Romansa Nakal

Romansa Nakal
Kencan Untuk Kita Berdua


__ADS_3

"Putus? Kenapa tiba-tiba? Kita tidak punya masalah, kan?" Seperti dugaan Lizzy, Gail dengan telaten mengikuti permainan tanpa disuruh.


"Saga yang minta. Dia bilang kalau aku harus putus denganmu, tak adil jika dia sudah putus dengan Crystal tapi kita masih berdua." Lizzy memberi alasan. Mukanya dibuat menjadi sedih agar Saga merasa kesal.


Saat dia melirik, ekspresi Saga begitu emosi. Pria itu bahkan berusaha mengatur napas dan bersidekap dada agar tidak terpancing amarah. "Tapi aku .."


"Maaf Gail, mulai saat ini kita putus jangan menghubungiku lagi." Lizzy cepat mematikan telepon dan mengusap air mata.


"Sudah jangan sok sedih, hapus nomornya Gail."


"Tidak mau! Ini ponselku, aku berhak menyimpan nomor Gail!"


"Buat apa? kau bilang tidak usah menghubungiku lagi tapi tidak menghapus nomornya." Saga segera merebut ponsel Lizzy, menghapus nomor Gail dan memberikannya dengan cepat.


"Ah kau ini?!" gerutu Lizzy kesal. Saga selalu saja cemburu saat berurusan dengan Gail. Lizzy hanya menatap tajam namun pria itu tidak peduli dan dengan wajah santai, mesin mobil kembali menyala.


Sampai di rumah, Lizzy segera disambut oleh para pelayan. Mereka sempat khawatir tapi berkat Ade, kegelisahan mereka sedikit berkurang. Kini Lizzy pulang, membuat mereka bahagia.


Saga sendiri langsung meminta tiga supir berkumpul. "Lain kali kalau Nyonya pergi, segera kabari aku. Di mana dia berada dan siapa yang dia temui beeikan informasinya padaku, mengerti?"


"Mengerti Tuan." Saga menganggukan kepala mendengar ucapan kompak dari para supir kemudian masuk ke dalam rumah.


Lizzy sendiri masuk ke dalam kamar. Dia butuh istirahat yang cukup. Ada perasaan lega setelah berbaikan dengan Saga. Setidaknya Lizzy tidak akan diabaikan lagi oleh suaminya itu.


Tapi Lizzy harus berhati-hati. Sekali lagi dia menekankan pada dirinya sendiri untuk tetap bersikap baik pada Saga. Siapa tahu pria itu kembali tidak memercayainya dan memilih untuk mencari tahu maksud Lizzy menggantikan Lisa.


Pintu kamar terbuka. Menampakkan sosok Saga yang lalu berjalan masuk. "Kau sedang apa?" tanya pria itu sambil mengambil tempat untuk duduk di tepi ranjang dekat dengan Lizzy.


"Mau mandi, tubuhku berkeringat sekali." Lizzy menjawab tenang.


"Boleh aku ikut?"


Lizzy melotot, memberikan raut wajah kesalnya namun tak bisa menutupi semburat malu di wajah. "Kau pikir aku akan turun dari jendela kamar mandi yang tinggi?"


"Bisa saja, kan." Saga membalas cepat. "Lagi pula kenapa harus malu? Aku sudah melihat semuanya," lanjutnya bergumam.


"Dasar mesum," ejek Lizzy. "Pergi sana aku tak mau diganggu." Lizzy melangkah masuk ke dalam kamar mandi bahkan mengunci dari dalam agar Saga tidak bisa masuk.

__ADS_1


"Ayo kita kencan!" ajak Saga tiba-tiba.


Pintu kamar mandi terbuka menampakkan Lizzy yang heran. "Kenapa tiba-tiba sekali mengajakku kencan? Kau cemburu ya kalau aku menghabiskan waktu dengan Gail?"


"Siapa bilang aku ingin mengajakmu kencan karena sudah lama tidak menghabiskan waktu berdua saja. Selagi punya waktu ayo kita pergi hanya kita berdua." Saga menuturkan alasan dengan tenang.


Lizzy yakin pria di depannya ini mati-matian menahan emosi agar terlihat serius. "Baiklah aku akan bersiap-siap, sudah dapat penginapannya?"


Saga tersenyum. "Aku akan mengatur itu. Dandan yang cantik." Setelahnya Saga melangkahkan kaki pergi dari kamar Lizzy.


