
*Tek Tek Tek tektketektek*
"Berisik! Bocil latto-latto!" Teriakan Leo.
Latto-latto, adalah sebuah mainan berupa dua buah bola plastik berbobot padat keras dan permukaan halus yang diikat seutas tali dengan cincin jari di tengah. Permainan ini adalah jenis permainan ketangkasan dengan mengandalkan keterampilan fisik. Tidak semua orang bisa mempermainkannya.
Tapi tema kali ini bukan masalah latto-latto, tapi berkaitan dengan anak kecil.
"Akhir-akhir ini banyak banget anak kecil yang bermain latto-latto" Kata Joni.
"Benar, tiap pagi aku di bangunkan oleh latto-latto, bukan jam alarm ku lagi" kata Brody.
"Ya, ada bagusnya ada juga buruknya ... Bagusnya anak kecil zaman sekarang tidak terfokus dengan handphone dan buruknya, kita anak mudah zaman sekarang terganggu dengan suaranya ya tek-tek-tek!" kata Leo.
"Masalahnya ini yang memainkannya, mulai dari anak kecil sampai orang tua juga memainkannya ... Tadi malam bapak ku pulang sambil membawa latto-latto, dia jago memainkannya, pagi-pagi nya ku buangan tuh latto-latto"
"Bapak mu sadar gak Jon?"
Di langit yang cerah dan sedikit berawan dan beberapa awan membentuk sebuah gambar yang unik, mulai dari ayam, sapi, kambing dan juga tulisan, SMA.
"Woi! Berhenti!" Teriakan Leo yang sedang naik motor.
Brody dan Joni juga naik motor di depannya Leo, mereka berdua berhenti kerena teriakan Leo barusan. Leo pun sampai berhenti di tengah-tengah.
"Ada apa? Ban mu bocor?" tanya Brody.
"Hem, kalian tau? Ada mall yang baru buka didekat sini" kata Leo.
"Mampir?" tanya Joni.
"Gas" kata Leo dan Brody.
Tiga kilometer dari tempat mereka sebelumnya, mereka pun sampai di mall yang baru buka lima hati yang lalu. Mall ini terletak di pinggiran kota, dan masih di kelilingi dengan pepohonan yang lebat. Meskipun terletak di pinggiran kota, mall ini sangat ramai di kunjungi orang.
Tiga sahabat pun memarkirkan motor mereka, karena mall ini baru buka, untuk parkir masih gratis tapi tetap mendapatkan penjagaan. Mereka bertiga pun masuk kedalam mall.
"Wah... Tak di sangka seramai ini" Kata Brody.
"Namanya juga baru buka, kalo sudah satu bulan ya mulai berkurang" jawab Joni.
"Oke, uang saku kalian sisa berapa?" tanya Leo.
"Rp20.000" ucap Joni.
"Rp10.000" ucap Brody.
"Dapat apa woi, cuma segitu?" kata Leo.
"Lah kamu berapa? Yang ngajak tadi kamu kan" tanya Brody.
"Uang ku habis, tadi pagi aku hanya di kasih uang saku Rp10.000" Kata Leo.
"Kalo gitu keliling-keliling aja setelah itu langsung balik" kata Joni.
"Gas" jawab Brody dan Leo.
Mereka pun berkeliling mall, meskipun ada beberapa barang yang menggoda untuk di beli, tapi mereka menahannya untuk tidak membeli. Karena mereka tau, uangnya pasti tidak akan cukup. Selain itu, mereka masih memakai baju, SMA.
__ADS_1
Setelah keliling-keliling dalam mall, mereka bertiga pun duduk di bangku yang sudah disediakan didalam mall. Dengan uang Rp30.000 mereka membeli minuman jus pisang.
"Kembalian Rp3.000, buat kamar aja Jon" kata Leo sambil memberikan jus pisangnya ke Joni dan Brody.
"Oke" Jawab Joni sambil menerima uang kembaliannya.
"Kalo kalian sadar, perasaan kok banyak cewek dari pada cowok disini" kata Leo.
"Dari tadi aku juga sadar ... Tapi ya... Tetep saja kita hanya sebagai NPC disini" kata Brody.
"Gimana kalo kita bermain game?" tanya Joni.
"Game?" respon Leo.
"Yap, game ... Kita bermain batu, gunting, kertas seperti biasanya dan yang kalah harus gombalin cewek random yang ada disini" penjelasan Joni.
"Aku sih setuju aja, tapi ... Masih ingat terakhir kali kita main baru, gunting, kertas?" kata Leo.
"Benar juga, kita harus siap-siap haus" kata Brody.
"Kalo gitu jus pisangnya jangan di minum dulu!" teriakan Joni.
Bagi yang lupa, kejadian apa yang di maksud Leo, bacu saja lagi di chapter 3. Namun kali ini, untungnya mereka hanya melakukan batu, gunting, kertas tiga kali dan yang kalah.
"Sial...! Kalian pasti kompromi, fix kalian pasti kompromi!" Brody lah yang kalah.
"Mana ada, kalo kalah ya kalah" kata Leo.
"Bro-bro, lumayan Bro" Kata Joni sambil nunjuk cewek yang baru lewat.
"Aduh... Beneran nih?" Brody merasa keberatan.
