Romansa Nakal

Romansa Nakal
Berhutang Maaf


__ADS_3

"Suami Lizzy?" Saga mengangguk.


"Kapan menikahnya?" Nita bertanya masih dengan menampilkan raut wajah yang kaget.


"Beberapa bulan yang lalu. Apa mbak kenal dengan istri saya? Di mana dia sekarang?"tanya pria itu lagi.


"Tadi dia ada di sini tapi dari tadi dia bilang mau ketemu sama mantan pacarnya." Bukan tanpa sengaja Nita mengatakan hal tersebut, dia ingin mencoba memberikan pelajaran bagi Lizzy menggunakan Saga. Ketika ia melirik, mimik muka pria yang dikenal sebagai suami Lizzy berubah.


Lantas Nita tersenyum puas dan melanjutkan mengompori Saga. "Aku sendiri bingung kenapa tiba-tiba bertanya soal mantan pacarnya, dia tak bilang kalau sudah menikah dan sudah seharusnya ia menjaga perasaan pasangan terlebih jika pria tampan sepertimu."


"Sepertinya aku pernah melihatmu tapi di mana ya?" Saga bersuara mendadak. Nita sontak melihatnya dengan tatapan penuh makna, ia tak berhenti tersenyum.


"Ya kau wanita yang viral! Selingkuhan pejabat itu, kan? Wah kau melampaui ekspektasiku," lanjutnya.


"Benarkah?" kali ini wajah Nita merah merona.


"Iya, kau jelek." Seketika wajah Nita kaku, matanya membulat sadar apa yang dikatakan oleh Saga.


"Apa?" tanya Nita syok.


"Saat aku lihat kau di koran, media sosial dan tv foto-fotomu yang beredar itu buruk sekali tapi aku masih berpikiran positif pasti karena kualitas fotonya dan sekarang aku melihatmu jelas di depan mata sayangnya kau tidak menarik. Suamimu punya selera yang buruk sekali." Saga berkomentar.


Selepasnya dia berlalu pergi dan bertanya lagi tentang Lizzy. Sementara wanita yang dicari terus berkeliaran mencari mantan pacarnya di antara banyak sekali orang. Saking padatnya, Lizzy agak kesulitan melihat jalan.


Tanpa sadar dia mendengus. Harusnya dari tadi Lizzy mengambil jalan di luar kerumunan ini. "Lizzy," suara seorang wanita menginterupsi disertai ada yang menyentuh pergelangan tangannya.


Sontak Lizzy menoleh, seorang wanita asing di depannya sedang tersenyum. "Lama tidak jumpa, ini aku Anggun." Lizzy mengerjapkan mata sebentar, kemudian mengangguk.


Dia ingat siapa itu Anggun. Gadis yang sering mengajaknya bertengkar karena waktu itu Lizzy tengah berpacaran dengan Rama membuat sosok Anggun sulit dilupakan.


Sekarang wanita yang menganggapnya sebagai rival itu bisa memberikan wajah ramah. "Bagaimana kabarmu?" tanyanya.


"Aku baik. Kalau kau?"

__ADS_1


"Sama. Sudah lama ya kita tak berjumpa dan kau terlihat sangat baik. Sekarang kau kerja di mana?" tanya Anggun lagi.


"Maafkan aku bukannya aku menolak untuk berbincang denganmu tapi aku ingin bertemu dengan Rama, aku memiliki masalah dengan dia. Kau tak keberatan aku menemuinya?" raut wajah Anggun berubah membeku. Secepat mungkin Lizzy menyambung.


"Aku tidak akan macam-macam kok, cuma berbincang sebentar." Masih belum ada reaksi dari Anggun.


"Dan kau harus tahu aku sudah menikah," lanjutnya seraya memperlihatkan sebuah cincin emas di jemari manis beserta itu pula senyum tipis muncul kembali dari bibir Anggun.


"Kenapa tidak bilang dari tadi? Dia bersama teman-temannya, di ujung lapangan ini sebelah sana."


"Terima kasih-" Lizzy menghentikan ucapannya, melihat ke belakang begitu lama sementara yang ia lihat orang-orang sedang sibuk berbicara satu sama lain.


"Mungkin hanya firasatku saja," gumamnya sendiri.


"Kenapa bengong begitu?" Lizzy memalingkan wajah menemukan Jasmine entah dari mana dia datang.


"Tidak apa-apa, kenapa kau ada di sini?"


Lizzy tidak memprotes, dia malah bergerak ke tempat sesuai petunjuk Anggun. Mereka akhirnya bisa bertemu dengan Rama beserta kelima temannya. Bau asap rokok yang tercium membuat dada Jasmine sesak.


