Sahabat Mencari Asmara (SMA)

Sahabat Mencari Asmara (SMA)
Chapter 22. kebetulan


__ADS_3

Sekarang hari Minggu, biasanya tiga sahabat nongkrong bareng. Tapi akhir-akhir ini, tiga sahabat tidak Nongkrong bareng di hari Minggu. Itu karena.


"Brody, kamu bisa mengantarkan pesanan ini?" Kata sang ayah Brody.


"Diantar kemana pak?" tanya Brody.


"Alamatnya sudah aku taruh di dalam kantong plastik sekalian ... Tempatnya cukup jauh, terserah kamu mau pakek motor atau sepeda" Sang ayah pun pergi lanjut memotong-motong daging.


Brody pun pergi, dia memutuskan untuk mengunakan sepeda. Karena saat dia melihat alatnya, ternyata tidak begitu jauh-jauh amat.


Brody dengan lihai dan cepat mengendari sepedanya. Saat ingin menyebrang jalan, dia menghargai para pejalan kaki dan turun menuntun sepedanya.


Sepuluh menit kemudian, Brody sudah sampai di tempat tujuan. Dia agak kaget dengan tepat tujuannya, tempat itu ternyata, hotel berbintang.


Tunggu, baru sadar aku ternyata toko bapak sangat populer ... Orang yang tinggal disini pasti orang kaya batin Brody.


Brody masuk kedalam hotel dan dia bertanya ke petugas penjaga lobby. Untungnya, ada nama sih pengiriman dibalik alamat yang diberikan oleh ayahnya.


Daging Brody pun diterima oleh sih penjaga lobby dan Brody pun menerima uang darinya juga. Brody langsung keluar dari hotel dan berniat untuk balik kerumahnya.


Akan tetapi, dari sebrang jalan tepat di depan hotel, dia melihat Lia seperti sedang bertengkar dengan seseorang pria. Brody yang melihatnya tau, pria tersebut pasti pacarnya Lia. Brody tidak ingin ikut campur dengan urusan Lia, dia pun menaiki lagi sepedanya dan langsung pergi.


Saat baru beberapa meter persegi, dia mendengar teriakan Lia.


"Aku tidak mau! Aku ingin pulang!" teruskan Lia.


Brody pun berhenti dan dia teringat dengan kejadian terakhir kali menolong Lia. Dengan nekat, Brody langsung menyebrang jalan meskipun tidak ada zebra cross, Brody menyebrang begitu saja tanpa peduli jalan ramai.


"Gak papa, cuma sebentar kok, sebentar saja" kata laki-laki yang membujuk Lia.


"Aku kesurupan apa sih? Kita masih sekolah dan masih dibawah umur ... Pokoknya aku tidak mau!" penolakan Lia.


"Apakah kamu merasa takut? Gak papa kok, sakitnya cuma di awal-awal do-" laki-laki yang membujuk Lia, di tabrak dengan sepeda oleh Brody.


"Ah maaf, Aku tadi merem" kata Brody.


"Apa yang kamu lakukan?!" Tanya pria yang ditabrak Brody.


"Kan sudah aku bilang, aku menutup mata ku"


"Justru itu lah yang aku tanyakan! Apa yang kamu lakukan berkendara dengan menutup mata!?"


"Ah, Lia ... Hei!"


"Jangan abaikan aku!"


Lia pun mendapat ide secara mendadak. Dia berlari mendekat Brody dan langsung merangkul tangan kanan Brody.


"Maaf, aku tidak mau bukan karena aku takut, tapi aku sudah punya pacar" ucap Lia.


"Eh...!" Brody dan pria tersebut kaget.

__ADS_1


"Oi, kenapa kamu malah ikutan kaget?" Kata pria tersebut.


"Ya... Itu karana"


"Karena kita sering melakukannya" kata Lia.


"Eh...!" Brody dan laki-laki tersebut kaget lagi.


"Dari tadi kenapa kamu ikutan kaget!?"


"Aduh" Brody merasakan lengannya dicubit oleh Lia.


Brody pun menatap mata Lia dan dia langsung ketakutan. Lia menatap Brody dengan mata ingin membunuh jika tidak bisa memahami situasi saat ini. Meskipun agak sulit untuk dipahami, tapi dia sudah dari awal ingin menolong Lia.


"Maaf ya, bisa kamu menjauh dari pacar ku?" kata Brody.


"Hah, kamu kira aku orang bodoh apa ... Ini hanyalah akal-akal Lia dan kamu hanya ikuti alurnya ... Sudah lah, kita ini sudah dewasa" kata orang tersebut.


