Romansa Nakal

Romansa Nakal
END


__ADS_3

Crystal terus menatap takjub pada hasil USG bayinya. Mulai terlihat sedikit fisik janin dimulai dari bibir atas, telinga juga bagian ujung hidung. Senyum terus mengembang apalagi saat menatap Saga. Dia begitu bahagia karena pria itu ada di dekatnya bukan bersama Lizzy.


"Aku sekarang penasaran apa dia akan mirip kamu atau aku ya?" tanya Crystal memancing perhatian Saga.


"Jelaslah mirip sama kamu, kamu itu ibunya." Saga membalas dengan spontan.P


"Tapi aku yakin dia akan mirip denganmu. Aku mau dia tampan seperti Ayahnya." Crystal ingin bermanja. Ia mencoba meletakkan kepalanya di bahu Saga namun Crystal segera ditegur.


"Aku sedang berkonsentrasi mengemudi, kalau terjadi sesuatu bagaimana?"


Crystal langsung cemberut dan mengalihkan pandangan ke jendela mobil selintas ada senyuman jahil di bibirnya. Dia berpura-pura merajuk agar mendapat perhatian Saga nyatanya Crystal tidak dihiraukan.


Menunggu dan terus menunggu Crystal tidak menerima apa yang dia mau. Senyumnya menghilang, sorot mata ceria juga meredup. Ia bisa merasakan keheningan di antara mereka berdua. Mereka tidak lagi sama.


Awalnya wanita hamil itu protes. Biasanya dulu seperti itu jika Crystal kesal langsung dia marah kepada pria di sampingnya ini tetapi melihat Saga yang tidak pernah menatapnya balik membuat hatinya hancur. Sekarang Crystal ragu apa Saga datang untuk dirinya atau anak di dalam kandungnya?


Tidak lama mobil tersebut berhenti Saga mencoba bersikap baik dengan membukakan pintu mobil untuk Crystal dan mengantarnya sampai di pekarangan rumah. "Aku pergi dulu ya, nanti aku belikan sayur dan juga buah-buahan untuk kamu."


Crystal tak menjawab, hanya memandang nanar pada Saga. Pria itu berbalik hendak pergi. "Saga," panggil Crystal.


Pria itu menoleh kembali pada Crystal. "Aku akan menunggu sampai kamu bisa lepas dari Lizzy."


Crystal bergegas masuk meninggalkan Saga termangu sendirian. Meski Crystal menunggu selama apapun itu, dia akan tetap setia pada istrinya sekalipun Lizzy menghilang. Suara ponsel yang berbunyi mengejutkan Saga dari lamunan.


"Halo," kata Saga setelah menerima panggilan.


"Tu-Tuan, ini gawat. Ini tentang nyonya, nyonya berada di dalam restoran yang terbakar. Sampai sekarang nyonya belum keluar juga Tuan." Saga mematung, dadanya bergemuruh hebat. Segera dimatikan telepon menuju lokasi sesuai yang dibagikan oleh supir.

__ADS_1


Dia sangat takut sekarang bahkan tak ambil pusing jika dia menerobos mobil-mobil yang melaju dengan kecepatan sedang. Dipikirannya hanya Lizzy.


......❤❤❤......


"Kebakaran!" Lizzy langsung memandang beberapa orang yang memakai celemek berlari keluar meninggalkan seorang pria yang berjalan keluar dengan kobaran api di punggung sementara suara ledakan terdengar dari arah dapur.


Hal tersebut mengundang kepanikan dari beberapa pelanggan. Buru-buru mereka keluar melalui pintu sehingga saling dorong dan menghimpit satu sama lain. Beda hal dengan Lizzy, wanita itu terpaku dengan pria yang terbakar.


"Tolong siapa saja, padamkan apinya!" seru Lizzy.


Dari arah lain sesosok seorang pria datang dengan pemadam api dan membukanya agar membantu pria dengan api di punggungnya. Lizzy menoleh ingin mengucapkan terima kasih tapi ia langsung kaget saat mata keduanya bertemu. "Kau, kenapa ada di sini?" tanya Lizzy kepada Sena.


"Tidak usah bicara lebih baik kita cari tempat aman, bantu aku mengangkat pria ini." Lizzy menurut dan membantu Sena memapah sosok pria yang terbakar dari tadi. "Kita ke toilet, cepat sebelum ada ledakan lagi."


"Tapi bagaimana dengan orang-orang di sana? Mereka terjebak juga."


