Romansa Nakal

Romansa Nakal
Ketemu 2


__ADS_3

Saga lalu diseret oleh satpam di sana. Tak main-main tubuhnya langsung di dorong jatuh ke lantai. "Jangan buat keributan di sini!" Setelahnya satpam pergi meninggalkan Saga yang jengkel.


Pria itu kemudian berdiri dan menunggu di dalam mobil. Dia akan terus menunggu sampai Gail pulang kerja. Saga yakin Lizzy berada di rumahnya.


Tak peduli jika butuh waktu lama. Saga harus bertemu Lizzy.


......❤❤❤......


"Suamimu gila sekali, dia menonjokku di depan umum tahu," kata Gail. Segera setelah rapat selesai, Gail ingin mengabarkan hal ini dengan cepat. Lizzy harus tahu kelakuan suaminya yang menurut Gail sendiri sudah gia.


"Itulah yang aku khawatirkan sekarang. Dia akan mengamuk begitu tahu aku datang ke perusahaanmu. Kau tidak apa-apa? Wajahmu pasti lebam,"


"Aku baik-baik saja, aku lebih khawatir kalau dia menemuimu. Sepulang kerja aku akan pulang ke apartemen. Aku tak mau sampai dia mengamuk sama kamu."


"Baiklah, jaga dirimu jangan sampai Saga menghajarmu lagi." Lizzy menasehati.


"Baik." Telepon ditutup sepihak oleh Gail sementara Lizzy sendiri kembali menikmati minuman jus dan bermalas-malasan di ruang keluarga.


Ponsel kembali berbunyi, Lizzy dengan malas mengambil benda pipih itu dan meliriknya. Tertulis di sana Ayah Mertua. Otomatis dia langsung memosisikan diri duduk. Berdeham sebentar lalu menerima telepon tersebut.


"Halo Lizzy, kau ada di mana? Ayah dari tadi pagi coba telpon tapi nomor kamu tidak aktif." Mahendra menyapa sekaligus bertanya tanpa basa-basi.


"Ayah aku ada di rumah teman, tadi malam kami jalan-jalan ke tempat yang tidak ada sinyal jadi tidak tahu kalau Ayah menelepon. Ada apa Ayah?"


"Tidak apa-apa, Ayah cuma ingin tahu kau ada di mana. Saga tadi pagi tiba-tiba minta cuti. Dia panik setengah mati sampai tak tidur semalaman. Kamu ... nggak bilang sama Saga kalau mau jalan-jalan sama teman kamu?" Lizzy tersenyum. Mahendra ternyata sadar akan sesuatu. "Kalian punya masalah?"


"Iya Ayah, aku dan dia sedang bertengkar hebat. Aku coba minta maaf Saga tidak mau ya aku pergi saja, dia mengabaikanku jadi aku juga mengabaikannya."


Dari balik telepon terdengar dengusan kasar. "Anak itu ada-ada saja, Lizzy pulanglah. Masalah kalian bisa kita bicarakan baik-baik. Ayah juga akan memarahi dia karena sudah mengabaikan menantu kesayangan Ayah."

__ADS_1


"Maaf Ayah, bukan bermaksud menolak keinginan Ayah tapi aku mau kami berdua saja yang menyelesaikan masalah. Rencananya aku dan dia akan bertemu lalu berbicara berdua saja." Lizzy merasa Saga adalah suaminya jadi masalah pun di antara mereka berdua adalah masalah rumah tangga yang seharusnya di selesaikan berdua saja.


Jika mertua turut campur tangan maka nanti pihaknya pilih kasih. Lizzy tak mau di bela. Selagi dia masih bisa menyelesaikannya maka Lizzy bisa melakukan apapun. "Baiklah kalau itu maumu tapi bertemulah dengan Saga cepat. Lebih cepat selesai masalah kalian, lebih baik."


"Iya Ayah aku mengerti. Selamat siang." Telepon ditutup oleh Lizzy. Wanita itu mendesah panjang. Tidak ada pilihan lain selain membuat Gail datang dan Saga ikut datang ke sini. Mahendra sudah menasehati dan sebagai menantu, dia menerima nasehat mertua.


Mahendra menatap Sena dan rekan kerjanya, Dika. Karena usaha mereka berdua, Mahendra tahu di mana Lizzy tapi dia tak marah apalagi setelah mendapat penjelasan kenapa Lizzy pergi dari rumah. "Pekerjaan kalian bagus sekali, terus awasi menantuku jangan sampai pria yang namanya Gail itu menyentuh Lizzy. Cari juga informasi soal Gail, aku ingin tahu kenapa pria keparat itu bisa dekat dengan menantuku. Usahakan kalian tak boleh ketahuan."


"Paham!" ujar Dika dan Sena serentak. Mereka kemudian keluar dari kantor Mahendra. Pria itu berpikir keras. Kenapa tiba-tiba serumit ini? Ya, Mahendra tahu soal Saga masih dekat dengan Crystal termasuk pertengkaran hebat yang terjadi antara anaknya dan Lizzy.


