Romansa Nakal

Romansa Nakal
Mencari Jawaban


__ADS_3

Malam akhirnya tiba. Lizzy mencoba untuk santai tapi bayangan kegagalan selalu membuatnya terganggu. Tidak banyak yang bisa dilakukan malam itu sehingga ia membaca buku mungkin saja dengan imajinasi Lizzy akan melupakan kekhawatiran dalam diri.


Mengambil tempat yang bagus untuk duduk, Lizzy perlahan mulai tenggelam dengan alur cerita di dalam buku. Ia bahkan tidak menyadari sosok pria tengah memperhatikan dengan serius.


Siapa lagi kalau bukan Saga. Pria itu tidak biasanya gugup karena menyembunyikan ketakutan juga. Beda hal dengan Lizzy yang masih bisa bersikap tenang, tubuh Saga ikut gemetaran memikirkan masalah dihadapannya.


Saga mengetuk pintu dua kali. Tak keras atau pelan, cukup menyadarkan Lizzy. "Saga, kenapa kau belum tidur? Tubuhmu masih lemah."


"Aku baik-baik saja kok, aku hanya ingin mengecek saja kau sudah tidur atau belum ternyata masih sibuk membaca. Apa boleh aku masuk?" tanya Saga harap-harap cemas.


"Tentu, kau mau apa? Aku bisa membuatkan teh hangat atau..."


"Bukan, aku tidak ingin minum sebenarnya aku mau tidur di kamarmu boleh?"


Permintaan Saga tidaklah aneh tapi gelagatnya membuat Lizzy curiga. Kendati demikian, Lizzy tetap menerima permintaan suaminya untuk tidur. Dengan lampu kamar yang menyala Saga menyadari sesuatu.


"Kau belum mau tidur?"


"Ya, aku masih mau membaca buku. Mau baca juga?"


Saga menggeleng. "Aku akan langsung tidur saja."


Lizzy tak keberatan dan kembali duduk di sebuah meja berhadapan langsung dengan jendela. Hanya beberapa langkah ada ranjang yang ditempati Saga dan dalam diam, pria itu tak jemu menatap sang istri.


"Katanya mau tidur kok belum ngantuk," ucap Lizzy seraya melirik pada Saga.


"Kalau istriku yang cantik masih sibuk aku akan menunggu," balas Saga mencoba merayu. Ini hanyalah sebuah pencair suasana canggung antara dia dan istrinya.


Lizzy menarik senyum kecil. Mencoba rayuan gombal kepadanya tidak akan berfungsi tetapi cukup membuat Lizzy terhibur. Biasanya mereka akan saling berdebat, dengan percakapan kecil yang penuh rayuan basi membuat hubungan mereka baik. Mungkin?


"Terima kasih tapi aku sedang sibuk sekarang jangan mengganggu." Lizzy kemudian mengalihkan perhatiannya.


"Aku ingin menceritakan sesuatu, bisa kau mendengarkanku selagi baca buku?"


"Tentu, aku akan mendengarkan."

__ADS_1


"Aku baru menelepon Doni itu loh temanku yang konsultan pernikahan." Lizzy mengangguk paham, "Dia punya klien yang mana dia dan istrinya melakukan konsultasi pernikahan karena banyak masalah yang mereka hadapi tapi kemarin dia datang sendiri."


"Lalu?"


"Si suami mengaku kalau mantan selingkuhannya datang ke rumah dan meminta tanggung jawab atas kehamilannya dan-"


"Tunggu sebentar.." jeda Lizzy. Wanita itu mengangkat kepala menatap Saga serius. "Kau sedang tidak membicarakan tentang kita bukan?"


"Bu-bukan begitu," sanggah Saga tergagap.


"Apa Crystal datang hari ini? Dia mengaku kalau dia sedang hamil?" cerca Lizzy. Raut wajahnya mulai kesal.


"Tidak kok! Ini bukan tentang kita, aku jamin!" bantah Saga lagi.


"Oh ya kalau begitu hubungi Doni aku mau tahu tanggapannya seperti apa?!" Lizzy bersikukuh. Kecurigaannya makin bertambah ketika Saga membantah.


"Aduh jangan bawa temanku, dia lagi capek sama pekerjaannya!"


"Kenapa tidak? Dia kan yang cerita sama kamu soal kliennya, jelas dia lebih tahu dong dari pada kamu!"


"Pokoknya tidak! Aku cuma mau kamu dengar bukan kita malah berdebat." Perkataan Saga itu benar. Sekarang saja mereka mulai beradu argumen.


Saga cuma bisa tersenyum getir. Apa yang harus dia lakukan saat Lizzy tahu kecurigaannya benar. "Jadi pria ini bertanya kepada Doni dan Doni bilang ada baiknya mendiskusikannya pada sang istri tapi dia bilang tidak berani ... kalau kamu gimana tanggapannya?"


"Jelas sekali, kalau aku istrinya aku akan tampar pipinya lalu minta cerai. Dia sudah tak setia untuk apa mempertahankan hubungan yang rusak," balas Lizzy spontan.


