Rintik Dan Garis Takdir

Rintik Dan Garis Takdir
Rintik Dan Garis Takdir - 19. Terbongkarnya Acara Pertunangan?


__ADS_3

...Hallo guys?...


...Happy reading. Semoga suka....


...*...


...*...


...*...


...Rintik Dan Garis Takdir - Terbongkarnya Acara Pertunangan?...


Terlihat kelima cogan SMA Pancasila memasuki kantin dengan Langit berada di barisan terdepan yang sedang mengotak-atik ponselnya disampingnya ada Lembayung yang sedang membaca buku dengan headphone tersampir di lehernya.


Disusul dengan Alam dan Haekal yang terlihat beberapa kali menyapa siswa-siswi yang menyapanya juga. Berbeda dengan Cakrawala yang sibuk tebar pesona kepada siswi-siswi yang di lewatinya.


"Hai cantik jangan lupa ntar malem gue jemput," goda Cakrawala kepada salah satu siswi cantik yang lewat. Siswi itu salting dan langsung pergi.


"Kasian anak orang lo bikin salting mulu tuh. Lama-lama bisa ilfil dia," ucap Alam.


"Gak mungkin! Mana ada cewek yang ilfil di godain sama gue!" ucap Cakrawala percaya diri.


"Ada. Tuh si Luna," ucap Haekal.


"Dia gak ilfil itu! Cuma terlalu baper aja dia makanya kek gitu!" ucap Cakrawala sangat percaya diri.


"Terserah lo lah Cak!" ucap Haekal menyerah bisa-bisa kalau diteruskan bukannya makan dia malah kelaparan karena debat dengan Cakrawala.


Saat ini mereka tengah duduk di meja yang di khususkan untuk mereka saja. Tak ada yang boleh memakai meja ini kecuali mereka.


"Pesen apa lo?" tanya Alam.


"Mau bayarin lo?" tanya balik Cakrawala.


"Gratisan mulu pikiran lo dah!" ucap Alam.


"Ya siapa tau lo mau traktir kan gak masalah gue!" ucap Cakrawala.


Alam memutar bola matanya jengah. "Iya gue yang traktir. Buruan mau pesen apa lo pada!"


"Beneran gak nih?! Ntar gue udah pesen lo gak mau bayar lagi!!" ucap Cakrawala.


"Biasanya juga lo yang kek gitu Cak!" ucap Haekal.


"Enak aja gue gak pernah gitu ya!!" protes Cakrawala.


"Udah gak usah banyak bacot lo pada! Buruan mau pesen apa nih?!" kesal Alam.


"Gue kayak biasa aja," ucap Haekal.


"Gue ikut lo aja ntar. Biar bisa pilih sendiri," ucap Cakrawala girang.


"Hmm."


"Dih, udah di traktir juga masih aja kebangetan lo!" sindir Haekal.


"Biarin!" ucap Cakrawala.


"Lo berdua mau pesen apa?" tanya Alam kepada Langit dan Lembayung.


"Samain aja kaya lo," ucap Langit.


"Sama," ucap Lembayung singkat padat dan sangat jelas sekali.


"Ya udah oke. Gue pesen dulu," pamit Alam lalu melenggang pergi dengan Cakrawala ke tempat pemesanan makanan.


BRAK!

__ADS_1


"Demi apa lo sama Rintik mau tunangan?" tanya Haekal terkejut bukan main setelah melihat sebuah berita di ponselnya.


Langit menoleh dan menatap datar Haekal. "Dari siapa?"


"Ini ada yang chat gue nomor gak dikenal dia kasih tau kalau lo mau tunangan sama Rintik. Bener itu?" tanya Haekal.


Langit mengeram marah. Berani-beraninya ada yang bocorin acara itu! batinnya.


"Bener lo mau tunangan sama Rintik?" tanya Haekal lagi.


Belum sempat Langit menjawab tiba-tiba datanglah Cakrawala dengan berlari heboh ke arahnya.


"Langit!!" ucap Cakrawala ngos-ngosan.


"Ini beneran lo Rintik?" tanya Cakrawala masih ngos-ngosan.


Haekal menyodorkan minuman kaleng kepada Cakrawala. "Nih minum dulu. Baru ngomong!"


"Thanks." Cakrawala pun langsung menengguk habis minuman itu.


"Ini beneran Lang?" tanya Cakrawala.


Langit mendengus kesal. "Hmm."


"Hah? Beneran nih?!" tanya Cakrawala masih tak percaya.


"Ck. Iya!" jawab Langit.


"Demi apa?" tanya Cakrawala.


"Demi mereka bersatu," jawab asal Haekal.


"Buset dah ngapain gue di tinggal coba?!" kesal Alam yang datang membawa nampan berisi makanan mereka.


"Lo gak penting soalnya! Lebih penting berita ini!" ucap Cakrawala.


"Oh, jadi gitu gue gak penting nih?! Ya udah berarti makanan ini juga gak penting buat lo!" ucap Alam.