"Jangan keluar, ada kebakaran di luar tetap di sini. Telepon nomor darurat, ada orang yang terluka." Sena dengan cepat memerintah dua orang perempuan di sana seraya membaringkan pria yang dipapahnya tadi.


"Aku akan ke sana lagi ingin melihat orang-orang kalian harus di sini, jika asap tebal muncul segera basahi sapu tangan atau apapun dengan handuk lalu tutup mulut dan hidung kalian." Lizzy mengangguk pasti. Tak lupa dia diberikan pemadam jikalau ada api yang berkobar di tempat itu nanti.


"Kau merasa baikkan?" tanya Lizzy pada pria yang selamat.


"Aku merasakan sakit di punggung, tolong bantu aku." Dengan bantuan seorang wanita lain, mereka memiringkan tubuh si pria. Mereka tercekat tatkala melihat luka bakar besar di punggung. Baju yang dipakai tampak menyatu dengan kulit membuat luka makin parah.


"Nona bisa kau basahi kemejaku, kita harus mendinginkan luka bakarnya." Perintah Lizzy segera dipatuhi. Kemeja yang dibasahi dibuat sebagai pembersih luka dan kembali dibersihkan agar bisa menutup luka besar tersebut.


"Setidaknya ini lebih baik dari pada dibiarkan terbuka. Semoga pemadam kebakaran cepat datang," ujar Lizzy berharap cemas.

__ADS_1


Sena sendiri membasahi jaket denim yang dia pakai agar tidak merasa kepanasan kemudianl2 pergi. Beberapa orang datang ke dalam toilet wanita beberapa yang lain masuk ke dalam toilet lelaki. Tidak akan cukup jika mereka hanya mengandalkan ruangan di toilet wanita.


Sena datang dengan cepat dan menutup pintu toilet. "Aku sudah meminta beberapa orang datang ke sini tapi masih saja ada yang bebal, aku tidak bisa berbuat apa-apa."


Suara ledakan terdengar dari luar dan makin membuat asap di dalam ruangan tersebut bahkan sapu tangan tidak bisa mencegah mereka untuk menghirup asap. "Bagaimana dengan yang lain di toilet pria? Apa mereka sudah dibekali dengan pemadam api?"


"Sudah tapi setidaknya di sini aman, hanya saja memang asap tebal membuat kita tak bisa bernapas." Sena mulai terbatuk-batuk begitu juga dengan Lizzy.


"Sekarang kita lakukan apa?" tanya Lizzy. Napasnya tersengal- sengal sekarang, tak bisa bernapas.


"Kita hanya menunggu semoga pemadam kebakaran cepat datang, api di luar sana besar sekali tidak mungkin lewat. Semuanya baringkan tubuh kalian, cepat!" Orang-orang hanya mengikuti ajakan Sena sementara ia sibuk menutup celah pintu dengan jaket denim miliknya.


"Oh ini salahku, kalau bukan karena aku ingin berkencan di tempat yang mahal aku tidak akan berada di sini," ucap seorang wanita ketakutan.


"Apa kita akan mati di sini?" tanya seorang wanita paruh baya. Air matanya terus menetes. "Bagaimana dengan keluargaku? Anak-anakku masih kecil,"


Lidah Lizzy terasa kaku, dengan kondisi mereka yang terjebak sangat sulit menghibur orang. Dia sendiri tidak tahu apakah dia bisa bertahan hidup di dalam ruangan yang pengap ini. Rasanya seperti ia terpanggang hidup-hidup.


Dalam keadaan terancam, Lizzy langsung teringat dengan Saga.Ia sadar bahwa selama ini sikapnya kepada sang suami selalu buruk bahkan meski mereka baikan Lizzy selalu saja curiga. Semuanya karena ia tak pernah mau percaya kepada Saga.


Dia jadi merindukan suaminya sekarang dan ingin bertemu Saga lagi walaupun hari ini bisa saja Lizzy tak selamat. Jika saja Lizzy masih diberikan kesempatan hanya satu yang diinginkan olehnya yaitu meminta maaf kepada Saga.


"Jangan patah semangat, kita harus yakin kalau kita semua semangat. Tidak akan terjadi sesuatu yang buruk."


Napas mereka tersengal, asap tebal makin memenuhi udara dan tidak ada lagi oksigen untuk dihirup. Suhu ruangan pun semakin naik. Satu per satu orang mulai kehilangan kesadaran dan pingsan dengan badan yang terbaring di lantai.


Lizzy sendiri hanya menatap samar pada langit. Terlalu banyak menghirup karbon dioksida membuat kepalanya pusing lalu pandangannya menjadi hitam.

__ADS_1


__ADS_2