Romansa Nakal

Romansa Nakal
ILY


__ADS_3

Lizzy tertegun. Ada begitu banyak terlintas pertanyaan namun dia tak akan bertanya pada Sena. Pria ini mencurigakan sekaligus berbahaya. Dia tak dapat dipercaya bagi Lizzy. "Tolong pertimbangkan baik-baik, bosku akan sangat senang jika kau datang ke perusahaan meski hanya untuk bertanya tentang kontrak."


Saat itu pula Saga berjalan menghampiri mereka berdua masih dengan kepala pusing tapi tubuhnya mulai terasa nyaman. Dia bahkan tak curiga melihat Sena dan Lizzy duduk berdampingan. "Lizzy, tolong aku."


Lizzy segera menghampiri memapah tubuh suaminya untuk duduk. "Wajahmu pucat sekali, kita pergi ke dokter ya," ajak Lizzy prihatin. Lizzy tak berbohong. Dia memang membenci Saga tapi tidak sampai mau menyakiti Saga dengan cara seperti ini. Sena sangat keterlaluan.


"Tidak aku tak mau ke dokter, ayo kita pulang saja." Saga lalu menoleh pada Sena. "Maaf ya, aku tiba-tiba sakit jadi tak bisa berlama-lama di pestamu."


Sena tersenyum. "Tidak apa-apa, kau juga harus istirahat terima kasih sudah mampir."


Lizzy mendelik. Amarahnya kembali memuncak karena Sena. Dia masih sempat berprihatin pada Saga padahal dalang dari Saga sakit adalah dia sendiri. "Aku tak akan memaafkanmu jika Saga makin parah,"


"Ok," jawab Sena tenang. Lizzy membantu Saga berdiri, memapah pria itu keluar dari pesta menuju penginapan mereka. Di sana Lizzy meminta bantuan dari dua orang pelayan lelaki untuk membawa Saga ke kamar.


"Apa Nyonya butuh dokter untuk memeriksa Tuan?" tanya receptionis.


"Tolong hubungi secepatnya, saya tidak mau kondisi suami saya makin parah." Tidak berangsur lama, seorang dokter datang dan memeriksa kondisi Saga.


"Gejalanya apa saja mbak?" tanya si dokter pada Lizzy.


"Dia muntah dan pusing setelah minum alkohol di pesta tadi. Aku rasa perutnya belum terisi makanan makanya dia jadi seperti ini."


"Itu cukup menjelaskan kenapa suami anda lemah. Saya akan beri vitamin sekaligus obat untuk lambung dan juga antibiotik usahakan minum sesuai resep dan tolong atur jadwal makannya. Suami anda akan saya infus sebagai pengganti cairan tubuh, kalau infusnya sudah habis tidak perlu diganti ya mbak. Kalau besok masih parah tolong bawa secepatnya ke rumah sakit." Dokter menuturkan panjang lebar.


"Baik dokter terima kasih." Dokter pergi sementara Lizzy mengikuti dari belakang. Lizzy kembali ke kamar mengembuskan napas panjang lalu duduk di kursi yang letaknya dekat dengan tepi ranjang.

__ADS_1


Disentuh tangan Saga yang kekar itu dan menggenggamnya erat. Seharusnya mereka tidak pergi ke pesta Sena atau bila perlu Lizzy saja yang minum tequela tersebut. Sekali lagi Saga terluka karena Lizzy sama seperti saat kecelakaan dulu.


Kalau dipikir pria ini selalu rentan sebab Lizzy tapi ada kalanya juga dia yang membuat Lizzy sakit hati. Ada pula karena sifat cemburu Saga selalu memukul pria di dekatnya. Mereka memang tidaklah cocok.


Lizzy dengan sikap sinis kepada Saga dan Saga yang selalu dengan egonya. Bukan pasangan serasi malah terkesan begitu toxic tapi sungguh tak disangka hubungan keduanya sampai sekarang masih baik-baik saja. Mereka pun mencoba mengerti satu sama lain.


Delapan bulan. Tinggal empat bulan lagi mereka akan merayakan ulang tahun pernikahan. Lizzy sendiri takjub kenapa ya dia bisa bertahan dengan Saga? Padahal bertengkar terus, saling mengabaikan tapi saling rindu satu sama lain. Suka cemburu juga kalau ada orang lain yang berusaha mendekat. Entahlah Lizzy sendiri tak tahu mengapa dia bisa seperti ini.


