
Lia berlari mendahului Brody, dia merentangkan kedua tangannya, dia menghalangi jalan Brody.
"Eh, a-ada perlu apa lagi ya?" tanya Brody.
"Jangan pergi dulu" ucap Lia.
"Tapi aku harus pulang, masih banyak pe-"
"Dibilang jangan pergi ya jangan pergi!" teriakan Lia.
"Terus, kita mah ngapain?" tanya Brody.
Pertanyaan macam apa itu Brody!? Sial... Aku tidak memiliki pengalaman untuk memahami pikiran cewek batin Brody.
sedangkan yang dipikirkan Lia.
Apa yang sedang aku lakukan saat ini? Tiba-tiba aku berlari dan menghalangi jalannya, tapi aku tidak tau harus apa sekarang!? Rasanya ada yang kurang dan aku tidak dia begitu saja batin Lia.
Dari sudut pandang Lia, dia melihat ada toko es krim beberapa meter dibelakang belakang Brody.
"Hei, mau mampir ke toko es krim?" tanya Lia.
Brody mau dan mereka berdua pergi ke toko es krim bersama. Brody duduk di meja depan toko, di meja tersebut memiliki payung ditengah meja.
"Ini buat kamu" kata Lia sambil memberikan es krim ke Brody.
"Terimakasih ... Oh ya, ini uangnya" kata Brody.
"Tidak perlu, anggap saja es krim itu sebagai tanda terimakasih telah menyalakan ku" kata Lia sambil duduk di bangku depan Brody.
"Terimakasih" Brody berterimakasih lagi.
Padahal tadi dia terlihat keren, sekarang dia malu-malu dan itu membuat dia terlihat sangat imut ... Oh iya, Aku belum tau namanya batin Lia sambil cengar-cengir sendiri.
"Anu, Boleh aku tau nama mu?" Tanya Lia.
"Hah, namaku Brody ... Kamu?" Brody balik bertanya.
"Aku Lia"
Tunggu! Batin Brody dan Lia.
"Kamu Saudara kembarnya Leo?" Brody. "Kamu sahabatnya Leo?" Lia. Mereka mengucapkannya bersamaan.
Mereka diam sesaat dan tiba-tiba "Hahahaha! Kebetulan banget!" Kata Lia.
"Hahaha, Ternyata dunia ini sempit ya" kata Brody.
__ADS_1
Mereka pun saling berbicara sambil menikmati es krimnya. Disana juga ada sepasang kekasih yang sedang menikmati es krim juga. Sepasang kekasih itu, sama-sama memakai kaus bertuliskan, SMA.
Setelah satu jam berlalu, saat ini Brody sedang berjalan bersamaan dengan Lia. Karena pada dasarnya, arah rumah mereka sama untuk satu kilometer kedepan.
"Kamu tau, Leo saat ini sedang bermain game saja di rumah ... Apakah dia juga selalu bermimpi game saat disekolahan?" Tanya Lia.
"Ah... Dia jarang banget bermain game disekolahan ... Malahan, dia selalu nongkrong bersama aku dan Joni" dan bolos sekolah bersama. Kata batin Brody, yang tidak bisa dia katakan dengan lisan.
"Begitu kah, Syukurlah kalo begitu ... Apakah Leo menyusahkan kalian?" Lia bertanya lagi.
"Sangat menyusahkan ... Dia selalu meluruskan lelucon ku dan Joni" Untuk khusus ini, Brody berkata blak-blakan.
"Em, untuk saudara kembar Leo, aku ucapkan maaf" kata Lia, tapi didalam hatinya.
Emangnya salah ya, meluruskan sesuatu yang menyimpang? Batin Lia.
Mereka berdua tidak menyadari telah melewati batu kecil yang unik. Kenapa unik? Karena pada batu tersebut, memiliki ukiran yang bertuliskan, SMA.
Mereka berdua pun berpisah saat sampai di perempatan. Lai berjalan lurus dan Brody harus belok ke arah kiri.
Tak lama, Brody pun telah sampai di rumah. Rubah Brody disampingnya Tokoh daging milik kedua orang taunya, Dia dari keluarga sederhana dan anak tunggal.
"Mak, ini uangnya dari pesanan tadi siang" Brody memanggil ibunya dengan sebutan Emak.
Sang Emak sedang menyapu didepan toko. Saat mendengar suara Brody, dia pun langsung berhenti menyapu dan melihat Brody.
Ayahnya Brody pun keluar dari toko "Apakah kamu bertengkar lagi dengan Joni?" tanya sang Ayah.
"Gak lah yah, kalo Joni mah gak mungkin sampai seperti ini" jawab Brody.
