
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Mencari Bukti 2...
"Siap Pak!" ucap mereka kompak.
"Kompak terus sampai lulus nanti ya?" pinta Pak Roberto.
"Siap Pak!" ucap mereka kompak lagi.
Pengumuman! Pengumuman! Ananda Rainy Rintik Aldhitana, kelas XII IPA 3 di mohon untuk segera menuju ruang kepala sekolah! Sekian terima kasih.
Pengumuman barusan membuat mereka saling pandang.
"Sudah temui saja. Pak kepsek gak akan marah sama kamu kalau kamu jujur Rin," ucap Pak Roberto.
"Oke Pak, kalau begitu saya pergi dulu," ucap Rintik.
Rintik dan sahabatnya pun menuju ruang guru. Sesampainya di sana Rintik langsung masuk meninggalkan sahabat-sahabatnya.
"Kenapa ditutup ya? Kan gue penasaran!" ucap Embun.
"Biar gak ada yang dengar Mbun!" ucap Mentari.
Didalam sana sudah ada Pak Roberto dan Pak Chandra, Kakek Langit sekaligus pemilik SMA Pancasila.
"Silahkan duduk Rintik," ucap Pak Chandra.
"Terima kasih Pak," ucap Rintik sopan lalu duduk.
"Jangan panggil Pak, panggil Opa aja. Sebentar lagi kamu kan akan bertunangan dengan cucu saya," ucap Pak Chandra.
Rintik terkejut lantaran Pak Chandra tak khawatir jika Pak Roberto tau akan pertunangannya dengan Langit.
"Gak usah kaget gitu Rin. Saya sudah tau kalau kamu sama Langit akan bertunangan dalam waktu dekat," ucap Pak Roberto membuat Rintik semakin terkejut.
"Seperti kamu sudah tau mengapa saya panggil kemari kan?" tanya Pak Chandra.
"Karena Luna?" tebak Rintik.
"Ya betul. Jadi bisa kamu jelaskan apa yang sebenarnya terjadi?" tanya Pak Chandra.
"Jadi, sebenernya cupcake itu buat Langit, tapi gak tau kenapa di makan Luna dan Luna jadi mual-mual sampai pingsan. Padahal Mama Rintik makan itu baik-baik aja," ucap Rintik.
"Oke. Nanti Opa akan bantu kamu selidiki kasus ini," ucap Pak Chandra.
"Makasih Opa bantuannya. Maaf udah ngerepotin Opa sama Pak Roberto," ucap Rintik tak enak.
"Sama-sama Rintik, lagi pula kamu ini cucu mantu saya, mana mungkin saya biarkan kamu terkena masalah seperti ini," ucap Pak Chandra.
Rintik tersenyum, dirinya terharu karena baru kali ini di perlakukan istimewa oleh pemilik sekolah dan guru bk.
"Oh, ya Opa? Rintik boleh panggil Opa, Opa Chan gak?" tanya Rintik.
"Boleh dong," jawab Opa Chan.
"Makasih Opa Chan...Rintik udah boleh pergi gak? Soalnya udah mau masuk," ucap Rintik.
"Boleh, tapi lain kali kamu harus temenin Opa makan siang," ucap Opa Chan.
"Siap Opa Chan," ucap Rintik.
__ADS_1
"Kalau gitu Rintik pergi dulu, assalamualaikum," ucap Rintik lalu melenggang pergi.
"Waalaikumsalam."
"Gadis yang lucu. Bukan begitu Roberto?" tanya Opa Chan.
"Iya Pak."
Diluar sahabat-sahabat Rintik mondar-mandir cemas dan was-was. Sudah hampir masuk namun Rintik tak kunjung keluar.
"Loh, kalian masih disini?" tanya Rintik yang baru keluar.
"Iya lah! Kita tuh cemas, was-was, panik, khawatir sama lo Rin!" ucap Embun.
"Iya Rin, mana mungkin sih kita tinggalin kamu disini sendiri!" ucap Mentari.
"Ya aku pikir kalian udah ke kelas. Soalnya sepi sih," ucap Rintik.
"Belum Rin."
"Ya udah yuk kita ke kelas aja," ucap Rintik.
"Oh, ya lo ngapain di panggil kepsek?" tanya Embun seraya berjalan ke kelas mereka.
"Opa Chan cuma minta penjelasan dan bakal bantuin aku selesai kasus ini," ucap Rintik.
"Oh, baik banget kakeknya Langit gak kaya Langit nya!" ucap Embun.
"Langit juga baik kok Mbun. Kamu aja yang gak tau!" ucap Rintik.
"Opa Chan itu Pak Chandra ya Rin?" tanya Mentari.
"Iya, tadi waktu aku panggil Pak mintanya panggil Opa Chan aja kan mau jadi cucu mantunya," ucap Rintik.
"Cie panggilan istimewa dari Pak kepsek," ucap Mentari.
"Hehehe, iya Tar."
Hal itu membuat semua teman-teman serta guru yang mengajar syok lantaran melihat perubahan dari Embun dan Rintik yang sangat drastis.
