Romansa Nakal

Romansa Nakal
Di mana Lizzy?


__ADS_3

Jam 12 siang. Saga mendengus melihat chatnya hanya di baca Lizzy tanpa ada tanda mau dibalas. Tidakkah Lizzy harusnya bahagia? Ini adalah chat pertama kali Saga selama "perang dingin" mereka.


Bahkan Lizzy tidak aktif sekarang membuat Saga frustasi. Meski begitu, makan siang hari ini enak. Lizzy membuatkan makanan yang sama saat dia berada di rumah sakit dan kalau dipikir lagi sudah lama sekali tidak mengobrol santai dengan istrinya itu.


Padahal dulu mereka akan beradu argumen tapi selalu menyelesaikan masalah di hari itu juga. Bagi Saga, Lizzy tetap seorang wanita yang misterius walau sudah beberapa bulan keduanya menikah. Dia sepenuhnya sadar jika Lizzy menyembunyikan sesuatu.


Istrinya tidak perlu minta maaf. Ia hanya ingin Lizzy berkata jujur dan terbuka kepada Saga. Memang Lizzy saja yang keras kepala, dia tak mau memberitahu dan ini mengundang amarahnya.


Saga menuruti maunya Lizzy tapi tidak sebaliknya. Demikian pula dengan sikap istri yang selalu mengejek sehingga Saga merasa kurang dihargai. Hari itu dia tidak bisa menahan perasaan lalu membentak keras Lizzy sampai sekarang mereka jarang bicara.


Ada perasaan bersalah namun ego membuat Saga hanya mengabaikan Lizzy. Dia merasa sedikit keterlaluan terlebih kejadian semalam. Harusnya Saga tidak memarahi Lizzy karena menyimpan jas seorang pria yang sudah membantunya dalam kesulitan.


Apakah dia harus minta maaf? Baiklah untuk kali ini saja Saga mengalah. Dia harus cepat bertemu dengan Lizzy. Kenapa waktu berjalan lambat sekali? Pekerjaannya pun sangat banyak.


Beberapa jam berlalu. Saga merenggangkan otot-otonya yang kaku dan berdiri. Sudah waktunya untuk pulang. Entah mengapa dia sangat bersemangat sekarang. Apa ini artinya Saga merindukan Lizzy?


Tidak butuh waktu yang lama Saga sudah sampai di rumah. Ia begitu tergesa-gesa tanpa ambil pusing dengan beberapa pelayan yang menyapa. Biasanya Lizzy akan duduk di ruang tamu atau membuat makan malam untuknya di dapur.


Anehnya, Lizzy tidak ada. Saga langsung ke kamar. Pintu kamar terkunci tanda Lizzy belum pulang. Agak kecewa tapi Saga memutuskan untuk menunggu saja. Dia melihat layar ponsel yang menunjukkan jam enam sore.


Pasti Lizzy akan datang sebentar lagi. Saga kemudian menyibukkan diri dengan fokus lagi pada beberapa file yang belum sempat selesai pengerjaannya. Hingga makan malam hanya Ade yang makan bersamanya. Lizzy? Dia masih belum datang.


Saga menyorot Ade yang sibuk melahap ikan sausnya. Tidak peduli jika di depannya itu hanya ada Saga. "Di mana kakakmu?"


"Mana aku tahu, aku pulang juga kakak sedang tidak ada di rumah." Jadi dari pagi Lizzy keluar.


"Kau tahu dia pergi ke mana?" Ade menggeleng.


"Aku hanya di antar tadi pagi sebelum kakak pergi jadi aku tak tahu kemana dia," jelas Ade tenang. Saga kesal sekaligus cemas. Kenapa dia tak bilang kalau mau pergi sampai larut malam begini? Apa karena mereka saling marah sampai-sampai Lizzy tak mau memberikan kabar pada Saga?


Apa terjadi hal yang buruk?

__ADS_1


"Aku heran sekali. Kau suaminya kenapa tidak bertanya pada Kakak sendiri?" Saga diam tak mau membalas. "Oh maaf kalian, kan sedang bertengkar jadi tak akrab."


Ade bergumam. "Kenapa sih kakak bisa menikah dengan dia? Dia bahkan bukan tipenya."


"Apa?" Saga mendengarnya jelas tapi Ade tidak mengatakan apapun lagi. Dia cepat menyelesaikan makananan dan bergegas kembali ke kamar. Katanya ada banyak PR.


