Sahabat Mencari Asmara (SMA)

Sahabat Mencari Asmara (SMA)
Chapter 6. Sama Karakter lain


__ADS_3

Kalian pasti bosan kan dengan Brody, Joni, dan leo Melulu. Karena itu, chapter kali ini kita akan terfokus pada salah satu karakter. Penasaran? Kalo gak ya udah, dia adalah.


"Joni, Sedang apa kamu? Cepat berangkat, nanti telat loh" Kata sang ibu.


Tak lama Joni pun turun "Lah kok, mana Elina Bu?" tanya Joni.


"Elina tadi sudah diantar sama Nia" jawab sang ibu.


Nia, umur 17 tahun, kelas tiga SMK. Dia bersekolah di SMK negeri, di jurusan TI (Teknologi informasi). Dia adalah anak kedua dari lima bersaudara. Dia terlihat dingin, tapi sebenarnya dia sedang memikirkan sesuatu yang tidak dapat di tebak kebanyakan orang, hanya keluarganya saja yang tau apa yang dia pikirkan.


"Loh, biasanya Kak Nia kan sama Silvia"


"Silvia sama seperti kamu, dia bangun kesiangan"


"Jangan samakan aku dengan kak Joni!" teriakan Silvia.


Joni dan Silvia keluar rumah, Joni sedang berusaha menyampaikan motornya. Dia sudah starter dan engkol berulang kali, namun motornya.


"Aduh... Kok gak nyala ya?" ucap Joni.


"Bahan bakarnya habis kali" Pendapat Silvia.


"Gak lah" -Joni membuka tangki bensin- "Nah, masih ada banyak kan"


"Trus apa?"


"Oh iya, rodanya kan hilang ...! Haha, ibu! Pinjam motor!"


"Emang ada hubungannya dengan roda? Lagian, sejak kapan tuh roda hilang? SMA" kata Silvia.


Mereka berdua pun berangkat dengan motor sang ibu. Selama perjalanan.


"Silvia" panggil Joni.


"Hem, apa?" jawab Silvia.


"Kamu kan sudah SMA, belajar naik motor kek"


"Masa bodoh ... Di undang-undang sudah dikatakan, minimal usia yang boleh berkendara motor adalah, 17 tahun keatas ... Aku kan masih 15 tahun"


"Aku juga baru 16 tahun, kok baik-baik saja selama ini?"


"I-itu kan kakak! tidak taat peraturan berkendara"


"Ngomong saja takut belajar naik motor ... Padahal hati mu sangat ingin bisa naik motor sendiri" Entah mengapa, kalo sama keluarganya, Joni sangat peka dengan perasaan mereka.


Ah... Ini nih yang aku benci dengan kak Joni ... Dia sok-sok keren, padahal tidak ada keren-keren sama sekali batin Silvia.


"Ah, sudah lah! Ngomong-ngomong ini lambat banget, tambah kecepatan kek, nanti telat nih!" Silvia asal ngomong gara-gara lagi emosi.


"Hehe, sesuai permintaan ... Pegangan yang erat-erat, kita akan ngebut!" Ucap Joni dan dia menambah kecepatan hingga 120 km/jam.


"Eh? Ahh...! Cepat ... Cepat ... ini terlalu cepat kak!"


"Hah? apa?" Joni tidak bisa mendengar ucapan Silvia.


"Ini terlalu cepat!"


"Makanan ketupat?"

__ADS_1


"Terlalu cepat...!"


"Duduk rapat-rapat?"


"Ah...! bodoh amat lah! ... Kak-kak, ada lampu merah didepan!"


Joni menerobos begitu aja lampu merah. Setelah dia menerobos lampu merah, ada dua mobil polisi mengejar dirinya.


"Kak! Ada polisi mengejar kita!"


"Hah! Main catur pakek kuda?"


"Ah...! Terserah kakak lah aku sudah capek teriak"


Joni melihat dari spion "Waduh, ada polisi ngejar kita ... Kok gak bilang-bilang sih!"


"Aku kan sudah bilang tadi!"


Dua mobil polisi tersebut, memiliki stiker dibelakang kaca mobilnya. kalo digabungkan, maka akan membentuk tulisan, SMA.


Entah bagaimana caranya, Joni bisa lolos dari kejaran dua mobil polisi. Sekarang dia sudah sampai di sekolahnya Silvia. Kalo kalian lupa, Silvia bersekolah di SMA khusus perempuan.


Silvia turun dari motor dengan wajah dan kulit putih pucat.


"Silvia, kamu baik-baik saja? Kalo lagi sakit biar kakak antar saja pulang, mumpung kakak masih disini" kata Joni.


"Aku kek gini salah siapa coba?" kata Silvia dengan tatapan ingin membunuh Joni.


"Ah, hahaha, maaf"


"Sudahlah, kak Joni pergi saja" Silvia langsung berbalik badan.


