
"Bis-millah hiloh man nirohim..."
Seorang anak perempuan berusia 6 tahun tengah mengaji disebuah ruang keluarga, didampingi oleh ayah, ibu dan kakak laki-lakinya. Dengan sedikit kaku ia berusaha membaca ayat suci Al-Quran tersebut dengan hafalan yang ia dapat dari sekolah. Ibunya, yang dengan begitu sabar mengajari, begitu bahagia mendengar anaknya begitu antusias belajar Al-Quran.
"Subhanallah Maya... pah, Maya sudah bisa mengaji sekarang"
Sang ayah, yang tengah mengawasi anak laki-laki sulungnya mengaji Al-Quran, menoleh dan tersenyum kearah istri dan anak bungsunya itu. Sang kakak laki-laki tengah sibuk membaca sebuah surah dan menanyakan arti surah itu pada ayahnya.
"Ayah ini artinya apa?"
Sang ayah tersenyum dan mengambil Al-Quran milik anaknya itu, lalu membacakan artinya yang tertulis di kolom terjemahan yang tertera disana.
"Bismillahirrahmanirrahim... dengan menyebut nama Allah yang maha pengasih dan penyayang..."
Sang ayah mengambil nafas dalam-dalam.
"Dan di antara kami ada yang islam dan ada yang menyimpang dari kebenaran. Siapa yang islam maka mereka itu telah memilih jalan yang lurus. Dan adapun yang menyimpang dari kebenaran maka mereka menjadi bahan bakar bagi neraka Jahanam. Dan sekiranya mereka tetap berjalan lurus di atas jalan itu (agama islam), niscaya Kami akan mencurahkan pada mereka air yang cukup. Dengan (cara) itu Kami hendak menguji mereka. Dan barangsiapa berpaling dari peringatan Tuhannya, niscaya akan dimasukkan-Nya ke dalam azab yang sangat berat"
(Q.S. Al-Jinn[72] 14-17)
Sang Ayah berhenti sejenak, sedikit kaget dengan arti dari bagian surah yang dibaca anaknya itu. Tetapi ia memilih untuk melanjutkan membaca dengan wajah yang sedikit murung.
__ADS_1
"... Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun didalamnya selain Allah... Shadaqallahul-adzim"
(Q.S. Al-Jinn[72] 18)
"Ayah ... memangnya ada ya, orang yang menyembah selain Allah di masjid?"
Sang Ayah begitu kaget mendengar pertanyaan anaknya tersebut. Ia lalu melirik kearah istrinya yang sudah begitu sedih mendengar percakapan suami dan anak sulungnya tersebut. Sang ibu nampak begitu sedih mengingat masalalunya. Dengan berat hati sang Ibu berkata
"Ada ... nak ..."
........
Di suatu kamar hotel di tengah kota, kesunyian malam ini pecah oleh suara-suara ******* wanita. Suara ******* dari seorang wanita yang dihimpit pinggangnya terus menerus oleh seorang laki-laki itu menggema keras keseluruh kamar. Lambat laun, suara erangan nikmat itu berubah menjadi suara tangis lirih. Seolah merasa bersalah, laki-laki tampan itu mencium bibir dan meraba payudara wanita cantik yang disetubuhinya itu. Kembali suara tangis lirih itu berubah menjadi teriakan mendesah yang kali ini terdengar seperti menjerit puas. Beberapa jam mereka bercumbu mesra tanpa henti, akhirnya laki-laki tampan itu mulai mendesah dan...
Laki-laki tampan dan wanita cantik itu tidur saling berpelukan. Setelah sexs yang begitu nikmat tadi, alih-alih kebahagian yang didapat, wanita cantik itu justru kembali menangis lirih. Seolah mengerti apa yang disedihkan pasangan sexsnya itu, sang laki-laki bangkit dari kasur lalu meraih dompet yang berada di atas meja. Ia mengeluarkan banyak sekali lembaran uang seratus ribu rupiah lalu menggengamkannya pada tangan wanita cantik yang menangis itu.
"Ini yang terakhir kan?" Ucap sang laki-laki tampan.
Ia lalu mencium kening wanita cantik itu. Wanita cantik itu menghentikan tangisnya, ia begitu kaget. Kemudian ia menghapus air mata yang kini merusak make up cantiknya malam ini.
"B-Bapak... kok bisa tau?" Ucapnya lirih.
__ADS_1
"Sudah sejak lama, bapak tau semuanya... Miya" Laki-laki itu dengan lembut mengusap kepala wanita yang bernama Miya itu. "Makanya, bapak selalu memesan Miya..."
Seketika tangis Miya kembali pecah. Laki-laki itu langsung memeluk Miya begitu erat dan mengusap-usap rambut panjangnya, seolah ia juga merasakan kesedihan yang dialaminya. Setelah beberapa saat, akhirnya Laki-laki itu beranjak dari kasur dan mengenakan pakaiannya. Ia berdandan begitu rapi, dengan mengenakan jas hitam mewa dan dasi melengkapi ketampanan bak seorang eksekutif muda.
"Miya harus berhenti, jangan jadi wanita hina seperti ini..." Ucap Laki-laki itu seraya berjalan menuju pintu kamar.
"I-Iya pak..." Jawab Miya sembari mengenakan pakaian dalamnya.
Laki-laki tampan itu lantas melirik badan Miya yang begitu indah, berbalut dengan pakaian dalam berwarna merah menyala. Ia lalu memutuskan mendekati Miya, naik kembali keatas kasur dan mencium bibir serta lehernya.
"Ah! Pak..." Desah Miya sambil mengeliat menikmati ciuman itu.
Setelah beberapa kecupan pada tubuh putih Miya, Laki-laki itu kemudian menatap matanya.
"Aku pasti bakal kangen Miya..."
Laki-laki itu lalu mencium kening Miya begitu mesra, dan pergi meninggalkan kamar hotel.
Miya menatap kosong kearah perginya laki-laki tampan itu. Seorang eksekutif muda, pengusaha muda, sekaligus bos nya di tempat kerja. Tentu bosnya itu sudah mengetahui, Miya tidak lagi akan bekerja ditempatnnya. Miya akan pergi, untuk menebus semua dosa-dosanya ini.
Benar kata Pak Indra, Aku tidak boleh lagi jadi wanita hina.
__ADS_1