
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Makan Malam Keluarga...
Hari ini sungguh hari yang sangat berat bagi Rintik. Namun Rintik masih tetap tersenyum dan tidak menyerah.
"Huh, kenapa Langit terus belain Luna sih?! Padahal aku kan calon tunangannya!" ucap Rintik menatap langit-langit kamarnya yang dihiasi benda-benda langit.
"Tapi gapapa. Nanti lama-kelamaan Langit juga bakal belain aku juga!" pikir Rintik senyum-senyum sendiri membayangkan jika Langit akan membela dia mati-matian suatu saat nanti.
Tak terasa mata Rintik perlahan-lahan mulai menutup dan dalam sekejap Rintik sudah berada di alam mimpinya.
Disaat Rintik tertidur, Rindu sang Mama memasuki kamar Rintik dan menaruh paper bag yang berisi pakaian untuk dipakai nanti malam.
"Anak ini! Kebiasaan! Kalau tidur kepalanya yang dipakaiin bantal bukan kepalanya!" ucap Rindu menaruh bantal di posisi yang benar.
"Kalau Mama kuat udah Mama pindah kamu Rain! Tapi sayangnya Mama gak kuat!" ucap Rindu menyelimuti tubuh Rintik lalu melenggang pergi.
...***...
Malam ini Rintik sekeluarga akan makan malam di restoran milik keluarga Langit karena akan membicarakan acara pertunangan mereka yang sebentar lagi akan dilakukan.
Rintik kini sedang bersiap-siap. Dirinya memoles bibirnya dengan lip tint agar tak terlihat pucat tak lupa dirinya memakai parfum agar wangi
"Nah, gini kan cantik, wangi juga!" puji Rindu memasuki kamar Rintik.
"Eh, Mama, bisa aja deh pujinya! Tapi Rain emang cantik dan wangi!" ucap Rintik.
"Wanginya kalau mau ketemu sama tunangan dan camernya aja! Dirumah mah bau kecut kamu!" ucap Rindu jujur.
"Hehehe...masa mau ketemu sama camer dan tunangan bau sih Ma? Kan gak sopan!" ucap Rintik.
"Terus kalau ketemu sama Mama dan Papa bau kecut gitu emangnya sopan?" tanya Rindu.
"Ya, enggak sih. Tapi kan udah biasa Ma," ucap Rintik cengengesan.
"Udah biasa apanya? Mama gak terbiasa ya!" ucap Rindu.
"Nanti juga terbiasa Ma!" ucap Rintik lalu tertawa.
"Pada ngomongin apa sih? Papa tungguin daritadi dibawah malah gak keluar-keluar," ucap Samudra memasuki kamar Rintik.
"Hehehe...Mama nih Pa ngajakin ngobrol dulu!" ucap Rintik.
"Kamu tuh yang ajakin Mama ngobrol mulu!" ucap Rindu.
"Udah, udah gak usah berantem! Udah telat nih kita!" ucap Samudra.
"Ah, iya. Ya udah ayo kita berangkat sekarang Pa!" ucap Rindu.
Merekapun berangkat ke restoran milik keluarga Langit. Diluar restoran sudah ada pelayanan yang menyambut dan mengantarkan mereka menuju privet room.
Mereka memasuki ruang privet room sudah disambut hangat oleh kedua orang tua Langit.
"Selamat datang, Mas, Mbak, mari duduk," ucap Angkasa bersalaman dengan kedua orang tua Rintik.
"Terima kasih ya sudah mengundang kami kemari," ucap Samudra.
__ADS_1
"Sama-sama. Lagian kita kan mau membicarakan pertunangan kedua anak kita," ucap Angkasa.
"Oh, iya ya? Sebentar lagi anak kita akan tunangan," ucap Samudra.
"Gak sabar Rintik tunangan sama Langit deh!" ucap Raya dengan mata berbinar.
"Iya sama Mbak! Udah gak sabar lagi mau gendong cucu sih!" ucap Rindu.
"Kalau itu mah gak sabar banget aku! Tapi kita kan baru akan mengadakan pertunangan dulu. Baru nanti kalau mereka udah lulus kita nikahin!" ucap Raya.
"Gapapa pertunangan dulu! Baru nanti kita nikahin!" ucap Rindu.
"Loh, Langit kok gak ada?" tanya Rindu yang baru menyadari tak ada Langit disini.
"Langit lagi ada urusan sebentar. Kamu tenang aja Langit pasti kesini kok. Kan ada Rintik juga disini," ucap Raya.
"Loh, Rintik kok diem aja? Kan Mama udah bilang kalau Langit bakal kesini juga jadi jangan murung gitu dong," ucap Raya.
"Emm...Rintik gak murung kok Ma. Cuma Rintik kebelet pipis tapi gak tau toiletnya dimana," ucap Rintik membuat mereka tertawa.
"Ya ampun sayang, kalau kebelet bilang dong! Nanti kalau ngompol kan gak lucu!" ucap Raya.
"Tau nih, si Rain ada-ada aja tingkahnya!" ucap Rindu tertawa.
