Romansa Nakal

Romansa Nakal
Harus Mengaku


__ADS_3

Lizzy melenguh keenakan. Sebuah pijatan memang hal yang dibutuhkan oleh wanita itu sekarang. Tubuhnya benar-benar di buat nyaman dan dia perlu berterima kasih kepada Saga karena sudah memesan pijat relaksasi untuknya.


Sedang Saga, pria itu sedang berada di sauna melepas lelah karena berenang. "Terima kasih atas pijatannya, badanku merasa nyaman sekarang." Lizzy berucap seusai sesi pijat.


"Kepuasan anda adalah kesenangan bagi kami. Tolong mampir lain kali." Lizzy mengangguk seraya senyum. Dia kemudian berjalan keluar menggunakan baju dengan bahan handuk menghampiri Saga yang sudah menunggu.


"Bagaimana badanmu? Sudah nyaman?"


Lizzy mengangguk. "Rasanya aku bisa bergerak sepuasnya terima kasih."


Saga terkekeh. "Kalau begitu ayo kita ke pesta! Aku menemukan seorang kenalan di sini dan dia mengundang kita untuk ke pestanya jadi-"


"Aku tak mau," potong Lizzy sekaligus menolak.


"Kenapa? Katamu badanmu sudah baik-baik saja? Kita sudah diundang tidak bagus kalau kita tidak datang."


"Kau yang diundang bukan aku."


"Tapi aku sudah bilang kamu juga ada di sini,"


"Ya tinggal bilang saja, istriku sedang kurang nyaman jadi tak bisa menghadiri undangan."


"Tapi itu namanya bohong!" bantah Saga mulai kesal.


"Sedikit bohong tidak apa-apa, lagi pula kenapa kau membicarakan kebohongan di depanku? Kau saja merahasiakan hubunganmu dengan Crystal waktu itu, kenapa tiba-tiba kau marah saat aku berbohong?" tanya Lizzy ikut sebal juga. Melihat ekspresi Saga yang diam Lizzy kembali bicara. "Aku hanya ingin waktu sendiri sekarang. Aku tidak mau bertemu dengan orang-orang, energiku terkuras habis saat berada di pantai."


"Baiklah, terserah kau saja." Saga bersuara dengan nada pelan. Lizzy bisa mendengar suara desis Saga yang jengkel namun dia abai.


"Aku mau pulang ke penginapan, kalau kamu mau ke sana tidak apa-apa, aku akan menunggu." Setelahnya Lizzy bergerak menjauh keluar dari tempat spa. Jarak dari spa ke penginapan tidaklah memakan waktu yang lama. Cukup jalan kaki selama lima menit Lizzy sudah bisa sampai.


"Hai cantik!" Lizzy langsung berhenti menoleh pada sosok pria yang tersenyum padanya. Dia mengerutkan dahi.


"Kau? Kenapa kau ada di sini?" tanya Lizzy heran.

__ADS_1


Sena dengan senyuman tipis menjawab, "Aku sedang berlibur kebetulan aku mendapatkan tip yang banyak di tempat kerjaku. Kau mau ke mana?"


"Ke penginapan mau pulang untuk istirahat." Lizzy menjawab jujur.


Sena menganggukan kepala mengerti. "Kau di sini sendirian?"


"Suamiku sedang ada di spa. Nanti juga dia keluar, tolong jangan panggil aku seperti itu nanti kau malah dihantam sama dia." Lizzy menegur secara baik-baik. Mengingat jika Sena adalah pria yang baru ia kenal, Lizzy memiliki kekhawatiran tersendiri jika Saga menyerang pria ini.


Tidak seperti Gail yang memang tahu beluk pernikahan Lizzy dan Saga, Sena adalah orang asing. Dia tak tahu bagaimana sikap Saga begitu cemburu membuat Lizzy yakin jika suaminya itu tahu kalau mereka bertemu di sini bukan hanya Lizzy yang dikatai tapi Sena juga akan mendapat kekerasan.


Tepat saat itu pula Saga keluar mendapati Lizzy tengah berbincang. Dia segera mendekat dan berdiri tepat di samping sang istri. "Tuan Saga!" ucap Sena.


"Oh Tuan Sena!" Saga dan Sena saling berjabat tangan. "Wah kebetulan sekali aku bertemu denganmu, tampaknya kau juga mengenal Lizzy, istriku."


"Iya kami saling kenal. Dia wanita yang pernah aku bantu." Sena dan Saga kemudian berbincang akrab sedang Lizzy tampak kebingungan. Bagaimana mereka bisa berkenalan?


"Lizzy ini loh si pemilik pesta yang aku ceritakan padamu. Kebetulan sekali kalian saling kenal ayolah ikut denganku di pesta." Saga membujuk lagi.


"Wah aku akan menyayangkan sekali kalau kau tidak ikut dengan Lizzy. Tolong datang ya,"


"Kalau begitu aku akan menunggu kalian. Sampai jumpa di pesta." Sena berjalan menjauh menyisakan Saga dan Lizzy.