Karena suara batuknya Rama menoleh. Sepasang mata berwarna coklat miliknya membelalak melihat sosok Lizzy, cinta pertamanya hingga sekarang.


"Lizzy." Dia berdiri mencoba mendekat namun Lizzy segera mundur.


Beberapa detik raut wajahnya mematung sebelum akhirnya tersenyum. "Aku pikir kita tak akan bertemu lagi, bagaimana kabarmu?" tanya pria itu ramah.


"Baik. Kita perlu bicara berdua saja apa boleh?"


"Tentu saja." Rama berjalan lebih dulu sementara Lizzy menyusul. Dia menoleh kepada sang sahabat meyakinkan semua akan baik-baik saja dan berlalu pergi.


Ketika langkah Rama terhenti Lizzy mengikutinya. Hal yang diperhatikan wanita itu adalah postur tubuh dari sang mantan pacar. Lizzy yakin dalam balutan kemeja berwarna navy tersebut ada otot kekar menghiasi tubuh Rama.


Tampaknya dia bertambah tinggi pula. Lizzy lalu melihat kepada Rama yang kini berbalik menghadapnya. "Aku masih tak percaya kau datang di reuni. Kau tahu bagaimana perasaanku?"

__ADS_1


"Aku tidak mau tahu soal itu, aku datang ke sini untuk bertemu denganmu." mata Rama berbinar semangat mendengar ucapan Lizzy. Ia mencoba menggapai tangan wanita berusia 23 tahun tersebut.


"Jangan sentuh aku!" tegur Lizzy tegas seraya menepis tangan Rama.


"Kau ingat bukan masalah enam tahun lalu, gara-gara kau aku tidak tenang menjalani hidupku. Aku sangat ...." Lizzy kehilangan kata-kata. Ini terlalu emosional untuk diucap dan tak bisa membendung kesedihan yang dirasakan.


Dada naik turun seiring dengan rasa sesak karena menahan tangis. Tiba-tiba saja Lizzy merasakan sebuah lengan menariknya masuk ke dalam rangkulan.


"Maafkan aku, aku sangat menyesal karena kau mengalaminya. Sekarang kita bisa memulai semuanya dari awal," lirih Rama sendu.


Kalimat terakhir membuat Lizzy terkejut. Langsung dia memberontak dan mendorong mantan pacarnya menjauh. "Apa kau gila? Kau sudah punya tunangan!"


"Tidak masalah aku akan membatalkan pertunangannya lagi pula aku tidak punya perasaan kepada Anggun, aku cuma mencintaimu." Lizzy kehilangan kata-kata dan perasaan sedih berganti menjadi kesal serta marah.


Dia sempat berpikir jika Rama telah berubah nyatanya tidak. "Aku berjanji akan memperlakukanmu dengan baik dan kita seperti dulu lagi," sambung Rama.


"Tidak! Aku hanya ingin kau minta maaf tapi untuk kembali bersamamu aku tidak mau!" tolak Lizzy tegas.


"Lizzy tak masalah jika kau tak punya perasaan lagi asal kau kembali padaku, aku tidak bisa hidup tanpamu. Aku mohon!" Rama meminta. Kali ini Lizzy menghembuskan napas, sulit sekali untuk berbicara dengan mantannya ini.


"Rama," panggil Lizzy. Saat lelaki itu melihat ke arahnya, dia mengangkat tangan kanannya di mana ada sebuah cincin terpasang.


"Aku sudah menikah, kita tak bisa bersama." Lizzy bisa melihat mata Rama melebar, tanpa aba-aba tangan kanannya ditarik.


Rama memperhatikan dengan seksama sambil menggelengkan kepalanya pelan. "Tidak tak mungkin, ini pasti hanya akal-akalanmu saja untuk menolakku benar, kan?!" tersirat nada marah dari suara Rama.


"Tidak ini sungguh-" Napas Lizzy tercekat saat melihat Rama berusaha menarik cincin itu dari jemarinya.


"Hei apa yang kau lakukan?! Lepaskan!" Lizzy berusaha mempertahankan cincin pernikahan dari Rama yang sekarang memaksa agar cincin itu keluar tak peduli jika jemari manisnya terluka.


Dalam pergulatan antara mereka seorang pria menghampiri dan menarik kerah Rama sekaligus mendorong pria itu mundur alhasil genggaman tangan Rama terlepas membuat Lizzy bernapas lega.


Rama menatap pria berambut cepak di depannya sekarang. Mata coklatnya menatap tajam langsung kepada Rama. "Lo ngapain istri gue anj**ng!"

__ADS_1


__ADS_2