
Jam tujuh pagi, Saga sudah siap dengan baju kantor dan tas. Hari ini dia merasa tubuhnya sudah fit, tidak ada istirahat pekerjaan akan semakin menumpuk kalau Saga terus libur.
"Kamu yakin sudah baikan?" tanya Lizzy tampak khawatir.
Saga tersenyum. "Aku akan sungkan kalau aku istirahat terus, sekretaris akan kewalahan jadi aku harus bekerja."
"Jangan terlalu memaksakan diri, kalau kau merasa tidak enakkan pulang saja." Lizzy memberi nasehat.
"Iya pasti. Oh iya aku lupa, aku punya rencana siang ini?"
"Ada, aku mau makan dengan Ade. Lusa nanti Ade bakal pulang aku mau ajak dia makan dan berbelanja," jelas Lizzy.
"Oh begitu padahal aku mau ajak kau makan siang. Tidak apa-apa, itu bisa dilakukan besok. Bersenang-senanglah!"
Setelahnya Saga berpamitan menuju kantor. Hari ini dia ingin menyetir mobil sendiri, kondisinya sudah cukup baik jadi supir hanya mengiyakan saja. Perlahan tapi pasti mobil Saga berjalan keluar dari pekarangan rumah.
Selama 30 menit perjalanan Saga melepas jas dan dasi yang dikenakan lalu melemparnya ke samping. Perusahaan terlihat jelas tapi dengan cepat mobil Saga melewati tanda tujuannya pergi bukanlah bekerja melainkan sesuatu yang lain.
Saga kemudian membelokkan mobil menuju sebuah komplek perumahan. Sekali belok dan terus menyusuri jalan lurus dengan rumah yang terlihat sama, dia berhenti di sebuah rumah bercat putih abu-abu. Dengan tulisan nama veronica di pagar rumah, Saga tetap mendekat meski pikirannya berkecambuk.
Ini adalah masalahnya. Saga tak boleh menghindar, apapun solusi yang diberikan dia akan menyetujui kecuali pernikahan. Saga telah berkomitmen hanya akan menikahi satu wanita yaitu Lizzy. Tiada wanita lain.
Dengan sedikit keberanian Saga mengetuk pintu rumah bibi Crystal, Veronica. "Sebentar!" suara seorang wanita paruh baya menyambut disertai dengan bunyi langkah berjalan mendekat.
Mata Saga langsung bertemu dengan Veronica, sontak dia memulas senyum tipis bermaksud ramah beda hal Veronica, dari tatapan tajam jelas dia tak menyukai kedatangan pria itu.
"Mau apa ke sini?"
"Saya mau ketemu sama Crystal, apa dia ada?" Saga balik bertanya dengan nada yang sopan.
__ADS_1
"Dia nggak ada, pergi sana jangan datang ke rumah kami nanti dilabrak lagi sama istrimu. Sudah cukup kami malu ya karena kamu, para tetangga selalu membicarakan keluarga kami!" sahut Veronica mengomel. Dia terlanjur sakit hati dengan ucapan Lizzy yang merendahkan Crystal dan sangat berharap tidak akan bertemu lagi dengan wanita itu termasuk Saga.
"Tapi Bibi saya datang ke sini punya maksud yang baik, saya bersedia mengambil tanggung jawab menjadi ayah dari anak yang dikandung Crystal,"
"Tidak usah repot, saya bisa menghidupi satu orang lagi. Gaji saya lebih dari cukup," putus Veronica mencoba untuk cepat menyelesaikan perbincangan mereka berdua.
Belum sempat berucap suara langkah kaki mendekat memperlihatkan sosok Crystal. "Saga, kau datang." Crystal tampak senang dan segera memeluk mantan kekasihnya. "Sudah kuduga kau tidak akan meninggalkanku."
Saga tidak membalas hanya memandang Veronica yang tampak emosi begitu melihat ekspresi Crystal. "Ayo masuk aku akan menyiapkan masakanan favoritmu, aku belajar masak loh," ajak Crystal seraya menarik tangan Saga.
"Crystal, aku datang ke sini hanya sebentar saja kau tak perlu memasak." Crystal langsung terdiam, raut wajahnya berubah. "Aku harus bekerja jadi aku datang ke sini membawamu memeriksa kehamilanmu."