Walau tak tahu rencana Saga tapi akan lebih baik menurut saja dari pada bertengkar dan perang dingin lagi. Memakan waktu satu jam Saga sudah siap dengan mobil miliknya, tak berapa lama muncul Lizzy yang memakai kaus kebesaran dengan gambar tedy bear dipadukan dengan celana panjang berbahan jeans.


Sambil menenteng tas yang berisi make up dan keperluannya. Untuk tas lain sudah diangkut oleh Saga sebelumnya. Saat mendekat, Saga langsung tersenyum cerah. "Aku sudah bilang pada mereka untuk menjaga Ade, aku juga memberi kabar jadi dia tak akan mencariku. Perjalanannya lama tidak?"


"Tenang saja kok, aku akan tetap bayar 10 dolar."


Setelah itu Lizzy diam. Mesin dinyalakan dan mobil pun meninggalkan rumah Saga diiringi lambaian beberapa pelayan. Tampaknya mereka tidak khawatir kalau majikan mereka pergi berdua.


Perjalanan yang ditempuh cukup lama, mereka bahkan melewati tol. "Kita mau ke kota lain?" terka Lizzy dan Saga langsung mengangguk.


"Kau tahu Penginapan Mentari? Aku sudah memesan kamar di sana," tambah Saga senang.


Senyum Saga makin mempertegas tujuan mereka. "Bagaimana kau tahu? Aku tak pernah bilang loh! Mana tiketnya?"


Saga melirik pada dashboard mobil. Lizzy spontan membuka dan sedikit memekik saat melihat tiket hot seat untuk dua orang. Saking senangnya, Lizzy memeluk Saga lalu mencium pipi sang suami.


"Terima kasih ya, suamiku yang tampan." Baik Lizzy dan Saga sama-sama melongo. Ini adalah pertama kali Lizzy memuji Saga tampan. Saga nyengir sementara Lizzy menggigit bibir bawah, merasa malu tapi setelah melihat tiket itu lagi perasaan itu langsung buyar.


Dia kembali tersenyum tak melepas pandangan dari tiket konser. Lizzy tak sabar sekarang. "Kita ke konser dulu lalu baru ke penginapan."


Lizzy mengangguk setuju. Malah lebih bagus harus ke sana dulu. Tepat saat itu pula mereka masuk ke dalam kota dan bergegas menuju stadion tempat konser. Keduanya bergegas masuk begitu mendapat tempat parkir dan langsung disambut dengan teriakan para fans.


Beruntung acara masih di isi oleh artis lain. Saga kemudian menarik tangan Lizzy menuju tempat duduk mereka yang agak jauh sebenarnya dari tempat mereka masuk. Lizzy tidak keberatan dia lebih tertarik pada artis yang menyanyi.


Mereka naik ke lantai yang lebih tinggi, berjalan ke arah kiri paling ujung dan di sanalah mereka duduk. Melihat jelas seorang artis sedang bernyanyi. Lizzy tak bisa menyembunyikan rasa bahagia apalagi saat artis utama tampil. Dia ikut bernyanyi lantang dengan banyak orang di sana.


Saga sendiri menikmati konser tapi berbeda dengan Lizzy yang berdiri. Saga hanya duduk sambil memakan jamuan kecil. Dia tidak antuasias malah fokus memandangi istrinya. Ketika melihat Lizzy senang, Saga pun ikut bahagia terbukti bibirnya selalu menyunggingkan senyum.

__ADS_1


Tiga jam berlalu Lizzy tak berhenti menatap fotonya bersama idola bersama dengan Saga. Dia terus mengomentari betapa cantik dan baiknya sang idola, foto ini haruslah disimpan dengan baik. Suara hujan deras menyadarkan Lizzy dan menatap Saga yang kini keduanya terjebak di teras.


Ada beberapa orang nekat keluar menuju mobil mereka dengan berlari sementara yang lain masih sibuk mengobrol. Lizzy cepat menyimpan foto di dalam tas dan meminta sesuatu kepada Saga. "Masukkan barangmu ke dalam tas, kita harus ke penginapan. Aku tak mau berlama-lama di sini."


Saga menurut dengan memberikan dompet juga ponsel. Kunci mobil dipegang agar bisa cepat masuk ke dalam. Sama-sama keduanya menembus hujan dan tidak kesulitan menemukan mobil Saga. Hasilnya mereka masuk ke dalam mobil dengan basah kuyup. Ketika Saga menoleh, dia mematung tatkala melihat baju istrinya tembus pandang.


