
Lebih dari satu?
Leighton benar-benar tak dapat berkata apa pun, sebenarnya berapa banyak aset yang dimiliki oleh keluarganya?
"Paman Joe, apakah kamu tahu berapa banyak uang yang dimiliki ayahku?" kata Leighton yang tidak bisa menahan diri untuk bertanya.
"Aku tidak tahu detailnya." Jawab Paman Joe sambil menggelengkan kepalanya.
Setelah beberapa saat, Leighton hendak berbalik badan dan pergi dari situ, Paman Joe berkata lagi, "Ngomong ngomong, aset ayahmu telah bertambah, namun masih kurang dari milik Elon Musk, Jack Ma, dan yang lainnya."
"Kalau begitu ayahku bukan orang terkaya se-antero negeri?" Mulut Leighton tercengang.
"Sulit untuk mengatakannya. Lagi pula, banyak orang kaya yang tidak mau mengungkapkan aset mereka. Faktanya, ada banyak orang kaya yang tidak terlihat di negeri ini, yang asetnya dapat dimasukkan dalam daftar orang kaya, namun mereka tidak mau dipublikasikan."
"Orang-orang seperti Jack Ma dan Elon Musk, mereka telah memiliki perusahaan mereka sendiri. Mereka hanya tidak sabar untuk membuat wajah mereka masuk daftar orang kaya, hanya untuk mempromosikan reputasi perusahaan mereka," kata Paman Joe.
"Baiklah, aku mengerti."
Setelah mengetahui rahasia ini, keberanian Leighton untuk membelanjakan uang menjadi sedikit lebih besar.
Tadi malam, aku telah diperas oleh Calvin dan dia mengambil lebih dari delapan belas juta dolar. Awalnya, Leighton masih sedikit frustrasi tentang ini. Namun, setelah dia mengetahui rahasia ini, Leighton langsung merasa tidak peduli lagi tentang itu.
Leighton berpikir bahwa setelah dia tiba di ibu kota provinsi nanti, dia akan menjadi penerus anak orang kaya raya, dan tidak akan lagi berpura-pura miskin.
Begitu Leighton keluar pintu, dia bertemu dengan Peter.
"Leighton, ada yang ingin kukatakan padamu." Peter berjalan menuju Leighton.
"Ada apa?" tanya Leighton kemudian.
"Clayton telah mengajakku baru-baru ini, untuk menghadiri pesta anak orang yang kaya, apakah menurutmu aku harus pergi?" tanya Peter dengan ekspresi kusut di wajahnya.
Peter sebenarnya ingin pergi, tetapi dia merasa minder dan terintimidasi. Sebab, dia bukanlah anak dari orang kaya. Dalam situasi seperti itu, dia pasti akan menjadi sangat pemalu, dan akan buruk jika dia secara tidak sengaja membongkar hal yang sebenarnya.
"Kapan?" Leighton bertanya, "Jika aku punya waktu, aku akan pergi bersamamu."
"Acaranya besok malam." Kata Peter dengan gembira.
"Lokasinya ada di resort milik ayahmu yang baru saja dibangun." Kata Peter setelah beberapa saat.
"Oke, kalau begitu ayo kita pergi bersama besok."
Leighton juga ingin melihat resort itu, bagaimanapun juga, itu adalah miliknya sendiri.
Setelah berbicara, Leighton pun pergi ke toko ponsel.
"Kak, apakah Anda ingin membeli ponsel?" tanya seorang penjual cantik yang datang menghampiri.
Leighton mengangguk.
"Lalu berapa harga yang Anda inginkan? Saya dapat merekomendasikannya untuk Anda dengan mudah." Kata penjual cantik itu.
"Beri aku dua puluh unit Apple X" Kata Leighton langsung tanpa perlu melihatnya.
"Dua puluh unit Apple X?" Mbak penjual itu menghela napas, "Kak, apakah Anda sedang bercanda?!"
__ADS_1
"Siapa yang bercanda, aku ingin dua puluh unit Apple X." Leighton pun kembali ke mobil dan langsung mengeluarkan segepok uang.
"Kenapa, apakah menurutmu aku tidak mampu membelinya?"
Ketika Leighton membawa sekantong uang ke penjual itu, seluruh orang di toko ponsel pun terperangah.
