
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Kita Berbeda!...
Hari ini entah setan apa yang merasuki Langit, pagi-pagi sekali ia sudah berada di rumah Rintik untuk menjemput gadis itu.
"Langit udah sarapan?" tanya Rindu.
"Udah Tan," jawab Langit sopan.
"Kok panggil Tan lagi sih? Kan Tante bilang kalau panggil Mama aja," ucap Rindu.
"Iya Ma," ucap Langit.
"Nah gitu kan jadi enak," ucap Rindu.
"Tunggu sebentar ya? Mama panggil Rintik dulu," ucap Rindu lalu pergi memanggil sang anak gadis yang ia yakini masih tidur nyenyak sekarang.
Rindu membuka pintu kamar Rintik dan benar saja Rintik masih tidur terlelap.
"Rain, bangun sayang," ucap Rindu menghampiri Rintik yang tengah tertidur dengan seluruh badan ia tutupi selimut kesayangannya.
Tak ada jawaban maupun pergerakan dari Rintik yang membuat Rindu khawatir.
"Jangan-jangan Rintik pingsan karena ditutupi selimut semua?" pikir Rindu.
Rindu yang khawatir sekaligus takut terulang lagi kejadian beberapa tahun lalu saat Rintik tengah tertidur namun ternyata pingsan karena engap di dalam selimut.
Rindu membuka selimut Rintik alangkah terkejutnya saat melihat jika itu hanya guling saja.
"Ada apa Ma?" tanya Rintik yang baru keluar dari toilet.
"Astaghfirullah, Rain! Mama kira kamu pingsan lagi tapi ternyata di toilet! Bikin panik aja kamu!" ucap Rindu menghampiri sang anak yang sudah rapi mengenakan seragam sekolahnya.
"Tumben kamu udah rapi jam segini?" tanya Rindu merasa heran dengan sang anak yang pagi-pagi sekali sudah siap berangkat sekolah.
"Hehehe...Rain gak pingsan lagi kok Ma. Ini buktinya Rain udah siap mau ke sekolah," ucap Rintik.
"Pasti hari ini kamu ada pr sejarah kan makanya mau berangkat pagi?" tebak Rindu.
"Hehehe...Mama tau aja deh! Rain jadi malu!" ucap Rintik.
"Tau lah! Mama kan Mama kamu jadi Mama tau mana yang kamu suka dan kamu gak suka!" ucap Rindu.
Rintik memanglah sangat membenci pelajaran sejarah padahal pelajaran sejarah sangat mudah dan menyenangkan. Tapi entah mengapa Rintik tak menyukai pelajaran itu.
"Mama emang the best deh!" ucap Rintik mengacungkan kedua ibu jarinya.
"Mama gitu loh."
"Oh, iya Mama lupa mau kasih tau kamu kalau ada Langit di bawah lagi tungguin kamu tuh. Katanya mau berangkat bareng," ucap Rindu.
"Mama serius nih? Gak bohong kan?" tanya Rintik menyelidik.
"Serius lah! Buat apa Mama bohong juga?" ucap Rindu.
"Ya udah kalau gitu Rintik mau siap-siap dulu habis itu turun kebawah," ucap Rintik lalu mulai bersiap-siap.
__ADS_1
"Oke. Mama tunggu dibawah ya? Jangan lama-lama siap-siap nya," ucap Rindu.
"Oke Ma."
Rintik turun dari tangga dengan tergesa-gesa. Membuat Rindu yang melihat itu menjadi was-was.
"Jangan buru-buru Rain. Nanti jatuh loh!" peringat Rindu.
"Iya Ma," ucap Rintik lalu sedikit memperlambat langkahnya.
"Buru-buru banget. Langit aja gak buru-buru tuh," ucap Samudra dari meja makan.
"Hehehe... soalnya Rain ada pr sejarah jadinya harus buru-buru Pa!" ucap Rintik menghampiri sang Papa.
Rintik mengambil bekal yang sudah disiapkan Mamanya. "Rain berangkat dulu ya Ma, Pa?"
"Gak mau sarapan dulu?" tanya Samudra.
Rintik mengangkat kotak bekalnya. "Kan udah bawa bekal Pa."
"Oh, ya sudah lah terserah kamu saja. Dihabisi bekalnya nanti Mama marah yang ada kalau gak habis," ucap Samudra.
"Siap Pa."
Rintik menghampiri Langit yang tengah meminum teh. "Ayo berangkat."
"Rain, Langit kan masih minum jangan diburu-buru gitu," ucap Rindu.
"Iya Ma maaf."
"Gapapa kok Ma. Langit udah selesai minumnya. Kalau gitu Langit berangkat dulu," ucap Langit.
"Iya, hati-hati dijalan ya? Jangan ngebut-ngebut," peringat Rindu.
