
Lizzy bergegas keluar dari bar itu dan masuk ke dalam mobil. Sebelum mengatakan apapun sosok Sena keluar juga sambil menenteng sebuah botol anggur. "Tunggu sebentar!" cegatnya.
Sena berjalan mendekat, mengetuk kaca mobil. Lizzy sebenarnya tak mau tapi tak enak juga lihat Sena berdiri. Terpaksa ia membuka kaca mobil menatap datar pada soaok itu.
"Ada apa?"
"Ini ada hadiah buat kamu." Sena memberikan sebotol anggur tersebut kepada Lizzy. Tidak ingin berinteraksi lebih banyak Lizzy memutuskan menerima botol anggur tanpa berniat menatapnya.
"Sampai jumpa Lizzy, semoga kita bisa bertemu lagi." Sena memberikan senyum saat Lizzy menatapnya. Ingin dia menyela tapi Sena langsung menyodori sebuah kertas berisikan nomor ponsel. "Kalau ingin teman bicara kau bisa menghubungiku."
Mobil kemudian berjalan setelah mendapat isyarat Sena. Lizzy hanya bisa melihat sederet nomor tersebut dengan kesal. Mengapa pria itu sangat memaksa? Seakan dia ingin bertemu atau mencoba menghubungi Lizzy dengan cara apapun.
Lizzy sudah mengatakan jika dia memiliki suami tidakkah itu cukup bagi Sena untuk menghindar? Dia hanya mencari mati. Dimasukan nomor telepon tersebut ke dalam saku tas, merasa tidak penting lagi dan melanjutkan urusan dengan ponsel miliknya.
Karena Saga sudah memberikan pesan yang bagus jadi Lizzy tak perlu khawatir. Sekarang ayo mulai ke rencana selanjutnya. Membuat Saga cemburu. Rencana ini akan mendapat resiko besar tapi jika tidak melakukan hal ini pula maka Saga pasti bersikap dingin.
Lizzy tersenyum dingin. Dia pikir hanya dia saja yang punya selingkuhan, Lizzy pun memiliki seorang kekasih juga. Lizzy lalu mengetik sebentar dan menghubungi seseorang.
Pria kaya nan tampan, kekasih palsunya. Gail.
"Halo," ucap Gail dari seberang sana.
"Kau sedang apa?"
"Oh kau, aku sedang membuat laporan bersama sekretarisku. Ada apa? tumben kau baru menelepon kekasihmu ini. Kau rindu?"
Lizzy tersenyum. "Kita sudah lama tidak bertemu tentu saja aku rindu. Kau punya waktu? Aku ingin bicara."
"Baiklah, jam istirahat ini aku kosong. Bisa kau datang ke kantorku?"
"Boleh, aku akan ke sana aku bosan sekali tinggal di rumah." Tidak lama Lizzy menutup telepon dan meminta supirnya menuju perusahaan milik Gail.
"Nyonya yakin tidak mau saya di sini untuk menunggu Nyonya?"
__ADS_1
"Ya aku yakin, aku nanti bisa di antar sama temanku." Lizzy menyahut tenang.
"Tapi bagaimana kalau Tuan mencari Nyonya, bisa-bisa saya yang terkena masalah," kata supir bersikukuh.
"Kalau kau yang terkena masalah biar aku hadapi Tuan. Katakan saja dengan jujur kalau kau membawaku ke sini ok?" Sebelum sempat supir membalas, Lizzy langsung berpamitan pergi.
Lizzy yang tidak mau menjadi pusat perhatian meminta agar bertemu saja di tempat parkiran. Hanya butuh lima menit, Gail datang dan keduanya saling melempar senyuman. "Sudah lama menunggu?"
"Belum ayo kita cepat pergi, aku bosan di sini terus." Gail menuruti permintaan Lizzy dan sama-sama masuk ke dalam mobil.
"Kita akan ke mana?" tanya Lizzy tertarik.
"Nanti juga kau akan tahu sendiri." Mobil porsche milik Gail melaju dengan cepat meninggalkan semua kebisingan kota. Tepat saat itu juga Gail membuka atap mobil membuat Lizzy puas.
Dengan kecepatan mobil Gail mereka sudah sampai di tujuan. Gail keluar dan memberikan kunci tersebut pada seorang karyawan di sana. "Tolong parkir dengan baik, aku tak mau mobilku lecet."
"Baik Tuan." Lizzy dan Gail kemudian masuk ke dalam restoran. Letaknya dengan kawasan permainan golf jadi di samping restoran tersebut terdapat hamparan lapangan golf yang begitu indah.
