Romansa Nakal

Romansa Nakal
ILY 2


__ADS_3

Lizzy hanya mengangguk pelan kemudian kembali membawa piring kotor untuk dicuci. Tidak lama dia sudah datang lagi dan mendapati Saga sudah tertidur. Entah mengapa Lizzy merasa tenang. Setidaknya Saga mulai pulih mengurangi beban pikirannya meski tidak terlalu.


Diperbaiki selimut Saga yang agak berantakan dengan menutup seluruh badan. Suara guntur terdengar perlahan tapi pasti hujan turun dengan deras. Lizzy hendak berdiri pandangannya dia arahkan ke depan melihat halaman depan diguyur deras. Dia harus menutup pintu supaya angin tidak masuk ke dalam ruangan.


Belum sempat berdiri tangan Lizzy langsung diraih. "Kau mau ke mana?" tanya Saga, dari ekspresinya dia tidak mau istrinya itu pergi ke mana pun.


"Aku cuma mau menutup pintu dan tirai, tidak lama kok." Lizzy membalas lembut.


Saga lalu melepas tangan Lizzy namun tak sekali pun melepas pandangannya dari Lizzy bahkan saat dia berada di dekatnya Saga terus memperhatikan.


"Tidurlah, kalau kau tidak tidur bagaimana obatnya bekerja," tegur Lizzy.


"Ayo tidur di sini, aku kesepian kalau kau tidak ada."


Lizzy mengembuskan napas pendek tapi setelah perawatan wajah di malam hari dia naik ke atas ranjang dan berbaring dekat dengan Saga. Tubuhnya langsung di tarik oleh sang suami agar tidak ada jarak antara mereka berdua.


Dia tak bisa melakukan apapun saat Saga memeluk tubuhnya yang semapai dan membuatnya miring sehingga mereka saling berhadapan. Tidak melepas rangkulan, pria itu memosisikan kepalanya di jenjang leher milik Lizzy. Menghirup aroma tubuh wangi nan menenangkan dari sang istri.


Sialnya Lizzy bisa merasakan deru napas Saga membuat kulitnya terasa digelitik. Dia hanya bisa mengatur napas berusaha agar nyaman mengingat suaminya sedang sakit. Lizzy rela di peluk meski jengah sekalipun.


"Baumu enak," bisik Saga tepat di telinga Lizzy. Setelah keheningan yang cukup lama diiringi suara hujan kian deras.

__ADS_1


"Kau juga," sahut Lizzy pelan. Dia memang suka sekali aroma parfum Saga bahkan saat sakit, Lizzy masih bisa mencium wangi tubuh sang suami.


"Aku dari tadi berpikir kau akan pergi sama seperti saat kita bertengkar. Aku takut ditinggalkan sendirian dalam kondisiku yang begini dan aku-"


"Kau selalu bicara ngawur." Lizzy memotong kata Saga. Menurutnya pemikiran Saga tidaklah benar. "Aku tidak akan pergi selama kau belum membaik. Kau membutuhkanku sekarang, nantinya aku di cap sebagai istri yang tidak baik karena meninggalkan suaminya sakit sendiri. Aku juga sudah putuskan hukuman itu tidak akan ada jadi jangan-"


Saga menarik Lizzy lebih mendekat. Di kecupnya bibir wanita itu singkat. Meski sayu tapi ada kelembutan saat menatap sang istri. "Aku mencintaimu, Lizzy."


Mata Lizzy membeliak. Kalimat yang seharusnya tidak di ucapkan antara mereka berdua terlontar lembut dengan suara Saga yang serak. Apakah ini artinya Saga mengaku kalah? Ini terlalu cepat baginya.


"Sebelum kau mengatakan apapun ya ... aku mengaku kalah. Aku menerima semua hukuman tapi hanya satu hal yang aku tidak inginkan..." Saga berjeda menatap Lizzy kalut seakan memikirkan sesuatu. "Jangan pernah minta cerai dariku. Aku tidak akan menceraikanmu apapun alasannya. Soal kau menerima perasaanku atau tidak, itu keputusanmu. Aku akan menunggu sampai kau mau memberi jawaban."


