Sang Pewaris Terkuat

Sang Pewaris Terkuat
Bab 223 Siapa Ayahmu? Walton Peltz?


__ADS_3

"Apakah ini Kartu Hitam Internasional Centurion American Express?"


Talisa membuka mulutnya lebar-lebar dan menatap Leighton dengan heran.


Leighton tersenyum ringan, tetapi tidak mengatakan apa apa.


Dia senang melihat ekspresi kaget Talisa.


Sembari mengambil kartu tersebut dari tangan Leighton, Talisa mengeceknya.


Kartu tersebut asli terbuat dari titanium, yang jauh lebih berat daripada kartu kredit biasa.


"Apakah ini benar-benar asli?" Melihat kilau yang terpantul pada kartu tersebut, Talisa bertanya dengan tidak percaya.


"Kamu bisa mencobanya, bukankah kamu tahu itu?" Leighton berkata dengan ringan.


Talisa mengerutkan kening, segera mengeluarkan ponselnya, dan memutar nomor, "Mike, tolong bawa mesin EDC ke unit rumah No.1."


Talisa memandang Leighton dan meragukan keaslian kartu hitam itu.


Lagi pula, orang-orang dengan kartu ini adalah orang paruh baya di atas usia 35 tahun, dan kebanyakan dari mereka adalah pemimpin grup perusahaan.


Tapi Leighton di depannya ini, tidak terlihat seperti seseorang yang pantas mendapatkan kartu jenis ini!


Talisa masih memandang Leighton dengan jijik, "Kamu tidak mencuri kartu ini, kan?"


"Kartu Hitam Internasional sangatlah langka. Serta tidak mudah menemukannya di seluruh ibu kota provinsi. Jika kau menduga aku mengambilnya, mengapa tidak kau memeriksanya?" Leighton mendengus.


"Jika kamu tidak mengambilnya dari seseorang, maka bisa jadi kartu ini palsu," kata Talisa tegas.


"Aku rasa kau belum tahu. Kartu Hitam Internasional ini tidak memiliki nominal batas transaksi. Artinya, jika kau benar-benar pemilik kartu ini, kau pasti tidak akan hanya membayar uang muka, karena ini cukup membayar nominal jumlah penuh."


"Lagi pula, di negara kita, tidak banyak orang yang memiliki kartu ini, dan hanya sedikit anak orang yang super kaya yang memilikinya."


"Pemilik asli Kartu Hitam Internasional semua ada dalam daftar Forbes. Mereka tidak peduli lagi dengan uang muka ketika membeli rumah, karena itu hanya akan merepotkan bagi mereka," kata Talisa dengan analitis.


Leighton tertawa dan menatap Talisa, "Apakah kamu sudah mengenali orang kaya dengan baik?"


"Aku bertemu orang kaya setiap hari," kata Talisa.


"Maksudmu Edward dan yang lainnya?" Leighton tersenyum meremehkan.


Seseorang seperti Edward hanyalah orang miskin baginya.


Pada saat ini, Jolie dan Edward berjalan keluar dari rumah tersebut.


Jolie berkata kepada Talisa, "Ayo pergi."


Pada saat ini, wajah Jolie tidak menunjukkan banyak kegembiraan, tetapi dari wajah Jolie, Leighton bisa melihat gelombang kekecewaan.


Leighton tidak tahan untuk tidak mengerutkan kening dan berkata dengan cemas, "Kenapa, bukankah rumah ini tidak buruk? Mengapa memasang ekspresi begitu?"


"Itu hanya karena rumah ini terlalu bagus, dan aku tidak mampu membelinya, itu sebabnya aku memasang ekspresi ini." Jolie memaksakan senyum dan berkata.


Ketika Leighton mendengar ini, dia langsung tertawa.


"Apa yang membuatmu senang. Apa kamu sendiri mampu membelinya ?" Jolie menatap Leighton dengan tatapan kosong.


Jolie tidak berpikir Leighton mampu membeli unit rumah No.1 tersebut.


