Romansa Nakal

Romansa Nakal
Kue Di Bulan Juni


__ADS_3

Sore menjelang malam. Rumah sakit menjadi sepi, hanya beberapa petugas medis yang berjaga-jaga begitu pun Saga. Pria itu terbangun sebab perutnya tak nyaman.


Perut Saga mendadak mengeluarkan bunyi yang aneh. Cepat-cepat ia menoleh ke arah Lizzy. Sang istri tampak pulas dalam tidur membuat Saga lega.


Jika wanita itu mendengar maka mau taruh di mana muka Saga. Ngomong-ngomong, suara perutnya makin besar. Tidak ada pilihan selain melakukan segala hal sendiri.


Saga masih sakit hati dan gengsi kepada Lizzy. Ia mau menghukum istrinya lebih lama. Menggunakan satu tangan, Saga mengangkat meja kecil untuk ditaruh ke atas ranjang.


Tak lupa dia menyalakan lampu agar penglihatan jelas. Kesusahan sudah pasti, apa lagi saat membuka tupperware. Terpaksa Saga menggunakan tangannya yang berbalut gips untuk menahan supaya makanan tak tumpah.


Kendati dingin Saga melahap makanan dan seperti sebelumnya makanan buatan Lizzy memang sangat enak. Istrinya memang pandai memasak.


Saat menikmati makanan, pria itu mendadak mengingat persoalan siang tadi. Ia pun mrmbayangkan Lizzy bersama Gail sedang sarapan. Mereka tampak menyunggingkan senyuman dan menyuapi satu sama lain.


Senyuman di wajah Saga menghilang berganti dengan alis terlipat disertai raut wajah tak enak dipandang. "Sialan! Bisa-bisanya dia mengambil kesempatan untuk bermesraan dengan pacarnya padahal suami sedang sakit," gerutunya sendiri.


Tanpa sadar Lizzy yang membelakangi mendengar semua itu bahkan ketika Saga mengomel. Ingin sekali dia melabrak dan mengeluarkan kata-kata kasar namun niatnya ditahan.


Dibalik murka, ada juga perasaan senang. Sebab itulah Lizzy memaafkan Saga. Sebenarnya saat pria itu sibuk menyiapkan meja, dia sudah terbangun serta mau menolong suaminya.


Hanya saja Lizzy sadar betul kalau Saga tidak berniat membangunkan dirinya sudah jelas dia tidak membutuhkan bantuan.


Dalam diam Lizzy menghembuskan napas panjang. Dia tetap terjaga, menemani tanpa diketahui.


❤❤❤❤


Esok hari suara dering membangunkan Lizzy dari tidur. Ia mengucek matanya sebentar, melihat layar ponsel sesaat dan bergegas turun dari ranjang.


Tak sengaja Lizzy memandang Saga. Selimutnya tak menutupi seluruh tubuh. Langsung saja wanita berusia 23 tahun itu mendekat lalu memperbaikinya.


Baru beberapa langkah Saga menggeliat. Selimut tak karuan untuk kesekian kalinyq. Lagi Lizzy berusaha menyelimuti pria itu namun hasilnya sama saja, kali ini benda itu jatuh ke bawah.


Ia mendengus dan pergi begitu saja tanpa berniat membantu.


❤❤❤❤


"Loh Lizzy kau pulang lebih awal," kata Yuna ketika melihat menantunya terlalu pagi untuk memasak.


"Iya Bun, apa aku mengganggu?"


"Tentu tidak, ini rumahmu kau pasti sedang menyiapkan sarapan untuk Saga. Bagaimana kemarin makanannya dia suka tidak?" Lizzy tersenyum seraya mengangguk.

__ADS_1


"Oh itu bagus. Bunda senang hubungan kalian makin baik." Yuna kemudian menjatuhkan pandangan ke meja lebih tepatnya sebuah kue yang lengkap dengan kotak pembungkus.


"Kau membeli sebuah kue?" tanya wanita paruh baya itu.


"Iya Bunda,"


"Apa ini hari spesial? Ulang tahunmu?"


"Ini hari spesialku tapi bukan ulang tahun. Dulu aku sering merayakannya dengan Ayah dan Ibu tapi karena aku sudah jadi bagian keluarga Bunda bisa tidak aku merayakannya dengan kalian?" Lizzy bertanya.


"Tentu sayang, kami ini juga keluargamu," balas Yuna. "Hari ini memangnya kau merayakan apa?"


Lizzy tersenyum, "Aku sedang merayakan ulang tahun keduaku Bunda, ulang tahun di mana aku akhirnya bisa bangkit dari sebuah trauma."


Yuna termangu sebentar sebelum akhirnya menyunggingkan senyum manis"Happy birthday to you my sweet Lizzy!" ucapnya dengan ceria. Dia juga memeluk sang menantu, turut bahagia bersama Lizzy.


Dari lantai dua, Mahendra turun menghampiri mereka. Alisnya mengkerut menemukan dua wanita yang berbeda usia tengah makan kue usai memasak. "Ada apa ini? Kenapa ada kue?"


"Sayang Lizzy sedang merayakan ulang tahunnya, dia bahkan beli kue." Mahendra melihat kue dengan warna putih, abu-abu, hijau muda dan hijau tua serta hitam.


"Lizzy, kamu tak bilang sama Ayah? Kita bisa bikin acara yang megah buat kamu," ujar Mahendra tiba-tiba.


Baru ketika melihat jam di layar ponsel, Lizzy bergegas ke rumah sakit. Ia jelas masih ingat dengan kejadian kemarin dan mulai berpikir apakah nantinya akan bertemu dengan Crystal lagi?