"Apa aku terlihat sedang berbohong?" Brody berusaha mengintimidasi pria tersebut.


"Hem, terserah lah ... ya-ya, aku pergi ... Sampai jumpa lagi, Lia" pria tersebut berjalan agak jauh.


"Hah... terimakasih Brody, kau telah menolong ku yang ke dua kalinya" kata Lia.


"Sebelum itu, bisa kamu lepaskan tanganku ku dan ... kita pindah ketempat lain, gak enak dilihat banyak orang" kata Brody.


Brody sangat malu dan Lia ikutan malu. Mereka pun pindah ke kafe terdekat. Sebelum itu, mari kita bayangkan seseorang yang sedang menonton Tv dengan Chanel, SMA.


"Eh?! Di-dia itu mantan mu?" kata Brody sambil merokok.


"Eh..."


Cewek ya... enak banget kalo cari pacar, ditinggal tidur aja sudah ada yang ingin menembaknya batin Brody.


"Ngomong-ngomong, sangat mengejutkan ya" kata Lia.


"Hem, oh... Tadi itu aku beneran naik sepeda sambil merem" Brody salah paham.


"Oh, bukan itu kok ... Maksudku, sangat mengejutkan ternyata kamu itu perokok"


"Y-ya... Ini rokok enak banget sampai bikin kecanduan, haha"


"Hem... Tapi kamu masih dibawah umur loh"


"Biarin ... Dari pada bahas aku merokok, perasaan setau ku, kamu dua kali terlibat dengan hal-hal mesum"


"Ah! Mana aku tau! Yang namanya hidup gak ada yang tau kedepannya kan?"


"Tapi kali ini kamu hebat dari sebelumnya ... Kamu tadi sudah berani untuk berteriak, aku puji kamu"


*Ba-dum* suara detak jantung Lia.

__ADS_1


Lia tersenyum "Terimakasih"


Mari kita tinggal kan dua hari yang sedang berkembang ini dan mari kita kembali ke orang yang masih stay menonton channel, SMA.


Leo dan Joni saat ini sedang nongkrong bareng di tempat sport memancing. Yap, mereka sedang memancing di hari Minggu yang sangat panas ini.


"Lihat Leo! Kira-kira aku dapat apa ya?" tanya Joni dan umpannya dimakan.


"Ya dapat ikan nila lah"


"Lihat Leo! Aku dapat buaya!"


"Mana ada bua- Tunggu, ini kolam buaya ya?"


Buaya yang didapat Joni adalah bayi buaya. ukurannya masih sepuluh centimeter.


"Leo, ambil foto!"


"Oke, ciss..."


*Krik" suara kamera handphone Leo.


"Hehe, mantap" Kata Joni sambil melepas kambali bayi buaya.


"Woi...! Kenapa dilepas!?"


"Lah, mau kamu pelihara? Bahaya loh Leo, kalo kamu tidak ahlinya, bisa-bisa kamu malah mati dimakan buaya mu sendiri"


"Siapa juga yang ingin pelihara buaya!"


"Leh terus?"


"Ya... tadi seharusnya kamu tahan dulu dan kita buang di sungai ... Kalo disini, akan bahanya sama para pemancing lainya dan juga, ini buaya bisa memakan habis ikan-ikan yang ada disini"


"Ada apa ini ribut-ribut?"


"Ah...!" Leo kaget, karena yang ngomong tadi adalah, sang penjaga sport memancing.


"Ya, tadi itu aku dapat bu-" mulut Joni disumpal tangan Leo.


"Buah! ya ada buah apel di dalam kolam" kata Leo.


"Hem... Itu hal yang biasa ... lihat disana, aku memiliki pohon apel ... tapi kalo kalian ingin, kalian harus membayar ku Rp10.000 untuk lima apel"


"Oh... lebih murah dari pada di pasar ya...?" kata Leo, dia sangat ingin pergi.


"Tentu saja lah, lagi pula dulu aku menanamnya karena putri ku sangat suka apel dan sekarang dia sudah dewasa dan malah benci apel" -sang penjaga menangis- "Kenapa anak-anak tumbuh begitu cepat"


"Ya, ahahaha ... Oh ya, kayaknya kami sudah selesai memancing, kami pergi dulu!" kata Leo sambil berlari menyeret Joni.


"Woi! kembalikan dulu alat pancing nya!"

__ADS_1


"Maaf! kami buru-buru!"


"Ya ampun, anak jaman sekarang ... Tunggu" -Sang penjaga mengangkat alat pancing Joni- "Yang ini bukan punya ku"


__ADS_2