Lizzy tidak memberikan ekspresi apapun sedang Saga kembali menutup mata. Dia belum menyelesaikan permasalahan dengan Sena namun Saga sudah memberikan hal baru untuk dipikirkan. Pada akhirnya Lizzy mengembuskan napas panjang, yang penting sekarang Saga harus sembuh. Tidak peduli berucap apa, Lizzy harus fokus ke tujuannya sekarang.


Pagi hari Lizzy dan Saga sudah mengemas barang. Kondisi tubuh Saga mulai pulih meski belum sepenuhnya. Pria itu masih meminum obat dari dokter sampai habis dan hal ini pula membuat dia tak diizinkan untuk mengemudi.


"Biar aku saya ya, kau istirahat di belakang," pinta Lizzy setelah memasukkan dua koper kecil di bagasi mobil.


""Kau punya SIM?" tanya Saga tidak yakin. Dia hanya khawatir mereka akan celaka lagi. Saga juga tak pernah melihat istrinya mengemudikan mobil. "Kita panggil supir saja ya,"


"Ah tidak! Aku bisa kok, kalau soal SIM aku memang tidak punya tapi aku bisa kok."

__ADS_1


Ada kekhawatiran tapi Saga tidak mengatakan apapun. Duduk di samping Lizzy yang kini berkonsentrasi penuh. Meski cuaca agak mendung namun Lizzy santai mengendarai mobil suaminya.


Sedang Saga, dia tertidur pulas di atas kursi yang dia jadikan sebagai tempat rebahan. Dia sudah melihat kemampuan istrinya dan merasa cukup puas. Perjalanan selama tiga jam ditempuh tanpa rintangan berarti.


Mereka akhirnya sampai di rumah dengan selamat dan langsung disambut oleh para pelayan. "Tolong parkir mobil dan bawa semua barang di bagasi ke dalam kamar. Jangan ganggu Tuan, dia kurang enak badan habis saya mandi saya mau pergi dulu. Obat ada di tas ini dan ikuti resepnya."


Tidak butuh waktu lama Lizzy membasuh tubuh. Dia langsung bergegas menuju alamat kantor milik Sena. Alih-alih menggunakan supir pribadi Lizzy memilih naik taksi. Rencananya setelah pergi ke kantor Sena, dia ingin pergi menemui Gail dan Mahendra.


Untuk kantor Sena sebenarnya Lizzy sudah tahu pasalnya yang membuat wanita itu penasaran bagaimana bisa toko yang menyediakan layaknya mini market bisa memperkerjakan mata-mata.


Sampai di toko dengan lambang besar D, Sena sudah berdiri di teras seakan menunggu kedatangan Lizzy. Ada rasa kesal namun dia diam dan memilih berjalan menghampiri. "Selamat datang Nona, silakan lewat sini Bos sudah menunggu."


Lizzy tidak menanggapi dan hanya mengikuti Sena dari belakang. Mereka berjalan melewati orang-orang yang sibuk berbelanja menuju sebuah pintu dengan tulisan STAF ONLY. Wanita itu tidak ragu dia terus melangkahkan kaki masuk. Tidak ada sama sekali ketakutan.


Mereka kini melewati gudang persimpanan di mana beberapa orang sibuk menghitung barang dan lain sebagainya. Ada juga yang sedang bercanda di ruangan istirahat. Namun Lizzy merasa janggal. Dari tadi ia melihat dua orang yang sedang mengecek barang memakai pakaian biasa sedang di ruang istirahat itu, mereka memakai pakaian lebih formal bahkan memakai dasi.


Sampailah mereka di sebuah pintu, Sena membuka dan meminta Lizzy untuk masuk lebih dulu. Di hadapannya sekarang ada seorang wanita kisaran usianya tak jauh beda dengan Lizzy. Dia tampak sibuk mengurus beberapa dokumen di atas meja.


"Nona A, Nona Lizzy sudah datang." Sena berucap. Wanita yang dipanggil oleh Sena mengangkat wajahnya lalu tersenyum ke arah mereka.


"Silakan duduk."

__ADS_1


Lizzy dan Sena duduk di sofa yang letaknya berada dekat dengan meja Nona A tanpa di suruh dua kali. Mata Lizzy tak sekalipun melepas pandangan pada atasan Sena. Begitu banyak pertanyaan yang berada dalam benaknya sekarang dan semua harus mendapat jawaban.


__ADS_2