Sampai di rumah sakit hingga masuk belum ada tanda-tanda kehadiran simpanan Saga dan bahkan saat Lizzy berada di depan kamar inap. Pintunya tertutup membuat wanita itu membayangkan sesuatu yang buruk.


Menarik dan menghembuskan napas, Lizzy menenangkan diri. Tangan terulur meraih gagang pintu kemudian menekannya agar terbuka. Sungguh hal tak terduga. Saga sendirian duduk termangu di atas ranjang.


Artinya Crystal tidak ada di rumah sakit. Begitu mendengar suara deritan pintu, Saga otomatis melihat pada Lizzy. Baik keduanya sama-sama diam dan mereka memutuskan kontak.


Saga tetap menatap sang istri yang sekarang menata meja. Dia menggigit bibir, ingin sekali menyapa Lizzy tapi mengingat mereka sedang bertengkar pria itu mendiamkannya.


"Apa ada hal yang ingin kau katakan?" tanya Lizzy membuka suara.


Mata Saga terbuka lebar, cukup terkejut dengan pertanyaan wanita yang ia nikahi beberapa bulan lalu.


"Kelihatan sekali dari wajahmu, tak apa-apa katakan saja aku juga ingin tahu kalau Crystal datang ke sini." Masih belum ada jawaban, Saga malah jual mahal, menghindar menatap Lizzy.


Lizzy pun tidak berbicara. Dia duduk di tepi ranjang di dekatnya dan menunggu Saga berbicara. Kesunyian menciptakan rasa gelisah bagi pria berusia 25 tahun tersebut.


Ia lantas memandang Lizzy yang masih diam. "Aku mau minta maaf," ucap Saga. "Aku berbohong soal Crystal dan soal aku mendiamkanmu ..."

__ADS_1


Lizzy bernapas lega dan tersenyum. "Aku juga minta maaf soal apa yang kukatakan, aku harusnya mengutamakanmu karena kau sedang sakit bukannya berdua dengan pacarku, kau pasti mengutukku, kan?"


Mata Saga membeliak. Bertanya-tanya pada diri sendiri, apa Lizzy mendengar segala racauan tak jelas dari mulutnya sendiri?


Sebelum bisa mencerna mendadak ada sepotong kue di depannya. Dia mendongak, mendapati Lizzy berada di hadapan. "Hari ini adalah hari spesialku, aku membagikan kue dengan semua keluarga."


Saga melihat lagi ke arah kue. Bibir pria itu langsung mengerucut. "Kau tidak lihat tanganku, aku mana bisa makan sendiri."


"Cih, dasar manja!" Lizzy lalu duduk di tepi ranjang Saga. Menyendokkan kue kemudian memberikan pada suaminya yang membuka mulut.


"Oh ya karena aku sudah meminta Crystal untuk tidak datang jadi aku ingin kau juga harus tidak bertemu dengan Gail, bagaimana?" tantang pria itu segera setelah menelan makanannya.


"Ok, tidak jadi masalah," sahut Lizzy enteng. Toh dia memang tak memiliki hubungan khusus dengan Gail.


❤❤❤❤


Kediaman keluarga Grace berjalan tampak baik-baik saja. Seperti kebiasan sebelumnya, anggota keluarga selalu sarapan bersama-sama. Aroma makanannya enak, kendati hanya ikan kuah kuning dan juga sambal sebagai pelengkap nasi.


Hanya Lisa yang mulai menyiapkan makanan di piring sedang Ayah dan Ibu terlihat tak berselera. "Ayah, Ibu, kenapa kalian tak makan? Nanti dingin loh makanannya," bujuk Lisa lembut.


"Ibu sedang memikirkan Lizzy," jawab Angel sedih.


"Biasanya di awal Bulan Juni, kita selalu mengadakan acara kecil-kecilan buat dia karena ini hari spesialnya tapi tahun ini ... ada yang kurang kalau kita tak membuatnya." Ayah menuturkan.


Lisa terdiam. Ia membenarkan ucapan Ayahnya. Tanggal satu juni adalah hari yang berharga bukan hanya bagi Lizzy tapi semua anggota keluarga termasuk Lisa sendiri.


Suara bel rumah berbunyi menyadarkan kembaran Lizzy itu dari lamunan. "Aku akan buka pintunya," kata Lisa ketika melihat Ibunya ingin berdiri.


Seorang kurir tersenyum ramah kepada Lisa saat dia membuka pintu. "Apa benar ini rumah keluarga Grace?"


"Ya benar, ada apa ya?"


"Ada kiriman untuk rumah ini, mohon diterima." Walau terasa janggal akan tetapi Lisa tetap menerima kiriman dan bersedia tanda tangan.


Si kurir pergi sementara Lisa masuk ke rumah lagi. Dia kembali ke dapur dengan kiriman bentuk persegi. Ada nama toko kue yang tertera sehingga jelas isi kirimannya.


Ketika dibuka kue dengan bentuk persegi dengan warna yang mereka kenali. Di atas penutup kue ada lembar kecil dengan tulisan tangan.


'Ayah Ibu terima kasih sudah mendukung keputusanku beberapa tahun lalu, aku tidak akan pernah melupakan hari bersejarah itu. i love you all, dari Lizzy.'


Syahreza dan Angel awalnya termangu sesaat sebelum akhirnya tersenyum setelah membaca pesan singkat dari putri mereka. Terhibur dengan tulisan tangan Lizzy yang menggantikan setiap ucapan syukur setiap tahun lalu.

__ADS_1


__ADS_2