"Aku sama sekali tidak keberatan, pemandangan di sini bagus. Oh ya, aku membawa anggur kita bisa minum berdua." Lizzy berujar seraya memperlihatkan botol anggur yang tua tersebut.
"Wah ini mahal sekali. Dari mana kau mendapatkan ini?" tanya Gail kegirangan. Dia sangat suka minuman anggur yang enak.
"Dapat dari kenalan. Dia memberikanku secara cuma-cuma. Ayo buka." Gail segera meminta seorang pelayan membuka botol anggur sedang mereka menunggu pesanan makanan yang dibuat.
"Jadi kau ingin bicara apa denganku? Sangat penting sekali kedengarannya saat kau bicara lewat telepon."
Lizzy menyesap anggur di dalam gelas lalu menatap sayu Gail. "Bagaimana kabarmu? Aku harusnya sering menghubungimu tapi malah aku lupa,"
"Aku baik-baik saja. Aku sering sibuk sendiri dengan pekerjaan. Kau malah mengalihkan percakapan. Katakan ada apa?" tanya Gail lagi.
"Kami punya masalah dan aku tidak tahu harus melakukan apa lagi supaya Saga bisa memercayaiku."
Gail mengerutkan dahi. "Sangat marah?"
__ADS_1
"Sangat, sangat, sangat, marah." Lizzy berucap lesu.
"Aku tidak mengerti sekarang. Kau bilang membencinya lalu kenapa ingin mendapat kepercayaan Saga?" Gail bertanya dengan bingung.
Lizzy mendengus. "Ya karena dia suamiku. Tidak enak sekali saat kau berada di rumah yang sama lalu bersikap dingin. Hidup rumah tangga itu hambar kalau tidak ada komunikasi sementara kami sering bertengkar. Aku sama sekali tidak masalah kalau kami saling kesal satu sama lain tapi aku tidak mau diabaikan oleh suamiku sendiri."
Gail termenung. "Jadi kau mulai menyukai Saga?"
Untuk sesaat Lizzy berpikir lalu menggeleng. "Aku sama sekali tidak jatuh cinta." Dia kemudian menatap Gail dengan pandangan serius. "Aku hanya nyaman dengan Saga. Selama beberapa bulan ini, aku sudah terbiasa dengan dia. Sifatnya, wajah, bahkan harum tubuh Saga semuanya seperti makananku sehari-hari. Ini mungkin terdengar gila tapi aku rindu dengannya yang dulu. Rasanya frustasi sekali."
"Lalu bagaimana dengan balas dendammu? Kau sudah tidak mau melakukannya?"
"Soal itu, aku bingung juga. Apa yang harus kubuktikan dari suamiku? Dia sudah putus hubungan dengan semua kekasihnya. Kalau aku memperlihatkan video yang aku ambil, aku rasa Saga sama sekali tak keberatan jadi aku harus pikir apa yang membuatnya sakit hati sampai-sampai tidak bisa move on."
Gail tertawa kecil. Perkataan Lizzy sedikit lucu baginya. Ketika semua istri mencoba berbuat baik demi suami malah Lizzy memilih untuk menjatuhkan Saga.
"Kalau boleh tahu permasalahannya apa?"
"Dia marah padaku karena sadar kalau aku menikahinya tanpa tujuan, minta maaf saja tidak bisa membuat marahnya reda. Semalam aku mencoba berbaikan dengannya tapi Saga malah marah karena mendapati jas pria di dalam lemariku."
Gail menganggukan kepala paham. "Lalu ada yang bisa aku bantu?" Alisnya terangkat sedang salah satu sudut bibir terangkat membentuk senyum sinis.
Lizzy pun ikut menyeringai. "Tolong bantu sembunyikan aku. Di apartemen, vila atau di mana saja yang jelas aku tidak bisa ditemukan oleh Saga."
"Oh, kau mau dia mencarimu ya?"
"Tepat, aku mau melihat apa dia masih peduli padaku atau tidak. Ini adalah kesempatan terakhir di mana aku ingin tahu perasaan dia yang sebenarnya. Bisa tidak?"
"Itu bisa diatur. Tapi kenapa kau minta bantuan padaku? Bukannya kau masih memiliki beberapa orang yang bisa dipercaya?"
Lizzy tertawa kecil. "Karena kau kekasihku, kalau kau yang menyembunyikanku dampaknya pasti lebih dashyat."
Gail memandang Lizzy dengan ekspresinya kesal namun tak bisa menyembunyikan senyum dan mengacak rambut Lizzy gemas. "Jadi kapan mulai rencananya?"
__ADS_1