Romansa Nakal

Romansa Nakal
Mencoba Jujur


__ADS_3

Lizzy bukannya tidak mengerti, Mahendra jelas menginginkan sesuatu yang terbaik buat Saga terlepas sifat dari anaknya itu. Jika sedikit kesalahan saja maka Mahendra akan langsung marah besar.


"Dia temanku Ayah, kami bekerja sama untuk membuat Saga cemburu." Lizzy berkata jujur. Hanya inilah jalan satu-satunya agar Mahendra tenang.


"Tapi kenapa sampai pergi dan menginap di rumahnya beberapa hari?" cerca Mahendra lagi.


"Karena aku dan Saga memiliki masalah, jika aku terus diam hubungan kami akan buruk Ayah." Lizzy mengatur napas sebentar. "Ayah tahu, kan kalau Saga masih berhubungan dengan mantan kekasihnya? Bahkan sampai dia menikah, wanita itu terus saja mengganggu. Aku tak punya pilihan lain dengan meminta tolong pada Gail."


Mahendra membuang muka namun tetap mempertahankan ekspresi marah. "Aku tahu itu tapi kau keterlaluan sekali pergi tanpa memberitahu pada siapapun!"


"Aku minta maaf tapi kalau aku tidak mendorong Saga untuk mencariku, bisa saja hubungan kami tidak pernah baik jadi aku minta tolong jangan ikut campur urusan rumah tangga kami! Biarpun Saga adalah anak Ayah, dia juga suamiku. Sebagai suami istri, saya dan Saga yang akan menyelesaikan masalah kami berdua." Lizzy berucap tegas.


Sungguh dia tak bermaksud keras di hadapan Mahendra tapi Lizzy harus mengambil tindakan, "Maaf sekali lagi kalau saya lancang."


Mahendra sendiri tampak kesal. Maksudnya baik tapi Lizzy tidak nyaman dengan semua perhatian itu. Menyebalkan namun ada rasa takjub saat Lizzy tegas pada dirinya yang adalah mertuanya sendiri.


"Baiklah, aku akan memaafkanmu tapi lain kali kalau kau kembali melakukan hal yang sama aku tidak akan memaafkanmu."


Lizzy bernapas lega, "Terima kasih Ayah."


Segera setelah perdebatan intens antara menantu dan mertua, Mahendra serta Lizzy keluar dari ruangan yang pengap tersebut. Pria paruh baya itu melembutkan ekspresinya ketika melepas Lizzy pergi seakan Mahendra tidak pernah marah.


"Hati-hati ya, titip salam kepada Saga Ayah harap dia semoga sembuh."


Lizzy diam. Dia tak bilang jika Saga sedang sakit pada mertuanya berarti dia masih mengawasi Saga. "Ayah soal permintaanku ..."


"Iya Ayah akan menarik mereka tenang saja." Taksi yang dipesan sudah sampai. Lizzy kemudian masuk ke dalam dan menutup pintu setelah berpamitan.


Mahendra segera meraih ponsel menelepon seseorang. "Halo, aku ingin membatalkan jasa mata-mata .... oh ada informasi baru, apa itu?"

__ADS_1


Mahendra menganggukan kepala. "Begitu ya baguslah kalau Crystal pergi sambil menangis, aku puas setidaknya Saga berusaha menjauh dari wanita itu. Ah aku punya ide yang bagus, tarik saja mata-mata untuk Saga dan Lizzy ... aku hanya ingin memiliki informasi Crystal dan Gail."


...❤❤❤...


Lizzy menghentikan taksi di sebuah perusahaan elektronik Gail. Segera membayar, dia langsung ke dalam perusahaan. Butuh waktu lama untuk menunggu sebab dia masih sibuk.


Ada kegelisahan sedikit di dalam diri wanita itu. Takut jika dia terus diawasi oleh orang bayaran Mahendra. Mungkin Lizzy harus mengurangi pertemuan dengan Gail.


"Lizzy!" suara seorang pria yang dia kenal membuyarkan lamunan Lizzy. Seorang pria berjalan cepat menghampiri dengan segaris senyuman manis terukir di wajahnya yang tampan.


Lizzy menoleh dan tersenyum ketika Gail datang mendekat. "Kau baik-baik saja, kan?" tanya pria itu sambil melihat Lizzy seksama. Takut jika dia disakiti oleh Saga.


"Aku tidak apa-apa, bagaimana kabarmu?"


"Aku baik-baik saja. Kau tak meneleponku saat pulang, kenapa? Aku menunggu waktu itu kau mengirimkan chat,"


"Maaf ya Saga langsung menghapus nomormu, berikan nomormu lagi aku akan menyimpannya baik-baik." Lizzy memberikan ponselnya pada Gail untuk diisi nomor teleponnya.


