Romansa Nakal

Romansa Nakal
Aura Yang Berbeda


__ADS_3

"Maafkan aku," lirih Jasmine.


"Sudah seharusnya," balas Lizzy. "Aku mau pulang dulu nanti akan kuhubungi lagi begitu sampai." Dia lalu bergerak pergi meninggalkan Jasmine yang menatapnya cemas hingga Lizzy tak kelihatan lagi barulah wanita berprofesi sebagai psikiater tersebut bernapas lega.


Setibanya di parkiran mobil ia menemukan Saga tengah berdiri seraya termenung. Entah apa pikiran pria itu sampai-sampai tak menyadari kehadiran Lizzy.


"Saga," panggilnya.


Tapi Saga hanya diam dan karena kehilangan kesabaran, Lizzy mendekat. Sekali lagi dia memanggil pria itu namun tidak ada jawaban yang membuatnya cukup kesal. "Saga!" seruan dari wanita itu akhirnya terdengar juga.


Saga otomatis mundur beberapa langkah sambil memperlihatkan tampang cengo yang bodoh. "Kenapa dari tadi kau diam saja? Ayo kita pulang."


Tidak ada bantahan dari sang suami dan segera menyalakan mesin mobil agar meninggalkan reunian tersebut. Tidak mudah untuk melupakan kata orang terhadap seseorang yang sudah dekat terutama seorang Lizzy.


Saga merasa hubungannya jauh lebih dekat setelah insiden kecelakaan beberapa minggu lalu tapi hanya karena ucapan seseorang Saga jadi ragu. Pria itu terlalu sibuk dengan pikirannya dan sebab hal tersebut, dia lebih menaruh atensinya kepada Lizzy bukan pada jalan.


"Saga awas!" jeritan Lizzy membuyarkan lamunan Saga dan segera menepikan mobilnya. "Kau kenapa? Kita nyaris saja menabrak pembatas jalan!" omel Lizzy kesal.


Mendadak Lizzy diam ketika melihat plester di kepala Saga. Dia jadi merasa bersalah karena meminta seseorang yang baru saja pulih menjalankan sebuah mobil.


Lizzy kemudian keluar dari mobil dan membuka pintu mobil di mana Saga berada. "Keluar sekarang." itu bukan permintaan tapi sebuah perintah. Tidak banyak berkata Saga keluar dari tempatnya lalu bergerak ke kursi depan yang awalnya diduduki oleh Lizzy dan bergegas memakai sabuk pengaman.


"Kau tahu bagaimana mengemudikan mobil?" tanya Saga.


"Ayah yang mengajarkanku tenang saja cuma agak cepat sedikit," senyuman Lizzy membuat badan Saga merinding pria itu lantas berdoa dalam hati, berharap dilindungi.


Lizzy menyalakan mesin mobil dan menekan gas. Awalnya tidak ada masalah tapi lama kelamaan, Saga menyadari kecepatan mereka terus bertambah.


"Lizzy jangan ngebut, ini jalanan umum bagaimana kalau kita menabrak sesuatu?"


"Diam ini aku sedang berkonsentrasi." Tidak lama setelahnya mereka menemui lampu lalu lintas berwarna merah sehingga mereka berhenti.


"Kau takut ya?" tanya Lizzy tiba-tiba.


"Tidak!" bantah Saga singkat.


Namun bukannya kesal Lizzy malah tertawa. "Jangan berbohong, takut itu manusiawi." Saga tidak membalas, memasang muka datar sambil memperhatikan pandangan lantas tertumpu pada sepasang mata coklat sang istri.


"Kenapa memandangku seperti itu? Kau takut padaku?" tanya Lizzy masih membuat senyum namun kali ini tampak mengerikan.


Saga yang tidak mampu bersuara cuma menggeleng. Tak sadar lampu lalu lintas berwarna hijau dan mobil pun kembali melaju di jalan raya.

__ADS_1


"Lizzy, boleh aku bertanya sesuatu?" tanya Saga dengan nada rendah.


"Tentu, kau mau bertanya apa?" Lizzy balik bertanya.


"Kenapa kau bisa putus dengan Rama?" Pertanyaan Saga tidak dijawab oleh yang bersangkutan, Lizzy memperhatikan Saga melalui ekor mata dengan sinis sebentar.


"Kau tak lihat bagaimana dia memperlakukanku tadi? bagaimana aku bisa bertahan dengan seorang pria yang suka memukul begitu?!" jawab Lizzy kesal.


"Kau meragukanku?"


"Tidak! Hanya saja dari tadi aku ketemu dengan Rama dia bilang kalau kau tidak menghargai apa yang dia lakukan selama kalian berpacaran." Saga menyahut jujur.


"Oh ya? Dia bilang apa lagi?"


"Hanya itu saja." Lizzy menganggukan kepala mengerti.


"Semua yang dikatakan oleh Rama itu benar, aku hanya merasa hubungan yang namanya pacaran bukan untukku. Aku menghargai apa yang dia lakukan seperti mengantarku ke sekolah, menemaniku kemana saja memberikanku hadiah ... tapi aku tidak bisa merasakan apa yang dirasakan olehnya padaku," tutur Lizzy panjang lebar. Dia lalu menoleh ke arah Saga dengan sirat mata yang tidak biasa.


"Aku tidak mencintai Rama, Saga." Saga terdiam. Dia jadi merasa bersalah karena berpikir hal yang tidak-tidak dan semua ini karena ucapan pria bejat itu.