Dia melirik Talisa dan berkata, "Antar kami turun ke area bawah komplek perumahan. Setelah berjalan-jalan, aku merasa sangat lapar."

__ADS_1


Jolie merasa bahwa rumah ini terlalu besar, dan akan memakan waktu lebih dari sepuluh menit untuk berjalan jalan melihatnya.


Ini masih melihatnya sekilas saja.


Jika dirinya mengamatinya dengan saksama, bukankah itu akan memakan waktu setengah jam?


"Nona Jolie, tunggu sebentar, rekan saya akan segera datang dan membawakan saya mesin EDC Card. Jika kita pergi sekarang, dia tidak akan dapat menemukan kita," kata Talisa.


Jolie mengerutkan kening. "Mengapa kau ingin dibawakan mesin EDC? Apa kau ingin kami membayar deposit?"


Setelah berbicara, Jolie tertawa dingin.


Edward menatap Talisa dengan lebih marah, dan berkata, " Untuk unit rumah No.8, bukankah kami mengatakan akan membelinya, dan kami pasti akan membelinya. Apakah kami masih perlu membayar deposit?"


"Apa maksudmu, kamu tidak bisa percaya pada kami?" Edward bertanya dengan dingin.


Umumnya, saat membeli rumah, haruslah membayar deposit saat melakukan reservasi.


Jika tidak, klien akan seenaknya membatalkan untuk membeli.


Tapi untuk komplek perumahan di Gem of Middle Hills ini tidak perlu, karena para klien di sini adalah orang-orang dengan status sosial yang tidak perlu diragukan.


Meminta mereka untuk membayar deposit adalah suatu penghinaan bagi mereka.


Melihat Jolie dan Edward marah secara bersamaan, Talisa segera menjelaskan, "Nona Jolie, Tuan Muda Edward, Anda semua salah paham."


"Anda berdua berasal dari keluarga terkenal di ibu kota provinsi, bagaimana mungkin saya menagih deposit Anda? " kata Talisa


"Lalu mengapa kamu meminta rekanmu untuk mengirimkan mesin EDC padamu?" Edward masih bertanya dengan marah.


Talisa menunjuk Leighton dan berkata, "Dia ingin membeli rumah."


"Serta, dia mengatakan ingin membayar dengan menggesek kartu secara langsung."


"Bagaimana bisa menggesek kartunya secara langsung? Bahkan jika membayar untuk uang muka rumah ini saja, itu sudah lebih dari 40 juta, kan? Apakah menurutmu akan ada lebih dari 40 juta di kartunya?" Edward menatap Talisa tanpa berkata-kata dan menggelengkan kepalanya.


"Dia menggesek kartu kreditnya." Talisa ragu-ragu dan menambahkan.


"Kartu kredit? Kutarik ucapanku yang merasa dirimu bodoh, sekarang aku yakin, kamu memang bodoh. Jenis kartu kredit apa yang dapat digesek dengan batas 40 hingga 50 juta dolar sekaligus? "Edward mencibir," Apakah menurutmu dia memiliki Kartu Hitam Internasional??"


Talisa melirik Edward dan berkata, "Tuan Edward, bagaimana Anda tahu bahwa dia baru saja memberi saya Kartu Hitam Internasional."


Mengatakan itu, Talisa menunjukkan kepada Edward kartu hitam global di tangannya.


Edward tercengang pada saat itu.


Jolie juga memandang Leighton dengan tidak percaya dan bertanya, "Apakah kartu ini milikmu?"


"Ini milikku." Leighton mengangguk.


Jolie menelan ludahnya, "Kenapa bisa kau memiliki kartu ini?"


Tidakkah keluarga seorang Jolie Sandish Weston cukup kaya?


Tetapi walau dirinya berasal dari keluarga kaya, dia belum pernah melihat secara langsung Kartu Hitam Internasional dalam hidupnya!


Dirinya baru melihatnya hari ini.


"Ayahku memberikannya kepadaku," kata Leighton ringan.