"Ah tidak bisa maaf ya, aku harus pulang cepat Saga sedang sakit."


Gail yang baru saja menekan tombol simpan langsung menatap heran Lizzy. "Tumben kau peduli padanya, kau ... sudah punya perasaan sama dia?" tanya Gail berhati-hati.


Lizzy tidak mengatakan apapun. Dia sendiri bingung mengatakan apa mengingat mereka sudah memaafkan satu sama lain. Selain itu hubungan mereka sudah lebih baik dari yang dulu tapi ada yang mengganjal di hati Lizzy.


Semuanya terasa ... biasa saja.


"Lizzy, kau tidak apa-apa?" pertanyaan Gail membuyarkan lagi lamunan Lizzy. Wanita itu tersenyum dan mengangguk.


"Aku hanya melakukan kewajiban sebagai seorang istri, kalau suamiku sakit aku harus merawatnya."

__ADS_1


"Baiklah, kalau terjadi sesuatu hubungi aku ya."


"Pasti, aku pulang dulu sampai jumpa!" Lizzy segera memesan sebuah taksi sementara Gail masuk ke dalam perusahaan. Tidak butuh waktu lama sebuah mobil abu-abu berjalan menghampiri.


Lizzy lalu masuk dan diam saja sambil melihat pemandangan dari luar melalui jendela mobil. Sekali lagi dia teringat akan pertanyaan Gail, layaknya sebuah kenangan buruk Lizzy terus memikirkan itu.


Dia mulai mempertanyakan tentang tujuannya untuk balas dendam. Apa semua yang dilakukan selama ini sama sekali tidak memiliki tujuan? Sia-sia saja Lizzy mencoba mengambil hati Saga jika akhirnya semua terhenti karena mereka mencoba memahami sementara tujuan pernikahan ini bukanlah mendapat kebahagiaan antara mereka berdua.


Alasan sebelum Lizzy menikah pun sekarang tidaklah begitu berguna. Dia telah memisahkan Crystal serta Saga, membuat sebuah jarak yang jauh agar tidak pernah bertemu lagi. Lizzy yakin sudah menghukum Crystal dengan benar, mengambil Saga dari hidupnya sudahlah menyakitkan bagi wanita itu.


Namun untuk Saga ... bagaimana cara menghukumnya agar jera sedang ia mengaku jika memiliki perasaan untuk Lizzy seorang. Cukup membuat Lizzy terkejut dan baginya ini terlalu awal. Perlahan ia mulai cemas.


Apa Lizzy tak akan menyelesaikan misinya?


Taksi makin lambat kemudian berhenti di kediaman Saga. Lizzy keluar segera setelah memberikan uang serta mengucapkan terima kasih. Dia bergegas ke kamar Saga ingin melihat keadaan suaminya sekarang juga.


Baru masuk, Lizzy memelankan langkah saat mendapati Saga tengah bermain kartu dengan Ade. Mereka duduk dekat meja kaca sambil terus mengobrol. "Saga, kau sudah baikan?" tanya Lizzy sembari mendekat.


Saat melihat istrinya segera dia berdiri menghampiri Lizzy dan memeluknya erat. Tak lupa dia mencium kening turut pula kedua pipi Lizzy.


"Ada apa? Kau manja sekali," gerutu Lizzy, dia agak curiga akan sikap Saga yang sekarang.


"Kenapa lama sekali? Aku sudah lama menunggu. Jangan pergi lagi." Raut wajah Lizzy tak yakin namun dengan cepat dia mengangguk. "Ayo ikut bermain bersama, kau tahu tidak soal main kartu,"


"Aku akan ganti baju dulu, kau sudah merasa baikan? Tidak pusing lagi?" tanya Lizzy masih cemas.


"Iya aku baik-baik saja. Cepat ya aku akan menunggu." Lizzy tak menjawab dan menuju kamarnya.


"Kau harus jujur," ucap Ade yang sedari tadi diam. "Katakan saja semuanya pada Kakak Lizzy, dia pasti mengerti."

__ADS_1


Saga menggeleng. "Aku takut, aku takut dia akan pergi atau bahkan lebih buruk, Lizzy akan meminta cerai dariku. Biar aku saja yang mengurus masalah ini jika solusinya sudah ditemukan aku akan menjelaskannya."


"Tapi kalau dia tak mendengarkannya darimu secara langsung, Kakak akan marah. Dia tak mau ada rahasia yang disembunyikan terutama sama kamu. Dari tadi Kakak juga curiga sama kelakuanmu cepat atau lambat dia pasti bertanya." Penjelasan Ade masuk akal namun entah kenapa Saga resah. Sebaiknya dia harus menyelesaikan permasalahan dengan Crystal. Secepat mungkin.


__ADS_2