
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Rooftops Dan Sebuah Penyesalan?...
Langit memutuskan untuk pergi ke rooftops SMAPAN. Langit menatap lurus ke depan, hembusan angin terasa begitu sejuk.
Sejenak Langit melupakan rencana pertunangannya dengan Rintik yang sebentar lagi akan dilakukan.
"Gue harus gimana Lan? Gak mungkin kan gue tunangan sama cewek yang udah buat lo pergi jauh dari gue?!" ucap Langit memandang sebuah foto gadis yang sangat mirip dengan Luna.
Lanara Mezleya Kavyansah, nama yang tertulis di foto tersebut. Gadis itu merupakan kembaran Luna yang meregang nyawa karena suatu hal.
"Andai waktu itu gue gak pergi dari sana mungkin sampai sekarang lo masih ada disini sama gue Lan," ucapnya setia memandang foto Lana.
"Hampir satu tahun lo pergi dan gue belum tau kebenarannya Lan," ucapnya lalu teringat dengan flashdisk berwarna merah yang diberikan orang itu beberapa hari lalu.
"Flashdisk itu...apa bisa dipercaya kebenarannya? Dia aja berani bohong sama gue, apalagi soal isi flashdisk ini?" Langit bimbang dia harus percaya atau tidak dengan isi flashdisk ini.
"Flashdisk apa?" tanya Lembayung yang tiba-tiba datang.
Buru-buru Langit menyimpan kembali flashdisk itu.
"Bukan apa-apa," jawabnya.
"Bukan apa-apa tapi panik gitu," sindir Lembayung bersandar di pembatas rooftops.
"Beberapa hari yang lalu gue ketemu Luna di cafe dan dia kasih gue flashdisk ini," ucap Langit memperlihatkan flashdisk berwarna merah itu kepada Lembayung, sahabatnya.
"Apa isinya?" tanya Lembayung.
Langit menggeleng. "Gue belum lihat isinya."
"Kalau lo mau tau kebenaran jangan jadiin ini acuan satu-satunya. Lo harus cari tau siapa aja yang ada di tempat itu waktu dia jatuh," ucap Lembayung.
"Rintik?" guman Langit.
"Jangan tuduh dulu. Belum tentu dia aja yang ada disana," ucap Lembayung.
"Kalau bukan dia siapa lagi? Jelas-jelas di rekaman itu dia turun tangga keburu-buru," ucap Langit.
"Rekaman itu cuma menampilkan Rintik turun tergesa-gesa aja. Gak menampilkan Rintik datangnya," ucap Lembayung.
"Bisa aja tuh cewek hapus rekaman waktu dia dateng tapi dia lupa hapus rekaman waktu dia pergi dari sana," ucap Langit.
"Lo gak bisa simpulin gitu!" ucap Lembayung tak setuju dengan jalan pikiran sahabatnya ini.
"Pokoknya apapun yang terjadi waktu itu Rintik penyebabnya!" ucap Langit penuh dendam dan sebuah tekad.
__ADS_1
"Bagus Langit udah semakin benci sama Rintik!" guman sosok berjubah hitam.
...***...
Heboh dan berisik, itulah kondisi kelas XII IPA 3 bagaimana tak berisik hari ini jam terakhir adalah jamkos karena guru yang mengajar sedang pergi keluar kota. Dan lebihnya tak ada tugas dari sang guru yang membuat mereka menciptakan konser dadakan.
"Goyang teros!!" seru Tyo seraya terus bergoyang mengikuti lantunan lagu yang disetel di spiker bluetooth milik kelas XII IPA 3.
"Jangan lupa sawerannya Nenek, Kakek," ucap Ucup, kang lawak di kelas XII IPA 3.
Mereka semua asik bergoyang dengan lantunan lagu yang sedang viral-viral nya saat ini. Kecuali satu gadis yang sedang sibuk menghitung uang kas. Siapa lagi kalau bukan Mentari.
Hari ini kebetulan sekali jadwal membayar uang kas. Beruntung tak ada yang menunggak kali ini jadi Embun tak harus keluar suara hari ini.
"Jangan sawer aja! Tapi bayar kas juga bagi yang belum!" seru Embun.
"Wahai debkolektor gadungan kita semua sudah bayar kas! Karena kita tau mau jadi bahan latihan boxing you!" ucap Ucup mewakili teman-temannya.
"Bagus sekali wahai tukang tunggak kas! Saya bangga menjadi debkolektor gadungan," ucap Embun terus bergoyang mengikuti irama lagu yang semakin asik.
Lagu "Cintamu Sepahit Topi Miring" mengema di seluruh kelas XII IPA 3. Beruntung pintunya ditutup jika tidak kelas-kelas lain pasti sudah pada protes.
