Romansa Nakal

Romansa Nakal
Perjuangan


__ADS_3

"Kenapa kau menatapku seperti itu?" tanya Lizzy dengan nada serak.


"Cuma mau memandang saja," jawab Saga cepat. Pria itu lalu berjalan meninggalkan Lizzy sendiri, sepertinya dia benar-benar marah.


Lizzy mendecak sebal melihat sikap perubahan Saga. Jelas ini akan jadi penghambat dan sekarang Lizzy harus menjalankan rencana B. Jujur rencana cadangan yang dibuat membuat wanita itu tak nyaman namun demi lancar misi Lizzy akan tetap melakukannya. Mudah-mudahan bisa meredam amarah Saga.


Keesokan paginya, sebagai seorang istri Lizzy sudah menyiapkan sarapan. Begitu juga dengan pakaian kerja dan hal-hal yang dilakukan seorang istri. Derapan langkah menyita perhatian Lizzy. Saga melangkah turun penuh angkuh. Tatapannya tak kalah menjemukkan hanya saja Lizzy berusaha untuk tak kesal.


"Kau tak memakai pakaian yang aku siapkan," kata Lizzy.


"Aku tidak suka bajunya." Saga berjalan pergi meninggalkan Lizzy tanpa sepatah kata pamit.


"Kau tak mau sarapan dulu?"


"Aku bisa makan di luar." Punggung Saga akhirnya menghilang dari balik pintu. Dia benar-benar tak peduli dengan Lizzy, kekecewaan masih dirasakan oleh pria itu.


Tak ubahnya dengan Saga, Lizzy segera menggebrak meja makan dengan keras. Dia tertawa. "Saga sialan! Dia benar-benar mengabaikanku."


Seorang pelayan mendekat bertanya pelan. "Nyonya bagaimana dengan makanannya?"


Lizzy mengatur napasnya lebih teratur. Diberikan senyuman kepada si pelayan. "Tolong masukkan ke dalam tupperware sebagian. Aku akan membawanya ke kantor. Sisanya kalian bisa makan,"


Tidak boleh menolak jika ada maka tahap kedua muncul yaitu pemaksaan.


❤❤❤


Pintu kantor Mahendra diketuk. Saga kemudian muncul menghampiri Ayahnya yang sibuk bercakap-cakap dengan sekretaris. Ketika melihat Saga, Mahendra segera meminta sekretarisnya untuk pergi.


"Kenapa Ayah memanggilku?" tanya Saga segan. Mahendra mendekati Saga. Tidak berkata apapun, pria paruh baya itu mendorong anaknya keluar dari kantornya.


"Ayah, kita mau ke mana?" tanya Saga sekali lagi.


"Cukup ikut saja aku." Mahendra membalas datar. Mereka pun sampai di kantin kantor dan di depan mereka ada sosok seorang wanita membelakangi sambil mengetuk meja dengan jarinya.


Melihat punggungnya Saga sadar siapa wanita itu. Langkahnya terhenti begitu saja namun tangan Mahendra berusaha agar tubuh Saga maju.

__ADS_1


Wanita itu berdiri, membalikan tubuh seraya menyunggingkan senyuman manis. "Maaf Ayah sudah merepotkan Ayah." kata wanita itu yang tak lain ialah Lizzy.


"Tidak apa-apa menantuku. Lain kali kalau dia bebal kepadamu bilang sama Ayah nanti Ayah yang bantu dan kamu Saga," Saga menoleh pada Mahendra.


"Lain kali sarapan dulu baru masuk ke kantor. Hari ini kau makan siang dengan Ayah, paham?"


"Baik Ayah," balas Saga singkat dengan nada malas. Mahendra pergi sedang Saga menghampiri Lizzy yang tersenyum manis.


"Sudah puas?" tanya Saga ketus.


"Tentu. Ayo makan sebelum dingin!" Itu bukan permintaan melainkan perintah.


"Tidak, aku tidak lapar." Suara perut menginterupsi pembicaraan mereka berdua. Lizzy tersenyum melihat Saga dengan mukanya yang merah, malu.


"Aku rasa tubuhmu tak bisa menolerir lagi ayo kita makan." Lizzy lantas membuka tupperware dan dalam sekejap aroma enak makanan tercium membuat perut Saga makin menjerit meminta makanan.


Mencoba santai, Saga dengan tak mengubah sikap duduk di depan istrinya. Lizzy sendiri sibuk mengambil lauk pauk dalam suatu piring untuk diberikan pada Saga.


Dia kemudian mengulurkan piring tersebut ke depan Saga tapi sifat keras kepala membuat pria itu acuh tak acuh kepada Lizzy. Lizzy menyadari sikap Saga dan menghela napas panjang.


