Romansa Nakal

Romansa Nakal
Bernasib Sama


__ADS_3

"Cepet jawab!" paksa Saga. Rama masih diam ikut juga menatap tajam ke arah suaminya Lizzy. Kesabaran Saga mulai habis, dia ingin membenturkan kepala Rama di batang pohon yang tepat berada depan mereka.


"Saga berhenti!" suara Lizzy menginterupsi.


"Aku tak apa-apa jadi-" tepukan terdengar keras bukan hanya sekali melainkan berulang kali. Lizzy lantas bergerak menghampiri dan rupanya Saga tengah menampar Rama terbukti pipi pria itu memerah.


Tapi anehnya Rama tak merintih. Dia membalas Saga melalui sorot mata dingin yang tiada artinya dibandikan tamparan dari suami Lizzy itu. "Hentikan Saga, aku tak apa-apa," lerai Lizzy.


Dia sendiri hanya melihat peristiwa tersebut tanpa berniat menghentikan aksi Saga. Lizzy merasa Rama patut mendapatkan bogem mentah.


"Tidak mau! Baj**gan ini harus dapat pelajaran yang setimpal. Kalau perlu lebih dari luka di jarimu!"


"Mau kau pukul dia sampai mati pun dia tetap baj**ngan aku tak mau tanganmu kotor gara-gara darahnya," sahut Lizzy tenang.


"Tapi ..." Saga menoleh. Dia terkejut saat menyadari mata Lizzy berkaca-kaca. Timbul lagi kemarahannya yang membuat Saga langsung membenturkan kepala Rama di pohon.


"Saga berhenti!" seru Lizzy. Seakan Saga tuli, pria itu terus menubrukkan kepala si mantan pacar istrinya. Sontak Lizzy mendekat memisahkan mereka berdua dengan mendorong Saga.


"Sudah kubilang berhenti! Bagaimana jika dia mati kau mau bertanggung jawab?!" marah Lizzy kepada suami.


Dia lalu memalingkan pandangan ke arah Rama. "Dengar ya walau aku mendorong suamiku itu bukan karena aku memiliki perasaan sama kamu, aku melakukannya sebab aku tak mau kau jadi korban. Jangan pernah temui aku jika kau hanya menyakitiku, mengerti?"


Lizzy segera melangkah menuju Saga dan menarik pria itu untuk pergi dari tempat itu. Kendati ekspresi marah masih bisa terlihat, dia tak berdaya ketika sang istri menyeret tubuhnya.


"Biarkan aku menghajar wajahnya sekali saja," pinta Saga.


"Sudah cukup dengan menampar dan membenturkan kepalanya, tadi sudah keterlaluan bahkan jika Rama mau pasti dia akan melaporkanmu ke polisi. Luka yang ada di kepalanya bisa jadi bukti konkret." Lizzy menuturkan panjang lebar.


"Baguslah kalau dia terluka, itu pantas untuknya."


"Saga?" Lizzy melihat Saga dengan satu alis yang terangkat. Alhasil pria berusia 25 tahun tersebut terdiam, dia mengalihkan perhatian kepada jari manis milik sang istri.


Bukan hanya warna kemerahan kulit Lizzy sedikit terkelupas menciptakan bercak darah di sekitar jari-jarinya. "Sakit tidak?"


"Dari tadi tapi sekarang sudah membaik." Saga lalu mengomel, mengutuk Rama akan tindakannya yang menyakiti Lizzy. Dia lalu mengarahkan wajah sang istri untuk menatapnya dan mengusap air mata Lizzy menggunakan ibu jari.


Lizzy hanya melihat seksama ekspresi Saga yang berubah-ubah. Dari lembut menjadi kekesalan entah apa penyebabnya. "Ada apa?"


"Aku kesal karena kau menangis di depannya, sementara aku--suamimu tidak pernah melihat kau lemah," ketus pria itu.


"Buat apa toh aku menangis karena kenangan buruk." Lizzy menyahut.

__ADS_1


"Jangan ketemu dia lagi, bukannya bersikap baik tapi malah buat luka." sebagai jawaban Lizzy menggumam.


"Ngomong-ngomong kenapa kau ada di sini? Bukannya kau sedang melakukan pemeriksaan." Saga tersenyum.


"Aku sudah melakukan pemeriksaan bahkan dokter bilang besok bisa pulang ke rumah."


"Ok tapi kau belum menjawab pertanyaanku," kata Lizzy mengingat pertanyaan tadi.


"Aku gelisah jadi aku ke sini buat melihatmu. Kau tidak marah?" Lizzy menampakkan kekesalan namun dalam sekejap ia menghembuskan napas panjang.


"Baiklah tapi awas saja kalau kau berbohong," ancam Lizzy. Saga tidak keberatan dan mengangguk sebagai balasan.


"Ayo kita pulang, rasanya melelahkan di sini terus." lanjutnya.


"Kau tak mau menikmati reuninya?" Lizzy menggeleng.


"Kenapa?"


"Tak usah banyak bertanya, cukup lakukan saja apa yang aku minta." Saga bergumam iya dan mengikuti Lizzy melewati kerumunan orang-orang.


