Sahabat Mencari Asmara (SMA)

Sahabat Mencari Asmara (SMA)
Chapter 14. Cerita horor


__ADS_3

Masih ingat dengan Nia? Lupa baca lagi chapter 6. Saat aku sudah memperkenalkan Nia, dia belum sama sekali muncul selama beberapa chapter.


Karena itu, mari kita lihat kegiatan Nia. Saat ini dia sedang didalam kamarnya sedang bermain game online di PC atau komputernya.


"Hehehe, gak ada yang bisa lolos dari sniper ku ... Jangan salahkan aku, kalo kalian tidak dapat kill, itu salah kalian sendiri membiarkan aku mengambil air drop dan dapat AWM" Nia berbicara sendiri, dia sedang bermain PUBG.


Nia adalah seorang gamer, dia sangat jago kalo bermain game bertema tembak-tembakan. Seperti contoh, PUBG, valorant, Apex Legends, dan lain-lain. tapi game yang bertema moba maupun MMORPG, dia tidak lumayan jago memainkannya.


Tapi keahliannya tersebut, dia tidak menjadikannya menjadinya seorang live streamer. Dia tidak jago bicara, tapi skill dia bermain game hampir menandingi para live streamer.


"Kakak Nia, waktunya makan malam loh" kata Joni yang tiba-tiba membuka pintunya.


Nia agak terkejut dengan kehadiran Joni "Ah...ah, padahal tadi seharusnya kena" kata Nia.


"Kak, nanti dimarahin Ayah loh kalo tidak keluar, hari ini ayah pulang" kata Joni.


"Iya kah, tapi sebentar lagi ini musuhnya tinggal sepuluh dan mau menang" Nia masih fokus bermain game.


"Ya udah ku tunggu lima menit ... Lebih baik cepat selesaikan gamenya ya" kata Joni dan dia pergi dari kamar Nia.


sepuluh menit kemudian "Nah... gitu, perlihatkan kepala mu kepada ku, setelah itu aku tinggal" Kata Nia dan PC nya tiba-tiba mati.


"Ah...! apa yang kamu lakukan! Tadi itu aku satu lawan satu dengan musuhnya dan aku hampir menang!" Terikan Nia.


Nia kira ada seseorang yang mencabut colokan listrik yang terhubung dengan PC nya. Tapi tentunya, Saat ini sedang mati lampu.


dalam batin Nia Mati lampu toh, ku kira Joni ... Jadi yang haru aku marahin.


"Parah kamu PLN! Kerjaan kalian ngapain aja sih! Kenapa mati lampu di malam yang cerah ini!" Nia marah-marah tidak jelas pada PLN.


Disini lain, Para petugas PLN masih berada di kantor dan belum mendapatkan panggilan. Tak lama ada sebuah telepon masuk. Salah satu petugas PLN yang bertugas, menjawab telfon tersebut.


"Halo, apakah ada yang bisa kami bantu" kata petugas PLN.


"SMA" suara dalam telpon.


"Oh... SMA ... SMA?"

__ADS_1


Nia dari tadi meraba-raba meja, dia sedang mencari handphonenya untuk menjadi penerangan.


"Aduh... Aku taro mana ya?" Nia berbicara sendiri.


Tak lama kemudian, dia menemukan handphonenya.


"Nah... Gini dong" -Nia berusaha menyalakan Handphonenya- "Eh, lah kok ... Gak bisa nyala... Masak baterainya habis ... Tunggu, ini bukan handphone ini cermin!"


Nia mencari lagi handphonenya dan akhirnya ketemu juga. Dengan senter dari handphone, dia keluar kamar. Suasananya terasah mengerikan, karena rumah besar dan gelap.


"Hehe, kenapa aku takut, ini kan rumah ku sendiri ... Kayaknya semuanya masih di ruangan makan, aku harus bicara apa kalo sampai sana"


Nia berjalan menuju keruangan makan. Sedikit info, ruang makannya berada di dapur. Sesampainya di sana, Nia disambut dengan ocehan ibunya. Nia pun baru makan malam bersama.


"Pas ini dengan suasana gelap dan hanya lilin pencahayaan kita, bagaimana kalo ayah ceritakan pengalaman ayah saat berada di hutan yang gelap" kata sang ayah.


"Eh... Papa pernah bertugas di hutan ya" kata Silvia.


"ya tentu saja lah, malah sudah berulang kali, sebelum ayah menikahi ibu kalian ... Kira-kira, antara umur 20-26 tahun, pokoknya saat ayah masih muda"


"Eh... Ayah pernah muda ya" kata Joni.


Selagi mendengarkan, Elina sih anak bungsu, sedang membuat sesuatu dengan saus, dia membuat tulisan, SMA.


"Saat itu, ayah ditugaskan di hutan Kalimantan Utara, untuk menjaga perbatasan Indonesia Malaysia ... Kami ditugaskan cuma sepuluh orang dan hanya diberikan dua tenda, saat itu ayah hampir tidak bisa tidur loh.