Saga diam tidak seperti biasanya yang selalu menyambut ucapan sarkastik Lizzy. Dia benar-benar berusaha menjauhi istrinya sendiri dan mungkin selama Lizzy tak mengungkap alasannya maka Saga akan selalu dingin.


Lizzy tidak melakukan banyak hal dengan menyantap makanan sendiri dan untuk pertama kalinya mereka berdua tak mengoceh. Setelah piring Saga habis, lelaki itu berdiri hendak pergi namun Lizzy mencegatnya dengan menahan tangannya.


Tupperware lalu dikeluarkan dari dalam tas diberikan pada Saga. "Nanti makan siang bareng Ayah. Aku ingin kamu habiskan." Saga menerimanya tapi raut wajahnya datar telah mengartikan banyak hal kepada Lizzy.


"Lain kali tak usah kau memasak aku akan makan di luar seterusnya jadi kau tak usah berpura-pura peduli padaku."


"Apa maksudmu? Selain tak mau berbicara, kau ingin aku tak menjalankan kewajibanku sebagai seorang istri?" sungut Lizzy kesal.


"Bukannya kau sendiri yang menganggap pernikahan kita cuma permainan?" Saga menatap Lizzy penuh emosi. Suasana hatinya sangatlah buruk untuk sekarang.


"Untuk sekarang kita jaga jarak dulu. Aku tak mau bertemu denganmu sampai kau menyadari kesalahanmu dan soal permainan bodohmu sebaiknya hentikan saja!" Kemudian Saga pergi meninggalkan Lizzy sendirian. Wanita itu mendecih, menggerutu bahwa Saga adalah pria pengecut.


Sekarang apa yang harus dilakukan? Saga tidak mau berbicara dengannya masa dia harus meminta maaf? Ego Lizzy terlalu tinggi untuk merendahkan diri terutama di hadapan suaminya.

__ADS_1


Kepala Lizzy jadi pusing sekarang jadi ia memutuskan untuk pergi. Taksi segera dipanggil dan tak lama taksi pergi dari perusahaan.


"Mau ke mana Nona?" tanya si supir.


"Ke Sepera." Tanpa banyak bertanya lagi si supir lalu menuju tempat yang dituju. Ada pun Sepera yang dimaksud oleh Lizzy ialah sebuah kompleks ramai setiap saat.


Sesampainya di sana, Lizzy lalu turun setelah membayar. Orang-orang berlalu lalang di kompleks kebanyakan mereka duduk sambil mengobrol di depan rumah atau tempat tongkrongan.


Lizzy terus berjalan tanpa mengindahkan pandangan orang sekitar terhadapnya. Ia lalu mengambil jalan kecil di samping kiri barulah suasana agak sepi hanya satu dua orang terutama anak-anak yang sedang bermain.


Tibalah Lizzy di sebuah rumah kecil terhimpit antara dua bangunan yang jauh lebih besar. Lizzy mengetuk dan muncul sosok wanita cantik dibalut dengan celemek. Matanya yang berbinar terkejut melihat sosok wanita dihadapannya itu.


Dipeluknya Lizzy lalu menarik tangan agar masuk. "Sudah lama sekali kau tak datang ke sini, bagaimana kabarmu? Kau sudah baikkan?" tanya si wanita.


"Aku baik. Ada begitu banyak pekerjaan jadi aku tak sempat datang ke sini. Kabarmu bagaimana sama anakmu?" Lizzy balik bertanya setelah menjawab.


"Baik kok. Anakku lagi ada di sekolah sekarang. Sudah sarapan? Aku buatin nasi goreng."


"Makasih tapi aku sudah kenyang." Si wanita cemberut.


"Ok nggak apa-apa." Dia meletakkan sebuah piring di atas meja dan menatap Lizzy yang sibuk dengan ponsel. "Kenapa kamu datang ke sini?"


"Aku cuma mau melihatmu dan juga anakmu," balas Lizzy santai.


"Bohong!" bantah si wanita cepat. "Kamu pasti punya masalah kalau datang ke sini sama seperti waktu itu."


Lizzy masih tak menjawab. "Mantan pacarmu menganiayamu lagi? Atau kau tidak akur sama keluargamu?"


kali ini Lizzy tersenyum. "Aku tidak akur sama suamiku!" mata si wanita membulat.


"Kau menikah? Kok tak kasih aku undangan?!" kesalnya.


"Maaf itu tiba-tiba sekali jadi aku tak sempat mengabarimu. Aku datang ke sini untuk meminta saran." kening si wanita mengkerut.


"Mau saran apa?"

__ADS_1


"Bagaimana cara membuat pria yang membencimu suka padamu lagi." Lizzy menyeringai.


__ADS_2