Dalam sekejap ekspresi Crystal berganti ceria. "Kalau begitu tunggulah sebentar aku akan bersiap tidak akan lama." Kembali Saga dibiarkan sendiri bersama Veronica.
"Awas saja kalau kau menyakiti keponakanku, aku hanya diam karena menyayangi Crystal jadi bawa dan antar pulang baik-baik, paham?"
Saga mengangguk paham. Tidak memiliki pilihan selain patuh. Benar saja, Crystal sudah datang dan dia tidak sabar untuk pergi bersama dengan Saga. "Setelah ini apa kita akan pergi jalan-jalan?" tanya Crystal penasaran.
Merawat, membelikan perlengkapan bayi, lalu hidup bersama dengan dua orang yang ia cintai tapi Saga hanya mendengarkan. Terlalu sibuk berkonsentrasi dengan padatnya jalan raya sekarang. "Jadi bagaimana? Kau sudah bilang pada Lizzy kalau kau akan menceraikannya?"
"Boleh tidak jangan bicarakan itu dulu, akan lebih baik perhatikan dulu kesehatan janin dan kamu." Saga membalas terkesan sedikit kesal.
"Ya aku cuma mau memastikan saja. Aku tidak mau anakku ini kehilangan seorang ayah karena dia pokoknya kamu harus beritahu dia."
"Anakmu tidak akan kehilangan sosok Ayah, aku sudah bilang akan bertanggung jawab," sahut Saga tidak sabaran.
"Kau masih takut sama Lizzy? Kalau kau tidak bilang, biar aku memberitahunya sendiri." Tepat saat itu juga mobil berhenti. Mereka telah tiba di rumah sakit ternama. Percakapan mereka terhenti ketika Saga mengajaknya untuk masuk.
Crystal tampak nyaman menggelayut manja pada lengan Saga sedang mereka terus berjalan memasuki bagian dokter kandungan dan mengambil nomor antrean. Cukup lama menunggu sebenarnya karena banyak sekali pasangan yang memeriksakan bayi mereka.
__ADS_1
Sementara Crystal terus berkomentar terhadap beberapa pasien lain, Saga hanya memperhatikan jam berharap tidak memakan waktu lama.
"Nomor 134." Seorang perawat memanggil. Giliran Crystal yang diperiksa. Keduanya memasuki ruangan dokter kandungan.
"Selamat siang, ada yang bisa saya bantu?" tanya dokter dengan sopan.
"Kami datang ke sini untuk memeriksa bayi kami dokter sekalian berkonsultasi tentang kesehatan ibu hamil," jawab Saga.
"Oh boleh saja Pak kalau boleh tahu usia kandungannya berapa sekarang?"
"Dua bulan," jawab Crystal singkat.
"Jadi begini bapak dan ibu pentingnya menjaga kesehatan ibu hamil-"
"Dokter," ucap Saga tiba-tiba. "Bisa tidak usg dulu? saya mau melihat bayi di dalam perut," lanjutnya.
"Baiklah kalau mau kita usg dulu, boleh Ibu bersiap dulu?" Crystal mengangguk, dia berlalu bersama perawat.
"Dokter, untuk DNA berapa biayanya?" tanya Saga kembali begitu Crystal pergi.
"10 juta, apa anda mencurigai istri anda?" Dokter balik bertanya.
"Dia bukan istri saya, dia itu ... mantan pacar. Saya akan bayar berapapun asal Dokter bantu saya buat cek DNA," kata Saga nyaris berbisik.
"Itu bisa dilakukan hanya saja harus tunggu sampai usia kandungan 12 minggu." Dokter menjawab dengan tenang.
"Baiklah saya akan menunggu untuk ke depannya saya membawa Crystal ke sini untuk pemeriksaan sampai bulan depan."
"Dokter, pasien sudah siap," kata perawat.
__ADS_1
Lantas dokter segera bersiap-siap tak mau menunggu lama untuk pemeriksaan pasien. Saga ikut nimbrung menemani proses USG Crystal. Tiada tatapan semangat hanyalah ekspresi penuh kecemasan.
Di satu sisi ia lega karena dengan begini Saga tidak merasa bersalah.