
Trio Dina, Ira, dan Nina pergi membututi Miya yang sudah berubah total penampilannya. Mereka berempat turun dari lantai dua dan pergi menuju antrian pejabat yang hendak masuk kedalam Aula.
"Ukhti... Mau ikut acara?" Tanya Dina.
"Jangan Ukhti! Nanti kalau ketahuan Ustadzah Romah bisa bisa ..."
"Ukhti mau ketemu Ustadzah Nyi Wati kan?" Belum sampai Nina melengkapi kalimatnya, Ira langsung memotong.
Miya tersenyum simpul melihat perdebatan mereka. "Aku sudah ketemu Ustadzah Nyi Wati kok"
Kata-kata itu membuat mereka semakin bingung, namun tidak dengan Ira.
"Ayah sudah cerita semua ke Ira ... Ira dukung Ukhti!" Ucapnya dengan semangat.
Dina dan Nina kemudian berbalik menoleh heran kearah Ira. "Kalian ada rencana apa sih?"
"Kalian bertiga tunggu saja di dalam kamar" Potong Miya. Ia lalu pergi meninggalkan mereka bertiga
Miya dengan begitu lancar membaur dengan para pejabat. Mungkin karena penampilannya yang berubah total itu, membuat mereka tidak begitu heran. Bahkan ketika Miya duduk di karpet, tidak ada satupun yang menganggapnya seorang Santriwati, malah beberapa pejabat hidung belang yang tadi menggoda Ustadzah Shinta, nampak mencoba menggoda Miya. Tetapi ia acuh akan hal itu, Miya hanya berfokus pada antrian yang perlahan-lahan masuk kedalam aula.
Antrian panjang mengular itu mengarah ke dalam aula, semua orang duduk berbanjar menunggu gilirannya masuk. Setiap ada seorang pejabat yang keluar dari Aula, saat itu juga mereka semua bergeser maju. Perlahan-lahan, antrian Miya akhirnya mendekat ke mulut pintu aula. Dari sana terlihat jelas bahwa setiap orang naik ke lantai 2 untuk meminta doa dan restu di kamar Ustadzah Nyi Wati. Persis sama seperti Miya dan santriwati-santriwati yang lain ketika pertama kali diterima di pondok ini.
Namun sepertinya, pejabat-pejabat ini memiliki keiistimewaan dapat bertemu dengan Ustadzah Nyi Wati langsung, karena terlihat sekali mereka memberikan amplop yang berisi sejumlah uang kepada Ustadzah Shinta yang mengatur antrian di bawah. Melihat hal itu, Miya tidak panik, ia langsung menggoda salah satu pejabat hidung belang yang berada di antrian depannya. Miya berbohong bahwa ia adalah pasangan salah satu pejabat yang sudah terlebih dahulu masuk dan meminta restu ke Ustadzah Nyi Wati. Miya menggoda bapak-bapak gendut yang terus memandangi belahan dadanya itu agar mau menemaninya bertemu Ustadzah Nyi Wati. Tanpa pikir panjang, pejabat mesum itu tentu mengiyakan, dan kini Miya tidak perlu khawatir soal amplop uang itu.
Kini tiba giliran Miya dan pejabat itu untuk naik. Ia terus menundukkan kepalanya ketika sang pejabat menyodorkan uang ke Ustadzah Shinta. Tetapi semua berjalan mulus, Miya menggandeng tangan pejabat itu dan naik ke lantai atas.
Di lantai atas itu cukup banyak orang yang hadir. Ustadzah Romah yang berdiri menyambut mereka berdua, ada juga Ustadzah Imah dan Ulun yang duduk di lantai. Di depan kamar terlihat Ustadzah Nyi Wati duduk bersimpuh dan menunduk kebawah, didampingi oleh ... Nabila?! Ya, Nabila duduk disamping dan terus memegangi punggung Ustadzah Nyi Wati yang menyandar ke tembok. Semua orang itu nampaknya tidak ada yang bisa mengenali Miya. Miya tersenyum, semua pemeran sudah datang.
Ustadzah Nyi Wati memakai kerudung serba hitam, ditambah cadar yang menutup, membuat wajahnya sama sekali tidak terlihat. Pejabat itu nampak sedikit mendongak untuk melihat wajah Ustazdah Nyi Wati, tentu ia ingin sekali melihat seperti apa wajah pendiri pondok dan Ustadzah yang doanya terkenal mujarab itu. Tetapi Ustadzah Imah keburu menyuruhnya duduk dan segera memuai 'ritual' ini.
"Bismillahirahmanirahim..."
__ADS_1
Ustadzah Ulun kemudian membacakan doa-doa, semua nampak mendengarkan dengan penuh konsentrasi. Pejabat itu nampak nyengir-nyengir sendiri, sesekali ia tederngar mengucapkan kata-kata "menang pemilu" berkali-kali. Setelah doa selesai dibaca, Nabila lalu mengulurkan tangan Ustadzah Nyi Wati Perlahan lahan mendekat ke kepala pejabat itu. Seketika pejabat itu menundukkan kepalanya dan berdoa.
"Nyi! Doakan saya menang pemilu tahun ini Nyii! Doakan saya!"
"Insha Allah, Nyi Wati mengabulkan... Aamiin" ucap Nabila datar, diikuti oleh seluruh Ustadzah yang lain, kecuali Ustadzah Nyi Wati sendiri. Ia nampak tidak mengucapkan sepatah kata sedikitpun. Pejabat itu kemudian hendak mencium tangan Ustadzah Nyi Wati, namun Nabila segera menghalanginya.
