
Gail lalu menyamakan posisi dengan Lizzy dan berbisik pelan. "Menurutmu Saga bisa dipercaya?" tanya Gail tidak yakin.
"Tenang saja kok, biar pun sifatnya jelek dia bisa dipercaya." Lizzy menjawab santai. Mereka kemudian duduk di ruang tamu. Lizzy melihat Saga penuh intimidasi sedang Saga diam menatap kesal istrinya itu.
Gail sendiri bisa melihat aura keduanya saling bermusuhan tanpa berniat mendamaikan mereka. "Sekarang jawab jujur kenapa kamu ada di rumah Gail? Kalau mau menyelesaikan masalah ya tinggal beritahu saja jangan kabur, dasar kekanak-kanakan." Saga berucap setelah suasana renggang cukup lama.
"Hei sadar diri, kau sendiri mengabaikanku bagaimana bisa aku mau menyelesaikan masalah sementara kamu nggak mau bicara sama aku." Lizzy membela diri. "Yang kekanak-kanakan itu kau bukan aku. Kalau saja aku tidak pergi dari rumah, kamu tidak mencariku kan?"
"Tapi kau bisa-"
"Cukup!" potong Lizzy. "Tak usah berdebat soal hal yang tidak penting lebih baik kita selesaikan masalah kita."
Saga tertawa singkat dengan sinis. "Berdebat hal yang tidak penting katamu? Kau secara terbuka berselingkuh loh dan kamu bilang ini masalah sepele."
"Oh jadi maksudmu karena aku selingkuh dengan Gail itu masalah besar sementar saat kau berselingkuh dengan Crystal tidaklah penting. Anggap saja impas ok? Kau pernah datang ke rumah Crystal, aku pun bisa dong pergi ke rumah Gail."
"Inilah masalahnya! Kau selalu melawanku dan tidak mau mendengarkan ucapanku. Kau tidak bisa menghargaiku sebagai suami?!"
"Aku melawan karena kau salah. Bisa-bisanya kau membela seorang wanita yang memiliki banyak sekali sifat negatif. Apa sih yang kau lihat? Oh, mungkin karena dia sudah kasih seluruhnya sama kamu makanya kamu nggak bisa lihat keburukannya sekali pun sudah ada di depan mata."
Saga langsung berdiri hendak mendekat tapi Gail menengahi dengan mendorong mundur dan menahan Saga untuk duduk di tempatnya lagi. "Kalau kamu berani menyakiti Lizzy aku telepon polisi!" ancam Gail.
Suasana yang awalnya tenang menjadi tegang hanya dalam beberapa menit. Lizzy mengusap salah satu pelipisnya. Masalah ini rumit dan begitu menguras emosi. "Jawab pertanyaanku Saga, kenapa kamu terus membela Crystal? Kalau kamu benar-benar sayang sama dia kenapa kamu terima permintaan Ayah dan menikah dengan Lisa?"
__ADS_1
Saga yang tampak marah besar perlahan sedikit tenang. "Sejak dulu aku dan Crystal memang pasangan kekasih. Kami berdua bertemu di SMA dan aku kenal betul bagaimana perangai Crystal. Aku tahu kalau memang sikapnya buruk tapi dia baik hanya saja karena keluarga dan lingkungannya saja yang salah mendidik."
"Crystal sering dapat kekerasan seksual dari Ayah tirinya tapi Ibunya diam saja semua karena cinta, itu alasannya. Tiap hari, Crystal harua berdandan tebal menutupi wajahnya yang lebam karena perlakuan kedua orang tuanya. Aku dan dia dekat sebab Crystal pernah membelaku saat aku punya masalah. Dia bilang takdir kita sama jadi kami dekat saat itu dan-"
"Jadi kau menjadi kekasihnya karena kasihan?" potong Lizzy bertanya.
"Tidak. Aku mengagumi Crystal jadi kami berpacaran sampai aku menikah denganmu." Saga menjawab cepat.