"Kamu benar-benar ingin membelinya?!" tanya mbak penjual itu lagi.
"Omong kosong!"
"Kalau begitu tunggu sebentar, toko ponsel kami tidak memiliki banyak stok, saya ingin menghubungi toko ponsel lain." Kata mbak penjual ini.
Perlu menunggu sekitar setengah jam sebelum Leighton akhirnya mendapatkan ponsel tersebut.
Kemudian, Leighton pergi ke Pusat Elektronik lainnya untuk membeli sepuluh televisi, sepuluh mesin cuci, dan sepuluh kulkas.
Yang paling akhir, dia pergi ke Toko 4S dan membeli mobil seharga dua ratus ribu dolar.
Setelah menyelesaikan semua ini, Leighton kembali ke rumah dan berkata kepada ibunya 'Milla', "Ma, aku telah menyiapkan pesta jamuan masuk universitas. Tolong mama bantu hubungi seluruh kerabat."
"Oke, apakah ingin mengundang semuanya?" Milla bertanya.
"Ya, undang mereka semua." Leighton mengangguk.
Setelah hari yang sibuk, Leighton yang lelah kembali ke kamar dan tertidur.
Keesokan paginya, Leighton pergi ke rumah kepala desa.
"Kepala desa, maaf merepotkan Anda, tolong bantu saya untuk buat pengumuman di area perumahan ini," kata Leighton sambil tersenyum.
Leighton sedikit malu. Terakhir kali dia datang menemui kepala desa, itu adalah tiga tahun yang lalu. Saat itu, dia menangis dan memanggil kepala desa untuk membuat suatu pengumuman, mengatakan bahwa orang tuanya hilang, dan dia meminta semua penduduk desa untuk membantu menemukan mereka.
Pengumuman ini dilakukan dengan cara berteriak sekali dengan pengeras suara.
Leighton berkata, "Kepala desa, saya memang belum mulai kelas untuk menimba ilmu di universitas. Namun saya ingin mengadakan syukuran masuk perguruan tinggi, jadi..."
"Untuk mengumpulkan dana masuk ke universitas, yah?" Kepala desa tersenyum dan berkata, "Ini sungguh menyakitkan bagimu. Sudah susah- susah berjuang untuk diterima di universitas, namun tidak mampu membayar uang gedungnya."
"Kepala desa, Anda salah paham, aku hanya ingin mengundang semua penduduk desa untuk makan, dan tidak meminta dana," kata Leighton.
Kepala desa tersebut berpikir bahwa Leighton mengambil kesempatan untuk mengumpulkan dana dari orang-orang desa untuk membayar uang gedung nya tersebut.
Namun sekarang, kepala desa itu sungguh tidak mengerti, "Kamu tidak ingin mengumpulkan dana dari orang-orang, tetapi kamu ingin mengundang seluruh warga desa untuk acara syukuran perjamuan makan?"
"Ya." Leighton mengangguk.
"Leighton, kamu sedang tidak demamkan." Kepala desa menyentuh dahi Leighton, mengira dia sedang sakit.
"Kepala desa, ketika saya di sekolah menengah, saat itu saya tidak mampu membayar uang sekolah. Lalu Anda memberi saya enam ratus dolar kan?" tanya Leighton tiba tiba.
"Iya masih ingat, itu semua hanya hal kecil di masa lalu." Kepala desa tertawa, "Sudah lupakan saja."
"Mana bisa seperti itu." Leighton pun mengeluarkan segepok uang dan meletakkannya di meja kepala desa, "Kepala desa, ini sepuluh ribu dolar, saya ingin mengembalikannya kepada Anda untuk utang saat itu."
"Selain itu, saya juga membelikan Anda beberapa meja, rak buku, pendingin ruangan, dan lain-lain. Saya melihat kantor Anda, semuanya telah rusak, dan sudah waktunya untuk diganti." Leighton tersenyum.
__ADS_1
Kepala desa yang melihat tumpukan uang di atas meja, wajahnya pun langsung panik, "Leighton, dari mana kamu mendapatkan uang itu? Kamu tidak mencurinya kan?!"
"Kepala desa, apakah Anda melihat saya seperti seorang pencuri barang?" Leighton menggelengkan kepalanya dan berkata, "Saya memenangkan lotre."
