
"Jon, Pergi ke minimarket yuk" Ajakan Brody.
"Kemarin kamu juga kamu tidak ikutan nongkrong" Kata Leo.
"Ah... Maaf, hari Juga aku tidak ikut ... Mungkin besok, janji" Jawab Joni.
Joni pun dengan cepat membereskan buku-bukunya yang ada di atas meja dan langsung keluar kelas.
"Ya udah aku duluan ya" kata Joni sambil berlari.
"Mencurigakan banget bro" kata Leo.
"Benar-benar sangat-sangat mencurigakan" jawab Brody.
"Gak usah di ulang-ulang bisa gak ... Kemarin dia juga ngomong 'Mungkin besok, janji' dan hari ini juga ngomong seperti itu"
"Jangan-jangan bilang-bilang, dia sudah punya pacar dan sedang berkencan dengan pacarnya tersebut"
"Hem, maksudnya jangan bilang kan ... Mau ikutin Joni?"
"Gas-gas"
"Ngomong kek gitu lagi ku pukul kau"
Namun, yang ingin Joni lakukan sebenarnya adalah.
Aku harus cepat pergi ke penjual martabak batin Joni.
Kemarin, Joni membelikan Silvia martabak keju, dia melakukannya bukan karena disuruh oleh Silvia, melainkan.
"Silvia... Aku bawakan martabak buat kamu" kata Joni.
Silvia berada dikamar nya dia lagi sakit karena terlalu keras latihan naik motor dan kecebur danau buatan.
"Wah... Terimakasih kak ... Tunggu, tumben kakak baik kek gini" kata Silvia.
"Ya... kakak merasa bersalah, kemarin kakak terlalu memaksa mu untuk latihan naik motor ... Anggap saja itu martabak permintaan maaf kakak" kata Joni.
Saat Silvia buka martabaknya "Lah, kok martabak keju? Aku kan gak suka martabak keju"
"Hah, bukanya kamu tidak suka martabak coklat kacang?"
"Ya, itu malah kesukaan ku"
Joni tersenyum tapi hatinya agak hancur "Kalo gitu besok kakak beliin martabak coklat kacang kesukaan kamu, kakak janji"
Joni pun memakan martabak keju tersebut. Karena itu, sekarang dia lagi cepat-cepat membeli martabak coklat kacang sebelum kehabisan.
Joni berlari dan melewati seorang murid dengan rambut kribo. Orang tersebut tidak sadar, kalo didalam rambutnya, ada sekelompok kutu yang sedang berbaris membentuk tulisan, SMA.
25 menit kemudian, Joni saat ini sedang berdiri antri di penjual martabak. Disisi lain, dari jarak 50 meter, ada Brody dan Leo sedang mengawasi Joni.
"Kita sudah mengawasinya selamat sepuluh menit, tapi dia masih mengantri membeli martabak tuh" kata Brody.
"Mungkin itu untuk hadiah pacarnya" jawab Leo.
__ADS_1
"Sudah lah menyerah saja, mungkin dia memang sedang ingin makan martabak kesukaannya, karena itu dia tidak bisa nongkrong dengan kita untuk sementara" pendapat Brody.
"Itu hanya pemikiran mu, Siapa tau itu martabak untuk hadiah pacarnya yang suka martabak ... Kita akan tetep mengikuti Joni apa pun yang terjadi"
"Langit sudah mulai gelap ... Sebentar akan turun hujan"
Setelah Joni sudah mendapatkan martabaknya, Joni pun langsung bergegas ingin cepat pulang. Akan tetapi, tak lama beneran turun hujan. Joni berteduh di halte bus, karena dia tidak membawa jas hujan.
Selagi berteduh, Joni melihat sepasang kekasih kakek nenek, mereka lagi memulung sampah di jalan meskipun lagi hujan deras.
Kita beralih lagi ke Brody dan Leo. Mereka berdua tidak berteduh, melainkan berdiri didepan toko bunga dan mengunakan jas hujan.
"Dia lagi berteduh tuh ... Apakah dia lupa bahwa jas hujan ya?" Kata Brody.
"Hem, kita samperin aja yuk ... Kayaknya kali ini kita tidak tau siapa pacarnya Joni" kata Leo.
"Tunggu-tunggu, Lihat!" kata Brody sambil menunjuk Joni.
Joni tiba-tiba berlari menghampiri sepasang kakek nenek tadi. Dia membantu membawakan karung berisi rongsokan dan menuntun mereka berdua untuk berteduh di halte bus.
Sesampainya di halte bus, Joni membuka ranselnya. dia mengeluarkan martabaknya, dia memandangi martabak tersebut selama beberapa detik. Joni memberikan martabaknya kakek nenek tersebut dan mereka menerimanya dengan sangat senang.
Joni mengambil ranselnya dan langsung menaiki motor Supra nya. Joni terlihat tersenyum sambil melihat langit. Joni melihat kearah kakek nenek, mereka sangat bahagia memakan martabaknya.
