
Wajah Evelyn terlihat sungguh telah bertekad bulat, tanpa ragu-ragu.
Ketika noda darah merah muncul di sprei, Evelyn tampak meninggalkan air mata di sudut matanya.
Meskipun, Evelyn sudah memutuskan untuk memberikan keperawanannya pada Leighton.
Namun saat ini, dia masih memiliki sedikit penyesalan....
Atau lebih tepatnya, dia masih tidak rela?
Evelyn menutup matanya dan berjongkok di atas Leighton.
.....
Pada saat ini, Leighton sudah tidak sadarkan diri, tetapi mekanisme tubuhnya dapat bekerja seperti normalnya....
Tidak tahu adegan itu telah berjalan berapa lama, sebelum akhirnya Evelyn memutuskan turun dari tubuh Leighton.
Evelyn juga tampak tidak berdaya ....
Jika tidak begini, dia akan dinikahkan dengan Mark.
Dia tahu bahwa Mark adalah seorang ba*ingan.
Tidak hanya dia yang tahu, tetapi seluruh keluarganya tahu itu. Namun, harus bagaimana lagi?
Bahkan jika Mark adalah seorang yang berengsek, keluarganya masih tidak akan mengubah keputusan mereka untuk menyuruh Evelyn agar menikah dengan Mark.
Bagi keluarganya, Evelyn hanyalah sebuah jembatan, jembatan yang digunakan untuk menghubungkan bisnis kerja sama antara keluarganya dan Keluarga Mark..... Dalam keluarganya, orang yang paling sayang pada Evelyn adalah Arthur.
Tetapi bahkan Arthur sendiri tidak berdaya untuk hal ini, Evelyn sungguh putus asa.
Sampai akhirnya dirinya bertemu Leighton, hati Evelyn seperti memiliki secercah harapan.
Evelyn merasa bahwa hanya Leighton lah yang bisa menyelamatkannya dari cengkeraman Mark......
Terutama ketika Leighton menikam Mark hingga masuk ke rumah sakit, tetapi Keluarga Mark tidak menuntut sama sekali, Evelyn telah yakin akan hal ini.
Evelyn juga yakin ketika Keluarga Mark, tahu dirinya tidak perawan, mereka pasti tidak akan mau menerima dirinya.
Bila perlu, dirinya dapat menikam Mark dan Keluarga Collin, dengan memberi tahu tentang hubungan badannya ini dilakukan dengan Leighton, maka pernikahan dirinya dengan Mark akan berakhir.
Ngomong-ngomong, Evelyn merasa dirinya ini sungguh menyedihkan.
Pagi selanjutnya.
Leighton bangun dari tempat tidur, merasa sedikit berat di kepalanya.
Apa yang terjadi semalam?
Minum terlalu banyak?
Leighton mengerutkan kening. Dia hanya ingat bahwa dia sedang minum dengan Evelyn saat itu. Dia tidak mengetahui tentang apa yang terjadi setelah itu.
"Pers*tan?!"
Dia pun duduk dan memandang sekitar, Leighton terkejut ketika dia melihat pakaiannya berhamburan ke mana mana!
"Pers*tan!"
Melirik ke sampingnya lagi, Evelyn berbaring diam, hanya mengenakan pakaian dalam tipinya.
"Apa yang sebenarnya terjadi?"
Leighton menelan ludahnya dan langsung ketakutan.
Dia minum terlalu banyak dan meniduri Evelyn?
Setelah memperhatikan noda darah di tempat tidur, Leighton menjadi lebih yakin.
Pada saat ini, hati Leighton sangat bingung... ini seperti langit runtuh tepat di kepalanya.
Melihat Evelyn tidur nyenyak, Leighton diam-diam turun dari tempat tidur, berpakaian, dan menyelinap keluar dari kamar.
__ADS_1
Leighton tidak mau bertanggung jawab.
Bagaimanapun, identitas seorang Evelyn Clinton sangatlah rumit, dan Leighton juga tidak tahu banyak tentang Keluarga Clinton sama sekali.
Bertanggung jawab kepada Evelyn, bagaimana dirinya bisa bertanggung jawab?
Menikah dengannya?
Ini sungguh tidak mungkin.
Leighton sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Evelyn, jadi bagaimana dia bisa menikah dengannya?
Apalagi dirinya belum lulus kuliah, jadi masih terlalu dini
untuk membicarakan pernikahan.
Begitu Leighton keluar dari kamar, dia berlari ke Brian.
Brian sedang berdiri di luar dengan sebatang rokok di satu tangan dan tangan lainnya di kantong jas nya.
"Apakah kamu menungguku?" Melihat bekas sisa rokok di lantai, Leighton sepertinya mengerti sesuatu.
Brian tersenyum, "Ya, jika kamu tidak keluar, aku akan mengetuk pintu.
"Bos, cepat ganti bajumu. Lihat bajumu. Jika seseorang melihat ini, mereka mengira kamu digigit anjing."
Leighton memutar matanya ke arah Brian dan mengambil pakaian darinya.
"Bagaimana kamu tahu pakaianku robek?" Leighton bertanya.
"Aku tidak tahu, tetapi jika kamu ingin pergi ke resor, kamu tidak bisa hanya mengenakan pakaian kasual."
Brian berkata, "Bos secara khusus membuatkan beberapa pakaian untukmu. Kecuali yang ini, sisanya telah disimpan di resor."
Leighton membuka kamar yang lain, lalu dia mandi, mengeringkan rambutnya, dan mengenakan setelan ini.
Ini adalah pertama kalinya Leighton mengenakan jas. Leighton sebenarnya tidak ingin memakainya, karena mengira dirinya tidak akan nyaman memakainya, tetapi tidak menyangka bahwa setelan ini sangat pas, dan setelah memakainya, ternyata bahkan terasa lebih nyaman.
