Sahabat Mencari Asmara (SMA)

Sahabat Mencari Asmara (SMA)
Chapter 18. Sisi gelap


__ADS_3

Jam kosong, sepertinya pernah kita bahas sebelumnya, kalo tidak salah di chapter 7, baca lagi kalo lupa. Seperti yang ada di judul, kita akan melihat sisi gelap Joni, yang pernah aku perkenalan saat awal-awal chapter novel.


"Oke, karena guru mapel sedang izin dan aku juga males ngajar kalian, jadinya jam terakhir kalian kosong" kata Bu Salsa.


"Hore!!!" Terikan seluruh kelas.


"Ah, tunggu" Bu Salsa mendapatkan panggilan telepon.


Kebetulan, yang menelpon adalah sang guru mapel adalah sang kepala sekolah.


"Ah, iya-iya, baik Bu" -Bu Salsa menutup teleponnya- "Maaf, kalian dapat tugas dari kepala sekolah, gak ada jam kos, Sekarang pelajaran sejarah, kerjakan saja latihan soal yang belum dikerjakan atau kerjakan bab selanjutnya"


Seluruh kelas pun menjadi sangat kecewa menderanya.


"PR, saja Bu PR!"teriakan Brody.


"Iya PR saja!" terikan nomer tiga atau orang absen tiga.


"Males Bu! Enak-enak jam kos juga" terikan absen satu.


"Yang tidak mengumpulkan tugasnya, akan berurusan dengan Bu kepala sekolah" kata Bu Salsa.


Kelas pun mendadak menjadi hening dan mulai mengerjakan tugas. Bu Salsa pun pergi meninggalkan ruangan kelas.


Satu jam kemudian, Leo sudah hampir selesai mengerjakan tugasnya, akan tetapi dia butuh dengan satu soal.


Meskipun mencari dimana pun, kok gak ada jawaban yang pas ya? Nih yang buat soal kepikiran dari mana coba batin Leo.


Leo berniat ingin meniru jawaban Joni, akan tetapi Joni malah tertidur di atas mejanya, seolah dia sudah selesai mengerjakan tugasnya.


Leo pun berjalan menghampiri Joni, dia mengambil buku catatan Joni dan ternyata, Joni belum selesai mengerjakan tugasnya. Satu pun belum ada yang dikerjakan, bahkan soalnya saja belum ditulis.


Dengan perasaan yang agak emosi, Leo menaruh buku catatan Joni dan tidak membiarkan Joni tertidur. Leo berganti melihat Brody, ternyata Brody sedang mengerjakan tugasnya.


Leo berjalan menghampiri Brody, tapi tiba-tiba dia berhenti ditengah jalan. Leo baru sadar, bukan dia yang meniru jawaban Brody tapi Brody lah yang nanti meniru semua jawabannya. Leo pun dengan perasaan hampa, kembali lagi ketempat duduknya dan langsung asal jawab satu soal tersebut.


Bodoh amat yang penting di isi, palingan juga nilai ku tetap jelek ... Ya kan? SMA batin Leo.


Jam pulang sekolah berbunyi, Bu Salsa juga kembali lagi ke kelas 2D untuk mengumpulkan tugasnya. Semua orang mengumpulkan tugasnya kecuali Joni.


"Selamat sore Bu!" Kata semua orang.


"Selamat sore, Silakan pulang" jawab Bu Salsa.


Semua orang pada keluar kelas dan Joni masih berdiri di belakang. Saat semua sudah pada keluar, Brody dan Leo menghampiri Joni.


"Yok gas ke pusat permainan" kata Leco.


"Maaf, aku punya urusan mendadak ... Kalian pergi saja duluan!" teriakan Joni sambil berlari.


"Tuh anak kenapa?" tanya brody

__ADS_1


"Biasanya kekurangan obat"


"Obat lagi, Udah woi!"


Joni ternyata sedang mengejar Bu Salsa "Bu ... Bu Salsa!" terikan panggil Joni.


Bu Salsa pun berhenti "Iya ada Jon" Kata Bu Salsa.


"Anu Bu, biar aku bawakan saja tugasnya ke kepala sekolah"


"Oh... boleh-boleh" -Bu Salsa memberikan semua bukunya ke Joni- "Tumben mau membantu ... Kesurupan apa kamu?"


"Haha, bisa aja Bu Salsa ... Ya udah Bu, saya bawakan ya?"


"Tunggu Jon"


"Ada apa lagi Bu?"


"Dari tadi kok gak ada leluconnya ya?"


"Lagi gak kepikiran Bu, nih otak masih buntu"


"Oh, gitu ya, ya udah"


Seseorang keluar dari ruangan kelas, dia sedang berjuang menuju ketangga sekolah. Ternyata orang tersebut didalam kelas tadi sedang mengumpulkan debu dan membentuk menjadi tulisan, SMA.


Joni sampai di ruangan kepala sekolah, dengan santainya dia masuk Tanpa ketuk pintu dulu dan Bu kepala sekolah meresponnya dengan.


