
...Hallo guys?...
...Happy reading. Semoga suka....
...*...
...*...
...*...
...Rintik Dan Garis Takdir - Difitnah?!...
Kini Langit dan Rintik telah sampai di rumah sakit Husada di sana sudah ada sahabat-sahabat Langit yang menunggu Luna.
Bertepatan dengan itu Alam, Embun, Mentari dan Pak Roberto pun datang dan bergegas masuk ke dalam rumah sakit.
"Sakit Langit!" ringis Rintik benar-benar kesakitan.
"Ini gak seberapa atas apa yang lo lakuin ke Luna!" ucap Langit.
Segitu khawatirnya kamu sama Luna sampai-sampai kamu tega berbuat seperti ini sama aku! batin Rintik ingin sekali menangis tapi ia tahan sebisa mungkin.
Langit membuka pintu ruang rawat Luna dengan keras dan langsung menarik Rintik masuk.
"Langit, Rintik?" ucap mereka kaget terkecuali Lembayung.
"Loh? Ada Pak Roberto juga," ucap Haekal membuat mereka semua menoleh ke ambang pintu.
Pak Roberto memasuki ruang rawat Luna disusul dengan Alam dan kedua sahabatnya Rintik.
"Rin, lo gapapa kan?" bisik Embun.
"Aku gapapa kok Mbun," jawab Rintik.
"Luna, Bapak dengar kamu keracunan. Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanya Pak Roberto.
Pak Roberto sudah mendengar kabar Luna keracunan dari Alam saat di mobil tadi. Dan juga Alam sudah menjelaskan jika hasil tes lab itu ada yang janggal.
"Sudah sedikit membaik Pak," jawab Luna.
"Kalau boleh Bapak tau terakhir kali kamu makan apa sebelum makan cupcake buatannya Rintik?" tanya Pak Roberto.
"Saya belum makan apa-apa Pak sebelum makan cupcake itu," jawab Luna.
"Udah pasti cupcake itu penyebab. Tes lab juga udah mengatakan begitu Pak," ucap Langit.
"Hmm...bisa saja ada yang salah dengan tes lab nya," ucap Pak Roberto.
"Darimana Bapak tau?" tanya Haekal.
"Buktinya Mamanya Rintik baik-baik saja setelah makan itu. Benarkah Rintik?" tanya Pak Roberto.
"Benar Pak," jawab Rintik.
"Bisa aja tes lab nya di palsuin. Zaman sekarang kan mudah buat lakuin itu. Tinggal bayar orang udah deh jadi tes lab nya," ucap Embun.
Bener juga yang di bilang dia, tapi apa mungkin Luna tega lakuin hal sekeji itu? batin Langit.
"Mana mungkin aku lakuin hal itu. Kamu jangan fitnah dong Mbun," ucap Luna sedih.
"Ck. Drama aja terus!" guman Embun.
"Aku gak drama kok Mbun," ucap Luna memelas.
Embun memutar bola matanya jengah, dirinya ingin pergi dari ruangan terkutuk ini namun dirinya tak bisa meninggalkan sahabatnya sendirian disini.
"Mbun, jangan gitu lah, gak enak sama semuanya. Niat kita kesini kan mau jenguk bukan mau ribut!" bisik Mentari.
__ADS_1
"Iya-iya!" jawab Embun malas.
"Buruan minta maaf lo!" perintah Langit.
"Rintik...minta maaf ya Mbun," ucap Rintik sendu.
"Iya, gapapa kok Rin. Lain kali kalau mau kasih cupcake lagi dicek dulu bahannya. Untung aja Langit gapapa," ucap Luna.
"Makasih udah maafin aku Lun," ucap Rintik.
Luna tersenyum ke arahnya penuh arti.
Rasain kamu Rin. Salah siapa cari masalah sama aku. Semoga aja dengan ini pertunangan mereka dibatalkan! batin Luna.
"Masih untung Luna mau maafin lo!" ucap Langit.
"Lo!!" Embun emosi lantaran Langit berucap seperti itu.
"Mbun, jangan emosi. Ini dirumah sakit loh," bisik Mentari.
"Iya."
"Nah begini kan enak dilihat. Sudah saling memaafkan. Kalau begitu kita bisa balik ke sekolah lagi. Tapi untuk Luna istirahat saja dulu," ucap Pak Roberto.
"Loh, Pak kok balik ke sekolah sih. Gak libur aja nih," protes Cakrawala.
"Libur terus. Kemarin aja udah libur dua minggu. Masih kurang apa?" tanya Pak Roberto.
"Iya Pak masih kurang!" jawab Cakrawala dan Haekal.
"Kalian ini! Libur terus yang dipikirin!" marah Pak Roberto.
"Kalau gak libur capek lah Pak sekolah terus," ucap Alam.
"Kalau capek gak usah sekolah aja sana!" ucap Pak Roberto.
"Boleh. Boleh sekali. Nanti Bapak bantu urus surat-surat buat kamu keluar sekolah," ucap Pak Roberto membuat Cakrawala menghela napas kecewa.