"Hehehe...terus toiletnya ada dimana Ma?" tanya Rintik.
"Ima?" memanggil salah satu waiters yang bernama Naima.
"Tolong anterin calon mantu saya ke toilet ya?" pintanya.
"Baik Buk."
"Mari Non, saya antar."
"Makasih Mbak," ucap Rintik lalu mengikut waiters itu ke toilet.
"Sebentar lagi aku sama Langit bakal tunangan, kalau dia tiba-tiba dateng gimana ya?" gumannya.
"Ah, itu pikirin nanti aja deh! Sekarang kita bahas dulu tema pertunangannya," ucap Rintik tersenyum senang lalu keluar dari toilet.
Terlihat sudah ada Langit yang duduk mengunakan setelan jas serba warna hitam. Sangat tampan pikir Rintik.
"Ayo Rin, sini duduk," ucap Raya.
Raya menyenggol lengan Langit. "Yang romantis dikit dong sama tunangannya! Tarikin kursinya tuh," bisiknya.
"Hmm." Mau tak mau Langit berbuat seperti yang diperintahkan sang Mama karena dia tak ingin sang Mama sedih.
"Makasih," ucap Rintik menahan rasa salting nya.
"Manja!" guman Langit.
"Kan kamu sendiri yang inisiatif bukan aku yang suruh!" ucap Rintik.
Iya bukan lo tapi Mama gue! batin Langit.
"Karena makanannya sudah datang kita bahas acara pertunangan Langit sama Rintik nanti saja setelah makan bagaimana?" tanya Angkasa.
"Iya gapapa Sa, kita makan aja dulu," ucap Samudra menyetujui saran Angkasa.
Mereka pun makan malam terlebih dahulu lalu mereka membahas acara pertunangan Rintik dan Langit.
Langit, Papanya dan Papa Rintik membahas gedung dan bisnis sedangkan Rintik, Mamanya dan Mama Langit membahas dekor serta baju yang akan dipakai.
"Nah, ini ada beberapa model gaun dari temen Mama Rin, kalau ini gak ada yang cocok besok kita langsung ke butiknya aja biar bisa lihat contoh lainnya," ucap Raya.
__ADS_1
"Wah, ini mah bagus-bagus Ma. Rintik jadi binggung mau pilih yang mana," ucap Rintik membolak-balik halaman katalog model gaunnya.
"Yang ini bagus Rin," ucap Rindu menunjuk gaun berwarna gold dengan payet bunga, sederhana namun elegan.
"Bagus sih Ma, tapi Rintik gak suka sama motifnya. Gak ada bling-bling nya Ma," ucap Rintik.
"Iya sih. Ya udah yang ini aja gimana?" tanya Rindu menunjuk gaun berwarna sama dan payet yang berbeda tetapi ada bling-bling yang dimaksud Rintik.
"Bagus sih, ada bling-bling nya juga. Elegan dan klasik, tapi coba lihat yang lain aja dulu Ma," ucap Rintik.
"Yang ini gimana Rin?" tanya Raya menunjuk gaun berwarna putih yang sangat sederhana.
"Bagus modelnya Ma. Tapi terlalu sederhana dan kayanya ribet pakainya," ucap Rintik.
"Nah, ini kayanya bagus Rin," ucap Raya menunjuk gaun berwarna biru dengan payet bola kristal di seluruh gaun.
"Bagus Ma, tapi lengannya sobek tuh," ucap Rintik membuat Raya dan Rindu tertawa.
"Itu bukan sobek Rin. Tapi emang modelnya gitu," ucap Raya tertawa.
"Kamu ini ada-ada aja! Gak mungkin lah gaun sobek di jual!" ucap Rindu tertawa.
"Hehehe... Rintik kan gak tau kalau modelnya gitu," ucap Rintik tersenyum malu.
"Jadi gimana? Udah ada yang cocok belum nih?" tanya Raya.
"Belum Ma," ucap Rintik sedih.
"Ya udah kalau belum ada yang cocok besok langsung aja ke butiknya sama Langit nanti Mama kasih alamatnya," ucap Raya.
"Makasih Ma," ucap Rintik.
"Iya sama-sama."
"Untuk dekor nya kamu sama Langit aja ya yang tentuin, takutnya kalau kita yang tentuin kalian gak suka," ucap Raya.
"Iya, Ma nanti Rintik sama Langit yang tentuin sendiri," ucap Rintik.
Disisi lainnya, Langit merasa jengah dengan pembicaraan Papanya. Hanya bisnis dan bisnis lagi yang dibahas Papanya. Langit memutuskan untuk pergi dari sana.
"Langit ke depan dulu Pa," pamit Langit lalu pergi.
Raya yang melihat Langit akan pergi meninggalkan ruang ini pun memanggilnya.
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...(Motif bunga yang dipilih Rindu pertama)...
...(Pilihan ke dua dari Rindu)...
...(Pilihan pertama Raya)...
...(Pilihan ke dua dari Raya)...
...Jadi menurut kalian mana yang bagus di antara keempat gaun itu?...
__ADS_1
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....