Tapi dia sama sekali tak tahu soal Lizzy punya "kekasih" juga. Sedikit informasi Gail membuat pria paruh baya itu menaruh curiga. Bisa saja, Gail memang kekasihnya Lizzy yang cintanya belum kelar.


Mahendra kemudian mengeluarkan beberapa foto yang diambil oleh mata-matanya. Dia akui Gail pandai dalam menyenangkan hati Lizzy, caranya pun memperlakukan menantunya layaknya gentleman. Berbanding terbalik dengan Saga, kalau tidak "perang dingin" pastilah mereka akan selalu bertengkar.


Hubungan Saga dan Lizzy bagi Mahendra kekanak-kanakan tapi di situlah letak manisnya. Lizzy dengan sifatnya yang dewasa bisa membuat Saga diam. Tindakannya agak berani namun tidak sembrono. Bahkan ia membuat Crystal dan Bibinya tak berkutik.


Tapi Saga dia malah besar. Mahendra tak tahu apa penyebabnya dan meskipun Saga memiliki banyak kesalahan, Saga tetaplah putranya. Mahendra jelas menyayangi Saga. Satu yang diinginkan olehnya yaitu mereka saling memaafkan.


Semoga saja mereka bisa menemukan solusi.


......❤❤❤......


Saga terus menunggu dan menunggu. Dia selalu tak melepas pandangan dari mobil Gail yang terparkir tak jauh dari mobil miliknya. Tak mau melewatkan kesempatan jika saja ada pergerakan dari Gail. Ia bahkan tidak berani keluar dari mobil. Soal makan dia meminta seseorang membawanya ke mobil.


Waktu berlalu. Tepat jam 10 malam, Saga melihat Gail keluar dari lift bersiap menuju suatu tempat. Jantung Saga berdebar sekarang. Dia tak boleh sampai ketahuan jika mengikuti Gail.


Mobil Gail kemudian keluar begitu pun mobil milik Saga. Awalnya tak ada masalah namun semuanya terasa mengganjal apa lagi saat mobil Gail keluar dari kota. Waktu nenempuh terbilang cukup lama bahkan membuat Saga berpikir, apakah ini adalah akal-akalan Gail?


Kalau niatnya benar Gail harus mendapat akibatnya. Mobil Gail memelankan kecepatan lalu masuk ke dalam sebuah pekarangan rumah. Saga ikut menepi, memarkirkan mobil tak jauh dari rumah tersebut.

__ADS_1


Saga mengambil langkah cepat. Awalnya agak bingung bagaimana mengelabui dua satpam yang berjaga tapi dia tak menyangka jika salah satu satpam meminta untuk masuk. Di teras rumah sudah ada Lizzy menunggu seakan tahu Saga datang.


Dengusan kesal terdengar dan Saga langsung menghampiri Lizzy. Tangannya ingin menjangkau sang istri tapi Gail entah dari mana memegang pergelangan tangan Saga. "Mau apa kau?" tanya Gail dengan sorot mata tajam.


"Lizzy istriku memangnya kenapa aku tidak bisa sentuh dia?"


Gail tersenyum sinis. "Aku tak mau kau menyakiti Lizzy. Aku dengar kau sering bertindak agresif saat marah."


Saga lalu memalingkan pandangannya pada Lizzy. "Yang benar saja, aku tak bisa menyentuhmu."


"Demi keselamatanku? ya!" sahut Lizzy tenang.


Saga menepis kasar tangan Gail menatap Lizzy sambil mengatur napas sekaligus emosi yang mau meledak. "Jadi kau ada di sini selama dua hari ini?"


Lizzy mengangguk. "Kau bersikap dingin padaku jadi aku pergi untuk menenangkan diri."


"Harusnya kau bilang padaku kau mau ke mana?!"


"Dengan sikapmu seperti itu yang ada kau mengabaikanku jadi aku minta tolong sama Gail. Dia baik loh meminjam vila ini."


"Itu masalahnya Lizzy! Kau minta tolong sama Gail, kenapa bukan orang lain saja?"


"Karena kalau sama orang lain kau tidak akan peduli. Kalau aku pergi dan tinggal dengan temanku, apa kau ada di sana dengan sikap khawatir juga?" tanya Lizzy. Saga terdiam tak tahu menjawab apa. "Sudah kuduga kau tidak akan bisa menjawab."


Lizzy berbalik namun dicegat oleh Saga. "Ayo pulang, kita bisa bicara sampai di rumah."


Wanita itu menoleh. Dia tersenyum kecil dan Saga berharap Lizzy mau mengikut perkataannya. "Tidak. Aku tak mau," kata Lizzy tenang. "Masalah di antara kita harus selesai di sini jika tidak aku tak akan mau pulang."


Saga hendak mengeluarkan suara hendak menyanggah tapi Gail dengan cepat menyela. "Masuk, aku sudah merapikan satu kamar lagi. Kau bisa tinggal di sini juga sampai kalian menyelesaikan masalah kalian."

__ADS_1


__ADS_2