"Lizzy," panggilan Jasmine menghentikan langkah dan sama-sama memandang ke arah wanita berambut sebahu itu.


"Kau duluan saja ke parkiran aku akan bertemu dulu dengan temanku," ujar Lizzy kepada Saga.


"Pergilah aku tidak akan lama." Lizzy kemudian mendekat, berbicara sebentar lalu berjalan menjauh. Saga hanya menatap mereka hingga hilang dari pandangan.


Saga kemudian berjalan lagi melewati kerumunan. Beberapa orang yang tak sengaja ditabrak segera meminta maaf dan pergi selekas mungkin. Sebenarnya ada beberapa orang terutawa wanita mau berbicara tapi moodnya membuat Saga menolak untuk berbincang.


Sampai di parkiran pria itu tak langsung masuk. Dia memejamkan mata seraya memijit pangkal hidungnya sendiri. Karena terlalu emosi, Saga menjadi sedikit kelelahan. Bayangan ketika Lizzy menangis dan dipeluk oleh Rama menciptakan rasa kesal.


Kenapa harus dia?


"Kita berjumpa lagi Tuan suami Lizzy," sapa seseorang dan saat Saga menoleh ada Rama yang terluka bersama dengan teman-temannya.


Mereka menatap sinis pada Saga. "Apa kau mencoba mengeroyokku?" Rama tertawa.


"Tidak aku ada di sini karena ingin pulang, terima kasih karena kau membuatku terluka jadi aku tidak harus berlama-lama di pesta yang tidak aku suka," lanjutnya.


"Bisakah kau menolongku? Katakan pada Lizzy aku menyesal karena sudah bertindak kasar padanya dan aku rasa tindakanmu sudah benar, aku pun akan melakukan hal yang sama denganmu. Melihatmu dari tadi aku seperti melihat diriku yang dulu. Begitu mencintai Lizzy sampai kehilangan akal,"


"Dan itu sebabnya kau ditinggalkan oleh Lizzy, kau kasar padanya," potong Saga dengan benci. Senyum di wajah Rama hilang mendadak alisnya tertaut hampir menyatu.

__ADS_1


"Jangan pernah menilai aku hanya karena aku menyakiti Lizzy, kau tak pernah tahu bagaimana hubunganku dan dia sebelumnya. Kau hanya beruntung bisa menjadi suami Lizzy tapi yah mungkin tak akan lama lagi." senyum miring muncul lagi dari wajah Rama melihat ekspresi Saga.


"Apa maksudmu?" tanya Saga tak paham.


"Sudah aku bilang kau sama sepertiku. Meski kau mencintai Lizzy dan memperlakukannya bak seorang ratu, aku yakin dia akan membuangmu tunggu saja pasti yang kukatakan itu terjadi." Menyelesaikan kalimatnya, Rama kemudian pergi bersama teman-temannya meninggalkan Saga dalam kerisauan.


❤❤❤❤


"Dari tadi itu Saga?" Lizzy mengangguk.


"Dia cukup tampan," lanjut Jasmine jujur.


"Tapi masih tetap playboy."


"Benarkah? Dia tak terlihat seperti itu." Lizzy tersenyum miring.


"Jangan percaya Jasmine, di dunia ini mana ada playboy yang tiba-tiba berubah hanya karena seseorang," ujar Lizzy kemudian.


"Ya kau benar. Jadi bagaimana? Lancar tidak pertemuannya."


"Tidak dia tetap psikopat untung saja Saga datang kalau tidak mungkin aku kehilangan jari manisku," jawab Lizzy sembari memegang jari manisnya.


"Apa sakit?"


"Sudah mendingan." Jasmine bernapas lega.


"Dari tadi aku cemas tapi syukurlah kau baik-baik saja tapi bagaimana jika Saga tahu kalau kau sedang kesulitan aku rasa dia memiliki intuisi yang bagus," puji Jasmine.


"Kau memujinya lagi." Lizzy menggerutu dan sebagai balasan Jasmine tersenyum.


"Lizzy,"


"Hm ..."


"Aku rasa ini sudah waktunya untuk menjalani terapi." Langkah Lizzy terhenti, dia berbalik menatap Jasmine dengan curiga.


"Jangan bilang kalau kau mau aku melakukan terapi bersama Saga," tebak Lizzy dan dari raut wajahnya Jasmine telah menggambarkan banyak hal.


"Jasmine, dia targetku apa pun yang terjadi aku mencoba untuk menjatuhkannya dengan permintaanmu ini, kau jelas menghancurkan rencana yang aku buat!" lanjutnya penuh emosi.


"Tapi Saga-"

__ADS_1


"Jangan pernah mencoba menghalangiku Jasmine, meski kau temanku aku tak akan segan-segan untuk menyakitimu, paham?!" Jasmine tertunduk. sepasang mata Lizzy yang menatapnya tajam cukup membuat wanita itu terintimidasi.


Inilah sisi paling tak disenangi oleh Jasmine dari Lizzy. Sebuah sisi gelap.


__ADS_2