Tidak bisa dihindari Saga bisa melihat dalaman yang dikenakan oleh Lizzy. "Kenapa diam saja ayo nyalakan mesin mobilnya," pinta Lizzy kesal. Dia kedinginan sekarang dan butuh pemanas.


Saga cepat menurut namun sebelum itu dia memberikan jaket yang dia kenakan. Memang basah tapi bisa menutupi tubuh Lizzy yang terekspos.


Kisaran 30 menit sampailah mereka di penginapan. Setelah konfirmasi pemesanan, keduanya dituntun oleh seorang pelayan menuju sebuah tempat menginap mereka yang merupakan sebuah rumah kecil dengan fasilitas memadai. Ada juga gazebo dan taman kecil menghiasi halaman depan.


Setidaknya hanya itu saja yang bisa terlihat disebabkan malam juga hujan deras, Lizzy tak bisa mengitari tempat itu. "Tuan, Nyonya, kalau butuh sesuatu tinggal telepon saja. Ada telepon yang terhubung dengan telepon receptionis kami. Apa kami harus sediakan makan malam sekarang?"


"Tidak terima kasih, aku akan hubungi kalian lagi saat kami butuh makan malam." Si pelayan mengangguk lalu pergi meninggalkan keduanya. Saga membalikkan tubuh dan tidak menemukan Lizzy.


Suara keran air menyita perhatian Saga dan ia langsung masuk ke dalam kamar mandi. Di dalam kaca buram, Saga melihat bayang Lizzy mengenakan lagi pakaiannya. Sepertinya dia sadar kehadiran Saga. "Kenapa kau masuk? Aku sedang mandi, harus antri." Lizzy berkata ketus.


"Aku mau mandi juga, tidak mungkin aku duduk di sofa atau ranjang nanti basah lagi," balas Saga memberi alasan. Namun tidak ada sahutan dari Lizzy. "Apa boleh kita mandi sama-sama?"


Untuk sesaat selain hanya suara hujan yang tercurah deras dan air pancuran terdengar tidak begitu jelas. Saga membuang napas panjang. Lizzy jelas tidak akan mau. Dengan lesu, Saga hendak keluar merasa Lizzy tak akan setuju.


Suara pintu terbuka mengejutkan Saga. Ditolehnya Lizzy yang berdiri masih dengan memakai pakaian lengkap. "Kau mau masuk atau tidak?"


Saga langsung masuk dan pintu tertutup. Lizzy bergerak menjauh dari pancuran memberikan tempat untuk Saga membasuh tubuhnya lebih dulu. "Aku akan menunggu di sini jadi cepat ya,"


Belum sempat memunggungi, Saga menarik tangan Lizzy mendekat. Keduanya sekarang basah oleh air hangat yang terus keluar dari pancuran. "Aku bilang mandi sama-sama bukan sendiri."


Tangan Lizzy kembali diraih. Telapaknya bersentuhan dengan wajah Saga. "Tanganmu dingin sekali." Saga berkomentar. Jemarinya kemudian diarahkan menuju bibir Saga dan dikecup lembut.


Lizzy membatu tapi tak menghentikan aksi Saga yang mengecup telapak tangan lalu menjalar ke pergelangan tangan sampai ke bahu. Tubuhnya bergetar saat merasakan napas Saga tak sengaja berembus di jenjang leher. "Mulai lagi," desis Lizzy. "Kau menggodaku lagi."


"Tapi kau suka, kan?" tanya Saga dengan seringai nakal.


Lizzy tersenyum simpul. "Jangan pasang senyum seperti itu aku tak suka. Ayo mandi jangan membuang waktu aku kedinginan kalau basah terus."


Lizzy ditarik mendekat lalu sebuah kecupan hangat nan singkat dia terima dari Saga. Pria itu menatapnya intens dan menciumnya lagi. Lebih dalam, lebih lama serta menuntut. Kehabisan napas, Saga segera melepas Lizzy.

__ADS_1


"Kau kasar sekali." Kali ini Lizzy yang berkomentar. "Tapi aku suka." Wanita itu menarik Saga mendekat. Dicium bibir suaminya dengan lembut dan dalam membawa mereka dalam gairah penuh hasrat seiring dengan hujan yang masih turun deras.


__ADS_2