"Tadi aja bilang gak penting lo! Emangnya berita apa sih yang penting banget?!" tanya Alam penasaran.


"Lo gak dapet chat dari nomor ini ya?" tanya Cakrawala menunjukkan nomor tadi yang mengirimnya pesan itu.


Alam merogoh saku celananya dan mengecek ponselnya. "Ada yang chat nih tapi bukan nomor itu."


"Masa sih? Coba lihat," pinta Cakrawala.


Cakrawala pun melihat dan benar saja nomornya berbeda namun isi pesan yang di kirim hampir sama.


"Coba lihat punya lo Kal," ucap Cakrawala membuat Haekal memberikan ponselnya.


Kini giliran Haekal yang melihat nomor itu di ponsel Cakrawala dan Alam. "Kok beda ya nomornya?"


"Pasti ada yang mau sebarin hoaks nih!" ucap Alam.


"Hoaks apaan?! Itu real! Orangnya udah ngaku sendiri tadi!" ucap Cakrawala ngegas.


"Yang bener lo?!" tanya Alam tak percaya.


"Bener lah masa gue boong sih!" ucap Cakrawala.


"Tapi ada yang aneh gak sih menurut lo pada?" tanya Haekal membuat para sahabatnya menoleh kepadanya.


"Nomornya beda-beda tapi isi chat nya hampir sama," ucap Haekal.


"Bukan sama lagi ini mah tapi mirip!" ucap Alam setelah melihat kedua chat dari ponsel Cakrawala dan Haekal.


"Dia satu," ucap Lembayung.

__ADS_1


"Maksud lo dia satu orang tapi beda nomor?" tebak Haekal.


"Hmm."


"Tapi siapa ya?" tanya Cakrawala.


"Mana gue tau. Tanya si Langit tuh udah kasih tau siapa aja," ucap Haekal.


"Kita sahabatnya aja baru tau dari orang yang chat ini! Kalau gak di chat mungkin kita gak bakal pernah tau tuh!" ucap Haekal.


"Bener juga lo! Tega bener dah si Langit kagak mau kasih tau kita!" ucap Cakrawala pura-pura sedih.


"Soalnya Langit kagak mau lo habisin semua prasmanan! Yang ada ntar dia rugi kalau udang lo Cak!" ucap Alam tertawa.


"Harusnya tuh malah bersyukur gue dateng! Kan kalau gak habis bisa kali gue bantu habisin," ucap Cakrawala.


"Dih, berarti lo mau makan sisa makanan orang-orang gitu?" tanya Alam.


"Ya kagak gitu juga kali! Maksud gue tuh sisa yang masih bersih belum tersentuh tangan dosa lo itu!" ucap Cakrawala.


"Kek tangan lo kagak punya dosa aja dah!" ucap Alam.


"Emang gak punya!" ucap Cakrawala.


"Yang punya gue! Bukan tangan gue!" ucap Cakrawala.


"Terserah lo lah Cak!" ucap Alam menyerah.


"Terus kapan lo tunangannya?" tanya Cakrawala kepada Langit yang diam memendam amarahnya.


"Gak tau!" jawabnya malas.


"Ye mau tunangan aja gak tau harinya kapan!" sindir Cakrawala.


"Gue dijodohin sama dia! Jadi mana gue tau urusan begituan!" ucap Langit.


"Oh, jadi lo dijodohin sama Rintik. Bagus deh. Soalnya kek gak mungkin gitu loh lo sama Rintik tiba-tiba tunangan!" ucap Cakrawala.


"Kalau bukan karena warisan mana mau gue sama dia!" ucap Langit.


"Jadi karena warisan aja nih?! Bukan karena lo suka sama Rintik?!" tanya Alam.


"Gue gak akan pernah suka sama tuh cewek!" tegas Langit.


"Oh, ya kita lihat aja nanti!" ucap Alam.


"Udah-udah gak usah debat! Mending kita cari tau aja deh siapa pemilik nomor-nomor ini!" ucap Haekal.


"Ide bagus tuh! Penasaran deh gue siapa pemilik nomor ini! Kok dia bisa tau ya?!" ucap Cakrawala.


"Dia tau karena dia ngintai Langit dan Rintik!" ucap Lembayung.


"Lo kenal orangnya?" tanya Langit.


"Kalaupun gue tau gue gak akan kasih tau kalian!" ucap Lembayung.


"Kenapa lo gak mau kasih tau gue hah? Lo mau coba-coba lindungi orang itu!?" tanya Langit memegangi kerah baju Lembayung dengan emosi.


Lembayung menepis tangan Langit dari kerah bajunya. "Kaya gini aja lo udah emosi apalagi tau kebenarannya?!"


"Kebenaran?" beo ketiga sahabatnya.


"Kalian akan tau semuanya kalau dia mau ngaku dengan sendiri!" ucap Lembayung lalu melenggang pergi.


...To be continued....


...Terima kasih sudah membaca....

__ADS_1


...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...


...See you di next chapter....


__ADS_2