"Aku berusaha membuatnya mengerti kalau ke depannya kita tidak bisa melanjutkan hubungan jadi aku minta putus tapi Rama tidak terima malah main kasar, dia mengancam kalau aku tidak menurut maka aku dihajar habis-habisan olehnya dan ...." Lizzy lalu menatap lurus ke depan, fokus dengan jalan raya yang padat.


"Lalu? Kau, kan sudah dipukul kenapa tidak melaporkan Rama ke polisi?" tanya Saga sengit. Seharusnya Rama sudah lama ada penjara, tapi apa yang dipikirkan oleh Lizzy dan keluarganya sehingga ancaman menjadi satu-satunya cara menghukum pria ringan tangan itu.


Padahal jika Rama berada di penjara itu tak sebanding dengan penderitaan Lizzy. "Saga?" panggilan Lizzy membuyarkan lamunan. Saga dengan melongo memandang ke arah sang istri yang juga bingung.


"Kau mau bermalam di mobil?" Lizzy bertanya.


"Ee, tidak," jawab Saga singkat.


"Keluarlah." perintah Lizzy yang jarang lembut itu langsung dipatuhi oleh Saga dan mereka masuk ke dalam rumah. Di ruang tamu ada Ayah serta Bunda.


Tampak mereka sedang tenggelam dalam pembicaraan. Keduanya saling menatap lekat sambil tersenyum satu sama lain seperti pasangan yang lagi kasmaran.


Baik Saga dan Lizzy cuma bisa memandang heran hingga di satu titik mereka menyadari jarak di antara pasangan yang mereka amati semakin menipis.


Mata keduanya membulat saat melihat bibir Ayah dan Bunda hampir bersentuhan. Wajah Saga memerah sementara Lizzy tersenyum lebar tertarik dengan adegan selanjutnya.


"Ayah, Bunda! Kami pulang!" suara nyaring Saga merusak suasana. Dia melirik ke tempat di mana Lizzy berdiri dan menemukan raut wajah kurang senang dari wanita itu.


Keluar decakan keluar seraya menatap Saga sendiri. "Eh kalian sudah pulang? Gimana reuninya?" tanya Yuna. Wanita paruh baya tersebut juga memberikan jarak dari suami sendiri.

__ADS_1


"Baik Bunda," balas Lizzy singkat diiringi senyuman tipis.


"Apanya yang baik?! Jari Lizzy hampir patah karena ketemu mantan yang toxic!" sela Saga kesal. Ayahnya lalu mendekati Lizzy dan menarik tangan sang menantu dengan hati-hati.


Luka, bercak darah yang berada di jari manis milik Lizzy menjadi bukti kalau ucapan Saga itu benar. Dengan emosi yang meluap Mahendra menatap Saga. "Lalu? Kau cuma diam saja?!"


"Justru karena Saga aku bisa tertolong. Kalau tidak ada dia, cincinku pasti sudah diambil," potong Lizzy tenang.


Mahendra lantas menaruh atensinya kepada menantu keduanya itu. "Siapa namanya? Biar Ayah yang hukum dia!"


"Tidak Ayah, aku sendiri yang salah karena menilai dia sudah berubah makanya tak menaruh curiga sedikit-" pundak Lizzy yang ditepuk oleh Mahendra mengejutkan wanita itu dan langsung memandang pada Ayah mertua.


"Ayah tak peduli soal itu. Yang Ayah pedulikan itu tentang kamu mau kamu salah atau tidak dia lebih salah karena sudah menyakitimu, paham?" Lizzy hanya menganggukan kepala pelan.


"Namanya Rama!" jawab Saga spontan.


Mahendra lalu mengalihkan perhatian ke anak bungsunya. "Tahu nama lengkapnya?" tanyanya menyelidik.


"Tidak tapi aku tahu wajahnya itu pun bonyok karena dari tadi aku pukul!" Saga membalas penuh semangat.


"Bagus! Itu baru putraku!" Kedua pria itu kemudian terlibat dalam percakapan serius untuk menghukum Rama sementara Lizzy dan Yuna pergi ke ruang keluarga untuk mengobati luka Lizzy.


Berkat bantuan Yuna, cincin Lizzy terlepas mudah menggunakan minyak dan segera diberikan obat merah. Untuk sementara Lizzy tidak bisa memakai cincin pernikahan sampai jari manisnya sembuh.


"Nah sudah selesai perbannya, nanti kalau kesulitan bilang sama Bunda ya." Lizzy menganggukan kepala paham.


"Untuk cincin pernikahanmu mungkin ...."


"Bunda dari tadi kenapa tidak melanjutkan kegiatannya?" tanya Lizzy tiba-tiba.


"Melanjutkan apa?" Yuna balik bertanya.


Lizzy tersenyum dan memperagakan dengan tangannya yang menguncup lalu menempelkannya layaknya orang ciuman. Pipi Yuna merona, senyum malu-malu dari Ibu mertua membuat Lizzy ikut senang.


"Tampaknya Ayah dan Bunda saling mencintai," kata Lizzy pelan seperti bergumam.


"Tentu saja sebelum kami menikah, kami sudah lama berpacaran. Dari dulu sampai sekarang Ayah selalu menjadi pria romantis," sahut Yuna masih tersenyum bahagia.


"Benarkah? Aku ingin sekali merasakan hal itu juga." Sorot mata Lizzy tertuju pada Yuna, ekspresinya menjadi datar seraya memandang sang Ibu mertua. Barulah dia tersenyum saat Yuna mengalihkan perhatian padanya.


Tapi setelah itu Lizzy kembali tidak memasang ekspresi dan jika ada hanya senyuman miring yang misterius.

__ADS_1


__ADS_2