Romansa Nakal

Romansa Nakal
Pemilik Jas


__ADS_3

Pagi hari Lizzy telah bangun. Selain menyiapkan sarapan dan bekal untuk Saga, tamu kecilnya juga harus dibangunkan untuk pergi bersekolah. Dari lantai dua terdengar suara langkah kaki mendekat.


Ade yang sudah siap dengan seragam menyantap roti bakar buatan Lizzy. Saat mata Saga bertemu dengan gadis kecil itu, tatapan tajam didapatkan olehnya.


"Saga kau mau sarapan?" tanya Lizzy dari dapur mengantar jus untuk Ade.


"Tidak aku bisa sarapan di sana." Saga membalas dingin.


"Kalau begitu bawa saja bekal untuk makan siang." Saga hendak membantah tapi Lizzy langsung menambahkan. "Aku akan katakan pada Ayah kalau kau berbuat buruk padaku!"


Pria itu terdiam sebentar lalu mendengus. "Dasar pengadu." Saga lalu melangkah maju mengambil bekalnya di atas meja makan.


"Hati-hati di jalan." Lizzy kemudian mengalihkan perhatiannya pada Ade. Dari pandangan mata gadis kecil itu jelas ia tidak menyukai Saga.


"Kakak selalu ya diperlakukan kaya gitu sama dia?" tanya Ade sambil mengoles selai coklat di atas roti bakar miliknya.


"Baru beberapa hari nanti juga pasti kami baikan lagi." Lizzy menjawab santai. "Ini juga bukan pertengkaran yang pertama kali jadi aku bisa melewatinya, jangan khawatir."


"Aku tidak akan memaafkan orang itu kalau dia kasar sama Kakak,"


"Iya, iya kakak ngerti. lebih baik cepat ke sekolah dari pada terlambat." Ade menurut saja ketika Lizzy menarik tangannya keluar dari rumah. Di depan teras ada mobil lengkap dengan sopir.


"Kau berangkat pakai mobil itu nanti pulang dijemput juga."


Ade terpana. "Jangan Kak, kalau pulang biar aku pakai kendaraan umum."


"Tapi terminal jauh dari sini. Lebih baik pakai supir aku akan minta dia juga untuk menjemputmu." Lizzy bisa melihat wajah tidak enak Ade, namun gadis kecil itu menganvgum lalu pergi.


Lizzy tidak memiliki banyak waktu. Dia langsung bersiap-siap pergi sambil membawa jas milik pria yang membantunya tempo hari. Terima kasih kepada Rian. Berkat temannya Lizzy dengan mudah mendapat alamat rumah dan alamat kantor dari pria itu.


Sungguh Lizzy tak sangka Saga akan menemukan jas tersebut dan marah besar. Beruntung ada Ade yang membelanya kalau tidak ... memikirkannya membuat Lizzy pusing. Dia sempat berpikir jika Saga akan menyakitinya sama seperti tempo hari saat pergelangan tangannya merah akibat cengkraman erat.

__ADS_1


"Nyonya mau ke mana?" tanya supir pribadi Lizzy.


"Tolong bawa ke alamat ini." Lizzy menyodorkan sebuah kertas berisi tiga alamat yang berbeda. "Bawa saya ke salah satu alamat itu." Supir mengangguk dan mobil pun pergi meninggalkan pekarangan rumah.


Dua dari alamat tersebut tidak ditemukan sosok pria yang membantunya. Tapi berkat pencarian Lizzy mendapat banyak informasi. Namanya Fusena, pria berusia 24 tahun tinggal sendiri di sebuah rumah kecil. Letak rumahnya berada di luar kota. Dia pria yang ramah, bergaul dan berkontribusi jika ada kegiatan masyarakat. Di tempat kerja pun Fusena sama ramahnya sehingga tidak seorang pun yang tidak mengenal beliau.


Tapi Fusena jarang pulang dikarenakan memiliki banyak pekerjaan di kota. Di tempat kerja pun mengatakan Fusena sedang cuti. Lizzy mengembuskan napas panjang. Hanya satu alamat yang tersisa, berharap jika pria itu ada di tempat tersebut. "Sekarang kita mau ke mana lagi Nyonya?" tanya si supir.


"Bawa aku ke alamat yang satunya." Mobil pun bergerak meluncur di jalan raya sedang Lizzy sibuk dengan ponsel. Saga tidak mengangkat telepon. Jangan membalas chat melihatnya saja tidak itu pun Lizzy yakin dia sudah di blok.


"Ya ampun pria itu, sifatnya selalu saja kekanak-kanakan," ketus Lizzy jengkel. Terpaksa dia harus bertanya sama Ayah Mertua. Kalau saja dia mengangkat telepon Lizzy tak akan mengadu.


Mobil berhenti dan supir mengisyaratkan pada Lizzy sudah sampai. Lizzy belum menghubungi Mahendra jadi ia memutuskan untuk mengantar jas tersebut dulu.