Brody pun berdiri dan menghampiri cewek yang barusan lewat. Untungnya, cewek tersebut berhenti tepat di penjual minuman Boba.
"Permisi" kata Brody.
"Iya ada apa?" tanya cewek tersebut.
"Mbak, papa kamu, petugas PLN ya?" Brody mulai bereaksi.
"Enggak"
"Papa kamu, tukang bakso?"
"Enggak"
"Papa kamu, petani?"
"Mas, Bapak ku sudah di kuburan, kalo tanya lagi saya tampar loh mas"
"Oh... Papa kamu penggali kubur?"
*Pec* Brody mendapatkan tamparan.
Dari kejauhan, Joni dan Leo yang melihat dan mendengar hel tersebut.
"Jangan tertawa Jon, pokoknya jangan tertawa" kata Leo yang sedang menahan tawa.
__ADS_1
Cewek tersebut mendapatkan minuman Boba nya. gelas plastik Boba nya, terdapat beberapa kata ujung-ujungnya, diakhiri kalimat ada tulisannya, SMA.
Tiga sahabat keluar dari mall dan mereka menuju ke parkiran motor. Tanpa disengaja oleh Joni, dia melihat seorang ibu dan anak kecil yang sedang di usir oleh petugas satpam mall.
Tanpa berkata-kata, Joni langsung berlari menghampiri ibu dan anak tersebut.
"Woi, Joni! Mau kemana!?" teriakan Leo.
Brody dan Leo hanya berdiri, melihat Joni berlari. Joni sedang berbicara bahkan terlihat seperti hampir berantem dengan satpam mall.
"Eh, Leo!" terikan Brody.
"Tuh anak, lagi kesurupan atau kehabisan obat sih!?" ucap Leo.
Brody dan Leo pun berlari menghampiri Joni, saat mulai dekat dengan Joni, mereka berdua mendengar pembicaraan Joni.
"Ibu itu hanya mengambil sepotong, cuma satu genggam saja tidak ada" kata Joni.
"Yang namanya mencuri ya mencuri! Masih untung loh tidak aku laporkan ke polisi, sudah pergi sana!" kata pak satpam.
"Gitu aja sampai polisi ... Oke-oke, aku akan pergi, tapi minta maaf dulu ke ibu ini!"
"Hah! Minta maaf sama pencuri!?"
"Oh... Nih orang gak gak pernah di pukul keknya" Joni siap-siap mau memukul sih pak satpam.
Tapi niat Joni terhentikan karena Brody dan Leo datang menahan Joni. Brody menahan dan membawa Joni mundur dan sedangkan Leo.
"Ah... maaf ya pak, teman saya agak eror emang otak nya" Kata Leo.
"Ya bawa saja pergi jauh-jauh!" Kata pak satpam.
"Woi! Jual aja tuh hari lu! Dari pada tidak ada gunanya tuh hati!" terikan Joni dari kejauhan.
Sang ibu dan anak, mereka dibawah oleh tiga sahabat berteduh di bawah pohon. Setelah itu, mereka mendengarkan penjelasan dari sang ibu, yang sampai di usir dengan kasar dan ceritanya.
"Hari ini anak ku berulang tahun, dia meminta perayaan ulang tahun sejak berusia Liam tahun dan aku tidak mewujudkannya hingga dai berusia tujuh tahun.
Aku mendengar ada sebuah tempat baru buka dan banyak diskonnya, aku kesini untuk membeli sepotong kue, saat aku membayar kuenya, ternyata uang ku kurang ... Entah apa yang merasuki ku, saat sang penjual meminta uang lagi kepada ku, aku pun langsung berlari sambil membawa sepotong kuenya"
"Terus sekarang dimana kuenya?" tanya Brody.
Sang ibu membuka genggamannya "sudah hancur, aku genggam sangat kuat"
Tiga sahabat ini saling bertatapan mata, Leo membuka ranselnya dan mengeluarkan sebuah roti, yang niatannya ingin dia makan sambil menonton TV. Joni mencari sepotong ranting yang ideal, ranting tersebut dia cuci dia bagaian bawah dan dia tancapkan ke rotinya Leo. Setelah itu, tinggal Brody nyalakan koreknya dan membakar rantingnya.
Anak kecil tersebut terlihat sangat senang, sampai-sampai.
"Selamat, ulang tahun ... Selamat, ulang tahun" nyanyian sih anak kecil.
Brody, Joni, Leo, dan sang ibu. Mulai bertepuk tangan dan ikutan bernyanyi.
"Selamat, ulang tahun ~ Selamat, ulang tahun ~ Selamat...! Ulang tahun...! Selamat...! Ulang tahun!"
Orang-orang sekitar yang mendengarnya, mulai berdatangan satu persatu dan mereka juga ikutan bernyanyi.
"Tiup lilinnya ~ Tiup lilinnya ~ Tiup lilinnya sekarang juga ~ Sekarang... Juuuga ~ Sekarang... Juuuga ~ "
__ADS_1
Meskipun bukan lilin, Anak kecil tersebut tetap meniup ranting nya dengan sangat senang hati. Orang-orang di sekitar pun langsung memberi sebuah barang, untuk sebuah hadiah ulang tahun.