Leighton memperhatikan bahwa ada serangkaian huruf Inggris yang tercetak di kerah kulit jas itu.
Leighton tidak terlalu memperhatikan, lalu berjalan keluar ruangan.
Setelah keluar, Leighton memandang Brian dan bertanya, "Apa yang terjadi tadi malam?"
Leighton berpikir dalam hati, meskipun dia tidak ingat apa yang terjadi tadi malam, namun Brian pasti tahu.
"Tadi malam?"
Brian tersenyum dan berkata, "Bos, Anda minum terlalu banyak tadi malam, dan dibawa ke atas oleh seorang wanita cantik. Saya tidak tahu apa yang terjadi."
"Aku minum terlalu banyak?" Leighton masih sadar akan kadar alkoholnya, jadi setiap kali dia akan mabuk, Leighton berhenti minum.
Tidak peduli berapa banyak dirinya minum, dia tidak akan sampai pada titik kebingungan.
Ketika Leighton ingin terus bertanya, tiba-tiba sebuah pintu terbuka.
Andrea berjalan keluar dan melirik Leighton, mata Andrea berbinar, "Leighton, apakah kamu akan menikah hari ini?"
"Psst, kamu pikir aku akan menikah?" Leighton menatap Andrea dengan tatapan kosong.
"Mengapa kamu memakai jas jika kamu ingin menikah?" Andrea menutup mulutnya dan tersenyum.
Kemudian Andrea mendatanginya, melihat Leighton dari atas ke bawah, dan berkomentar, "Namun, kamu cukup tampan dalam setelan jas."
Leighton juga merasa agak canggung memakai jas di usia yang begitu muda.
Tapi bajunya sobek.....
Jika dirinya tidak mengganti pakaiannya, tentu dirinya akan ditertawakan sampai mati!
"Panggil semua orang."
Leighton melihat arlojinya dan berkata, "Sudah waktunya pergi ke resor."
__ADS_1
"Oke, kau panggil yang laki-laki, dan aku memanggil yang perempuan." Andrea pun bergegas.
"Ngomong-ngomong, apakah kau tahu Evelyn ada di ruangan mana?" Andrea bertanya setelah jeda.
Leighton mengulurkan tangannya dan menunjuk ke kamar tempat dia tidur tadi malam.
Andrea bercanda, "Bagaimana kamu tahu bahwa Evelyn tidur di sana? Tidak, kamu dan Evelyn tadi malam...."
"Jangan bicara omong kosong, aku tidur di kamar lain." Leighton menyela kata-kata Andrea dengan nada sedikit marah.
Andrea cemberut dan berkata, "Itu hanya lelucon, mengapa kamu begitu serius?"
"Tidakkah kau berpikir, Evelyn terlihat seperti peri, bisakah dia menyukaimu?" Andrea tertawa.
Leighton tidak berkata apa pun.
Andrea tidak mengatakan sesuatu yang salah, jika bukan karena identitasnya, mungkinkah Evelyn akan menyukai dirinya?
Jangankan untuk memiliki hubungan dengan dirinya, bahkan jika dia menyentuh jari Evelyn, mungkin Evelyn akan memarahi dirinya, bukan?
Pada saat ini, hati Leighton masih kacau.
Dia juga tidak tahu apakah Evelyn akan menyebabkan masalah baginya saat dia bangun nanti.
Jika Evelyn benar-benar mengandalkan dirinya, itu akan sangat merepotkan.
Saat Evelyn berjalan keluar dari ruangan, hati Leighton hancur.
Leighton sungguh takut Evelyn akan berteriak setelah dia keluar, dan terdengar seperti sedang dianiaya.
Atau tiba-tiba berjalan langsung di depannya dan menampar dirinya.
Namun saat Evelyn keluar, seolah-olah tidak ada yang terjadi, ekspresinya tenang, dan tidak ada perubahan dari biasanya.
Mungkinkah Evelyn tidak tahu apa yang terjadi tadi malam?
Ini tidak mungkin!
Ada darah di tempat tidur, dan bagaimana mungkin dia tidak menyadari bahwa wanita itu telah kehilangan keperawanannya.
Tetapi jika Evelyn tidak mengatakannya, Leighton secara alami tidak akan bertanya dengan bodohnya.
Leighton mengemudi dan membawa Matthew, Lucas, Thomas, dan Haydee.
Andrea mengemudi, dan membawa Evelyn dan dua teman sekamarnya.
Lebih dari satu jam kemudian, dua mobil tiba di resor dari bar.
Setelah keluar dari mobil, Leighton tanpa sadar melirik Evelyn.
Dan Evelyn juga menatap Leighton.
Saling memandang, Leighton segera menoleh dengan hati nurani yang bersalah.
Di pintu masuk resor, ribuan orang telah berbaris.
Melihat barisan orang, Andrea segera mengerutkan kening, "Mengapa begitu banyak orang? Lalu kapan kita harus berbaris?"
Matthew menunjuk ke pintu yang antriannya kosong dan berkata, "Bukankah ini jalur VIP?"
"Sepertinya, kita adalah VIP." Matthew mengangkat alisnya dan berkata dengan bangga.
Beberapa orang itu dengan cepat memasuki resor dari jalur VIP.
Para pengunjung yang berbaris memandang Leighton dan yang lainnya dengan mata iri dan cemburu.
"Sungguh enak jadi orang yang berduit!"
"Untuk tiket biasa seperti kita, aku khawatir akan memakan waktu dua jam untuk masuk resor, bukan?" Seorang pengunjung cemberut dan berkata.
Begitu dia memasuki resor, Leighton melihat sosok yang dikenalnya.
Bersambung.....
__ADS_1
Jangan lupa like dan komen
Terima kasih