
Leighton mengangkat alisnya dan menatap Talisa dengan puas.
Sebaliknya Talisa menatap Leighton dan menelan ludah.
Pada saat ini, Talisa merasakan rasa kesal yang amat sangat di hatinya.
Mungkinkah Leighton benar-benar bos dari bar yang terkenal itu?
Jika memang begitu, tidakkah dirinya telah menyinggung tuan muda yang super kaya raya?
"Ban*sat! Coba pastikan sekali lagi." Edward terlihat enggan memarahi Talisa.
Pada saat ini, Edward sepertinya lupa bahwa tunangannya Jolie masih ada di sini.
Mendengar Edward, memaki orang seperti itu, Jolie tentu tidak bisa menahan cemberut.
Talisa kemudian bertanya, "Permisi, apakah benar pemilik bar adalah Anda, bernama Leighton?"
Semenit kemudian, Talisa menutup telepon.
Edward bertanya pada Talisa, "Apa yang mereka katakan?"
"Leighton memang pemilik "Bar Remembrance of the Past." Setelah mengatakan ini, Talisa menghela napas, wajahnya penuh keputusasaan.
"Hmmm, aku sudah menduganya sejak lama. Pasti Leighton dan Peter telah berkolusi dan membohongi kita dengan sengaja," kata Edward sambil mencibir.
Edward masih curiga, "Leighton, apakah kamu baru saja menelepon Peter?"
"Tuan Edward, mereka tidak mungkin berkolusi untuk menipu kita." Sebelum Leighton bisa menjawab, Talisa menjawabnya dengan suara rendah.
"Bagaimana kamu tahu?" Edward memelototi Talisa.
Talisa berhenti dan berkata, "Karena mereka mengatakan, bahwa besok akan mengirim seseorang untuk membawa dokumen kepemilikan bar, sertifikat properti, dan lain-lain, ke kantor kami."
"Bukan hanya bar atas nama Leighton, tetapi hak milik bar juga atas nama Leighton," kata Talisa.
Begitu kata-kata ini keluar, otak Edward tiba-tiba berdengung.
Kebohongan di telepon dapat dipalsukan, tetapi sertifikat bangunan, izin bisnis usaha, dan lain-lain. Tentu tidak dapat dipalsukan.
Karena mereka berani mengatakan, bahwa mereka akan mengirim dokumen, ini berarti sudah pasti benar.
"Edward, mengapa kamu tidak mempercayai Leighton sampai sekarang? Jika bar itu tidak atas namanya, apakah dia berani menggesek dengan kartu kredit 46 juta dan membayar uang muka terlebih dahulu ?" Jolie memutar matanya ke arah Edward dan berkata.
"Dasar idiot." Jolie sudah kehabisan kata.
Mengapa Edward ini begitu bodoh?
Leighton berjalan ke arah Edward dan berkata, "Besok aku akan menyelesaikan semua formalitas dokumen. Ketika saatnya tiba, kamu bisa meminta orang tuamu untuk datang ke tempatku."
Otak Edward berdengung lagi.
Dia hampir melupakan pertaruhan tadi.
Apakah dia kalah?
Dan apa dia juga kehilangan martabat orang tuanya?
Pada saat ini, Edward memandang Leighton dengan dingin, seolah-olah bersikap bodoh, "Bagaimana bar itu bisa menjadi milikmu?"
"Kamu siapa?"
"Apa kau ada hubungan dengan Walton Peltz, Tuan Leighton?"
__ADS_1
Leighton menepuk wajah Edward dan berkata, "Kenapa, kamu masih juga belum paham identitasku sampai sekarang?"
"Aku sudah memberitahumu barusan, bahwa akulah yang memberikan Porsche 918 itu kepada Peter," kata Leighton ringan.
Edward tiba-tiba mengangkat kepalanya dan menatap Leighton.
Alasan mengapa semua orang berpikir bahwa Peter adalah cucu Walton Peltz adalah karena Porsche 918.