Tetapi jangan salah Langit yang kebetulan sedang melewati kelas XII IPA 3 menjadi penasaran sedang apa anak-anak IPA 3 didalam sana? Mengapa sangat berisik?
"Bagus ya yang lain masih jam pelajaran kelas buangan ini malah musikan!" guman Langit lalu menghampiri kelas XII IPA 3.
"Oh, Neng Rintik yang cantik jelita. Mari lah goyang bersama Abang Ucup," ucap Ucup menghampiri Rintik yang diam duduk di kursi.
"Lagi males goyang. Mending sama Embun aja tuh," tolak Rintik.
"Udah sama gue aja lo," ucap Rio, kang lawak.
"Dih, ogah! Yang ada ntar gue dikira belok!" ucap Ucup berlari menghindari Rio.
"Aaa...mak tolong anak mu ini mau di *****-***** sama om Burhan!" teriak Ucup berlari ke pintu keluar.
"Ucup sayang, sini nak. Main yok sama om Burhan," ucap Rio berlari mengejar Ucup.
Teman-teman sekelas mereka tertawa terpingkal-pingkal, bahkan Tyo, sang ketua kelas sudah lemas, tak bertenaga untuk menegur mereka.
Ucup terus berlari keluar kelas sampai-sampai hampir menabrak Langit yang akan memasuki kelas mereka beruntung dengan sigap Ucup mengerem sebelum menabrak si ketos kejam ini.
"Eh, ada lo," ucap Ucup kikuk seketika begitupun dengan Rio yang mengejar Ucup.
Rio mengkode kepada teman-teman untuk segera mematikan spiker dengan melambai-lambai tangannya dengan berpura-pura menggaruk punggungnya.
Dengan tatapan tajam Langit memasuki kelas Rintik dan menghiraukan kedua mahluk didepan pintu.
"Spiker siapa itu?" tanya Langit.
Teman-teman Rintik sontak menunjukkan Rintik yang sedang tidur dengan kompak.
Langit pun berjalan menghampiri Rintik yang tengah tertidur pulas.
"Bangun lo!" ucap Langit.
__ADS_1
Embun yang akan meledak-ledak pun ditahan Mentari agar tak meledak dan menimbulkan masalah baru lagi.
"Mbun jangan buat masalah baru lagi!! Nanti Langit malah makin marah loh!" bisik Mentari.
"Tapi Tar, Langit pasti bakal hukum Rintik lagi tuh!" bisik Embun.
"Iya tau tapi emangnya kamu mau kita semua dihukum kaya dulu lagi?" tanya Mentari.
"Enggak sih," jawab Embun.
"Ya udah diem aja! Kita berdoa aja semoga Rintik gak dihukum lagi sama Langit!" bisik Mentari.
"Amin."
Langit yang melihat Rintik tak kunjung bangun pun mengebrak meja Rintik keras sehingga semua orang jadi kaget.
"Bener-bener gak ada sopan-santun nya nih orang!!" murka Embun namun Mentari berhasil menahan Embun.
"Tarik napas, buang, tarik napas, buang," ucap Mentari membuat Embun mengikuti instruksi itu.
"Astaghfirullah," pekik Rintik kaget.
"Udah tidurnya? Sekarang lo ikut gue ke ruang osis!" ucap Langit lalu menyeret Rintik yang belum sepenuhnya sadar.
"Woy, mau lo apain sahabat gue hah?!" murka Embun ingin mengejar Rintik namun lagi dan lagi Mentari menghalanginya.
"Aduh, Langit kita mau kemana sih?" tanya Rintik.
"Ruang osis."
Kini mereka sudah berada di ruang osis. Langit pun mengajak Rintik masuk kedalam ruang osis. Betapa terkejutnya Rintik melihat kondisi ruang osis yang lebih berantakan dari kamarnya.
"Bersihin semuanya! Jangan sampai ada debu yang terlewat!" ucap Langit.
"Kalau belum bersih jangan mimpi bakal pulang lo!" ucap Langit.
"Loh, emangnya aku salah apa? Kenapa dihukum?" tanya Rintik.
"Pertama salah lo udah bawa spiker ke sekolah. Kedua lo udah buat keributan dengan adanya spiker itu. Ketiga lo tidur di jam pelajaran!" ucap Langit panjang kali lebar.
"Tapi kan jamkos jadi bebas dong mau ngapain aja," ucap Rintik.
"Gak usah banyak protes lo! Buruan kerjain!" ucap Langit lalu pergi meninggalkannya Rintik.
"Cih, sama tunangannya aja gitu! Giliran sama cewek lain aja gak kek gitu!" dengus Rintik lalu mulai membersihkan ruang osis yang seperti habis terkena badai, angin ribut, topan, ****** beliung.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Kira-kira apakah Rintik bisa menyelesaikan hukumannya itu dan pulang kerumahnya atau malah sebaliknya?...
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....
__ADS_1