"Siapa ayahmu? Walton Peltz?" Jolie bertanya

__ADS_1


Dengan nama keluarga yang sama Peltz, hal yang pertama terlintas di pikiran Jolie adalah Walton Peltz, bukankah beliau termasuk salah satu orang terkaya?


Leighton menggelengkan kepalanya dan berkata dalam hatinya, "Walton Peltz adalah kakekku, bukan ayahku."


"Jolie, omong kosong apa yang kamu dengarkan dari anak ini? Aku yakin, kartu ini 80% palsu."


"Tidak, ini bukan lagi 80%, itu 100% palsu." Edward mengoreksi segera setelah dia selesai berbicara.


"Apakah kamu melihat dia seperti orang yang layak untuk memegang kartu seperti ini?" Edward melirik Leighton dengan jijik.


"Edward, pernahkah kamu mendengar apa artinya 'Low profile'? Lihat Mark Zuckerberg itu, apa dia terlihat seperti orang kaya? Dia terlihat mirip seperti orang yang biasa saja!" Jolie berkata.


Edward melirik Leighton dengan dingin. "Hanya saja Leighton, apakah dia layak dibandingkan dengan Mark Zuckerberg? Aku tidak berpikir bahwa Leighton layak untuk dibandingkan dengannya."


"Jolie sayang, kamu tidak benar-benar percaya kartu ini asli, kan?" Edward menatap Jolie tanpa berkata-kata.


Jolie juga tidak terlalu percaya.


Lagi pula, kartu jenis ini terlalu langka.


Orang dengan kartu ini bahkan lebih jarang.


Di ibu kota provinsi yang besar ini, dia rasa belum ada yang memiliki kualifikasi untuk mendapatkan kartu jenis ini.


Leighton....


Sosoknya hanya biasa saja, bagaimana bisa dia menjadi pemilik kartu jenis itu?


Namun, Jolie masih mencoba membuktikan dengan berkata, "Apakah itu benar asli tidaknya? Bukankah akan tahu sebentar lagi?"


"Leighton, berapa banyak uang yang kamu habiskan untuk memalsukan kartu ini? Bisakah kamu memalsukan satu untukku juga?" Pada saat ini, Edward memandang Leighton dan bertanya.


"Tidakkah tadi sudah kubilang, itu diberikan kepadaku oleh ayahku." Setelah Leighton selesai berbicara, dia terlalu malas untuk terus bicara dengan Edward.


"Aku benar-benar tidak bisa meneteskan air mata tanpa melihat peti mati." Edward mencibir: "Tunggu sampai mesin EDC datang untuk membuktikan, aku akan melihat bagaimana kamu tidak akan bisa berpura-pura lagi!"


Setelah menunggu kurang dari lima menit, seorang pemuda yang lain datang ke Leighton dengan mesin EDC.


"Kak Talisa, ini mesin EDC yang kamu inginkan." Pemuda itu menyerahkan mesin EDC itu kepada Talisa.


Talisa mengambilnya dan berkata kepada Leighton, "Masukkan kata sandimu!"


"Tunggu sebentar." Leighton menoleh untuk melihat pemuda itu dan bertanya, "Siapa namamu?"


"Halo, Tuan, nama saya Mike."


"Apakah kamu juga seorang sales marketing di sini?" Leighton bertanya.


"Saya masih dalam tahap magang." Mike tersenyum canggung.


"Tidak masalah jika kamu magang, selama kamu memiliki kualifikasi untuk menjual rumah." Leighton meraih mesin EDC dan kartu kreditnya, lalu menyerahkannya kepada Mike.


"Aku baru saja membeli rumah ini, kau tolong bantu untuk menghitung harganya, aku akan menggesek kartuku," kata Leighton.


Setelah Mike mendengar ini, dia menatap Leighton dengan heran, "Anda bilang, Anda ingin mempercayakan ke saya untuk menghandel pembelian unit rumah No.1, bukan?"


Pada saat ini, Mike terlihat gemetaran ketika dia berbicara dengan penuh semangat.


Bersambung.....


Jangan lupa like dan komen

__ADS_1


Terima kasih


__ADS_2