Saga pun ditinggal begitu saja dalam kebingungan. Selesai makan, Saga langsung memanggil supir yang mengantar Lizzy.


"Tadi nyonya ke mana?" tanya Saga menyelidik.


"Kami mencari pemilik jas Tuan, ada tiga alamat dan kami pergi ke setiap tempat lalu ...." Supir tampak ragu. Ada ketakutan di matanya.


"Lalu dia ke mana lagi?"


"Nyonya bilang mau bertemu teman jadi saya hanya menurunkan dia di perusahaan eletronik Tuan. Saya sempat meminta agar saya menunggu nyonya tapi nyonya bilang nanti temannya yang mengantar dia pulang." Saga langsung menyadari seorang yang dekat dengan Lizzy, mempunyai perusahaan elektronik besar di kota ini. Dia adalah Gail, kekasih gelap istrinya.


❤❤❤


"Kau tak mengabari orang yang ada di sana kalau kau mau menginap di sini?"


"Sudah, aku memberi tahu Ade agar jangan khawatir. Aku juga minta dia supaya tidak memberitahukan aku baik-baik saja pada Saga. Dia harus mencariku sendiri."


"Kau keterlaluan sama suami sendiri."


"Dia saja membuatku asing di rumah, kenapa harus mengasihani suamiku. Saga pantas mendapatkan semua ini."


Gail mengangguk pelan. "Sebenarnya aku mau membicarakan sesuatu tapi karena tidak punya waktu jadi aku pikir bisa memberitahukanmu lain kali."


"Apa itu?"


"Ini soal Lisa, kembaranmu." Gail lalu menceritakan banyak hal tentang Lisa saat mereka bertemu dan sampai sekarang masih berhubungan baik. Gail juga bilang jika dia memberikan semua informasi yang dia tahu pada Lisa dan kembarannya itu bertemu dengan Crystal.

__ADS_1


Crystal sempat berpikir jika Lisa adalah Lizzy. Mereka sempat beradu mulut dan sudah jelas pemenangnya adalah Lisa.


"Jadi itu sebabnya dia tidak marah padaku, karena kau memberitahukan segalanya."


"Ya, dia menyesal karena memusuhimu dan juga mengutuk perbuatan Saga. Kalau dia tahu Saga selingkuh dia akan langsung membatalkan pernikahan, kamu tak perlu berkorban."


Lizzy mengembuskan napas kasar. "Aku pikir dia begitu cinta mati sama Saga dan tetap melanjutkan pernikahan walaupun dia tahu kalau calon suaminya selingkuh." Dia lalu tertawa hambar.


"Mau dikata apa lagi, nasi sudah jadi bubur. Aku tidak bisa bercerai dengan mudah tanpa ada alasan yang kuat."


"Kalau Saga memang jodohmu ya terima saja, kau sendiri yang bilang dia tidak memiliki lagi kekasih. Berarti dia menuruti semua omonganmu tapi apapun itu kalian berdua yang memutuskan mau pisah atau tidak."


Kening Lizzy mengerut. "Loh kok kami berdua?"


"Yah namanya juga suami istri jika salah satu dari kalian nggak bisa sepakat maka buat keputusan sulit." Gail menasehati.


"Aduh jangan ungkit dia dulu. Sekarang aku mau tanya kamu sedekat apa sama Lisa?" tanya Lizzy penasaran.


"Kok tiba-tiba bahas soal itu?" Tampak kekesalan terlihat dari raut wajah Gail. Tapi Lizzy tetap mendesak.


"Ya siapa tahu nanti kita jadi keluarga. Jadi saudara ipar."


"Kami hanya teman tidak lebih. Lisa bukan tipeku." Gail menuturkan cepat. Raut wajahnya masih sama, kesal karena dipaksa.


"Baiklah tapi kau harus tahu dia itu wanita yang baik, lembut, keibuan. Cantik juga. Pokoknya dia cocok dibuat jadi kekasih."


"Makasih atas promosinya tapi aku tidak tertarik. Aku di sini hanya untuk membantumu bukan ingin tahu soal kembaranmu." Gail tetap teguh pada pendiriannya.


Belum sempat Lizzy mengatakan apapun, Gail bangkit berdiri pergi dari ruang tamu. "Kamu mau ke mana?"


"Ke luar mau cari udara segar bosan di sini terus," ketus Gail.

__ADS_1


__ADS_2