Lizzy terpaku beberapa saat. Di hadapannya sekarang adalah sebuah bar di mana pelanggan mereka ialah orang yang cukup berumur terbukti beberapa pria tua berjalan keluar atau pun masuk.


Lizzy lantas masuk ke dalam di mana orang-orang tengah bersenda gurau. Terlalu pagi untuk membuka bar namun mengingat peminat yang banyak mungkin hal ini juga alasan kenapa mereka memulai bisnis mereka di pagi hari.


Lizzy langsung menoleh dan terpaku. Bartender yang tersenyum tampak mengenali Lizzy saat mata mereka bertemu. "Kau wanita itu yang bajunya basah."


"Ya." Lizzy gelagapan. Saking kagetnya, dia tak tahu harus mengatakan apa. Sekarang otaknya tumpul dan kata-kata yang ingin keluar dari bibir hilang sempurna. "Umm, aku sebenarnya datang ke sini untuk memberikan jasmu."


Fusena menerimanya seraya mengucapkan terima kasih. "Oh iya aku belum memberikanmu minuman mau pesan apa?"


"Ah tidak, aku cuma datang ke sini untuk membawakan jasmu. Terima kasih tapi aku harus pergi!" Lizzy hendak berdiri tapi tangannya langsung digenggam oleh Fusena.


"Kau sudah mencuci jasku biarkan aku membalas budi dengan mentratrimu minum." Bukannya tertuju pada pria itu, Lizzy lebih tertarik pada genggaman Fusena.


"Oh maaf aku tak sopan." Fusena lalu melepaskan tangan Lizzy. Dengan senyum sungkan, dia meminta Lizzy untuk duduk.


Lizzy kemudian duduk tanda menerima tawaran Fusena. "Aku tidak minum alkohol bisa buatkan milkshake?"

__ADS_1


"Tentu." Tak lama di hadapan Lizzy sudah ada milkshake rasa strawberry. Meski enggan akan tetapi Lizzy tetap menerima niatan baik Fusena.


"Oh iya kita belum berkenalan. Aku Fusena, panggil saja Sena. Siapa namamu?"


"Aku Lizzy," jawab Lizzy. "Waktu itu aku belum sempat berterima kasih kau sudah pergi duluan. Terima kasih karena sudah menolongku, kalau tidak entah apa yang terjadi."


"Santai, bukannya memang kewajiban kita menolong satu sama lain. Aku kasihan melihatmu saat itu jadi aku keluar dari mobil dan memberikan jasku. Aku juga sedang sibuk jadi aku asal pergi saja, aneh ya kau bisa datang ke sini padahal aku tak memberikan alamatku. Aku sempat ikhlas kalau jas itu sudah tak kembali," tutur Sena panjang lebar.


Lizzy tertawa hambar. Tidak mungkin menjelaskan dari mana ia mendapatkan alamat Sena. "Tapi ada satu alasan lagi kenapa aku menolongmu?" Lizzy menghentikan tawanya menatap heran pada pria itu.


"Kau cantik." Langsung ekspresi Lizzy menjadi kesal. Awalnya berpikir jika Sena tidak seperti lelaki lain tapi sama saja. Lelaki suka sekali merayu wanita.


"Rayuan yang manis tapi itu sudah basi." Lizzy menyahut dengan sebal.


"Aku tidak merayumu Lizzy, kau memang cantik." Lizzy terdiam. Ia menatap serius Sena berharap ada ekspresi bercanda tapi sayang Lizzy tak menemukan sirat mata yang aneh.


Sena serius.


Suara dering telepon memutuskan kontak mata antara Lizzy dan Sena. Di layar ponsel terdapat chat dari Saga yang mengambil gambar tupperware kosong dengan caption "Puas, kan?"


Lizzy tertegun untuk sesaat. Dia kembali menatap Sena di hadapannya lalu berdiri mendadak. "Aku harus pergi. Terima kasih atas milkshakenya."


Sena ikut berdiri. "Kalau begitu bisa kita tukar kontak, supaya kita bisa sering chat." Tangan pria itu merogoh saku celana mengeluarkan smartphone.


"Tidak bisa!" tolak Lizzy cepat. "Suamiku akan marah kalau dia tahu ada lelaki lain sering menghubungiku. Aku juga tak mau kau dihajar olehnya karena aku."


Lizzy berkata dengan sorot mata serius. Setelah melihat Saga memukul Rama, dia tak mau Sena bernasib sama. "Selamat tinggal." Wanita itu kemudian pergi tanpa menoleh ke belakang melihat Sena yang menatap sedih.


Saat dia menghilang Sena mengembuskan napas kasar. Datanglah seorang pria menepuk pundaknya. "Kan sudah aku bilang jangan membantu dia. Dia itu target kita, tidak boleh ada perasaan antara target dan mata-mata. Kau juga gila sekali, kenapa menyukai seorang wanita yang sudah menikah?"


"Mau bagaimana lagi. Sejak aku melihatnya, aku tak bisa melepas pandanganku dari dia."

__ADS_1


__ADS_2