"Lah terus siapa yang memukuli mu?" sangat Ayah bertanya lagi.
"Ya... Tadi saat mengantarkan pesanan, aku dipalak oleh sejumlah preman ... Aku tidak mau mengasikannya kepada mereka dan aku pun dikeroyok, haha" Brody tidak berani berkata telah menolong seorang cewek.
"Dimana mereka sekarang!?" Ayahnya Brody menjalani emosi.
"Aku tadi ditolong oleh warga sekitar dan para preman tersebut sudah diamankan oleh polisi" Brody berbohong lagi, untuk menutup kebohongannya.
"Ya ampun nak... Masuk yuk, biar Mak obati"
Mereka semua pun masuk kedalam toko. Kalo kalian perhatikan baik-baik. Nama tokonya adalah, Segar Murni Alami, Kalo disingkat, SMA.
Karena chapter sebelumnya sih tokoh utama kita tidak muncul, sekarang mari kita lihat sih tokoh utama kita. Yap, yaitu Joni.
Jam setengah lima sore, Joni sudah selesai latihan beladiri dengan ayahnya. Tapi Joni belum pulang, melainkan masih di gunung.
Dibawah gunung, ada perdesaan yang memiliki pemandian umum air panas ala Jepang. Joni dan Ayahnya, mampir dulu kesana.
__ADS_1
Meskipun namanya umum, tapi pemandiannya dipisah antara laki-laki dan perempuan. Maksud kata umum, hanya bermaksud, biasa laki-laki dan perempuan, tapi tidak saat mandi.
Brody dan ayahnya melepas baju bersebelahan, masuk kedalam pemandian bersamaan dan, kita hentikan saja adegannya sampai didepan pintu. terlalu berbahaya kalo kita ikutan masuk kedalam.
Selang 30 menit kemudian, Brody dan Ayahnya sudah selesai mandi, tapi mereka tidak pulang dulu. melainkan, berjalan-jalan berkeliling pemandian, Karena sangat jarang ada pemandian air panas ala Jepang.
Saat dipertengahan jalan, sang ayah melihat perkumpulan para bapak-bapak yang sedang main catur.
"Joni, Kamu lanjutkan saja berkeliling sendirian, Ayah mau gabung bermain catur bersama mereka"
"Eh? ... Ehh ~ " ucap Joni Dengan muka datarnya.
Joni pun jalan-jalan sendirian, tanpa disadari, Joni sudah sampai ditempat terbuka. Ditempat itu, menyajikan pemandangan matahari tenggelam di antara gunung, pemandangannya sangat indah dan menyejukkan hati.
"Wou... Sunset ... foto ah, jadiin story" Ini bukan Kata Joni, tapi kata seseorang di sampingnya.
Joni pun menoleh kesamping nya dan ternyata disampingnya adalah seorang cewek tak dikenal.
"Hei, fotoin aku dong" permintaan cewek disebelahnya.
Joni pun, menerima permintaan cewek tersebut. "Oke, siap?" tanya Joni, dia sudah memegang handphone cewek tersebut.
"Satu, dua, Cis.... " Joni mengambil gambar cewek tak dikenal dengan pemandangan sunset disebelahnya.
"Wah... Bagus banget, hehehe ... Terimakasih, siapa nama kamu?" tanya cewek tak dikenal.
"Aku Joni, lah kamu?"
"Aku cewek tidak dikenal ... Kan sudah disebutkan sama pembawa cerita"
"Em, oke ... Pembawa cerita, kasih nama kek, pelit amat nama aja"
Setelah percakapan itu, Joni kembali pintu depan pemandangan Air panas.
"Woi! Beneran tidak dikasih nama nih dia!"
Sepuluh menit kemudian, Sang Ayah sudah puas bermain catur dengan para bapak-bapak. Dia juga sudah puas menyombongkan anak-anak perempuannya, kecuali Joni, dia kan laki-laki.
"Oke, pulang yuk, Sudah mulai malam besok kamu juga hari bersekolah dan ayah harus kembali kekantor" kata sang Ayah.
"Loh, Ayah kerjanya di kantor? Bukannya ayah seorang tentara?" tanya Joni.
"Kamu tau nak, Seseorang tentara yang sudah berumur seperti ayah, apalagi seperti ayah yang sudah berpangkat perwira ... Lebih banyak menghabiskan waktu di kantor dari pada di lapangan ... Itu malah membuat pikiran pusing, lebih enak di lapangan saat mudah dulu"
"Lapangan sepak bola atau lapangan voli?"
"Lapangan bulutangkis"
__ADS_1