"Baru lima hari ayah bertugas, Ayah benar-benar tidak bisa tidur ... Ayah duduk didepan api unggun dengan selimut ... Tiba-tiba, ada suara seperti orang berbicara 'Kuh! kuh...kuh!' seperti itu lah ... Selagi ada suara itu, Ayah juga merasa kalo sedang dikepung oleh seseorang ... Ayah pura-pura tidak dengar dan langsung pergi kedalam tenda" Cerita sang ayah.


Suasana berubah menjadi seram. Nia menjadi tidak napsu makan lagi, sang ibu dan Sivia hanya terdiam dengan muka pucat. Hanya Joni dan Elina yang masih baik-baik saja.


"Ayah! Kenapa cerita horor disaat gelap seperti ini!" terikan Nia.


"Loh... justru karena keadaan lagi gelap seperti ini, akan sangat terasa kalo cerita horor" jawab sang ayah.


"Ya ampun sayang... kenapa kamu baru cerita hal seperti itu ... Saat itu kamu baik-baik saja kan? Masih hidup kan?" tanya sang ibu.


"Ya, kalo sudah mati sejak lama, mana mungkin aku nikah dengan kamu"

__ADS_1


"Palingan itu juga orang-orang pribumi, atau suku pedalaman" kata Joni.


"Aku setuju dengan kamu kak Joni" kata Elina.


"Hem, Sudah ku duga, pasti akan ada yang berfikiran Seperti itu" Sang ayah lanjut cerita.


Karena akan panjang lagi kalo dibikin dialog, kaki ini biar aku yang cerita dan aku juga baru terpikirkan nama untuk sang ayah dan sang ibu. Sang ayah bernama Roni dan sang ibu bernama Any.


Keesokan harinya, Roni menceritakan kejadian tadi malam ke teman-temannya dan ternyata tidak hanya Toni yang mendengarnya, ada empat orang lainya yang mendengar.


Karena ada lima orang termasuk Toni yang mendengar suara tadi malam, bisa dipastikan kami cerita Toni benar adanya. Salah satu orang menyakinkan untuk tidak takut dan dia bilang.


"Mungkin itu untuk orang-orang pribumi, tau suku kedalam ... Gak usah takut, kita ada sepuluh orang disini dan bersenjataan lengkap"


Karena perkataan orang tersebut, semua orang menjadi tenang dan hilang rasa takut. Dua hari kemudian setelah kejadian itu, orang yang menghilangkan rasa takut tim, malah dia menghilang.


Orang-orang mengiranya dia lagi tersesat dalam hutan, Semu orang pun mencarinya. Hari mulai tengah malam, mereka pun menyudahi pencarian dan kumpul lagi ke tenda.


Saat Toni sampai di tenda, tidak ada seseorang pun disana, saat Toni periksa semua tenda, hanya ada satu orang didalam tenda. Orang tersebut tidak ikut mencari dan hanya tiduran di tenda karena dia lagi sakit.


Toni pun bertanya ke orang tersebut dan dia juga tidak tau keberadaan teman yang lainnya. Saat itu juga, Toni menyadari ada sesuatu yang aneh telah terjadi. :


Zaman itu belum ada Handphone. meskipun ada, pasti tidak ada sinyal. Paginya, Toni dan satu temannya, memutuskan beres-beres dan cepat-cepat keluar dari hutan.


Saat sesampainya di permukiman, Toni segera mungkin melaporkannya ke polisian, Meskipun itu sesuatu hal yang sangat dia benci.


Pencarian pun dilakukan, Selama dua hari pencarian, batu menemukan dua orang dan dua hari lagi, menemukan tiga orang. Sampai-sampai, delapan orang yang menghilang sudah ditemukan Semua tapi sudah meninggal.


Anehnya, mereka meninggal sudah tidak memiliki kepala, tapi tidak satu pun yang menemukan kepalanya.


Lebih anehnya lagi, meskipun sudah dicari di seluruh penjuru hutan, tidak tanda-tanda suka pedalaman mau pun yang melihatnya. Toni dan satu temannya sempat dicurigai yang telah melakukannya. Akan tetapi, sidik jari yang ditemukan ditubuh sang korban, tidak cocok dengan Toni dan temannya.


Karena kasus ini sangat aneh dan tidak ada bukti yang jelas. Pihak polisi pun menutup khusus ini dengan kesimpulan.


Mereka mati, karena kepala mereka dimakan oleh binatang buas. bintang buas mana yang hanya memakan kepala, tapi meniggalkan badannya.


"Itu lah salah satu pengalaman ayah saat ditugaskan di hutan" kata Toni.

__ADS_1


"Tunggu, ini novel komedi kan ...? Kenapa berubah menjadi novel horor!" Terikan Joni.


"Terserah lah, SMA!"


__ADS_2