Padahal awalnya itu adalah milik Leighton.
Bukankah itu berarti.....
Apakah Leighton adalah benar-benar cucu dari Walton Peltz?
Edward mundur beberapa langkah ketakutan, dan jatuh ke tanah dengan tersandung.
Leighton tertawa dan berkata, "Ingat, jangan beri tahu siapa pun, siapa diriku."
Wajah Edward pucat, dan dia terlalu takut untuk mengatakan sepatah kata pun.
Dia hanya mengangguk pada Leighton.
"Jangan lupa beri tahu orang tuamu, datang ke sini tepat waktu besok jam tiga sore." Leighton berkata dengan dingin.
Edward memandang Leighton memohon belas kasihan," Leighton, aku tahu. Aku salah."
"Tolong biarkan orang tuaku pergi. Ayah dan ibuku sibuk mengurus perusahaan pada hari kerja. Bagaimana mereka bisa punya waktu untuk menjaga dan membersihkan rumahmu ?" Edward menghadapi Leighton dengan getir.
"Apakah kau tahu apa artinya bersedia mengakui kekalahan?"
Leighton menggelengkan kepalanya dan berkata, "Jika kamu mengakui kekalahan, berarti kamu telah kalah dan harus membayar harganya."
"Apa gunanya memohon padaku sekarang?"
"Jika aku yang kalah, lalu aku mohon, apa kau akan melepaskanku?" Leighton balik bertanya.
Karena Leighton sudah memiliki jawaban di dalam hatinya.
Jika dia yang kalah, lalu minta belas kasihan Edward, Edward pasti tidak akan melepaskannya.
Setelah Leighton pergi, Jolie mendatangi Edward dan menendangnya, "Bangunlah dengan cepat."
"Jolie, apa yang harus aku lakukan sekarang? Jika orang tuaku tahu tentang ini, mereka pasti akan membunuhku!" Edward hampir menangis.
Alberto Jansenlin adalah CEO perusahaan Grup Jansenlin.
Membiarkan seorang CEO datang untuk menjaga rumah, bukankah itu lelucon?!
Dan ibu Edward, selain menjadi direktur umum perusahaan, juga merupakan seorang wanita yang cukup terkenal di ibu kota provinsi.
Membiarkan ibunya menjadi pembantu Leighton, lebih baik bunuh saja dia.
Tapi Edward tidak akan berani berbuat curang.
Belum lagi Edward, bahkan keluarga besar Jansenlin pun tidak akan berani menyinggung Leighton.
Terakhir kali di resor, Leighton memecahkan empat botol porselen biru-putih, botol-botol itu jelas palsu, tetapi bukankah pihak resor memeras 10 juta dolar dari keluarga Justin?
Pada saat ini, Edward menyadari mengapa pihak resor sangat melindungi Leighton hari itu.
Ternyata Leighton adalah pemilik resor!
Keluarga Leighton, yang bahkan tidak akan bisa disinggung keluarga Justin, apalagi keluarga Edward.
__ADS_1
Begitu Leighton berjalan ke area bawah perumahan di kaki bukit, dia melihat orang tuanya, Jorah Peltz dan Milla Stout.
Leighton menggosok matanya, mengira dia hanya berhalusinasi.
"Ayah, Ibu, kenapa kalian ke sini?" Leighton segera berlari dan bertanya dengan penuh semangat.
"Bukankah kedatangan kami jauh-jauh dari Westville, untuk melihatmu, bocah?"
"Setelah beberapa hari pelatihan militer, wajahmu tampak menjadi kecokelatan." Milla menyentuh wajah Leighton dan berkata, "Mengapa kamu tidak memakai krim tabir surya?"
"Bu, aku sudah besar, krim tabir surya macam apa yang perlu aku pakai? Bukankah yang ibu katakan ini sungguh lucu," kata Leighton yang kehabisan kata.
