Romansa Nakal

Romansa Nakal
Meminta Maaf


__ADS_3

Saga akhirnya kembali ke kamar setelah mengobrol serius dengan sang Ayah. Ternyata mereka berdua memiliki pemikiran yang sama dan sepakat untuk membuat Rama jera atas perbuatannya kepada Lizzy. Pintu kamar terbuka menampakkan sosok Lizzy tengah sibuk di depan cermin. Karena beberapa malam berada di rumah sakit, wanita itu memiliki waktu sedikit untuk merawat diri jadi ini kesempatannya.


Saga lalu mengambil tempat duduk di tepi ranjang dekat dengan sang istri yang sibuk mengoleskan krim malam di wajah. Meneliti sikap Lizzy, ia mendadak bingung sendiri. Saga teringat jika dari tadi Lizzy sempat menangis dan menunjukkan gelagat aneh tapi sekarang tampak biasa saja bahkan perempuan itu bisa tersenyum meski tipis. "Lizzy,"


"Hmm ..." balas Lizzy singkat.


"Kau baik-baik saja?" Pertanyaan Saga membuat Lizzy heran. Seraya mengkerutkan dahi Lizzy menoleh kearah suaminya.


"Kenapa kau tiba-tiba bertanya seperti itu?" Lizzy balik bertanya.


"Yah tidak, cuma aneh saja. Dari tadi kau menangis karena Rama dan-" Saga menghentikan perkataannya karena tatapan Lizzy yang tajam. Yah ini sudah kesekian kali istrinya itu memandang tajam tapi tidak seperti biasa yang selalu memperlihatkan kekesalan. Untuk beberapa saat suasana hening. Saga terlalu tegang untuk membuka suara sebab pandangan istrinya tidak pernah teralih sedikit pun.


Decakan keluar dari bibir Lizzy diselingi dengan senyum mengejek. "Kenapa? Khawatir padaku ya?," ejek Lizzy. "Oh iya dari tadi kau menghapus air mataku dan menonjok Rama karena aku, ternyata suamiku sangat perhatian sekali."


Saga mendengus serta menampakkan wajah cemberut. Ternyata Lizzy tidak berubah, Ia malah makin meledeknya sungguh kebiasaan buruk. "Harusnya aku tidak membantumu ya dari tadi," gumam Saga.

__ADS_1


"Apa?!" sahut Lizzy tiba-tiba. Kedua matanya melotot memandang pria berusia 25 tahun tersebut.


"Apanya yang apa?" tantang Saga.


"Yang dari tadi!?" Lizzy membalas sengit, tak suka dengan sikap pura-pura sang suami.


"Oh itu aku bilang kamu cantik kok!"


"Bohong!" bantah Lizzy. "Aku dengar kamu menyesal, kan?!"


"Suamiku!" panggilan Lizzy otomatis membuat Saga menoleh. Sebuah bantal melayang tepat ke arah wajahnya. Dengan cekatan ia menangkap lalu melemparnya kembali pada Lizzy. "Jangan cari gara-gara, aku capek." Saga kemudian melengos masuk ke dalam kamar mandi.


Sementara Lizzy yang menampakkan wajah cemberut duduk lagi di tempatnya segera setelah meletakkan bantal tersebut ke atas ranjang. Dia kembali sibuk dengan perawatan kulit hingga matanya tak sengaja melihat pantulan bayangan di dalam cermin. Ditelitinya wajahnya baik-baik. sepasang mata hazel, hidung yang kecil serta kulit wajah terawat dengan baik.


Ya, Lizzy cantikĀ  dan juga pintar. "Aktingmu bagus sekali," Sejak mereka pulang dari reuni Lizzy menyadari kecurigaan Saga. beruntung dengan sifat galak serta suka meledek dia berhasil mengelabui suaminya itu. Senang, sudah pasti namun ini menandakan dia harus cermat dalam mengamati situasi.

__ADS_1


Sepertinya pemikiran Lizzy salah tentang Saga dan harus mulai berhati-hati kepadanya. Semua rencana harus berjalan lancar, tidak ada yang boleh melakukan kesalahan termasuk ia sendiri.


************************************************************************************************************************************


Sejam kemudian Saga keluar dengan senyum merekah. Rasanya enak sekali berendam lama setelah beberapa hari tidak mandi. Baru mengambil langkah, pria itu tertegun. Kamar menjadi gelap dan hanya diterangi lampu kamar yang letaknya di atas meja.


Saga membuang napas pendek. Ini pasti sebab pemasalahan tadi. Dengan malas pria itu menyalakan lampu dan mencari baju di dalam lemari. Membuka benda itu Saga terkejut melihat baju-baju Lizzy dan terkesan berantakan memenuhi lemari tersebut.


Oh ya, Lizzy ke kamar ini setelah Ayah dan Ibu tiba-tiba datang ditambah Saga kecelakaan dan istrinya selalu memperhatikannya jadi tidak ada waktu untuk membereskan bajunya. Saga rasa sudah saatnya merenovasi kamar jika orang tuanya sudah pulang. Tak lama segera mengganti baju, pria itu lalu ke tepi ranjang.


Masih dengan pemikiran yang sama, Saga masih saja bingung. Kenapa Lizzy sangat mudah melepaskan Rama? Padahal pria itu sudah melakukan sesuatu yang sangat buruk. Saga yakin jika selama pacaran Lizzy memang tak bahagia dengan Rama. Bagaimana caranya membujuk Lizzy supaya dia mau melaporkan mantan pacarnya.


Dalam kesunyian itu tiba-tiba terdengar suara rintihan. Saga terkejut, dengan waspada dia melihat ke segala arah. Setelah memastikan barulah pria itu sadar jika suara tersebut dari belakangnya. Perlahan Saga mendekati Lizzy yang masih menutup mata. Suaranya pun terkesan sedih, penuh penderitaan. Jelas sudah Lizzy sedang mengingau.


Tapi kenapa dia terdengar seperti menangis? Napasnya pun tersendat-sendat. Saga jadi tak tega membangunkannya. Pria itu lalu meraih tangan Lizzy, membalikkan tubuh wanita agar menghadap ke arahnya kemudian mengalungkan tangannya ke pinggangnya dan mendekat. Dia pun memeluk juga Lizzy sambil mengusap kepala sang istri.

__ADS_1


"Jangan menangis ada aku di sini. Kau baik-baik saja sekarang," bisik Saga lembut. Sambil mengucapkan kalimat itu, Saga terus membelai kepala Lizzy atau pun pundaknya sampai Lizzy tak mengingau lagi dan dia tertidur pulas lagi.


__ADS_2