"Bahkan sampai kita menikah dan setelah insiden kecelakaan itu, kau masih memiliki hubungan." Lizzy mendekat dan menyamakan posisinya dengan Saga. "Tidak pernah kau membuka matamu lebar-lebar? Karena kau mengangkat derajatnya, Crystal lupa soal masa lalunya. Dia begitu angkuh menganggap bahwa dia bisa melakukan apapun sebab kau ada. Kalian berdua itu tanpa sadar saling membutuhkan satu sama lain. Crystal mengandalkanmu dalam uang kau mengandalkannya karena kau percaya sama dia. Sekarang aku mengerti."
Lizzy lalu berdiri berjalan beberapa langkah untuk duduk. "Jadi Saga, setelah pernikahan kita yang kini berjalan beberapa bulan apa kau masih punya perasaan yang sama kepada Crystal?"
Saga termangu. Dari tatapannya dia tampak bingung mau menjawab apa. Lizzy mengembuskan napas panjang dan memberi isyarat agar melepas pria itu. "Besok baru dilanjutkan lagi, aku mau ke kamar."
Saga sendiri termenung entah memikirkan apa.
Lizzy berada di kamar. Dia membaringkan diri menatap langit-langit rumah dan bergumam. "Ayo Saga, katakan sejujurnya perasaanmu lalu kita bisa ke tahap selanjutnya, hukuman."
...❤❤❤...
Esok pagi, Lizzy menyiram bunga seusai sarapan. Tak ada yang bisa dilakukan karena vila tersebut memiliki seorang koki dan pelayan yang senantiasa menjaga kebersihan serta memasak untuk Gail.
Kata Gail ibunya yang menyukai tanaman maka setiap properti seperti rumah atau vila mereka harus memiliki rumah kaca untuk menyimpan beberapa bunga dan tanaman hias. Sebenarnya pun Gail memiliki penjaga kebun tapi tak setiap hari datang jadi Lizzy berniat merawat tanaman dikarenakan bosan tak memiliki pekerjaan.
__ADS_1
Suasana hatinya sedang baik hingga Lizzy tak sadar jika Saga berdiri di pintu rumah kaca menatap kesal. "Lizzy," sapa Saga kemudian mendekat.
Senyuman Lizzy menghilang dan menatap malas pada suaminya. "Ayo kita pulang, aku sudah jawab jujur pertanyaanmu itu artinya masalah sudah selesai, kan?"
"Kau mau menjawab pertanyaanku yang lain?" Lizzy balik bertanya.
"Pertanyaan apa?"
Lizzy mendengus. "Jangan pura-pura lupa ya, kalau kamu mau menjawab pertanyaanku ya kita pulang kalau tidak ya kita tetap di sini."
"Bagaimana dengan Ayah, nanti dia khawatir kalau kita berdua tidak pulang." Saga beralasan.
"Aku sudah bilang kok sama Ayah, dia nggak keberatan kalau kita tinggal di sini sementara untuk menyelesaikan masalah," sahut Lizzy santai.
"Bagaimana dengan orang-orang nanti jadi fitnah karena kau tinggal di sini dengan orang asing."
"Tidak mungkin, vila ini ada penjaganya. Gerbang rumah pun tinggi lagi pula rumah warga itu jauh dari sini. Kau juga ada, aku bisa saja bilang Gail adalah sepupuku dan kau suamiku. Mudah, kan?" Kali ini Saga yang mendengus.
Untuk sesaat ruangan menjadi renggang. Lizzy fokus pada tanaman yang di sirami sedang Saga berpikir keras bagaimana dia membuat Lizzy mau pulang. "Baiklah, aku tak akan mengabaikanmu lagi. Aku tidak akan bertanya kenapa kau sering membuatku kesal atau tidak menghargaiku asal kita pulang ok?"
Lizzy menatap Saga sembari tersenyum mengejek. "Aku tak peduli soal itu, yang aku mau hanya jawaban. Jika kau tidak memberikan apa yang aku mau silakan pergi, aku tidak memaksa kok kamu tinggal di sini."
Saga frustasi. Apa yang membuat Lizzy bisa keluar dari rumah ini dengan sendirinya karena Saga tidak mau menjawab. Jika dia menjawab, itu artinya dia otomatis mengaku kalah.
__ADS_1
Akhirnya Saga memilih untuk pergi tak mau berdebat dengan Lizzy. Pria itu harus mencari ide baru agar Lizzy bisa pulang.