Sejenak terlintas pikirannya akan Sena dan wajah Lizzy kini berubah kesal. Semua ini karena pria asing itu. Jika saja waktu itu dia tak mencari Sena apa tidak akan terjadi hal ini?


Lizzy kurang yakin. Memang Sena meracuni Saga tapi dia dalang dari semua ini ialah Mahendra. Jika saja Mahendra tak meminta Sena memata-matai mereka berdua hal seperti ini tidak akan pernah terjadi terlebih Mahendra juga mengancam Gail.


Sebaiknya dia harus bertanya dulu kepada Gail dan membicarakan perkara tersebut hanya berdua saja. Saga tidak usah dilibatkan sebab kondisi tubuhnya.


"Kau dipenginapan, apa kau masih merasa pusing?" Lizzy balik bertanya ada kekhawatiran terdengar dari suara miliknya.


Saga mengangguk lemah.


"Kata dokter karena perutmu belum terisi dan langsung minum alkohol makanya kamu lemah seperti ini." Lizzy menambahkan.


"Benarkah? Aneh sekali. Biar pun perutku kosong tidak mungkin maagku kambuh hanya karena aku minum tequela."


"Pasti karena kau selalu telat makan, makanya kamu muntah! Yang penting kamu minum obat dulu lalu makan," sela Lizzy mengalihkan pembicaraan. Dia tak mau Saga terus kepikiran dan jadinya malah curiga sama "kenalannya" yang sangat akrab.


Bukan Lizzy ingin melindungi Sena melainkan dia tak mau berurusan lagi dengan pria itu. Lizzy sudah bertekad akan menjauhkan Sena dari Saga dan dirinya sendiri demi kenyamanan masing-masing.

__ADS_1


Usai minum obat Saga memakan bubur ayam dengan lahap begitu juga Lizzy ikut menikmati makan malamnya. Tidak lupa Saga meminum dua obat lagi pemberian dari dokter dan beristirahat lagi. "Bagaimana perasaanmu sekarang?"


"Lebih baik, terima kasih karena sudah merawatku." Saga menjawab.


Lizzy menganggukan kepala dan membereskan beberapa piring kotor untuk dicuci. Dia juga menyimpan obat-obatan Saga agar mudah diingat letak menyimpannya di mana.


"Maafkan aku," kata Saga mendadak. "Harusnya hari ini adalah hari di mana kita bersenang-senang tapi aku malah sakit. Bukannya aku menyenangkan hatimu malah hanya membuatmu kesusahan persis waktu kita kecelakaan."


"Kau bicara apa sih? Kau tidak menyusahkanku sama sekali. Ini sudah kewajibanku sebagai seorang istri, aku akan memasak, menyiapkan baju dan merawatmu saat kau sakit. Lagi pula kau ini sakit tiba-tiba, itu wajar." Lizzy meletakan lagi piring kotor lalu duduk di dekat Saga. "Fokus saja dengan tubuhmu dulu, jangan memikirkan hal yang tidak penting seperti itu dan kalau kau sehat ... aku mau kita pulang besok."


Kening Saga mengerut. "Kenapa terburu-buru? Kita masih punya beberapa hari lagi dan juga aku sudah merencakan beberapa hal untuk menjadi destinasi liburan kita."


"Aku memiliki suatu hal yang genting dan aku harus bertemu dengan beberapa orang."


"Soal apa?" potong Saga.


Dari sirat mata Saga, Lizzy langsung tahu suaminya ingin dia berkata jujur. Sesuai janji, mereka harus terbuka satu sama lain. Meski lidah Lizzy kelu, dia harus berkata jujur.


"Aku ditawari sebuah pekerjaan oleh seorang teman dan aku ingin mengunjungi perusahaannya besok meski interviewnya beberapa hari lagi."


"Untuk apa? Tolak saja! Kau menikah denganku jadi tidak akan kekurangan uang." Saga berucap seraya mendengus kesal.


"Bukan itu! Aku mau tahu kenapa mereka menawariku pekerjaan karena aku tiba-tiba saja ditawari begitu saja. Aku tak pernah memasukkan cv atau surat lamaran ke sana sini. Ini sangat aneh jadi aku memutuskan untuk bertemu dengan bosnya. Bagaimana aku bisa, kan bertemu dia?"


Untuk sesaat suasana menjadi renggang. Saga sendiri yang masih lesu tidak bisa berpikir terlalu keras. "Baiklah kau lakukan saja apa yang menurutmu benar, kalau ini menyangkut rasa penasaranmu. Terima kasih tidak menyimpan rahasia."

__ADS_1


__ADS_2