
Saga terperangah. Dia mencoba untuk menelaah ucapan Crystal, mungkin salah dengar. "Tidak mungkin, kan? Kau tidak hamil, kan?"
Crystal memulas senyum tulus, matanya berkaca-kaca terharu melihat ekspresi Saga. "Aku tidak bercanda, aku hamil anakmu sekarang." Dengan cepat Crystal mengambil sejumlah alat tespack memperlihatkan pada Saga sebagai bukti. Dari sorot matanya dia terlihat bangga. "Kamu akan jadi ayah!"
Saga sendiri yang wajahnya lemakin makin pucat pasi. Ini sungguh tidak terduga. Bingung, sedih, gusar dirasakan oleh pria itu sekarang. Dia cemas jikalau Lizzy tahu soal ini hubungan mereka bakal rusak kembali dan Saga tidak ingin hal itu terjadi. Mereka baru saja bahagia kenapa selalu ada masalah untuk mereka?
Sementara di sisi lain Saga tidak mau marah di depan Crystal. Bagaimana pun Crystal sedang berbadan dua, dia tak sanggup bertengkar dengan wanita hamil. "Kau yakin kalau itu anakku?"
Crystal terpaku. Itu bukanlah kalimat yang seharusnya keluar dari mulut Saga. Kenapa kekasihnya terdengar tidak mempercayai ucapannya. Rasa senang dalam sekejap berganti muram. Apa ini keputusan yang tepat untuk memberitahu Saga? "Apa maksudmu Saga? Aku hanya melakukannya denganmu, tidak ada yang lain! ini anakmu!" kata Crystal menekan.
"Tapi Crystal aku selalu pakai ****** kau mau bilang kalau alat kontrasepsinya rusak? Aku selalu mengawasi barang yang aku pakai jadi itu tak mungkin..."
Crystal segera mendekat meraih tangan Saga yang masih kebingungan. "Bisa saja kan itu terjadi. Saga aku tak mau anak ini hidup tanpa Ayah, ayo kita hidup bersama-sama hanya kita bertiga kau, aku ...." Tangan Saga kemudian diarahkan oleh Crystal meraba ke area perut. "dan anak ini."
Saga tercekat. Dia segera menarik dirinya mundur. "Maaf Crystal, aku tak mau meninggalkan Lizzy. Rumah tangga kami baik-baik saja sekarang dan ada kemajuan. Begini saja aku akan tetap bertanggung jawab untuk anak itu segala kebutuhan dan biaya persalinan maupun pendidikan biar aku saja yang menanggung."
Crystal yang awalnya masih berharap kini tertunduk lesu. Buyar sudah segala impian untuk hidup bersama sebab Saga lebih memilih istrinya ketimbang dirinya bahkan anak kandungnya sendiri tidak dipedulikan. "Lalu semua janjimu padaku waktu itu? Apa itu semua kebohongan juga? Kau lebih memilih perempuan itu dari pada aku ibu dari anakmu?"
"Iya! Aku mencintai Lizzy lebih dari kau bahkan kalau dipikir lagi selama ini aku tidak pernah serius kepadamu, maafkan aku."
Crystal makin sakit hati. Segera dia maju dan melayangkan sebuah tamparan di pipi Saga. "Dasar brengsek!" Dia kemudian keluar dari rumah itu tanpa membalikkan tubuhnya. Saga sendiri tidak protes sebab sadar akan kesalahan fatal yang dibuat.
Biarlah itu menjadi urusan nanti. Dia kemudian memanggil pelayan yang berdiri tak jauh dari dirinya. "Bilang sama rekan kerjamu, jangan memberitahu nyonya kalau Crystal datang ke sini. Abaikan pembicaraanku dan Crystal, anggap semua ucapan kami tidak pernah kau dengar."
"Baik Tuan."
__ADS_1
...❤❤❤...
Lizzy menghembuskan napasnya setelah menarik napas dalam-dalam. Tekanan di dada makin lama memudar, dengan satu tarikan napas Lizzy akhirnya bisa tenang. Tubuhnya sudah tidak kejang dan bisa dikontrol lagi.
Semua itu tidak terlepas dari bantuan Nona A yang terus menemani, mengajak Lizzy mengobrol. Dia terus mengingatkan kalau semua hanyalah masa lalu dan Lizzy baik-baik sekarang, tak ada yang perlu ditakutkan.
"Apa sudah merasa baikkan?" tanya Nona A memastikan.
Lizzy mengangguk lemah. "Terima kasih."