"Jadi kau setuju dengan usulan Doni?"


"Tentu, kesalahan besar sekalipun si suami harus bilang sama istrinya itu tergantung mau dijawab apa tapi semua harus diberitahukan karena yang namanya pernikahan itu berpasangan bukan sendiri, betul tidak?" Saga tidak menjawab. Dia berpikir keras sekarang bagaimana menceritakan hal yang jujur kepada Lizzy. Tampak sekali istrinya itu tidak senang menyangkut apapun tentang Crystal.


"Kenapa diam saja? Apa memang ada masalah dengan Crystal?" Pertanyaan Lizzy membuat Saga kembali ke kenyataan.


Dia tersenyum tipis lalu menggeleng. Saga harus pandai mengatur ekspresi di depan Lizzy sementara. "Aku mau tidur ya selamat malam," putus Saga. Bergegas dibalikan tubuhnya agar tak melihat Lizzy.


Lizzy sendiri agak curiga apalagi ketika mendengar semua cerita Saga. Tidak biasanya wanita itu dimintai pendapat soal masalah pernikahan. Satu jam dilewati begitu saja, Lizzy menutup buku dan mencoba memperhatikan sang suami.

__ADS_1


Setelah merasa aman barulah dia keluar dari kamar mendekat pada seorang pelayan pria yang masih berada di ruangan tamu. "Ada apa Nyonya?"


"Apa Crystal datang hari ini?"


Si pelayan kalut. "Maaf Nyonya saya tidak tahu. Siang tadi saya pergi keluar jadi saya tidak mengetahui kalau siang tadi ada tamu atau tidak,"


"Terima kasih."


Si pelayan pria kemudian pergi sementara Lizzy tenggelam dalam pikiran. Meski sedikit lega tapi ia masih merasa belum puas akan jawaban dari pria tadi. Lagi pula pekerja yang ada di sini pasti berpihak kepada Saga bisa saja suaminya meminta agar mereka semua menutup mulut.


Bicara soal kejujuran, Lizzy teringat akan seseorang di mana orang ini dapat dipercaya dan tentunya membela Lizzy.


...❤❤❤...


"Tumben siang ini jemput aku dari sekolah," ucap Ade sambil menyeruput milkshake yang ia pesan. "Bukannya suami kakak masih sakit,"


"Tidak kok, dia sudah baikan buktinya Saga sudah mulai bekerja." Lizzy dengan tenang membalas perkataan Ade.


Mereka berdua kini sedang dalam sebuah restoran untuk makan siang. Lizzy terus tersenyum saat Ade menatapnya penuh curiga. Walau ia anak berusia 12 tahun tetapi kepekaan Ade dengan sekeliling begitu terasah jadi agak sulit untuk berbohong maka Lizzy sangatlah berhati-hati.


"Aku dapat kabar sama ibu kamu rencana lusa nanti bakal jemput makanya aku bawa ke sini, aku pikir aku tidak menghabiskan waktu denganmu jadi sebagai permintaan maaf aku bawa kamu ke sini." Lizzy kembali beralasan berharap Ade akan percaya.


Bukannya tampak gembira kerutan mimik wajah Ade makin kusut. "Sebenarnya mau bicara apa? Kalau itu penting bilang saja tidak usah basa-basi PR banyak sekarang aku ingin pulang!"


Lizzy membuang napas kasar. Dia hendak bersuara namun Ade memotong dengan cepat.


"Kalau ini menyangkut masalah rumah tangga Kakak, maaf aku tidak bisa bantu Kakak harus cari tahu sama suami Kakak."


"Aku belum ngomong," sahut Lizzy kesal. Dalam hati ia takjub karena Ade langsung tahu ke arah pembicaraan mereka. "Jadi dugaan Kakak benar? Crystal datang ke rumah?"


Ade terlihat gusar. "Tanya saja sama om, aku sungguh tidak mau ikut campur!" Dia bergegas mengambil barangnya dan berjalan keluar tanpa mengindahkan panggilan Lizzy.


Ada rasa sedikit kasihan timbul dalam diri Ade tetapi ia tak mau jadi penyebab hubungan Lizzy dan Saga rusak. Biarlah menjadi urusan mereka berdua, ia hanya akan mengamati dari jauh.


Sepuluh langkah menjauh dari restoran, mendekati mobil Lizzy yang kini supirnya menunggu di dalam. "Kebakaran!" seru beberapa orang.

__ADS_1


Ade langsung memutar tubuh. Muncul kepulan asap tebal dari restoran sementara orang-orang panik berlari keluar dari restoran bahkan mereka saling mendorong satu sama lain. Suara gemuruh terdengar dari dalam bersamaan dengan api semakin berkobar. Orang-orang yang masih terjebak di dalam menjerit kesakitan.


Jendela kaca pecah akibat ledakan sementara Ade mematung dengan pandangan kosong. Tidak tahu harus melakukan apa.


__ADS_2