Bel pulang sekolah sudah berbunyi, kini seperti yang dibicarakan tadi. Mereka akan pergi ke rumah sakit untuk mengambil hasil lab dan mencari bukti lainnya.
...***...
Saat ini mereka sudah sampai di rumah sakit tempat Luna dirawat. Sebelum mencari bukti lainnya mereka memastikan keadaan sekitar aman dan sepi.
"Harus gitu ya Mbun?" tanya Rintik saat melihat Embun berjalan mengindik-indik supaya tak ketahuan.
"Harus Rin! Supaya gak ketahuan!" jawab Embun.
"Ya tapi kan gak usah gitu juga Mbun! Ini tuh udah sepi loh!" ucap Rintik.
"Tau tuh si Embun, kaya orang mau maling aja deh!" protes Mentari.
"Sutt! Lihat deh si Luna ngapain keluar sendirian?" tanya Embun saat melihat Luna keluar mengunakan kursi roda.
"Harus di rekam nih!" ucap Mentari lalu mengeluarkan ponselnya.
Mereka mengikuti Luna sampai di depan lab rumah sakit, disana terlihat Luna sedang berbicara dengan seorang petugas, Luna juga memberikan sejumlah uang untuk petugas itu.
"Makasih atas bantuannya ya Pak. Tanpa Bapak pacar saya gak akan mau temenin saya," ucap Luna dengan petugas itu lalu tak lama Luna pun kembali ke ruangannya.
"Wah, parah nih! Ternyata palsuin hasil lab!" ucap Embun.
"Kalau dia bisa mau cantik, kita juga harus bisa!" ucap Rintik.
"Maksud kamu apa Rin?" tanya Mentari.
"Kita buat Luna ngakuin kalau dia udah palsuin hasil lab demi ditemenin Langit!" ucap Rintik.
__ADS_1
"Gimana caranya?" tanya Mentari.
"Gue tau caranya! Dijamin langsung ngaku dia!" ucap Embun lalu tertawa jahat.
"Ih, Mbun kamu kerasukan setan rumah sakit ya? Ketawanya jahat gitu!" ucap Rintik.
"Kita bawa ke Mbah dukun aja yuk, biar di obati si Embun," ucap Mentari.
"Ayo," ucap Rintik menyetujui saran Mentari lalu membawa Embun pergi dari sana.
Seseorang dengan seragam sama dengan Rintik keluar dari tempat persembunyiannya.
Dia juga berhasil mendapatkan rekaman pengakuan Luna tadi. Lantas dia mengirim hasil rekaman itu kepada akun lambhedhowersmapan.
"Rasain lo Lun! Salah siapa jadi cewek jahat banget!"
...***...
Kini Rintik dan sahabat-sahabatnya sudah sampai didepan rumah Rintik mereka berencana menginap di rumah Rintik dalam rangka belajar bersama untuk ulangan matematika besok.
"Assalamualaikum," teriak Rintik.
"Waalaikumsalam. Kebiasaan deh kalau salam teriak-teriak gitu!" omel Rindu.
"Hehehe."
"Hallo Tante? Apa kabar?" sapa Mentari menyalami tangan Rindu.
"Alhamdulillah baik Tar, ayo masuk," ucap Rindu.
"Loh, si Embun mana nih?" tanya Rindu celingukan mencari Embun.
"Disini Tan," jawab Embun yang ternyata sudah berada di dalam rumah Rintik.
"Kapan masuknya kamu? Kok Tante gak lihat?" tanya Rindu.
"Hehehe, tadi waktu Tante lagi ngomel-in Rintik. Habisnya udah kebelet Tante jadi langsung masuk deh," ucap Embun cengengesan lalu menyalami tangan Rindu.
"Kamu ini ada-ada aja Mbun!" ucap Rindu geleng-geleng kepala.
"Hehehe, Tante masak apa?" tanya Embun.
"Masak sup ayam sama goreng ikan tuh. Pasti mau minta makan kan kau?" tebak Rindu.
"Tau aja si Tante," ucap Embun jadi malu.
"Ya sudah ayo makan sama-sama," ajak Rindu.
Mereka pun makan siang bersama, setelah makan siang Rintik dan sahabat-sahabatnya memutuskan untuk rebahan sebenarnya di kamar Rintik sebelum mulai belajar.
"Eh, Rin gue pinjem novel yang ini ya?" tanya Embun mengangkat novel yang berjudul Tangisan Terakhir.
"Oke. Tapi jangan nangis pas bacanya," peringat Rintik.
"Gak lah gue mah anti nangis-nangis club!" ucap Embun.
"Emangnya tentang apa tuh ceritanya?" tanya Mentari.
"Tentang dua orang anak manusia yang dijodohkan tapi takdir gak mempersatukan mereka," jawab Rintik.
"Oh, pasti endingnya ada yang meninggal tuh," ucap Mentari.
"Iya."
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Siapa orang yang mengirim rekaman itu ya? Kenapa dia sebegitu bencinya sama Luna ya?...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....