"Ngomong-ngomong, Ayah, aku membeli sebuah rumah di sini." Leighton memandang Jorah Peltz dan berkata dengan ragu.
Saat berbicara, Leighton tidak berani menatap mata Jorah Peltz, seperti anak kecil yang melakukan kesalahan.
"Ayah, kamu tidak memarahiku, kan?" Leighton bertanya.
"Ini hanya urusan membeli rumah, mengapa aku harus memarahimu?" Jorah Peltz bertanya secara retoris.
"Tapi rumah ini ... harganya lebih dari 200 juta dolar," kata Leighton, menelan ludahnya.
Faktanya, alasan terbesarnya membeli vila No.1 adalah, karena taruhannya dengan Edward.
Setelah dipikir sekarang, Leighton merasa ini terlalu mahal.
Jika harga unitnya sama dengan rumah lain, yaitu lebih dari 60 ribu dolar per meter persegi, Leighton berpikir itu masih tidak apa-apa, namun harga unitnya adalah 188 ribu per meter persegi, tidakkah itu harga setinggi langit.
"Lebih dari 200 juta, ini memang cukup mahal, tetapi keluarga kita tidaklah kekurangan uang." Jorah Peltz tersenyum dan berkata dengan acuh tak acuh, "Aku telah menghabiskan 10 miliar untuk membangun sebuah resor.""
"Ya, dibandingkan dengan ayahmu, kamu masih menghemat banyak uang," kata Milla.
Pada saat ini, Talisa mengendarai mobil buggy, hendak mengantar Edward dan Jolie ke bawah.
"Leighton, apakah mereka baru saja menghinamu?" Jorah Peltz memandang orang-orang ini dengan sedikit menatap dingin di matanya.
"Bagaimana ayah tahu?"
"Ayah dan ibu sudah mengawasi kalian sejak tadi." Milla berkata, "Sebenarnya, kami sudah lama berada di sini. Ketika kamu berada di kantor penjualan, kami sudah berdiri di depan pintu."
"Ayah dan ibu juga mendengar dari Paman Joe, bahwa kamu akan menggunakan sertifikat kepemilikan bar sebagai jaminan membeli sebuah rumah. Apakah kamu kehabisan uang?"
Milla menatap Leighton dengan tatapan polos, "Mengapa kamu tidak menelepon orang tuamu, jika kamu tidak punya uang?"
Jorah Peltz juga berkata dengan sedikit tidak senang, "lya benar, kenapa kamu memperlakukan kami seperti orang asing bagimu? Bukankah ketika seorang anak membeli rumah, maka orang tuanya harus ikut membayarnya?!"
Leighton merasa malu lalu menyentuh bagian belakang kepalanya, di sisi lain dia merasa jauh lebih tenang sekarang.
Leighton berkata, "Aku hanya takut kalian akan menyalahkanku?! Lagi pula, harga rumah ini sangat mahal."
"Oke, lebih dari 200 juta, ini akan kita bayar langsung lunas secara tunai, ayah sudah memerintahkan seseorang untuk mengirimkan uang itu kepadamu." Jorah Peltz melihat arlojinya dan berkata, "Seharusnya akan segera datang!"
"Apa kamu tidak malu mengambil uang pinjaman dari bank? Bahkan semua bank itu meminjam uang dari keluarga Peltz. Bagaimana seseorang dari keluarga Peltz balik meminjam uang dari bank? Ini sungguh lelucon!" kata Jorah Peltz, sambil memelototi Leighton.
Tepat setelah berbicara, sebuah mobil besar melaju.
Dan orang yang mengemudi adalah Reagen.
Reagen turun dari mobil, berjalan ke arah Jorah Peltz, dan berkata, "Bos, uangnya sudah saya bawa."
Jorah Peltz mengangguk dan berkata pada Leighton, "Leighton, panggil semua orang yang meremehkanmu sekarang."
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Terima kasih