"Tentu. Jadi ... Nona Lizzy, kami minta maaf soal ketidaknyamanan anda tapi Tuan Mahendra adalah klien kami maka sebagai penyedia jasa kami harus mengerjakan apa yang dia minta karena tuan Mahendra telah membayar. Saya juga secara pribadi meminta maaf karena kesalahan karyawan saya. Kami sungguh tidak bermaksud untuk menyakiti suami anda."
Lizzy diam. Dia berusaha untuk santai dan tenang mencoba membuang jauh ingatan masa lalu. "Aku butuh ke toilet, apa boleh?" Sekiranya Lizzy harus memiliki waktu untuk sendiri dulu.
Wanita itu bangkit mengucapkan terima kasih dan cepat-cepat menuju toilet. Lizzy segera masuk dan membasuh muka, memperbaiki make up yang sudah tak karuan akibat air mata dan keringat dingin.
Ditatapnya bayangan diri sendiri, tubuh masih bergetar sedang dada terus naik turun. "Tenang Lizzy, tenang. Semua hanya masa lalu, Rama tidak akan menyakitimu lagi. Jauhkan dirimu dari dia jangan sampai luka masa lalu tampak lagi. Kau hebat sudah sampai di sini dan tidak ada yang boleh mengganggu ketenanganmu."
Lizzy menarik napas dalam-dalam kemudian mengembuskannya secara perlahan. Setelah tenang barulah Lizzy kembali ke ruang Nona A dan duduk berhadapan. "Terima kasih, saya juga di sini meminta tolong agar karyawan anda tidak mengganggu kehidupan saya. Saya hanya ingin hidup tenang."
"Baiklah saya bisa menegur karyawan saya tapi soal penawaran kerja saya harap anda bisa menimbangnya baik-baik. Orang seperti anda cocok untuk bekerja di sini." Nona A masih berusaha membujuk.
"Baiklah akan saya pertimbangkan lagi, terima kasih untuk waktu anda Nona dan mau mendengarkan saya. Saya pamit." Lizzy kemudian melangkahkan kaki keluar dari ruang kerja.
"Tunggu sebentar Nona Lizzy." Nona A berjalan mendekat ditangannya terdapat sebuah kartu hitam layaknya kartu ATM tapi tampilannya lebih elegan. Hanya ada nomor 16 digit dengan simbol D besar. "Kalau ada masalah tolong hubungi call center kami. Kami siap membantu," katanya sambil memberikan kartu tersebut.
__ADS_1
Lizzy ragu sebenarnya akan tetapi pemberian orang tidak baik ditolak. Pelan dia meraih kartu tersebut mengucapkan terima kasih kembali dan benar-benar pergi dari tempat itu. Sekarang tujuannya adalah kantor Mahendra.
...❤❤❤...
Tidak butuh waktu lama Lizzy menunggu Mahendra datang. Mertuanya sangatlah menyayangi menantu perempuan terlihat jelas bagaimana sikapnya kepada Lizzy maupun kakak iparnya.
"Menantuku!" suara ceria Mahendra yang menyapa Lizzy dahulu membuat wanita itu yakin mertuanya tidak marah kepadanya.
"Maaf mengganggu pekerjaan Ayah." Lizzy berkata sambil mengulum senyum.
"Tidak apa-apa, Ayah juga tidak terlalu sibuk. Sudah makan siang? Ayah bisa memesan tempat makan yang enak."
"Terima kasih tapi aku tidak lapar. Aku datang ke sini untuk meminta sesuatu yang penting apa boleh?" tanya Lizzy langsung bagian inti permasalahan.
"Tentu, kau minta apa Ayah pasti akan beri."
Lizzy tersenyum tipis lalu mengalihkan perhatian pada sekretaris mertuanya. Sekretaris lantas pergi tanpa menunggu perintah dan kini hanya Mahendra serta Lizzy di ruang tamu. "Ayah aku minta tolong bisa tidak Ayah tarik orang-orang yang mengawasiku dan Saga?"
Senyum Mahendra berganti riak wajah datar. Sungguh dia tak menyangka kalau menantunya tahu secepat ini. Ada kecurigaan bahwa mungkin saja Gail yang memberitahu. Mahendra sendiri curiga kenapa Lizzy tiba-tiba datang tanpa memberi kabar.
"Apa kekasihmu yang memberitahumu?" tanya Mahendra menyelidik.
"Tidak, beberapa hari ini aku tidak bertemu ataupun menghubunginya. Saga menghapus kontaknya dari ponselku jadi-"
"Apa benar pria itu kekasihmu?" potong Mahendra. Aneh sekarang tatapan Mahendra tidak begitu bersahabat.
__ADS_1