Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 18. Ditinggalin?!


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Ditinggalin?!...


Seperti biasa matahari sudah menampakkan dirinya dibalik celah-celah korden jendela kamar milik Rintik. Dan seperti biasa pula Rintik masih belum bangun dari mimpi yang tak indahnya.


"Astaghfirullah! Anak ini memang kebiasaan deh!" guman Rindu memasuki kamar anak gadisnya yang seperti kapal pecah.


Barang-barang ada dimana-mana, buku-buku berserakan dimeja, make up-make up berserakan di meja rias dan gak lupa handuk yang masih tersampir di sofa kamar.


"Kamar kaya tempat pembuangan sampah aja!" guman Rindu mulai membereskan buku-buku Rintik.


"Rain, bangun Nak. Udah pagi ini," ucap Rindu.


"Eugh....bentar Ma! Masih ngantuk!" ucap Rintik.


"Kamu lupa hari ini mau ke butik ya sama Langit?" ucap Rindu berhasil membuat Rintik kalang kabut memasuki kamar mandi.


Rindu melongo dibuatnya. "Tumben langsung bangun tuh anak biasanya dibangunin pake cara apapun gak mempan tapi ini mempan!"


"Mama kenapa gak bilang dari tadi sih?!" tanya Rintik dari dalam kamar mandi.


"Itukan Mama udah bilang Rain!" ucap Rindu.


Rintik keluar kamar mandi dan segera memakai seragamnya.


"Bukan itu Ma! Hari ini kan Langit mau jemput Rintik buat berangkat ke sekolah bareng!" ucap Rintik.


Semalam Raya meminta Langit untuk menjemput Rintik ke sekolah agar saat fighting baju tidak pisah-pisah dan tentunya agar Langit tidak kabur dari fighting baju.


"Oh, iya kah? Mama gak tau tuh. Soalnya yang Mama tau kamu sama Langit mau fighting baju aja," ucap Rindu.


Aish, lupa bilang sama Mama ternyata! batin Rintik menepuk jidatnya sendiri.


"Kenapa kamu Rain? Ada nyamuk ya?" tanya Rindu.


"Enggak kok Ma. Ya udah kalau gitu Rintik berangkat dulu. Takut kelamaan Langit tunggunya," pamit Rintik menyalami tangan Rindu.


"Iya. Hati-hati," pesan Rindu.


"Iya, Ma."


Rintik pun bergegas menuruni setiap anak tangga. Terlihat di ruang tamu terdapat Langit yang sedang mengobrol dengan sang Papa.


Langit menatap Rintik tajam saat Rintik menatapnya dengan senyuman pepsodent.


"Nah, itu Rain udah turun," ucap Samudra membuat Rintik mempercepat langkahnya.


"Hallo Papa, Langit," sapa Rintik tak merasa bersalah sama sekali karena dia memang tak salah.


"Lama banget kamu Rain, Langit sampai bosen tuh tunggunya," ucap Samudra disambut senyum palsu Langit.


"Hehehe...maaf," ucap Rintik menggaruk tengkuknya.


"Kalau gitu saya permisi Pa, takut telat," ucap Langit lalu menyalami tangan Samudra.

__ADS_1


"Iya gih berangkat masa ketua osis telat kan jadi contoh gak baik itu," ucap Samudra.


"Iya Pa."


"Kalau gitu Rain, juga berangkat dulu Pa," pamit Rintik.


"Iya hati-hati dijalan," ucap Samudra.


"Iya Pa."


Rintik dan Langit pun berangkat ke sekolah dengan mobil yang dikendarai Langit.


"Langit?" panggil Rintik.


"Tumben mau jemput Rintik?" tanya Rintik.


"Terpaksa!" jawab Langit dingin.


"Kalau terpaksa mending tuh gak usah di jemput!" ucap Rintik.


"Biar gue dicoret dari ahli waris gitu?" tanya Langit.


"Ya enggak dong. Kan maksud Rintik tuh—"


"Udah deh gak usah banyak omong lo! Nanti lo turun di halte depan sana!" potong Langit.


"Loh, kok gitu sih?! Kan masih jauh dari sekolah," protes Rintik.


"Turun!" perintah Langit saat sudah sampai didepan halte yang dimaksudnya.


"Tapi kan —"


"Turun gue bilang!" potong Langit.


"Denger ya gue gak akan sudi berangkat bareng sama lo! Jangankan berangkat bareng semobil sama lo aja gue eneg!" ucap Langit.


Langit menuruni mobilnya dan membuka pintu mobil dengan emosi menarik Rintik keluar dari mobilnya.


"Tinggal turun aja susah lo!" ucap Langit.