"Saya memenangkan lima juta dolar."
"Lima juta?" Mata kepala desa terbelalak, dia menatap Leighton untuk waktu yang lama.
"Leighton, tentu kamu tidak bisa berkata kalau kekayaan mu ini bersumber dari hadiah lotre. Jika sumbernya dilacak, tidakkah kamu tahu apa yang terjadi nantinya?" Kepala desa dengan ramah membujuk.
"Kepala desa, saya hanya ingin mengundang warga desa untuk perjamuan makan. Tolong bantu saya untuk umumkan. Saya telah memesan semua hal untuk acara jamuan makan ini. Umumkan ke semua bapak-bapak dan ibu-ibu di seluruh area ini untuk datang ke rumah saya untuk acara makan malam. Tidak perlu membayar uang sepeser pun dan ada undian hadiah besar." Selesai berbicara Leighton pun langsung meninggalkan kepala desa.
"Anak ini...." Kepala desa tersenyum rumit melihat Leighton yang pergi meninggalkannya.
"Aku mengkhawatirkan tentang uang sekolah untuk anakku yang masih balita... namun sekarang, aku tidak perlu khawatir lagi." Melihat sepuluh ribu dolar di atas meja, air mata kepala desa mengalir keluar dari tawanya. Ini sungguh suatu berkah menjadi orang baik.
Sebelum Leighton berjalan pulang, kepala desa mulai mengumumkan di corong suara.
Mendengar pengumuman itu, semua warga desa menajamkan telinga mereka.
"Anak Tuan Peltz, yang sudah pintar sejak kecil, dan sering mendapat peringkat pertama dalam ujian. Kali ini, dia telah diterima di universitas di kancah provinsi, bukankah ini suatu kebangga, kan?" Adapun seorang lelaki tua yang duduk lalu berkata, "Aku pasti datang untuk merayakan ini."
"Datang merayakan apa? Tidakkah kau ingat keluarga Tuan Peltz yang kelaparan, yang seperti ingin menggigit orang. Dan sekarang berkata bahwa tidak mau disumbang dana. Kita sudah bertetangga sepuluh tahun dengan mereka, jadi siapa tidak yang malu pergi dengan tangan kosong?"
"Jika begitu, bukankah sepertinya mereka memerlukan dana dari kita." Kata istri lelaki tua itu.
"Kamu para wanita sungguh tidak memiliki pandangan ke depan. Apa salahnya memberikan uang saat kita memakan makanan dari orang lain? Saat putra kita menikah, Tuan Peltz juga seperti itu pada kita."
Pria tua itu bangkit, lalu membungkus uang dua ratus dolar dengan kertas merah, dan berjalan ke rumah Leighton.
Dalam waktu setengah jam, sudah banyak orang berkumpul di halaman besar depan pintu rumah Leighton.
Alisson juga berlari keluar rumah saat ini, bersiap untuk menghadiri perjamuan masuk perguruan tinggi yang diadakan Leighton.
Tapi begitu dia sampai di pintu, ayahnya keluar, "Alisson, mau pergi ke mana?"
"Aku ingin menemui Candice untuk bermain." Alisson berbohong.
Jika kamu ingin bertemu dengan Candice, telepon saja Candice dan biarkan dia datang ke rumah kita." Ayah Alisson mendengus dingin, "Jangan kira ayah tidak tahu, kamu hendak datang ke tempat Leighton untuk acara perjamuan makan itu kan?"
Alisson tampak kusut, dia benar-benar ingin mengatakan yang sebenarnya kepada ayahnya.
Tapi Leighton telah memperingatkannya. Jika dia berani menceritakan rahasianya, Leighton akan memposting video dirinya dan Dickson secara online.
Leighton menakuti Alisson dan telah menyimpan cadangan rekaman tersebut.
"Ayah, Leighton tidak mau uang. Makanan gratis ini, bagaimana bisa di sia-siakan begitu saja?" Alisson mengangkat alisnya dan berkata, "Kenapa kita tidak ikut makan juga."
"Apakah ayah kurang menyediakan makan?"
Ayah Alisson mendengus, meraih tangan Alisson, menyeretnya kembali ke kamar tidur, dan menguncinya.
Bersambung.....
Jangan lupa like dan komen...
__ADS_1
Terima kasih