"Joni orang yang baik" Kata Brody.
"Kita harus bersyukur memiliki teman seperti dia ... Di zaman sekarang, orang seperti dia sudah lumayan langkah" kata Leo.
Disisi lain, tidak hanya Brody dan Leo yang melihat kejadian tersebut. Melanjutkan, Viona, sih sahabat Silvia juga melihat dari dalam minimarket. Tidak sampai disitu, sang kasir mini market sedang menghitung uang dan membentuknya menjadi tulisan, SMA.
Setelah ganti pakaian, Joni pergi ke kamar Silvia. Dia bermaksud untuk minta maaf.
"Y-yo... Silvia" kata Joni sambil masuk kedalam ruangan.
"Kak Joni! dimana martabaknya?" tanya Silvia.
"Maaf ya, martabaknya tadi terbang bersama burung-burung"
"Mana ada martabak bisa terbang ... Palingan kamu lagi nongkrong dengan dua sahabat mu itu dan belum sempat beli tapi sudah turun hujan"
"Ah... hahahaha" Joni hanya bisa tertawa kecil.
"Ya... Aku sudah menduga hal tersebut ... jadi"
"Silvia... Kakak pulang untuk menjenguk kamu yang lagi sakit" Rara tiba-tiba masuk kedalam.
"Mbak Rara?!" terikan Joni.
Rara, umur 18 tahun, sudah berkuliah dan sekarang sedang hidup mandiri. Dia berkuliah di kabupaten sebelah, karena itu dia harus hidup mandiri. Dia adalah anak pertama dari lima bersaudara. Karena anak pertama, sangat-sangat menyayangi saudaranya.
Sedikit info, Joni kan anak ketiga, dia memiliki dua kakak perempuan dan dia adik perempuan. Dia memanggil Rara dengan sebutan mbak Rara, tapi kalo memangil Nia, Joni memangilnya dengan sebutan kak Nia.
"Ini martabak pesanan kamu dan ini buat kamu Joni" kata Rara.
"Wah, martabak telur dah ... Tunggu, pesanan?" kata Joni.
__ADS_1
"Jam tiga tadi, kakak menelfon ku, katanya dai mau pulang menjenguk ku. Jadi aku sekalian mengatakan, untuk membelikan martabak coklat kacang untuk ku" jawab Silvia.
"Karena gak enak kalo Silvia saja yang aku belikan, jadi sekalian aku membelikan martabak untuk semua keluarga" kata Rara.
"Hee ~ " ucap Joni.
"Dimana Ayah dan Ibu ... Nia dan Elina juga"
"Mereka semua berada di ruang TV" jawab Silvia.
"Tunggu, kok martabak coklat kacang semua?" tanya Joni yang lagi melihat-lihat martabaknya.
"Jangan bilang kak Joni" Kata Silvia.
"Baru sadar kalo" disambung Rara.
"Satu keluarga hanya aku saja yang suka martabak telur" diakhiri Joni sendiri.
"Kok beda sendiri sih! SMA!"
Besoknya, Silvia sudah sembuh, karena dia sudah bisa naik motor, dia pun berangkatlah sekolah dengan motor sendiri, tidak diantarkan lagi.
"Tolong dipelajari lagi ini di rumah, hitungan-hitungan sin, cos, tan adalah hitung-hitungan yang lumayan rumit" Kata guru matematika dan sambil keluar kelas.
"Hei, Silvia" panggil Viona.
Silvia menoleh ke Viona "Apa?" tanya Silvia.
"Kemarin saat aku pulang sekolah, aku bertemu dengan orang ganteng... banget, keran pula ... Tidak sampai disitu, dia orangnya sangat baik" penjelasan Viona.
Selera cewek normal batin Silvia.
"Apakah kamu ditolong oleh-nya?" tanya Silvia.
"Tidak, Dia" Viona menceritakan semua kejadian yang dia lihat.
Hee... Ternyata masih ada orang baik di dunia ini ya? Batin Silvia.
"Oh ya, aku memfotonya, tunggu" kata Viona sambil mengeluarkan handphonenya.
Viona menunjukkan foto Joni yang sedang membersihkan martabak ke sepasang kakek nenek. Silvia yang melihatnya sangat terkejut mengetahui kalo itu Joni. Silvia bengong memandangi foto tersebut sampai beberapa menit.
"Hello... Silvia, woi, Silvia" panggil Viona.
"Ah, iya maaf" Silvia baru sadar.
"Aneh, apakah kamu mengenal orang ini?"
"Tidak! ... Ah, maksudku dia beneran tampan ya?"
"Hehe, kamu juga berpikiran seperti itu kan ... Ya, kalo saja ... "
Viona terus-terusan ngomong, tapi Silvia kembali bengong lagi.
Ternyata kamu sudah membelinya ya
__ADS_1
"Dasar pembohong"