"Tunggu, masalah tugas, kita kesampingkan dulu" kata Joni sambil gerakan tangan.


"Kesampingkan dulu" Bu kepala sekolah mengikuti gerakan tangan Joni.


"Aku datang kesini, untuk menyampaikan salam ibu ke Bu Lusi"


Bu Lusi, itu adalah nama asli dari kepala sekolah. Sekedar informasi, Bu Lusi adalah teman masa kecil dari ibunya Joni. Sampai-sampai, mereka memiliki cita-cita yang sama, yak nih menjadi seorang guru.


"Sangat mencurigakan, Pasti ada maksud tersembunyi disini" kata Bu Lusi.


"Ga-gak ada ... Cuma" kata Joni.


"Cuma!"


"Cuma-cuma di pasar harganya naik ya?"


"Cumi-cumi! Jauh Amat woi!"


Joni pun dipersiapkan duduk sama Bu Lusi dan Bu Lusi memberikan beberapa cemilan yang masih ada di mejanya.


"Jadi apa tujuan asli mu?" tanya Bu Lusi.


"Ya... Aku belum selesai mengerjakan tugasnya Bu ... Jadi, tolong anggap aku sudah mengulurkan tugasnya ya?" kata Joni.

__ADS_1


"Ha... Kamu ini ya, kenapa kamu sangat beda jauh sama Astutik?"


Astutik nama asli dari ibunya Joni. Itu nama masa kecil, sekarang biasa di panggil Bu Rara. karena anak pertama kan Rara, orang Indonesia pasti paham.


"Loh... Saya kan laki-laki, jadi sifat ku lebih condong ke ayah paling" kata Joni.


"Benar juga, Santo ya ... Aku masih heran, kenapa Astutik lebih memilih Santo" kata Bu Lusi.


Santo adalah nama ayahnya Joni. Itu nama masa kecil dan sekarang sering dipanggil Pak Rara.


"Hem, Emangnya kenapa, bukanya mereka di jodohkan?"


"Kamu kira orang dulu hanya di jodohkan melulu ...? Ibu mu itu ya, Astutik ... Dia orangnya sangat cantik, bahkan para anak pejabat sangat ingin menikahinya.


"Mulai dari Anak bupati, anak DPR, sampai bisa mudah juragan emas saja dia tidak mau" cerita Bu Lusi.


"Yang benar saja ... Ta-tapi kata ibu, dia dulu hanya seorang petani biasa"


"Sudah ku bilang, Dia memang orang biasa tapi mukanya yang luar biasa ... Kamu lihat kan, sekarang saja dia masih terlihat awet muda"


"Trus Kanapa memilih ayah? Apakah karena ayah seorang perwira?"


"Tidak, Santo dulu masih seorang tentara biasa ... Lebih baik kamu tanya saja dengan Ibumu"


Di jendela ruangan tersebut, samar-samar ada sebuah tulisan disana dan tulisan tersebut adalah RNX. Eh salah, maksudnya SMA. Tunggu, Kayak RNX sih. Bodoh lah, Anggap saja SMA.


Joni sudah sampai di rumah dan dia lolos akan tugasnya yang belum selesai. Ini lah salah satu sisi gelap Joni, Sekolah SMA khusus laki-laki, seperti sekolah melinya pribadi.


Joni berganti pakaian dan langsung mandi, selesai mandi, dia baru mengerjakan tugas yang tadi disekolah. Dia selesai tepat saat jam makan malam. Joni turun untuk makan dan ternyata satu keluarga sedang kumpul makan bersama, tapi sang ayah tidak ada.


"Kak Rara, kapan baliknya? Kok aku gak tau" kata Joni.


"Sejak pagi lah, ya... kamu sedang sekolah mana tau"


Joni pun duduk dan langsung menyantap makanannya. Saat sedang makan, dia tiba-tiba teringat dengan percakapan nya dengan Bu Lusi.


"Bu, bulu kenapa kamu lebih memilih ayah?" tanya Joni.


"Kamu ini ngomong apa, ya karena di jodohkan lah" kata Nia.


"Nia... Tidak semua orang jaman dulu itu selalu di jodohkan" jawab sang ibu atau kita langsung saja panggil Astutik.


"Hah, jadi ibu dulu tidak di jodohkan?" Silvia sangat terkejut.


Ibu Astutik tersenyum "Kamu tadi bertanya 'Kenapa ibu memilih ayah' Ini pasti pertanyaan dari Bu Lusi kan?"


"Eh? Hahaha" Joni mengelus-elus kepalanya.


"Jawabannya sangat simpel, Anu ayah kalian sangat besar dan panjang, ibu sangat bahagia saat di ranjang ... Karena itu, ibu sampai memiliki lima anak ... Rencana mau sampai sepuluh anak sih, tapi lima saja sudah tidak boleh di Indonesia ya"


"Tunggu, ini masih aman kan? woi ... Ini ending loh, seharusnya aman ya kan!" terikan Silvia.

__ADS_1


"Benar-benar sisi gelap" kata Rara.


__ADS_2