"Silvia! Selamat pagi" kata Viona.


Viona, umur 15 tahun kelas satu SMA. bersekolah di sekolah khusus perempuan. Dia adalah sahabat Silvia sejak SMP.


"Loh, kenapa dengan diri mu, kamu sakit?" tanya Viona.


Silvia duduk di tempat duduknya yang disebelah kanannya Viona.


"Aku baik-baik saja, hanya saja aku kesal dengan kak Joni" Jawab Silvia.


"Kamu lagi bertengkar dengan kak Joni?"


"Kayaknya jauh lebih parah dari bertengkar ... kami dikejar-kejar polisi dan muter-muter kota dengan kecepatan 120 km/jam ... hehe, aku masih gak percaya kalo aku masih hidup"


"Em, maaf telah bertanya"


Pelajaran pun dimulai dan yang masuk kelas adalah guru biologi.


"Loh kok biologi?" kata Silvia.


"Lah, hari ini jam pertama kan emang biologi" kata Viona.


Ku kira bahasa Inggris ... Aku sangat panik karena bangun kesiangan dan aku kira hari ini hari Senin, ternyata hari Kamis batin Silvia.


"Jangan-jangan, kamu tidak bawa buku biologi?" tanya Viona.


"Hahaha, iya ... Aku salah lihat jadwal"

__ADS_1


"Kalo gitu, sini gabung"


"Ah... terimakasih...! Kamu memang sahabat ku"


"Yang tidak bawa buku biologi, keluar" kata guru biologi.


Silvia pun keluar dari kelas, dia menunggu di depan pintu kelas sampai jam biologi selesai. Dua jam kemudian, jam biologi pun selesai dan Silvia baru diperbolehkan untuk masuk. Dia berjalan kembali lagi ketempat duduknya.


"Ha... Hari ada apa sih ini? Sial Mulu perasaan dari tadi" kata Silvia.


"Hari Senin" Jawab Viona.


"Ya, gak usah dijawab juga gak papa kok, Viona"


Jam berikutnya pun dimulai, Guru bahasa Indonesia masuk kedalam kelas.


"Oke kita lanjut bab sebelumnya, buka halaman 135 ... oh, Silvia silakan keluar"


"Aku bawa buku bahasa Indonesia pak!"


"Oh, yaudah kalo gitu"


Ada satu layangan yang tersangkut di batang pohon sekolahan, Layangannya sangat indah dan besar. Di layangan tersebut, dibaliknya ada daun yang diukir membentuk tulisan, SMA.


Jam pulang sekolah pun tiba. Silvia dan Viona, masih berada di ruangan kelas dan mereka masih ngobrol satu sama lain. Tiba-tiba.


"Hei" kata temen sekelas 1.


Silvia dan Viona pun terkejut "A-ada apa ya?" tanya Silvia.


"Kita karaokean yuk, Viona, Silvia ... Kita sudah dapat enam orang, kayaknya akan tambah asik kalo tambah dua orang lagi, biar penuh ruang karaokenya, hahaha ... Kalian mau ikut kan?" ajakan teman sekelas 2.


Silvia sangat ingin ikut, namun dia tidak boleh kemana-mana dan harus menunggu Joni menjemputnya. Sedangkan Viona, dia bisa saja ikut, karena dia berangkat sekolah sendir dengan mengunakan motor, rumahnya juga terbilang dekat dengan sekolahan sih.


"Hahaha ... maaf, aku... Masih punya urusan disekolah ... Mungkin Viona bisa" Silvia berbohong.


"Hah? Oh iya, tadi kamu diberi hukuman karena tidak bawa buku ya ... Maaf, kayak aku akan membantu Silvia" Viona ikut berbohong.


Teman sekelasnya yang mengajak mereka berdua, akhirnya pergi begitu saja tanpa berkata-kata.


"Kenapa kamu tidak ikut aja? Kelihatannya asik loh, karaoke dengan orang banyak" kata Silvia.


"Mana mungkin aku bisa menikmati karaokenya, jika sahabat ku tidak ikut juga" balas Viona.


Silvia menunggu Joni di depan gerbang dan Viona menemaninya juga. Tak lama, Joni pun tiba dan mereka berdua pun berpisah, Silvia pergi duluan. Saat ditengah jalan.


"Kak" Silvia.


"Hem" Joni.


"Kakak mau gak ... Itu .... "


"Itu apanya itu?"


Silvia menarik nafas dalam-dalam "Ajarin naik motor dong kak"


Joni agak terkejut mendengarnya, Joni merasa sangat senang dan dia pun tersenyum lebar.


"Boleh ... Apa sih yang tidak untuk adik kakak yang imut ini"

__ADS_1


"Ih...! kakak!" terikan Silvia sambil mencubit Joni.


__ADS_2