninggalkan mereka.


"Loh, Rin mau kemana?" tanya Mentari.


"Pulang," jawab Rintik singkat dan jelas.


"Kayanya ada yang beda sama Rintik!" ucap Embun.


"Iya. Kaya ada yang beda tapi bukan perbedaan Mbun!" ucap Mentari.


"Kira-kira apa ya yang beda dari Rintik?" tanya Embun.


"Gak tau. Tapi kayanya ada yang disembunyiin sama Rintik deh!" ucap Mentari.


"Bener kata lo! Kita ikutin Rintik aja yuk!" saran Embun.


"Ikutin naik apa?" tanya Mentari.


"Udah gampang! Yang penting ikutin Rintik dulu!" ucap Embun lalu berjalan pelan-pelan mengikuti Rintik.


Rintik terus berjalan menuju halte angkot yang ada didepan sekolahnya tanpa rasa curiga jika sahabat-sahabatnya mengikutinya.


"Kita tunggu Rintik naik angkot dulu baru kita ikutin pake taksi!" ucap Embun.


"Oke."


Tak lama Rintik menaiki angkot, lantas Embun dan Mentari segera menaiki taksi yang sudah Embun pesan tadi.


"Ikutin angkot itu ya Pak," ucap Embun kepada supir taksi.


"Baik Non."


Mereka pun mengikuti Rintik sampai halte depan rumah Rintik. Tak ada hal mencurigakan yang mereka kira.


"Gak ada apa-apa tuh Mbun," ucap Mentari.


"Iya, ya? Kita pulang aja gimana? Lagian Rintik udah mau sampai rumahnya," ucap Embun.


"Ya udah kita pulang aja deh," ucap Mentari.


Merekapun pulang ke rumah masing-masing. Rintik yang sadar diikuti pun mengengok kebelakang dan menatap kepergian mobil yang ditumpangi Embun dan Mentari.


Rintik sadar jika diikuti kedua sahabatnya daritadi di sekolah namun dirinya pura-pura tak tau hal itu.


"Maaf. Kalian gak perlu tau soal kejadian tadi!" ucap Rintik lalu berjalan menuju rumahnya.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...

__ADS_1


...See you di next chapter....


__ADS_2