Kini tiba giliran Miya, ia bertukar posisi dengan pejabat itu. Saat itu semua masih tidak mengenalinya, kecuali Nabila yang sudah mulai menekuk heran ketika melihat wajah yang sepertinya pernah ia kenali itu. Melihat keheranan yang ditunjukkan Nabila, Miya kembali tersenyum sinis.
"Bismillahirahmanirahim..." Ustadzah Ulun memulai doanya. Namun tiba-tiba Miya menyela dengan suatu bacaan
"Dan sesungguhnya masjid-masjid itu adalah untuk Allah. Maka janganlah kamu menyembah apa pun didalamnya selain Allah!! Shadaqallahul-adzim"
(Q.S. Al-Jinn[72] 18)
Tentu saja ucapan itu membuat semua orang terbelalak kaget. Seorang wanita berdandan menor dan begitu terbuka tiba-tiba membacakan ayat Al-Quran di hadapan Ustadzah-Ustadzah yang notabene lebih suci. Miya pun menegakkan pandangannya kearah Ustadzah Nyi Wati, membuat Nabila kemudian mengenalinya.
"Benar begitu kan, Ustadzah Nyi Wati?"
"M-Miya?!" Jerit Nabila sambil begemetar.
"N-Nak? Miya?!"
Ketiga Ustadzah itu terperanjat kaget, ternyata perempuan cantik yang ada di sana adalah Miya yang sedang menyamar. Miya berdiri dan memandangi satu-persatu Ustadzahnya itu.
"Kalian semua disini, KAFIR!!"
Semua mata terbelalak mendengar hal itu, termasuk sang pejabat mesum yang ada disebelah Miya. Bibir mereka berempat yang mengenakan baju serba hitam itu seketika kelu, seolah mengiyakan ucapan Miya. Ustadzah Romah yang biasanya galak padannya tiba-tiba bergemetar takut, ia tidak berani melakukan apa-apa.
"N-Nak Miya... A-Apa maksudnya semua ini?" ucap Ustadzah Imah berusaha menenangkan amarah Miya.
"Ustadzah Imah tanya ke saya apa maksudnya? SEHARUSNYA SAYA YANG TANYA, APA MAKSUDNYA SEMUA INI?!!"
__ADS_1
"INI SEMUA D-DEMI KEBAIKAN P-PONDOK!" Bentak Ustadzah Romah yang nampak berusaha memberanikan diri.
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar."
(QS An-Nis [4] 48)
Kembali, ucapan Miya membungkam semua orang yang ada disana untuk sesaat, sebelum Nabila akhirnya ikut membela bibinya.
"Y-Yak ... Elo nggak bisa gini, ini sudah menjadi tradisi kami disini..." rayu Nabila sambil sedikit menahan tangis.
"Tradisi? Menyembah orang yang sudah MATI itu TRADISI?"
"NAK MIYA!" Bentak Ustadzah Imah.
"H-Hah? A-Apa? Menyembah Orang Mati?" Ucap Pejabat itu terbata-bata.
Matanya lalu melirik kearah Ustadzah Nyi Wati, Ustadzah kurus dan tua itu tetap diam menunduk, padahal murid-muridnya tengah bersitegang satu sama lain. Nabila yang melihat perubahan ekspresi Pejabat itu nampak berusaha menggeleng-gelengkan kepala, menandakan ucapan tadi adalah salah paham saja. Tetapi sepertinya Ustadzah Nyi Wati hendak berkata lain.
Karena Nabila tidak awas memegangi Ustadzah Nyi Wati, lehernya patah ke arah bahu Nabila. Kepalanya menggelinding jatuh ke lantai, membuat cadarnya terlepas. Wajah tua pendiri pondok termashur itu terpampang jelas dihadapan sang pejabat. Pejabat itu kemudian berteriak sekencang-kencangnya.
"WAAAHHHHHHHHHH!!!!!!!!"
Pejabat itu kemudian berlari terbirit-birit turun kebawah. Teriakannya itu sudah membuat seluruh orang di aula berdiri kaget.
"MATIIII!!! SUDAH MATIII!!! WAAAHHHHHH!!!" Pejabat itu terus berteriak sambil berlari kabur keluar pondok. Semua orang disana dibuat terheran-heran dengan tingkahnya. Kepanikan sempat terjadi di sisa-sisa pejabat yang mengantri.
Ustadzah Shinta kemudian menyuruh semua orang untuk tetap tenang. Ia kemudian naik ke lantai dua, dan berusaha melihat apa yang terjadi. Betapa terkejutnya Ustadzah Shinta ketika kepala Ustadzah Nyi Wati menggelinding dihadapannya.
"Ustadzah!! Kenapa bisa begi... Eh! M-Miya?" Ustadzah Shinta dibuat semakin kaget dengan kehadiran Miya disana.
"NABILAAA!! BODOH KAMU!!!" Bentak Ustadzah Romah.
__ADS_1
Nabila yang sudah tidak tahan lagi mendengar ocehan bibinya langsung bangkit, menjatuhkan badan Ustadzah Nyi Wati ke tanah. Seketika tangan dan kaki Ustadzah Nyi Wati Ikut copot satu persatu, seperti abu yang rapuh.
"NABILA CAPEK!!! NABILA SUDAH MUAK NGURUS MAYAT INI!! NABILA CAPEK NURUTIN KALIAN!! USTADZAH KAFIR!!"