"Bagaimana kalian bisa berkenalan?" tanya Lizzy langsung.


"Aku sering pergi ke barnya untuk bersantai dengan teman-teman. Akhir-akhir ini dia yang menyajikan minuman jadi kami sering mengobrol."


Lizzy terpaku. Itu sebabnya dia memberikan sebotol anggur mahal secara gratis, rupanya dia adalah pemilik bar tapi kenapa Sena memiliki dua pekerjaan? Kalau dia kaya, mengapa dia harus repot-repot bekerja di sebuah toko kecil? Entah kenapa Lizzy jadi penasaran.


Lizzy larut dalam pikiran sendiri sampai dia tak mendengarkan ucapan Saga. "Lizzy, kau mendengarkanku?"


Dengan tatapan kosong dia menoleh dan menggeleng. Tapi Saga tidak keberatan dengan menjelaskan lagi. "Kau punya pakaian yang bagus? Kalau tidak aku akan memesan baju yang cocok atau kau mau berbelanja silakan kita masih punya waktu untuk pergi ke mall."


"Yang santai saja aku nggak mau repot."

__ADS_1


Saga menganggukan kepala mengerti. Suasana hati pria itu juga sudah lebih baik dari sewaktu mereka berdebat di tempat sauna. "Saga, di sana nanti banyak perempuan?" tanya Lizzy.


"Kenapa? Kau tidak mau aku dekat dengan mereka?" tanya Saga dengan nada sok polos. Dia berusaha memancing emosi dari Lizzy.


"Ingat apa yang aku katakan dari tadi aku tak mau kau mendekati mereka. Kalau kau masih melakukannya, aku akan pergi kabur." Meski terdengar tenang tapi sorot mata Lizzy menunjukkan keseriusan. Sudah cukup dengan Crystal, dia tidak mau mengusir lagi para perempuan yang mendekati Saga. Singkatnya dia ingin ketenangan.


Saga tersenyum lebar. Entah apa yang dipikirkan oleh pria itu dalam benaknya. "Kalau kau hamil, bagaimana?" Dia kemudian menepuk pelan perut Lizzy. "Aku yakin kita akan punya anak."


"Meski kita punya anak aku akan pergi kalau menggoda wanita lain. Aku akan bawa anak kita agar dia tidak mengenal bapaknya yang berengsek."


"Oh ya apa itu berlaku seumur hidup?" tanya Saga meremehkan.


"Iya, selama kau menikah denganku kau tak boleh menggoda wanita manapun!"


Saga mengangguk pelan. Dengan tenang dia dan Lizzy berjalan kembali sampai penginapan, di atas ranjang sudah ada sebuah tas bermerk juga kertas dengan materai yang tertempel. Ternyata saat mereka sibuk berdebat Saga sudah menyiapkan permintaan Lizzy.


"Apa ini?" ketimbang tertarik pada baju yang disiapkan oleh sang suami, Lizzy tertarik pada secarik kertas. Sebuah perjanjian antara dia serta Saga. Jika dibaca baik-baik perjanjian tersebut memuat diantaranya Lizzy tak boleh bercerai dengannya jika Saga tidak terbukti mendua.


Artinya jika tandatangan sudah didapat berarti Lizzy tak bisa bercerai semudah itu dari Saga apapun alasannya kecuali jika Saga berselingkuh. "Ini perjanjian tak masuk akal. Kau mau mengekangku? Aku tidak mau."


Lizzy segera merobek kertas tersebut menjadi kecil tapi Saga tidak marah malah dia bersikap santai namun tatapannya jadi serius. "Jadi apa artinya kau akan meninggalkanku walau itu bukan aku berselingkuh?"


Lizzy terdiam untuk sesaat. Memikirkan jawaban apa yang bagus untuk pertanyaan Saga. "Kau mencurigaiku?"


"Mengaku saja. Aku janji tidak akan marah."


Sebenarnya ini membuat Lizzy bingung dan juga sedikit curiga tapi Saga ingin tahu maka apa boleh buat, Lizzy harus jujur. "Itu tergantung denganmu, kalau kau tidak kasar atau pun menuduhku macam-macam aku mungkin berpikir panjang soal pernikahan kita."


"Kenapa mengatakan itu? Aku tidak melakukan apapun yang menyakitimu?"


Kening Lizzy berkerut. "Kau tidak ingat atau pura-pura lupa? Kau pernah membuat pergelangan tanganku sakit, menuduhku memiliki orang lain, membela selingkuhanmu dan suka cari gara-gara."


"Tapi itu kau yang mulai duluan."

__ADS_1


"Aku mulai duluan karena kau menganggap bahwa apa yang kau lakukan itu benar! Kau tahu salah tapi kau tetap melakukannya. Itu sebabnya aku meminta jawaban tentang hubunganmu dengan Crystal seperti apa biar kalau kau melakukan kesalahan sekali lagi aku bisa memberitahumu. Ingat, aku ini istrimu kalau kau tidak mau aku protes perbaiki cara pikirmu."


__ADS_2