Rintik memegangi tangan Langit yang akan pergi. "Langit jangan gitu lah. Ini kan udah siang nanti kalau Rintik telat gimana coba?"


"Bodo amat! Gue gak peduli!" ucap Langit lalu melenggang pergi.


"Ish, Langit jahat banget sih?!" kesal Rintik.


"Sekarang gimana coba? Taksi gak ada! Angkot gak ada! Gimana sekarang?! " tanya Rintik binggung.


Rintik terduduk sedih di halte tak berselang lama terdengar deruman motor yang mendekati halte itu seketika Rintik mengadah menatap pemotor itu.


"Ayo. Nanti telat loh," ucap Bintang melepas helm full face miliknya.


"Bintang?" ucap Rintik kaget dengan kehadiran Bintang.


"Udah gak usah kebanyakan mikir. Ayo buruan," ucap Bintang.


"Tapi—"


Bintang menarik Rintik dan memasangkannya helm yang dibawanya.


"Gak usah banyak protes kalau gak mau telat!" ucap Bintang.


"Tapi—"

__ADS_1


"Gak usah tapi-tapian!" ucap Bintang lalu melajukan motornya ke SMA Pancasila.


Kini mereka sudah sampai di SMA Pancasila dengan selamat serta tak ada halangan untuk memasuki SMA Pancasila. Namun disisi lain ada Langit yang memandang tajam Bintang dan Rintik sejak mereka datang.


"Awas aja mereka!" tutur Langit.


"Kali ini gue biarin mereka tapi lain waktu gue gak akan lepasin mereka! Kalau bukan karena Opa Candra dia juga gak bakal sekolah lagi disini!" ucap Langit penuh dendam yang tersimpan dalam dirinya.


...***...


"Cie, Rintik berangkat sama Bintang nih," goda Embun.


Saat ini sedang jam istirahat dan tentunya mereka ada di kantin untuk makan dan gosip-gosip ria.


"Apa sih Mbun?! Orang tadi gak sengaja ketemu di halte aja loh!" ucap Rintik.


"Mau ketemu di halte kek mau enggak kek yang penting lo berangkat sama Bintang dan bukannya si Langit-langit neraka itu!" ucap Embun.


"Tadinya sih sama Langit tapi disuruh turun di halte," jujur Rintik.


Embun melotot. "Yang bener lo?! Bener-bener keterlaluan tuh anak!"


"Sabar Mbun! Tapi ada hikmahnya juga loh Mbun," ucap Mentari.


Emosi Embun mereda seketika. "Bener juga lo Tar! Kalau Rintik gak diturunin mana bisa dia berangkat bareng sama Bintang!"


"Nah iya kan!" ucap Mentari.


"Tapi kan tetep aja keterlaluan tuh anak!" ucap Embun tiba-tiba emosi lagi.


"Huh, terserah kamu lah Mbun!" kesal Mentari.


"Pokoknya tuh cowok harus dikasih pelajaran!" ucap Embun penuh tekat.


"Mau dikasih pelajaran apa sih Mbun? Langit kan udah pinter gak usah di kasih pelajaran lagi! Mending tuh kamu yang belajar lagi!" ceplos Rintik.


Embun yang sedang minum pun tersedak. "Kalau ngomong suka bikin orang ke sindir aja lo Rin!"


"Kan emang kenyataannya Mbun," ucap Rintik lagi-lagi jujur.


"Iya-iya gue tau. Gue gak sepinter Langit-langit neraka itu tapi pelajaran yang mau gue kasih tuh bukan pelajaran sehari-hari Rin!" ucap Embun.


"Terus pelajaran apa?" tanya Rintik.


"Iya Mbun, pelajaran apa? Jangan yang aneh-aneh loh," ucap Mentari mewanti-wanti Embun.


"Tenang aja ini gak aneh-aneh kok. Cuma bikin kaget beberapa orang aja. Pasti lucu deh," ucap Embun tersenyum penuh misteri.


"Embun kek orang gila ya Tar?" bisik Rintik.


"Iya senyum-senyum sendiri gitu," bisik balik Mentari.


Embun pergi tanpa berpamitan dengan kedua sahabatnya menuju suatu tempat.


"Loh, Embun mau kemana tuh Tar?" tanya Rintik.


"Gak tau Rin, kita ikutin aja yuk. Takutnya Embun kenapa-kenapa lagi," ucap Mentari.


"Ya udah yuk kita pergi keburu Embun jauh tuh," ucap Rintik lalu bergegas pergi mengejar Embun sebelum jauh begitupun dengan Mentari.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....

__ADS_1


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...


...See you di next chapter....


__ADS_2