Langit pun menyalami tangan Rindu begitupun dengan Rintik.
Didalam mobil, Rintik memakan sebagian sandwich yang dibawakan sang Mama.
"Makan jangan di mobil! Nanti mobil gue jadi kotor! Lo mau cuci mobil gue sampai bersih, hah?" tanya Langit.
Rintik melahap habis sepotong sandwich nya. "Gak mau lah! Kan sekarang udah ada pencucian mobil ngapain harus Rintik yang cuci sendiri?!"
"Kalau lo gak mau cuci jangan makan di mobil gue! Makan aja diluar sana!" ucap Langit.
"Diluar mana? Dijalan gitu?" tanya Rintik.
"Itu lo tau!" ucap Langit.
"Dih, emangnya Rintik gelandang apa?!" kesal Rintik.
"Emang!" ucap Langit.
"Jahat banget sih katain calonnya gitu!" protes Rintik.
"Gue emang jahat! Kalau lo gak suka pergi aja gak usah deket-deket sama gue!" ucap Langit.
"Kalau Rintik gak mau pergi gimana?" tanya Rintik.
"Gue yang akan buat lo pergi sendiri! Kalau pergi pergi selamanya!" ucap Langit.
"Pergi selamanya kemana?" tanya Rintik.
"Ck. Gak usah banyak tanya lo! Gue mau berangkat sama lo karena mau ngomong sesuatu!" ucap Langit.
"Ngomong apa?" tanya Rintik.
__ADS_1
"Nanti kalau mereka pada tanya soal pertunangan kita bilang aja itu berita palsu!" ucap Langit.
"Loh, kenapa? Itu kan emang berita beneran gak palsu," ucap Rintik.
"Turun aja apa susahnya sih?!" kesal Langit.
"Gue gak mau mereka semua tau kalau gue tunangan sama cewek pembuat onar kek lo!" ucap Langit.
"Emangnya Rintik seburuk itu ya? Sampai-sampai Langit gak mau akui pertunangan kita?" tanya Rintik.
"Hmm."
"Harusnya lo sadar diri! Kalau lo sama gue itu berbeda! Lo itu cuma pembuat onar yang jadi bayang-bayang kematian mereka!" ucap Langit.
Seketika hati Rintik sedih rasanya. Padahal ia sama sekali tidak menjadi bayang-bayang kematian mereka.
"Rintik gak terlibat sama sekali dalam kematian mereka!" ucap Rintik.
"Oh, ya? Kalau lo memang gak terlibat buktiin sama gue!" ucap Langit.
Rintik terdiam.
"Kenapa lo diem? Gak bisa kasih gue bukti kan?! Makanya ngaku aja kalau lo yang udah buat mereka me—" ucap Langit terpotong.
"Cukup! Rintik bisa buktiin itu semua!" ucap Rintik.
"Rintik bakal buktiin ke Langit kalau Rintik sama sekali gak terlibat dalam kematian mereka!" ucap Rintik.
"Gue tunggu bukti dari lo!" ucap Langit.
"Awas aja kalau gue lebih dulu dapet bukti kalau lo memang terlibat dalam kematian mereka!" ucap Langit penuh ancaman.
Rintik terdiam. Sekarang ia benar-benar binggung harus berbuat apa supaya Langit percaya kalau bukan ia pelakunya.
Sekarang gak ada saksi yang bisa buktiin kalau aku bukan pelakunya! batin Rintik.
...***...
Mobil Langit berhenti di sebuah halte untuk menurunkan Rintik. Tanpa banyak protes seperti tadi Rintik turun dengan tatapan kosong. Langit pun segera melajukan mobilnya tanpa merasa kasian.
Rintik melanjutkan perjalanan menuju sekolah menggunakan angkot. Didalam angkot Rintik termenung sampai parfum seseorang yang sangat ia kenali masuk ke indra penciumannya.
"Pella?" tanya Rintik tak percaya saat melihat gadis yang duduk didepannya.
"Rintik?" tanya gadis itu juga tak percaya.
Capella Lylina Rengganis, Pella adalah nama panggilan dari Rintik. Gadis cantik yang berwajah jutek nan judes namun jangan salah sangka dia sangatlah baik. Ia juga merupakan seorang penulis novel yang sangat terkenal.
"Kamu kok naik angkot jurusan SMA Pancasila sih? Kan kamu bukan murid SMA Pancasila," ucap Rintik.
"Nanti gue ceritain, sekarang kita turun dulu. Udah sampai," ucap Capella lalu mendahului turun dari angkot.
Rintik pun juga turun dari angkot dengan rasa penasaran yang teramat dalam.
"Sama temen saya Pak."
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...[Capella Lylina Rengganis]...
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
__ADS_1
...See you di next chapter....