"Saya kan maunya cuma libur lagi Pak! Bukan keluar dari sekolah!" ucap Cakrawala.
"Sudah-sudah gak usah banyak alasan kamu! Ayo kita ke sekolahan sekarang!" ucap Pak Roberto.
"Yah, Pak! Nanti kalau di marahin sama Bu Zura gimana?" tanya Cakrawala.
"Kalian sudah Bapak izin kan tidak mengikuti jam pelajaran Bu Zura satu jam saja. Jadi sekarang ayo kita balik ke sekolah!" ucap Pak Roberto membuat Cakrawala mendengus kecewa.
"Luna, kalau begitu Bapak pamit dulu. Semoga lekas sembuh," ucap Pak Roberto.
"Iya Pak makasih udah jenguk Luna," ucap Luna.
"Langit, hari ini kamu boleh gak masuk sekolah. Tolong jaga Luna disini," ucap Pak Roberto.
"Baik Pak."
"Lah, Pak gak adil dong! Saya kan mau jagain Luna juga!" protes Cakrawala.
"Kamu jatahnya nanti habis pulang sekolah!" ucap Pak Roberto.
"Yah, Pak! Kok gitu sih!" protes Cakrawala lagi.
"Gak usah banyak protes kamu!" ucap Pak Roberto.
Kini mereka pun kembali ke SMA Pancasila dengan mobil Alam dan yang lainnya menaikkan motor masing-masing.
Setibanya di SMA Pancasila, mereka langsung menuju kelas masing-masing untuk mengikuti pelajaran berikutnya.
Pak Roberto juga kembali ke pekerjaannya. Sebelum itu Pak Roberto meminta bantuan kepada temannya yang bertugas di lab rumah sakit ternama untuk mengecek cupcake Rintik.
__ADS_1
"Jadi sedih gitu dong Rin," ucap Embun.
"Aku gak sedih kok Mbun. Cuma kecewa aja," ucap Rintik.
"Kecewa kenapa?" tanya Mentari.
"Sia-sia aku buat cupcake semaleman. Ujung-ujungnya yang makan Luna bahkan sampai kejadian kaya gini!" ucap Rintik.
"Gue yakin kok cupcake lo aman! Kita tunggu aja hasil lab nya!" ucap Embun.
"Iya, Rin. Jangan sedih lagi. Nanti kita jadi ikut sedih loh," ucap Mentari.
"Iya aku gak sedih lagi kok," ucap Rintik lalu tersenyum.
"Nah gitu kan jadi enak!" ucap Mentari.
"Pagi anak-anak," sapa Bu Iza, guru bahasa Indonesia.
Pelajaran di kelas XII IPA 3 dimulai dengan pelajaran Bahasa Indonesia.
KRING! KRING! KRING!
Bel istirahat pun berbunyi siswa-siswi berbondong-bondong pergi ke kantin namun berbeda dengan Rintik dkk.
"Rin, Mbun, coba lihat tweet lambhedhowersmapan deh!" suruh Mentari.
Terdapat suatu berita tentang kejadian tadi, berita itu ramai di komentar para siswa-siswi. Ada juga yang berkomentar jahat dan ada yang berkomentar tak percaya dengan berita itu.
"Apa-apaan nih! Gak bener ini!" ucap Embun emosi setelah membaca berita itu.
"Komennya lagi pada jahat-jahat bener dah! Awas aja yang pada komen gini! Gue bantai satu per satu!" ucap Embun menggebu-gebu.
Kenapa jadi kaya gini sih?! batin Rintik.
"Eh, Rin mau kemana lo?!" tanya Embun saat melihat Rintik keluar dari kelas.
"Ayo kita ikuti Mbun! Takut terjadi apa-apa sama Rintik!" ucap Mentari.
Rintik berlari menuju rooftops, dia ingin memenangkan diri disana namun sepertinya keputusannya salah.
Sepanjang koridor banyak sekali siswa-siswi yang membicarakannya salah satunya dua cewek bermake-up tebal dan sangat menor.
Dasar cewek gila! Di cuekin Langit langsung deh bertindak kotor!
Dasar gak tau malu! Udah buat Luna mual-mual sampai pingsan masih aja berani keluar!
Embun yang mendengar bisik-bisik itu pun menjadi emosi dan mendatangi dua gadis yang sedang membicarakan Rintik.
"Heh, mulut lo berdua mau gue robek, hah?! Rintik gak kaya gitu!" ucap Embun.
"Mentang-mentang sahabatnya jadi udah salah masih aja dibela!" ucap Gadis bermake-up tebal.
"Udah, Mbun! Jangan berantem! Kita kejar Rintik aja!" ucap Mentari.
"Awas aja lo berdua! Hasil lab nya keluar malu lo berdua!" ucap Embun lalu pergi menyusul Rintik.
"Dih, bodo amat!"
...To be continued....
...Terima kasih sudah membaca....
...Kira-kira Rintik pergi kemana ya? Apa yang akan terjadi selanjutnya?...
...Jangan lupa untuk like, komen, share, favorit and vote ya?!...
...See you di next chapter....
__ADS_1